close
batokok 3

Seusai bertemu dengan Suku Anak Dalam di Kabupaten Serolangun, Provinsi Jambi, saya bersama teman saya melanjutkan perjalanan ke Sumatera Barat. Dalam perjalanan ini, kami melewati Kabupaten Kerinci dimana ada Danau Kerinci dan Gunung Kerinci.

Hari masih subuh ketika kami tiba. Kamipun berniat untuk mengelilingi Danau Kerinci ini. Setelah mampir sebentar di tepi danau, kami melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, dan hari mulai menanjak siang, perut mulai memberikan kode. Lapar! Kami pun melirik ke kanan dan kiri mencari tempat makan. Karena masih suasana lebaran, tidak ada yang buka. Waduh!

Perjalanan terus kami lanjutkan sampai akhirnya kami temukan sebuat tempat makan. Masakan minang sebenarnya. Tapi yang membuat berbeda adalah plangnya. Ada Dendeng Batokok. Wah baru pertama kali saya lihat ini.

Dokpri
Dokpri

Yang terbayang dalam pikiran saya adalah dendeng yang crispy atau renyah ketika dikunyah. Ada juga yang alot juga sebenarnya.

Sampai di dalam tempat makan bernama Pancuran Tujuh ini, saya melihat daging sapi yang dibuat fillet, atau diiris tipis dan berada dalam tempat panggangan. Teman saya, Hariadhi pun bilang itulah dendeng Batokok!

Dokpri
Dokpri

Woh! Penampilannya lain ternyata!

Karena memang ingin mencicipi (atau menyantap) dendeng Batokok ini, kami tidak memesan menu atau jenis makanan lain. Hanya Dendeng Batokok saja.

Pesanan pun sampai di meja. Dendeng Batokok ini disajikan dengan dua jenis sambal. Ada semacam sambal seperti sambal ayam pop dan sambal uleg atau semacam sambal terasi. Ada dua jenis sambal ternyata.

Dokpri
Dokpri

Dan yang uniknya lagi adalah, ada keripik kentang (atau singkong?) Semacam opak tapi kecil-kecil.

Tiba saatnya menyantap. Saya mengambil satu potong daging dendeng batokok ini. Kalau kita lihat sekilas, mirip dengan empal. Gigitan pertama sampai di mulut dan Empuk! Nggak alot.

Ketika mulai dikunyah, ada rasa seperti jeruk. Dan ternyata memang menggunakan limau. Oh My God! Sungguh enak benar. Bumbu manis asam jeruk terasa. Ditambah dengan sambal, makin sedap menyantapnya.

Tak terasa dua potong daging dendeng batokok ini saya santap. Teman saya hanya menyantap satu potong saja. Ketika membayar, kami hanya membayar Rp 60.000 untuk makan sudah dengan nasi dan minum.

Soal dendeng batokok ini, sampai saya menulis tulisan ini, masih terbayang rasa enak dan empuknya. Kalau sedang berpetualang di Sumatera, tak ada salahnya kita mencoba mencicipi dendeng batokok ini.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

1 Comment

  1. Mantap!
    Kong kapan bajalang ke Waruwasey dang? Minta no. WA kwa, napa kt 081340028483 trims. Ai

Leave a Reply

%d bloggers like this: