SHARE

Saya pernah aktif menjadi reporter atau wartawan Sinar Harapan, yang sudah berhenti cetak awal tahun 2016. Tahun 2002-2004 saya menjadi reporter desk metro (perkotaan).

Ada satu hal menarik ketika saya masih menjadi wartawan, ketika redaktur desk metro sedikit marah kepada saya, karena saya tidak membuat berita soal penggusuran. Redaktur bertanya : “kok kamu nggak membuat berita penggusuran tembij bolong di Sunter?”.

Kalau tidak salah, tahun 2003 itu ada penggusuran. Tapi ini bukan penggusuran sebesar kalijodo atau kampung aquarium yang menyedot perhatian. Ini penggusuran hanya kelas RT saja. Tapi kala itu sempat ramai menjadi berita.

Ada pertimbangan saya mengapa tidak memberitakan soal penggusuran ini. Pertimbangan atau keputusan ini saya buat, ketika saya meninjau lokasi tersebut, yang diberi nama tembok bolong.

Saya lupa persisnya lokasinya ada di mana. Seingat saya di Sunter. Kapan persis peristiwanya juga saya lupa. Yang masih dalam ingatan saya adalah, rumah warga yang akan digusur tersebut berada di dalam sebuah kavling tanah, yang sudah dipasang tembok keliling. Mereka kemudian membolongi tembok dan kembali meng kavling tanah yang ada di dalam kemudian di diami atau dibangun rumah.

Ketika hendak digusur, korban ini teriak. Atau bisa dikatakan demo lah begitu. Saya sih jujur saja, melihat model seperti ini tidak terketuk hatinya. Bukan saya sebagai wartawan menjadi sombong. Cuma saya sih melihat ini sebagai kesalahan korban penggusuran.

Lah, wong bukan tanah mereka, dan bahkan sudah dikelilingi tembok, masih juga nekat membolongi tembok untuk masuk ke dalam. Kalau sudah begini caranya kan bandel namanya. Apalagi ada oknum yang mengkavling, membuat patok kemudian dijual kepada yang berminat. Ini bikin saya malas menulis beritanya.

Bukan saya tidak mau membela yang “miskin”. Tapi apakah seperti ini orang miskin?. Mereka sanggup membeli tanah yang dikavling oknum, atau membangun rumah meskipun sederhana dari tripleks dan bahan murah lainnya. Dan parahnya lagi, main serobot tanah orang dengan nekat membolongi tembok.

Karena kenyataan di lapangan seperti ini, akhirnya, sekali lagi, saya memilih tidak menulis berita tentang penggusuran. Ini bukan penggusuran tapi pemilik tanah hanya menertibkan saja, tapi di spin untuk menjadi berita penggusuran karena mungkin lebih menjual

SHARE
Previous articleMembangun Fanbase (1)
Next articleEye in The Sky : Sebuah Pergolakan Moral
Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply