close
Bapontar

Situ Cisanti dan Tujuh Mata Air Hulu Sungai Citarum

Signage Kilometer Citarum

Entah sudah berapa kali saya ini melakukan perjalanan ke Bandung. Semasa kuliah di Salatiga, adik saya kuliah di Bandung. Jadi saya sering menjenguk dia. Hingga sekarang ini, saya berulang kali ke Bandung.

Tapi, kalau berwisata, tidak jauh dari Bandung. Paling jauh hanya ke Ciwidey saja. Namun, kali ini saya mendapat kesempatan untuk berpetualang ke sebuah tempat yang baru kali ini akan saya datangi.

Saya diajak oleh Kemenko Kemaritiman untuk melihat upaya pemulihan sungai Citarum, dan saya juga diajak melihat ke Hulu Sungai Citarum. Wah ini pengalaman pertama bagi saya juga untuk berpetualan ke Hulu Sungai. Berwisata di Sungai, bukan sekali dua kali saja sebenarnya. Tapi, ke hulu Sungai, benar-benar baru pertama kali.

Apalagi kalau hulu Sungai ini untuk sungai terpanjang di Jawa Barat, yaitu Sungai Citarum. Nama Hulu SUngai Citarum ini adalah Situ Cisanti. Nama yang baru pertama kali saya dengar.

Perjalanan ke Situ Cisanti ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam dari Bandung. Sebuah perjalanan yang bukan sebentar.
Jalan yang dilewati juga berkelok, sempit tetapi dengan pemandangan hijau.

Sesampai di Situ Cisanti, ketika keluar dari kendaraan yang saya tumpangi, udara sejuk langsung terasa. Kami memang berada di ketinggian.

Saya dan teman, sudah tidak sabar untuk ke Situ Cisanti ini. Oh Iya, karena ini Hulu Sungai Citarum, diberikan nama Kilometer 0 Citarum. Ini sangat unik, karena biasanya kita hanya tahu Kilometer O di Pulau Weh, atau Sabang.

Kami langsung berjalan menuju ke Situ Cisanti. Kami melewati pepohonan yang rindang dan menuruni tangga untuk bertemu dengan situ Cisanti.

Dari kejauhan kemudian saya melihat ada signage atau tulisan besar Kilometer 0 Citarum. Saya pun langsung menyusuri Situ. Situ ini airnya jernih meskipun terlihat ada ganggang yang tumbuh.

Cukup jauh untuk sampai di Signage Kilometer 0 Citarum ini. Mungkin lebih dari 10 menit berjalan kaki. Sampai di signage ini, saya melihat ada dermaga untuk tempat berfoto. Saya berfoto di sini karena untuk berfoto di Signage, masih menunggu orang lain yang berfoto.

Selesai mengambil gambar, saya kembali menyusuri Situ Citarum tetapi arah yang berbeda. Dan disinilah saya melihat ada petilasan Prabu Siliwangi dan juga mata air Citarum. Di sini, untuk melihat petilasan Prabu Siliwangi, saya harus meminta ijin ke penjaga. Sedikit keramat. Saya dan teman menyempatkan diri untuk membasuh muka dan saya meminum air dari mata air.

Di Mata Air Citarum ini saya juga akhirnya tahu bahwa ada tujuh mata air. Ada Cikawedukan, Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, dan Cisanti.

Jadi, situ Cisanti ini diisi oleh tujuh mata air. Dan air ini kemudian dialirkan ke Sungai Citarum hingga ke hilir.

Di Petilasan ini, kita tidak boleh sembarangan berfoto karena harus meminta ijin terlebih dahulu. Saya sempat mengambil gambar, tapi anehnya gambar tersebut hilang dari ponsel saya.
Setelah berkeliling dan melihat Situ Cisanti ini, saya dan teman-teman harus kembali ke Bandung. Hari Sudah petang.

Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan, berkunjung ke Hulu SUngai.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: