close
Bapontar

Melihat-lihat Lampion di Candra Pasar Pagi Lama

IMG-20180105-WA0008.jpg

Imlek atau perayaan Tahun Baru warga Tionghoa, akan datang bulan Februari nanti. Pernak pernik berbau imlek sudah mulai dijual.

Memang sih di Pusat Perbelanjaan belum terlihat. Tapi tidak di Pasar Pagi lama. Kebetulan saya sedang mengunjungi Pasar Pagi lama dengan dua teman saya. Ada yang mau dicari terkait perayaan Imlek.

Kami ke kawasan tersebut, dalam rangka mencari pemain barongsai. Dan sebelum kembali, kami berjalan-jalan menelusuri kawasan Pasar Pagi Lama dan Toko Tiga.

Ketika menelusuri kawasan Candra di Pasar Pagi Lama, kami sekalian mencari lampion. Berdasar informasi dari pedagang baju, kami ke bagian dalam Kawasan Candra atau Pasar Candra ini.

Nah bagi yang mau beli baju Tionghoa bernuansa merah untuk imlek, lucu-lucu lho bajunya. 

Menelusuri pertokoan, kami akhirnya menemukan beberapa toko yang menjual lampion. Tidak banyak tokonya. Bisa dihitung Pakai Jari.

Toko yang kami temui pertama, menjual lampion berwarna merah khas Imlek. Tapi Lampion ini sudah modern, meskipun disainnya masih model jaman dahulu. Bahannya sudah dari plastik dan ada lampu di dalamnya.

Lampion yang dijual ini ada yang satu set beberapa lampion, dan ada juga yang satuan. Saya sempat bertanya soal harga. Satu set ada yang harga Rp 500.000.

Tidak terlampau mahal bagi yang sanggup. Di toko ini juga dijual beberapa pernak-pernik lainnya, seperti amplop angpau. Saya bahkan menemukan tempat tissue berbentuk naga barongsai. Lucuk abis.

Setelah melihat-lihat lampion di toko yang saya lupa namanya ini, dan mengetahui harganya, saya dan dua teman melanjutkan perjalanan. Mau pulang sih.

Tapi, dalam perjalanan ke tempat memarkir mobil, kami menemukan lagi sebuah toko lampion yang menjual lampion dengan model lain. Lampion dengan warna bukan merah. 


Harga lampionnya sepasang ada yang 80.000 dan ada yang 150.000. Karena tidak terlampau mahal, salah seorang teman saya membeli 4 pasang lampion. Harganya 300.000 setelah ditawar.

Setelah melihat-lihat dan membeli lampion, kami kembali. Menelusuri kawasan melihat-lihat lampion ini, menjadi pengalaman unik dan pertama kali, meski saya sudah lama di Jakarta.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: