SHARE

Rasanya ada yang kurang dari blog saya tentang RPTRA Sungai Bambu yang sudah saya tulis sebelumnya. Ah iya, ternyata saya belum bercerita di blog tersebut tentang dua orang lain yang saya temui di RPTRA Sungai Bambu.

Selain Manda bocah enam tahun, Ibu Tumiyanti dan Ibu Neni Asnaeni, ada dua orang lain yang saya ajak ngobrol RPTRA paling pertama di Jakarta dan Jakarta Utara ini.

Sebenarnya sebelum masuk ke ruang pengelola RPTRA, saya menghampiri kios yang ada di RPTRA. Ada beberapa kios tenda di RPTRA. Maaf kalau saya harus bilang tenda tersebut dari sebuah produsen minumah teh, yakni teh pucuk. Sorry bukan ngebuzzing tapi ini memang kenyataan.

Dari beberapa tenda tersebut, saya lihat ada sebuah tenda yang ada kiosnya. Saya pun datang menghampiri. Pemilik kios ini namanya Ibu Sulastri.

Ibu Sulastri ini bercerita bahwa dia berdagang di RPTRA Sungai Bambu sudah lebih dari satu tahun. “Sudah dari RPTRA ini diresmikan,” tutur Ibu Sulastri.

Ibu Sulastri ini bertutur, dia mendapatkan kios dari Suku Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Jakarta Utara (Sudin KUKM). Dia tidak membayar agar bisa berdagang di situ.

Sulastri bercerita, dia berdagang makanan dan minuman yang sederhana seperti mi instan dan minuman. “Ramenya di akhir pekan. Biasanya suka ada beragam kegiatan kalau akhir pekan dan warga yang berkunjung banyak,” tutur Sulastri.

Sulastri setidaknya bisa membantu perekonomian keluarga dengan berdagang di RPTRA. Dia tidak perlu khawatir akan digusur. Dia juga terdaftar di Sudin KUKM sebagai pedagang binaan.

RPTRA ini bukan hanya bermanfaat bagi warga yang ingin bermain, atau membaca di Perpustakaan. Tapi menjadi lokasi berdagang.

Leave a Reply