close
image

Anda yang membaca blog ini, mungkin akan berpikir, ini blog buat menjilat Ahok. Biar dapat proyek, atau dapat jabatan. Itu kalau Anda seorang hater, yang sebenarnya saking cinta sama Ahok, Anda jadi benci.Tapi apa yang saya tuliskan ini, dari apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.

Nama saya Thomas. Asalnya dari Tomas. Kalau dalam Alkitab, karena saya seorang Kristen, nama ini memiliki arti Sebelum Aku Melihat, Aku Belum Percaya. Tommy itu hanya nama panggilan. We are not going to talk about it.

Kamis 25 Agustus kemarin, saya yang sudah menjadi bagian dari Jasmev 2017 (saya akan ceritakan soal ini), datang ke acara peresmian Rumah Lembang. Rumah yang akan menjadi tempat berkumpul para pendukung Ahok, alias Basuki T Purnama, baik tim relawan, tim sukses, ataupun tim pendukung dan pemenangan.

Saya sudah ada di rumah lembang ini, dari jam 17.30. Saya lihat banyak sekali pecinta Ahok sudah berkumpul. Begitu juga dengan para partai politik yang mendukung Ahok. Sudah ramai lah pokoknya.

Kami pun menunggu Ahok yang akan datang di acara peresmian rumah lembang, meskipun dia sibuk dan ada acara sebelumnya. Semakin malam, semakin ramai yang datang. Para seleb politik, dan pendukung semakin banjir. Bukan banjir air ya.

Sekitar jam 20.10 saya lihat mobil dinas Ahok, sudah datang.

“Bapak datang … ” begitu seruan orang-orang yang bilang Ahok datang. Karena sudah datang, Ahok langsung dikerubutin. Bukan hanya wartawan. Yang sudah hadir ikut berebutan. PENGEN SELFIE! Bukan cuma Selfie, tapi mau salaman juga. Saya belum pernah sedekat ini dengan Ahok.

Meski penuh sesak, dan dikawal oleh yang berseragam hitam-hitam, walaupun bukan Brimob ataupun Kopassus, apalagi Densus 88, Ahok tetap menebar senyum. Saya jadi bingung. Lah katanya dia psikopat, katanya dia beringas. Tapi kok lempar senyum dan mau menyalami orang-orang.

Ahok terus dikerubuti sampai di panggung yang berada di dalam rumah lembang. Ketika Ahok berpidato, semua orang terpaku ke panggung. Layaknya seorang penyanyi top, semua terpana dengan Ahok. Asli, ini nggak pake bohong.

Bahkan ketika Ahok bilang : “waktu saya habis ya?” Orang-orang masih kompak menunggu pidato selanjutnya. Yes He is a Superstar. Saya merasakan itu. Bahkan selesai berpidato, banyak ibu-ibu nekat naik ke panggung. Ngapain? SELFIE sama Ahok.

Sewaktu Ahok keluar untuk menarik selubung papan nama Rumah Lembang, saya melihat meskipun dia melap keringat di wajahnya, dia tetap setia melayani orang untuk selfie dan terus tersenyum. Ini ciri-ciri psikopat kah? Ciri-ciri orang bengis? I son’t know.

Ke tempat press conference, orang masih terus berkerumun, mengerubuti untuk salaman dan minta foto. Yang tidak dapat kesempatan, kecewa. Tapi tidak misuh-misuh, ngomel atau apapun. Bagi mereka, bisa melihat Ahok dan. BErsalaman langsung, sudah bahagia.

Yes, memang Ahok ini superstar. Saya yang aktif meliput dari jaman Sutiyoso, sampai jaman Foke, saya baru melihat ini. Ketika Jokowi menjadi Gubernur, belum seheboh sekarang ini. Ajakan berfoto atau Selfie tidak seheboh ini.

Mungkin ketika Jokowi jadi Gubernur, Selfie blum lahir. Atau blum hits bingits. Namun, belakangan ini, selfie bersama pejabat, bernama Ahok, jadi ngetren. Dimana ada Ahok, disitulah orang berebutan Selfie.

Kwmbali lagi ke arti nama sebenarnya saya, akhirnya saya percaya, dia seprang bintang super. Superstar. Seleb Indonesia belum tentu bisa seperti Ahok.

Ahok di Rumah Lembanbg, tengah berpidato
Ahok di Rumah Lembanbg, tengah berpidato
Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: