SHARE

Waduk Cincin, iya mungkin bagi sebagian besar orang, tidak mengenal waduk ini. Termasuk saya yang sudah lama beraktifitas di Jakarta Utara. Waduk Cincin ini atau ada yang bilang dengan Waduk Sunter Utara awalnya saya tahu berada di sebelah taman BMW.

Udah tidak tahu namanya, saya juga tidak tahu cara menuju waduk ini. Tapi karena sering melewati, akhirnya saya paham jalan ke waduk ini. Tidak jauh dari kantor kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok. Tapi ya saya belum mampir.

Akhirnya kesempatan pertama datang untuk mengunjungi waduk ini. Saya, Hariadhi dan Ledi Kurniawan yang berkunjung ke RPTRA Marunda dan RSUK Cilincing mampir untuk blusukan ke sini. Bulan November 2016 waktu itu.

Ketika kami mampir, pemasangan sheetpile atau turap sedang dilakukan. Kondisi masih belum terlalu rapi karena masih dipasangi turap. Kami pun tidak lama berada di situ karena sudah petang dan waduk masih dalam posisi dipasang turap.

Kesempatan kedua untuk datang ke waduk ini ketika saya blusukan lagi bersama Hariadhi. Kami yang sedang naik mobil, melewati tol dalam kota dari Priok menuju ke Pluit. Tujuan kami ke Waduk Pluit. Itu tanggal 7 Januari lalu.

Tapi kami yang sedang asik periscope-an (udah tahu kan aplikasi periscope ini), dari dalam mobil kemudian melihat waduk cincin dari jalan tol. Pikiran pun berubah, kami keluar tol dan langsung menuju waduk cincin.

Sesampainya di waduk Cincin, kondisi sudah lebih rapi. Pemasangan sheetpile sudah rapi atau selesai. Ketika kami tiba, hari sudah sore sekitar jam 17an WIB. Warga ternyata sedang asik berwisata, ada yang mengajak anak, ada yang membawa sepeda motor dan banyak yang memancing di waduk Cincin ini. Wah!

Saya mengambil foto, dan Hariadhi live dari periscope dan facebook. Dia memang lagi senang-senangnya live dari dua aplikasi itu. Biar follower ama teman dia bisa menyaksikan langsung.

Yang terlihat dari waduk cincin di petang itu, sudah jauh lebih bersih. Masih ada sampah sih, tapi sudah tidak menyebar di danau. Tidak mungkin bisa mengangkut sampah dari waduk ini, karena ada aliran air dari kali atau saluran air dari tujuh kelurahan.

TUJUH KELURAHAN SODARA SODARA!!! Kebayang kan?

Kami pun menyusuri semacam jogging track (bukan jalan inspeksi). Warga ada yang asik memancing, jalan-jalan atau naik sepeda motor. Ada yang duduk-duduk di turap. Sekedar menikmati senja.

Saya juga ikut menikmati senja di Waduk Cincin dengan mengambil foto yang menakjubkan. Danau yang bersih, ditambah senja bernuansa oranye membuat foto saya meskipun menggunakan kamera dari ponsel semakin cakep. Saya pun takjub.

Tidak hanya mengambil foto. Saya juga mengajak warga untuk berbincang. Beberapa warga yang saya ajak ngobrol tanpa saya menanyai nama mereka, mengatakan Waduk Cincin sudah lebih baik. Tidak banyak eceng gondok dan sudah tidak berbau.

Salah satu warga yang sedang memancing, mengaku bernama Kris mengatakan, dia tidak takut mancing lagi di Waduk Cincin karena sudah lebih bersih. Wilayah sekitar waduk cincin memang sudah dirapikan. Kris tidak takut ular lagi.

Bahkan Kris bisa sampai malam memancing di sini. “Banyak ikan lele” katanya.

Saya pun meminta ijin untuk merekam melalui video dari kamera ponsel.

Senja di Waduk Cincin memang asik, meskipun belum rapi sepenuhnya. Tapi setidaknya, waduk yang sudah direvitalisasi atau direfungsi ini bukan hanya sekedar untuk menampung air untuk mencegah banjir. Tapi bisa dinikmati warga.

Hari semakin gelap. Saya dan Hariadhi mengakhiri kunjungan. Kami mau ke lenggang Jakarta Kemayoran. Malam mingguan di sana.

Tulisan ini juga bisa dibaca di travel blog saya pigipigi.id

Foto-foto waduk cincin ada di galeri foto di bawah ini ya.

Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.