SHARE

Dua tahun lalu, ketika novel karya Dan Brown, yang terakhir, Inferno dijual di toko buku, saya sangat antusias membelinya. Dan Brown ini, saya suka novelnya.

Saya awalnya mengira, Novel ini tidak akan difilmkan dalam waktu dekat, karena saya mengambil contoh dari film-film yang diadaptasi dari Novel Dan Brown seperti Angels & Demons atau Da Vinci Code.

Beberapa bulan lalu, karena saya rajin mengecek film yang akan dirilis dari IMDb.Com sangat girang ketika Inferno ternyata dibuatkan film, meskipun saya bertanya kenapa kayak Lost Symbol tidak dibuatkan film. Tapi no problem.

Akhirnya kesempatan saya menonton Inferno datang juga. Setelah saya nonton Snowden (akan saya buat juga blog tentang film ini), saya akhirnya menonton Inferno. (Baca blog saya di journal.my.id ketika saya nonton dua film dalam satu hari).

Okei, film ini merupakan adaptasi dari Novel Dan Brown berjudul sama. Inferno. Seperti yang sudah saya baca di novelnya, Inferno ini mengisahkan tentang sebuah virus mematikan yang dibuat oleh Bertrand Zobrist yang diperankan oleh Ben Foster.

Seperti dua film yang diadaptasi dari Novel Dan Brown, Profesor Robert Langdon berperan dalam pemecahan kode atau teka-teki. Dia memang ahli dalam hal ini. Dan yang saya suka, Profesor Langdon ini masih diperankan oleh Tom Hanks.

Cerita dari film Inferno ini, adalah virus yang dibuat oleh Zobrist, berbahaya dan menjadi incaran banyak pihak. Baik yang ingin menjualnya, maupun seperti WHO.

Virus ini disembunyikan dengan rapi di sebuah tempat. Dan untuk mengetahui tempat virus tersebut disembunyikan, harus mengikuti teka-teki. Teka teki awal dibuat di dalam lukisan “Inferno” buatan Dante yang diproyeksikan melalui projector faraday.

Robert Langdon bersama dengan dokter Sienna Brooks (Felicity Jones), mengikuti petunjuk yang ada. Mereka pun sampai ke Palazzo Vecchio dan tempat bersejarah lainnya di Kota Firenze (Florence) Italia.

Di kota ini petualangan dimulai. Kita akan diajak berpetualang ke sejumlah lokasi bersejarah. Ini yang saya suka dari film ini. Kita diajak berpetualang.

Petualangan memburu virus ini akhirnya berlanjut ke kota di Italia berikutnya. Venezia. Kita juga diajak untuk melihat sisi sejarah dari kota ini.

Saya seakan dibuat mengikuti petunjuk dan teka-teki di film ini. Untuk bisa menikmati film ini tentu kita harus mengikuti secara seksama. Sayang kalau terlewatkan.

Setelah dari Venezia, petualangan terakhir di Istanbul Turki. Dan kita akan disuguhkan tempat bersejarah yang jarang diketahui orang. Haga Sophia memang sangat terkenal, tapi, ada satu tempat lagi yang sangat terkesan bagi saya.

Di film ini, kita jangan berharap aksi kejar-kejaran seru seperti di film Jasoun Bourne terakhir. Ini film, memamh berburu virus berbahaya, tapi tidak didisain untuk film aksi.

Saya melihat ini sebagai film petualangan yang dibumbui mencari virus dengan mengikuti petunjuk dan teka-teki. Asik memang menonton film seperti ini karena kita diajak berpetualang.

Tom Hanks memang cocok memerankan sebagai Profesor Langdon. Dia memainkannya dengan cerdas. Begitu pula dengan pemain lainnya. Kita tidak perlu meragukan kualitas aktingnya.

Tidak ada special effect berlebihan di film ini. Begitu juga, mungkin tidak ada CGI di film ini. Ending film juga tidak bisa ditebak. Kecuali yang udah membaca novelnya, udah tau endingnya. Tapi ketika membaca novelnya juga saya tidak bisa menebak endingnya. Kalau saya cerita endingnya, ataupun lebih detail, nanti akan dibilang spoiler.

Dan Brown memang jago membuat kita berpetualang di Italia melalui film ini (dan juga dua film sebelumnya). Kita bisa melihat karya seniman-seniman hebat di film ini, yang mungkin kita tidak tahu (bagi sebagian orang).

Bagi penikmat film seperti saya, tidak perlu susah payah dan repot mencari plot hole dalam film ini. Tinggal menonton dan ikuti plotnya saja. Dijamin seru dan asik.

Tidak menonton film ini? Jelas rugi dong!

Poster Inferno di IMDb
Poster Inferno di IMDb
REVIEW OVERVIEW
Cerita
Akting Pemain
Sinematografi
SHARE
Previous articleNasi Goreng Mas Subur yang Enak
Next articleKwee Tiaw Goreng Mas Subur Ternyata Enak Juga

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga.
Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.