close
BapontarCeritaFeatured

Serunya Berfoto dengan Latar Belakang Perbukitan di Bukit Panguk

DSC_3570

Kalau berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta, dan ingin berfoto dengan latar belakang Perbukitan atau alam yang indah, ternyata bukan hanya di Kali Biru saja. Ada wilayah lain yang menjadi spot foto yang tak kalah indah dan instagrammable banget.

Lokasi ini saya dan teman-teman saya temukan ketika mengunjungi Yogyakarta dalam rangka sebuah event lari. Saya diundang untuk menulis tentang event tersebut dan diberikan kesempatan juga untuk berwisata di Yogyakarta.

Kesempatan di Yogyakarta ini, tidak saya lewatkan untuk berkunjung ke Malioboro. Meski sudah datang berulang kali, tapi tetap saja ada keinginan untuk ke Malioboro.

Usai ke Malioboro, keesokan harinya, sebelum kembali ke Jakarta, saya dan sejumlah teman mencari informasi lewat internet tempat wisata di Yogyakarta. Kami ingin wisata dengan suasana alam.

Seorang teman saya, akhirnya mengusulkan untuk berwisata ke Kawasan Dlingo, Kabupaten Bantul, DIY. Ssaya pun googling dan mencek lewat instagram mengenai lokasi wisata di kawasan ini. Ternyata lokasinya sangat bagus.

Dengan mengendarai kendaraan sewaan, saya dan teman-teman akhirnya berangkat dari kawasan Malioboro. Kebetulan tempat kami menginap berada di kawasan Malioboro.

Perjalanan yang kami tempuh ke Bukit Panguk ini kurang lebih satu jam. Meskipun menggunakan google maps, tetap saja ada sedikit nyasar.

Berbekal pertanyaan kepada warga sekitar, akhirnya kami menemukan tempat wisata ini. Jalan yang kami lalui memang sempit dan berkelok-kelok. Kami melewati pedesaan yang masih asri dengan rumah joglo khas Jawa.

Setelah melewati rute menanjak akhirnya kami tiba di lokasi. Biaya masuk di lokasi ini hanya 3.000 rupiah saya. Sampai di lokasi, saya langsung melihat hutan pohon Jati. Kawasan sudah tertata rapi meskipun jalanan masih dari bebatuan.

Saya dan teman-teman kemudian menuruni perbukitan untuk langsung menuju ke lokasi berupa panggung untuk berfoto. Saya yang memiliki takut akan ketinggian, tentunya deg-degan dan kaki bisa gemetaran ketika naik ke panggung. Maklum latar belakangnya sudah jurang.

Untuk berfoto di panggung ini, biaya yang dikenakan per orang adalah Rp 3.000. Saya masih memaklumi karena panggung ini dibangun secara swadaya. Mungkin biaya ini untuk mengganti biaya pembangunan dan untuk merawat.

Ada 5 panggung berbeda model. Ada yang berbentuk hati, perahu, hingga kereta kuda. Ada juga panggung untuk berfoto bersama-sama. Sekali lagi, untuk satu panggung ini dikenakan biaya Rp 3.000 per orang.

Selain berfoto di panggung yang sudah disediakan, kita juga bisa bersantai di bawah pepohonan jati. Ada bangku dan kursi serta gazebo untuk bersantai menikmati suasana alam yang masih asri.

Bagi yang lapar, bisa menikmati makanan di warung yang berderet. Warung ini juga menyediakan beragam jenis minuman mulai dari kopi hingga minuman botol.

Setelah puas berfoto, saya dan teman-teman kembali ke Yogyakarta. Kami harus menuju ke Bandara untuk kembali ke Jakarta.

Bagi yang ingin menuju ke sini, tidak ada angkutan umum. Harus menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan yang disewa.

Ini galeri foto lengkapnya ya

This slideshow requires JavaScript.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: