close
Cerita

Lewat Ananda Sukarlan, Mereka Belajar Musik Gratis dan Keragaman

ananda 3

Entah apa yang terbersit dalam pikiran saya, sehabis pulang dari roadtrip di Sumatera selama sepekan. Saya menuliskan perjalanan saya selama di Sumatera tersebut dan mengunggah di blog saya maupun di kompasiana.

Setelah mengunggah tulisan dan mempublikasikannya, dalam pikiran saya terbersit untuk bertemu dengan sejumlah tokoh. Berbincang dengan mereka dan menuliskannya di blog. Melalui media sosial twitter saya menyampaikan ingin bertemu dengan Ganjar Pranowo, Addie MS dan tak lupa Ananda Sukarlan.

Kenapa Ananda Sukarlan? Karena saya melihat Ananda sebagai sosok yang bagi saya di atas rata-rata. Orang hebat dan keren lah. Lewat twitter kemudian kami berjanji untuk bertemu dan setelah mungkin lebih dari dua pekan, dan saya hampir lupa, kami akhirnya bertemu.

“Tom, bisa bertemu hari ini? Saya kebetulan hari ini free” Begitu yang disampaikan Ananda Sukarlan ke saya. Kami seharusnya bertemu hari Selasa 24 Juli hari ini. Karena saya tidak ada kegiatan, saya dengan bersemangat langsung mengiyakan.

Saya berangkat ke lokasi yang dibagikan Ananda lewat Whatsapp. Tidak dari kosan, tapi dari Kantor Kemenkominfo karena kebetulan saya berada di situ untuk acara Forum Merdeka Barat 9.

Saya sebenarnya setengah “tersesat” dan sempat berpikir salah masuk lokasi yang dibagikan mas Ananda. Tapi ternyata nggak salah. Saya bertanya ke Satpam, dan mereka membantu mengarahkan.

Usai bertemu Ananda Sukarlan Center, saya pun memarkir motor. Masuk ke dalam Ruko Ananda Sukarlan Center ini, saya sudah ditunggu dan langsung naik ke Atas.

Kami berbincang dan Mas Ananda sempat bertanya soal apa artinya bacirita. Saya pun menjelaskan. Mas Ananda kemudian bercerita ke saya soal Ananda Sukarlan Center ini. Dan ini yang sangat menarik.

Melalui Ananda Sukarlan Center ini, anak-anak yang kurang mampu yang berada tidak jauh dari Ananda Sukarlan Center di kompleks ruko di kawasan Fatmawati ini, diberikan pelatihan musik atau katakanlah les alat musik secara gratis. WOW! Ini yang menyita perhatian saya.

Mas Ananda kemudian mengatakan ke saya. “Tom coba dengar deh, ada yang latihan biola”. Suara yang keluar dari Biola pun terdengar. Ada lebih dari satu suara Biola.

“Yuk ke atas, lihat anak-anak sedang latihan”

Kami pun ke atas dan saya menemui anak-anak yang sedang berlatih menggunakan biola dan ada seorang anak muda yang menjadi guru.

Waah ini keren. Anak-anak ini terlihat bersemangat belajar biola. Mas Ananda melanjutkan ceritanya, bahwa setiap tahun ada puluhan anak-anak yang diberikan les alat musik secara gratis. Bukan hanya biola saja, tapi ada juga cello, flute gitar dan alat musik lainnya.

Anak-anak yang mendapatkan les musik ini, adalah anak-anak berusia 10 tahun ke atas. Dan jam les mereka berbeda-beda sesuai kelompok mereka. Dalam satu hari mereka les selama 1 jam.

Saya pun panasaran, mereka bisa les ini caranya bagaimana? Mas Ananda melanjutkan ceritanya. Mas Ananda dan timnya datang ke sekolah-sekolah yang tidak berada jauh dari Ananda Sukarlan Center. Mereka mencari anak-anak yang memiliki bakat. Sekali lagi ini keren. Kenapa? Karena anak-anak ini yang diajak untuk berlatih alat musik. Makin kagum saya sama Mas Ananda.

Hal unik lain yang diceritakan Mas Ananda adalah, alat biola yang dipakai anak-anak ini untuk latihan, dipinjamkan oleh Ananda Sukarlan Center. Mereka tak akan sanggup membelinya. Mereka juga diperbolehkan membawa pulang biola ini.

“Anak-anak juga diajarkan cara merawat alat musik. Mereka diberikan tanggung jawab untuk menjaga alat-alat ini”, tambah Mas Ananda.

Bagi saya ini bagian terpenting. Bukan hanya sekedar belajar menggunakan alat musik. Tapi diajarkan juga bagaimana merawat alat musik tersebut.

Mas Ananda juga bercerita bahwa ada saja anak-anak yang tidak bisa merawat alat musik dan mereka biasanya tidak akan diberikan kesempatan untuk melanjutkan.

Melalui musik ini, lanjut Ananda, mereka juga diajarkan keragaman atau kebhinekaan. Lah maksudnya? Bagian ini tidak kalah pentingnya. Setelah mulai mahir menggunakan alat musik, anak-anak ini dipertemukan dengan anak-anak yang lain yang juga les. Tapi beda grup atau kelompok.

Mereka akan bertemu dan bermain musik dengan anak-anak yang berbeda agama dan kelompok sosial. “Di sinilah cakrawala pemikiran mereka terbuka. Mereka akan dengan senang berbaur dengan yang lain dan mereka akan sadar bahwa yang lain meski berbeda tapi asyik,” ungkap Mas Ananda.

Anak-anak ini juga nantinya akan diberikan kesempatan untuk diajak dalam mini konser yang digelar mas Ananda Sukarlan. “Nanti kalau ada mini konser, akan saya ajak Tommy,” janji Mas Ananda kepada saya.

Saya pun tak sabar untuk menunggu undangang konser tersebut.

Oh iya, bagaimana Mas Ananda bisa mendapatkan alat musik dan bisa memberikan les musik secara gratis ini? Saya cerita di bagian lain blog saya ya. Biar panasaran dong.

Biar kalian pada percaya saya bertemu mas Ananda, ini foto saya dengannya ya.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: