close
Cerita

Dua Postingan di Detik Travel dalam Satu Hari

detik travel bukit panguk – 1

Belakangan ini, sekitaran dua tahun, setelah saya bepergian, baik bepergian sendiri, bersama teman, baik bayar sendiri maupun ada yang ngongkosin, saya akan menuliskannya di blog saya.

Nggak cuma di blog saya sih sebenarnya, tapi di saya posting juga di blog milik kompas, yaitu kompasiana.com. Sudah ada beberapa travel blog saya yang saya posting di kompasiana.

Awal tahun 2018, saya mencoba untuk menuliskannya di detik travel. Detik travel ini bukanlah seperti kompasiana, tapi kita bisa mengirimkan tulisan dengan foto. Kita bisa daftar dan submit tulisan kita.

Sebenarnya sih saya mencoba saja. Karena saya memang suka menulis, dan mencoba menjadi travel blogger.

Bulan Februari lalu saya memasukkan tulisan saya ke detik travel. Tulisan itu saya buat setelah kunjungan saya ke Yogyakarta dan Kaliurang. Saya menuliskan tentang Jadah Tempe Mbah Carik. Dan ternyata tulisan tersebut dipublish oleh detik travel. Senang dong pastinya.

Saya kemudian mencoba menuliskan travel blog lagi, tapi tentang kuliner. Kali ini saya mencoba untuk menuliskan makanan khas yang saya temukan ketika berkunjung ke Malang bulan Januari. Tahu campur khas lamongan.

Saya mengirimkan tulisan tersebut bulan Februari, dan saya pikir tidak akan dipublikasikan. Tapi ternyata, setelah kurang lebih sebulan, tulisan tersebut dipublikasikan.

Jadi keranjingan ngirim tulisan dong? Pastinya! Bulan April, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Yogyakarta lagi. Dan setelah kembali ke Jakarta, saya seperti biasa, menuliskannya untuk bacirita.id dan juga untuk detik travel. Ada dua tulisan dan 1 postingan foto yang saya submit atau masukkan.

Hasilnya?

Hari Kamis 26 April ini, saya setengah terkejut. Lah kenapa? Karena dua tulisan dan foto yang saya kirimkan dipublikasikan. Yang pertama adalah foto jalan Malioboro dan yang ke-2 adalah tentang Bukit Panguk.

Jujur saja, saya tidak menyangka. Saya awalnya berpikir, hanya ada satu tulisan yang dipublikasikan. Ternyata lebih. Wah senang nggak sih?

Kenapa saya senang? Akan saya ceritakan di blog saya yang lain ya.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: