close
Cerita

Gila! Terpapar ISIS Lewat Media Sosial, Butuh Waktu Nggak Sampe Setahun

img_0234

Saya jujur saja, setengah kaget, setengah nggak percaya dengan apa yang disampaikan pengamat terorisme, Solahudin di acara Forum Merdeka Barat 9 dengan tema Cegah dan Perangi Aksi Terorisme.

Solahudin mengatakan, untuk terpapar ISIS atau Radikalisme, melalui media sosial, hanya butuh waktu kurang dari 1 tahun. Gila bener. Rentang waktunya hanya 0-1 tahun.

Siapa yang nggak kaget kalau waktu tersebut kurang dari satu tahun. Cepat banget itu!

Solahudin mengatakan, sebelum era media sosial, butuh waktu 5 tahun untuk terpapar Radikalisme atau Ekstremisme. Sekarang, hanya butuh waktu kurang dari setahun.

Alasannya?

Ini yang menarik. Solahudin mengatakan bahwa kenapa lebih cepat terpapar lewat media sosial, karena mereka mendapatkan konten soal radikalisme ini, secara intens di media sosial.

1 Channel di Media Sosial seperti telegram, ada sampai 80 konten soal radikalisme. Sementara Channel soal radikalisme ini ada lebih dari 50. Tinggal dikali saja.

Ini gila dan tentunya mengagetkan bagi saya.

Mengenai perekrutan, Solahudin mengatakan, di Indonesia, perekrutan pelaku radikalisme ini lebih banyak melalui offline. Di Indonesia, kalau rekrutmen secara online, banyak terjadi penipuan.

Solahudin bahkan mengatakan ada 1 orang yang menjadi buronan ISIS karena membawa lari uang perekrutan yang jumlahnya puluhan juta.

Solahudin juga mengatakan, berbeda dengan Malaysia, karena kerasnya Undang Undang terkait terorisme di Malaysia, perekrutan lebih ke online karena kalau secara tatap muka, akan sangat sulit.

Terorisme di berbagai belahan dunia, memang memanfaatkan media sosial. Ketua Dewan Pers, Josef Adi Prasetyo bahkan mengutip Margareth Thatcer dengan menyebutkan bahwa Media ini ibarat oksigen bagi terorisme.

Karena itu, Media itu ada etika untuk pemberitaan mengenai terorisme ini. Ada SOP soal pemberitaan dan peliputan soal terorisme ini.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: