close

Bauni

Bauni

“Blue Bloods”, Serial Keluarga Polisi yang Wajib Ditonton

BlueBloodsFamilyDinner

Belasan tahun terakhir ini, bisa dikatakan, saya berlangganan TV berbayar. Iya, TV berbayar yang saya gunakan, sudah berbagai jenis. Terakhir ini saya menggunakan produk telkom, indihome.

Dari semua TV berbayar ini, ada salah satu Channel favorit saya, yaitu AXN, selain Fox Crime (yang juga favorit saya karena menayangkan CSI). Di AXN ini, ada satu serial dari sekian jumlah serial yang saya sukai. Namanya, Blue Bloods.
Apa yang membuat saya suka dengan Blue Bloods ini?

Ini yang akan banyak saya ceritakan di tulisan ini. Blue Bloods merupakan serial yang bercerita mengenai Keluarga Reagan. Bukan Ronald Reagan mantan Presiden Amerika Serikat ya.

Keluarga Reagan ini, merupakan sekeluarga yang merupakan polisi. Mereka adalah Polisi di Big Apple, New York. Tapi tidak semua dari Keluarga Reagan ini, merupakan Polisi.

Karena NYPD ini polisi yang berseragam biru, maka wajar judul dari Serial ini menjadi Blue Bloods. Bukan Berdarah Biru versi di sini yang berarti keturunan kerajaan ya. Blue Bloods di sini karena “berdarah polisi”.

Di serial ini, ada empat generasi. Dari Kakeknya, Henry Reagan (diperankan Len Cariou) pensiunan Polisi dan merupakan mantan dari Komisioner Polisi (PC, Police Commisioner) di NYPD. Anak dari Henry, Frank Reagan (diperankan Tom Selleck) di serial ini memerankan Frank Reagan, yang merupakan Komisioner Polisi.

Generasi ke-3 adalah anak-anak dari Frank. Danny (Donnie Wahlberg), Erin (Bridget Moynahan), dan Jamie (Will Etstes). Danny merupakan detektif, dan Jamie merupakan Polisi patroli. Bagaimana dengan Erin? Erin yang berbeda di sini. Dia merupakan seorang Jaksa. Ini yang saya katakan sebelumnya, tidak semua dari keluarga Reagan yang merupakan anggota polisi.

Generasi ke-4, adalah anak dari Erin dan Danny. Ada Nicky yang diperankan oleh Sami Gayle dan Jack serta Sean Reagan.

Serial Blue Bloods ini sendiri, dalam kacamata pribadi saya ada multi plot. Danny yang bertugas sebagai detektif berpartner dengan Maria Baez, memiliki tugas sendiri dan ada ceritanya sendiri.

Begitu juga dengan Jamie yang berpartner dengan Eddie juga ada kisahnya sendiri. Erin dengan permasalahan di kejaksaan serta Frank di kantornya.

Ini yang saya suka dari serial ini. Seakan-akan saya menonton beberapa serial dalam satu serial. Misalnya Danny yang menyelidiki pembunuhan dan Frank dengan berbagai konflik di level atas kepolisian.

Meski ada banyak plot, ada satu atau dua adegan yang menyatukan mereka. Ada satu hari khusus, keluarga Reagan ini berkumpul di meja makan, sembari berdiskusi berbagai hal. Mulai dari masalah pekerjaan, sampai masalah keluarga. Di setiap episode pasti ada adegan ini. Terkadang, Danny membantu Erin, atau Erin membantu Danny dan Jamie.

Serial ini, bukanlah hanya serial yang ada action karena ada juga tembak menembak. Tapi ada drama dan drama di serial ini ada unsur keluarga. Bahkan menjadi polisi dikatakan menjadi “Family Business”.

Overall, serial ini bisa saya kasih angka delapan dari 10. Sangat enak untuk diikuti. Bahkan, dengan TV On Demand dari indihome, saya bisa memutar season 7 dari serial ini. Kebetulan masih suka ada di AXN.

Setiap tayang sesuai dengan jadwalnya, pasti akan saya tunggu. Dan dengan TV Indihome, kalau terlewatkan karena saya harus bekerja meskipun malam hari, saya tidak khawatir. Tinggal putar ulang dari TV On Demand.

Kalau pembaca sedang mencari serial televisi yang menarik, tak ada salahnya menonton serial ini. Sangat bagus untuk ditonton. Tidak ada kekerasan, tapi lebih menonjolkan sisi keluarga.

read more
Bauni

“MI5 : Fall Out”, Tahan Napas Anda

MI 5

Ketika saya menonton film, dan seperti biasa sebelum film utama tayang akan ada trailer film. Salah satunya adalah Mission Impossible : Fall Out ini. Tapi kali ini trailernya tidak biasa. Menampilkan saat syuting salah satu adegan di film ini.

Adegan di trailer MI 5 ini adalah ketika pemeran utama, Tom Cruise Ethan Hunt syuting terjun payung HALO Jump atau High Altitude Low Opening yang biasa dilakukan oleh Pasukan Khusus Amerika Serikat, Navy Seal. Saya pun menduga, bakal banyak aksi yang membuat kita menahan napas karena tegang.

Awal film MI-5 ini berbeda dengan MI-4 Rogue Nation. Awal film sequel sebelumnya langsung ada adegan yang membuat kita menahan napas. Tapi MI-5 ini tidak.

Oke, kita bicara cerita soal film ini. Pada dasarnya plot atau cerita film ini sama saja dengan MI sebelumnya. Berburu tokoh teroris. Atau yang menciptakan teror. Kali ini yang diburu mereka yang mau bertransaksi Plutonium yang akan dijadikan bom nuklir. Kalau cerita seperti ini, bukan hanya ada di MI-5 saja.

Apa yang membedakan film ini? Aksi atau laga film ini yang membuat kita menahan napas. Ethan Hunt yang terjun dan mencoba menyelamatkan August Walker ketika terjun di atas udara Paris untuk ke Grand Palais ini saja sudah membuat kita menahan napas.

Adegan apa lagi? Kejar-kejaran dengan sepeda motor di dalam kota Paris saja sudah seru dan sekali lagi membuat kita menahan napas. Ethan yang mengejar August dan loncat dari gedung tinggi ke gedung tinggi lainnya juga membuat kita menahan napas.

Dan yang pasti adalah adegan terakhir. Saya tidak mau spoiler terlalu banyak. Aksi nekat dan gila Tom Cruise di bagian akhir film ini sudah pasti akan membuat kita di 10 menit terakhir film akan merasakan ketegangan yang tidak biasa.

Dari sisi cerita, tidak ada hal baru yang ditawarkan di film ini. Begitu juga dengan pemerannya. Begitu juga teknologi. Jangan berharap banyak. Cukup kita saksikan action dan ketegangannya.

Score film ini? Cukup 7 dari 10 saja.

Sumber foto : imdb.com

 

read more
Bauni

Mamma Mia : Here We Go Again, Menonton Film Sembari Bernostalgia dengan Lagu ABBA

Mamma Mia 2

Ketika trailer film Mamma Mia : Here We Go Again ini muncul di bioskop sebelum film yang ingin saya tonton, saya sudah menebak, pastilah film ini akan dipenuhi dengan lagu-lagu dari kelompok musik asal Swedia ABBA.

Sudah pasti saya ingin menonton film ini. Meskipun penggemar berat ABBA, saya suka sekali mendengarkan lagu ABBA. Misalnya Fernando, Mamma Mia, Waterloo, Dancing Queen, I Have a Dream dan masih banyak lagi.

Tebakan saya memang benar. Sewaktu menonton film ini, dari awalnya saja sudah ada lagu ABBA. Sophie yang diperankan oleh Amanda Seyfried di awal film ini mendendangkan Thank You for The Music, tebakan saya benar juga.

Cerita film pun terus berlanjut. Idenya sih memang sederhana. Menceritakan tentang Sophie putri dari Donna yang sedang membuat hotel di sebuah pulau di Yunani. Hotel ini merupakan impian dari ibunya, Donna yang diperankan oleh Meryl Streep.

Bukan hanya itu saja ceritanya, tetapi juga menceritakan kehidupan cinta dan petualangan ibu dari Sophie yaitu Donna ketika masih muda yang diperankan oleh Lily James. Jadi, merupakan gabungan dari kisah Sophie dan ibunya. Donna ini memiliki kisah hubungan cinta dengan tiga pria yaitu Harry, Bill dan Sam. Tokoh muda dari tiga film ini juga diperlihatkan.

Secara cerita, memang film ini biasa saja. Tapi yang asyik dari film ini, adalah adegan-adegannya yang disesuaikan dengan lagu Abba. Sewaktu Donna lulus dan diminta berpidato, kemudian dia bernyanyi Kiss The Teacher dan mencium guru-gurunya.

Sewaktu Donna merasa dibohongi oleh Sam, dia juga menyanyikan lagu Mamma Mia dengan awal lirik

I been cheated by you since you know when
So I made up my mind, it must come to an end
Look at me now, will I ever learn?

Memang benar-benar bernostalgia dengan lagu Abba.

Ketika menonton, saya dan penonton yang duduk di belakang saya, bahkan ikutan menyanyi, walaupun dengan suara yang cukup pelan.

Tak perlu repot mencerna cerita dari film yang memang simpel ini. Kita cukup bernostalgia dengan lagu Abba saja. Sudah sangat cukup.

Semua pemain di film ini memang pintar bernyanyi. Saya bahkan kaget seperti Pierce Brosnan, mantan James Bond pun bernyayi. Oh iya, film ini memang bertabur bintang. Selain Lily James, Amanda Seyfried, dan Meryl Streep, juga ada Andy Garcia, Colin Firth hingga Dominic Copper.

Kalau belum menonton, saran saya sebaiknya menonton. Apalagi kalau Anda penggemar lagu tahun 1970-1980. Dijamin akan seru. Bisa mengajak keluarga hingga anak-anak. Film ini memang film keluarga yang asik.

read more
Bauni

XXX : Return of Xander Cage : Sebuah Film yang Hanya “Full Action”

xander cage

Sebagian besar dari kita pastilah sudah menonton film yang sudah banyak sekuelnya, yaitu Fast Furious. Yang saat ini sudah mencapai seri ke-7 dan ke-8 nya akan segera muncul.

Oke, saya tidak akan membahas soal film tersebut. Sekuel fast furious ini muncul ketika saya menonton film XXX : Return of Xander Cage yang sementara tayang di bioskop.

Oke mari kita mulai review sedikit soal film Return of Xander Cage ini. Oh iya, saya juga sudah menonton film XXX pertama ketika Xander Cage yang diperankan Vin Diesel tayang.

Nah setelah XXX yang diperankan Vin Diesel, ada kelanjutannya, yang memerankan bukan Vin Diesel, tapi sudah Ice-cube yang memerankannya. Dia memerankan tokoh sebagai XXX di sini, dengan nama peran Darius Stone.

Oke balik ke review lagi ya. Opening dari XXX: Return of Cage ini, seperti biasa. Yang muncul duluan adalah Gibbons yang diperankan Samuel L Jackson bersama dengan pesepakbola Neymar Jr.

Cerita berlanjut dengan pencurian namanya Pandora Box, yang dilakukan oleh Donnie Yen dan kawan-kawannya. NSA yang ingin mencari Pandora Box tersebut, mencari agen yang mampu.

Dan ternyata, pilihan jatuh pada Xander Cage, yang ternyata belum mati (di film XXX yang diperankan oleh Ice-Cube, Xander Cage dikatakan mati).

Selayaknya film XXX pertama, adegan dibuka dengan adegan xtreme sport yang dimainkan oleh Xander Cage. Coba deh nonton film pertama XXX ini.

Setelah berhasil menemui Xander Cage, agen Jane Marcke kemudian langsung mengantar Xander Cage untuk berburu Pandora Box yang diketahui berada di Filipina. Disini kemudian, sebenarnya Xander Cage merekrut timnya.

Perburuan Pandora Box ini melibatkan aksi olahraga ekstrim yang membuat film ini seru. Begitu juga dengan adegan tembak-tembakan dan adegan berkelahi yang membuat ini bagi saya, full action. Film laga. Ya eyalaaah.

Secara cerita, film ini ya standard film agen rahasia, atau agen khusus dengan timnya yang berburu barang yang ingin dicari. Cerita mirip banyak ditemui di film lain. Plot nya juga begitu.

Perkenalan anggota tim XXX di sini juga dibuat ditengah-tengah setelah Xander merekrut mereka. Yang tidak asing lagi, adalah plot film yang seperti biasa, ternyata orang dalam yang bermain dengan barang yang dicari. Sudah banyak kan yang mirip?

Kalau bicara soal sinematografinya, tidak banyak diharapkan mencari gambar indah. Hanya gambar-gambar penuh aksi saja. Dan permainan teknologi yang tidak membuat saya terlalu tercengang.

Adegan parkour dari Toni Jaa yang diperankan oleh Toni Jaa asik untuk dilihat. Ditambah dengan aksi kungfu Donnie Yen juga asik. Tapi itu bukan sesuatu yang baru juga.

Yang menarik perhatian saya dari film ini adalah kehadiran Kris Wu dan Deepika Padukone. Aktor dan Aktris berdarah asia ini menambah semarak film ini. Apalagi Deepika yang memerankan Serena, so sexy.

Tapi, ada bagian dari film ini, oke sorry kalau saya spoiler atau membocorkan. Tapi ketika Darius Stone pada akhirnya muncul di film ini, dan sejumlah tokoh ini ternyata mereka adalah XXX atau Triple X, akhirnya membuat saya berpikir, wah ini jadi The Next Fast Furious.

Mengapa? Fast Furious di seri ke-4 nya, para jagoan di film-film sebelumnya dikumpulkan untuk menjadi tim. Begitu bukan?

Nah inilah yang terjadi di XXX : Return of Xander Cage ini.

Darius Stone di film sebelumnya dikumpulkan dengan sejumlah anggota XXX lainnya. Mereka menjadi berteman. Nah lho! Bukan tidak mungkin akan ada sekuel selanjutnya dengan model Fast Furious. Ada tim yang terkumpul dari film ini dan bisa membuat ada kelanjutannya.

Ya sudahlah, film ini memang cuma buat seru ditonton sebagai hiburan. Kita tidak bisa berharap banyak dari film ini.

Mencari hiburan dengan menonton, film ini sangat layak ditonton.

read more
Bauni

Inferno : Diajak Berpetualang ke Tiga Kota Bersejarah

Tom Hanks;Felicity Jones

Dua tahun lalu, ketika novel karya Dan Brown, yang terakhir, Inferno dijual di toko buku, saya sangat antusias membelinya. Dan Brown ini, saya suka novelnya.

Saya awalnya mengira, Novel ini tidak akan difilmkan dalam waktu dekat, karena saya mengambil contoh dari film-film yang diadaptasi dari Novel Dan Brown seperti Angels & Demons atau Da Vinci Code.

Beberapa bulan lalu, karena saya rajin mengecek film yang akan dirilis dari IMDb.Com sangat girang ketika Inferno ternyata dibuatkan film, meskipun saya bertanya kenapa kayak Lost Symbol tidak dibuatkan film. Tapi no problem.

Akhirnya kesempatan saya menonton Inferno datang juga. Setelah saya nonton Snowden (akan saya buat juga blog tentang film ini), saya akhirnya menonton Inferno. (Baca blog saya di journal.my.id ketika saya nonton dua film dalam satu hari).

Okei, film ini merupakan adaptasi dari Novel Dan Brown berjudul sama. Inferno. Seperti yang sudah saya baca di novelnya, Inferno ini mengisahkan tentang sebuah virus mematikan yang dibuat oleh Bertrand Zobrist yang diperankan oleh Ben Foster.

Seperti dua film yang diadaptasi dari Novel Dan Brown, Profesor Robert Langdon berperan dalam pemecahan kode atau teka-teki. Dia memang ahli dalam hal ini. Dan yang saya suka, Profesor Langdon ini masih diperankan oleh Tom Hanks.

Cerita dari film Inferno ini, adalah virus yang dibuat oleh Zobrist, berbahaya dan menjadi incaran banyak pihak. Baik yang ingin menjualnya, maupun seperti WHO.

Virus ini disembunyikan dengan rapi di sebuah tempat. Dan untuk mengetahui tempat virus tersebut disembunyikan, harus mengikuti teka-teki. Teka teki awal dibuat di dalam lukisan “Inferno” buatan Dante yang diproyeksikan melalui projector faraday.

Robert Langdon bersama dengan dokter Sienna Brooks (Felicity Jones), mengikuti petunjuk yang ada. Mereka pun sampai ke Palazzo Vecchio dan tempat bersejarah lainnya di Kota Firenze (Florence) Italia.

Di kota ini petualangan dimulai. Kita akan diajak berpetualang ke sejumlah lokasi bersejarah. Ini yang saya suka dari film ini. Kita diajak berpetualang.

Petualangan memburu virus ini akhirnya berlanjut ke kota di Italia berikutnya. Venezia. Kita juga diajak untuk melihat sisi sejarah dari kota ini.

Saya seakan dibuat mengikuti petunjuk dan teka-teki di film ini. Untuk bisa menikmati film ini tentu kita harus mengikuti secara seksama. Sayang kalau terlewatkan.

Setelah dari Venezia, petualangan terakhir di Istanbul Turki. Dan kita akan disuguhkan tempat bersejarah yang jarang diketahui orang. Haga Sophia memang sangat terkenal, tapi, ada satu tempat lagi yang sangat terkesan bagi saya.

Di film ini, kita jangan berharap aksi kejar-kejaran seru seperti di film Jasoun Bourne terakhir. Ini film, memamh berburu virus berbahaya, tapi tidak didisain untuk film aksi.

Saya melihat ini sebagai film petualangan yang dibumbui mencari virus dengan mengikuti petunjuk dan teka-teki. Asik memang menonton film seperti ini karena kita diajak berpetualang.

Tom Hanks memang cocok memerankan sebagai Profesor Langdon. Dia memainkannya dengan cerdas. Begitu pula dengan pemain lainnya. Kita tidak perlu meragukan kualitas aktingnya.

Tidak ada special effect berlebihan di film ini. Begitu juga, mungkin tidak ada CGI di film ini. Ending film juga tidak bisa ditebak. Kecuali yang udah membaca novelnya, udah tau endingnya. Tapi ketika membaca novelnya juga saya tidak bisa menebak endingnya. Kalau saya cerita endingnya, ataupun lebih detail, nanti akan dibilang spoiler.

Dan Brown memang jago membuat kita berpetualang di Italia melalui film ini (dan juga dua film sebelumnya). Kita bisa melihat karya seniman-seniman hebat di film ini, yang mungkin kita tidak tahu (bagi sebagian orang).

Bagi penikmat film seperti saya, tidak perlu susah payah dan repot mencari plot hole dalam film ini. Tinggal menonton dan ikuti plotnya saja. Dijamin seru dan asik.

Tidak menonton film ini? Jelas rugi dong!

Poster Inferno di IMDb
Poster Inferno di IMDb
read more
BauniFeatured

Jason Bourne : Tegang Terus dan Gokil!

jason bourne

Jason Bourne merupakan salah satu film yang saya tunggu-tunggu untuk ditonton tahun 2016 ini. Tiga film Bourne sebelumnya, yang diperankan Matt Damon, saya tuntun semuanya.

Karena itu, ketika mulai tayang pekan lalu di jaringan bioskop yang ada di tanah air, tak perlu banyak berpikir, saya langsung tonton film ini.

Adegan pembukaan, adegan bayangan masa lalu Jason Bourne ditampilkan. Dan berlanjut kemudian Jason yang ingin bertahan hidup dengan menjadi petarung di Yunani.

Adegan kemudian berpindah ketika salah seorang mantan agen CIA, Nicky Parson yang diperankan oleh Julia Stiles meretas sistem CIA untuk mendownload sejumlah dokumen penting terkait black ops CIA dan masa lalu Jason Bourne.

Seperti biasa, CIA berhasil mendeteksi peretasan ini. Namun, data keburu berhasil dicuri. Adegan selanjutnya, tentunya memburu Nicky yang akhirnya bertemu dengan Jason di Yunani.

Adegan kemudian berjalan dengan semakin tegang. Adegan kejar mengejar, memburu Jason dengan menggunakan aset CIA yang seorang pembunuh bayaran, membuat penonton seakan tidak bisa bernafas, dan terpaku di kursi bioskop untuk mengikuti adegan demi adegan di film ini.

Di film ini, teknologi kecanggihan “surveillance” atau pengawasan dan pengintaian CIA ditampilkan blak-blakan. Apa yang dilihat dari teropong senapan penembak jitu, bahkan bisa dipantau langsung oleh CIA di Langley.

CIA melalui agent Cyber mereka, Heather Lee yang diperankan Alicia Vikander, bahkan bisa “meng shutdown” hanya melalui sebuah ponsel biasa. Ini gila.

Permainan kotor CIA juga tak segan dipamerkan di film ini. Bagaimana CIA ingin membunuh Jason di film ini ditampilkan gila-gilaan. Bahkan seorang rekanan CIA juga ingin dibunuh di film ini dengan permainan yang apik, meskipun gagal.

Matt Damon masih terlihat prima di film ini dengan adegan bertarung dan kejar-kejaran. Teknologi canggih memang ditampilkan di film ini. Tapi adegan adu fisik membuat film ini semakin seru.

Matt Damon, berperan dengan baik. Alicia Vikander sangat apik menjadi agen CIA di film ini. Tommy Lee Jones juga sangat pas berperan sebagai Direktur CIA, Robert Dewey, yang dingin dan tak segan memerintahkan aset untuk membunuh.

“Walking Camera” yang menjadi khas film Bourne sebelumnya, masih menjadi ciri khas di film ini. Ini membuat film semakin gokil.

Film ini memang keren. Asik buat ditonton. Meski belum ada hal baru di film ini, setidaknya identitas Jason mulai terkuak. Dan akan ada sequel atau kelanjutan dari film ini. Saya pasti menunggunya.

read more
Bauni

Star Trek Beyond : Awesome !

startrekbeyond

Jujur saja, saya ini bukan fans atau penyuka film Star Trek, Star Wars atau semacamnya. Saya ini lebih ke penggemar film action seperti Bad Boys, Gone in 60 seconds atau film perang semacam Black Hawk Down. Kalaupun film berbau “sci-fi” ya palingan semacam Transformers gitu lah.

Semenjak Rabu 20 Juli kemarin, di jejaring bioskop di tanah air, mulai tayang, Star Trek Beyond. Tertarik nonton? Sekali lagi saya bukan fans Star Trek, tapi yang tersaji di bioskop yang terbaru hanya Star Trek, tak butuh lama bagi saya untuk membeli tiket.

Awalnya, film ini saya pikir hanya akan berputar-putar di USS Enterprise yang dikomandani oleh Capt. James T Kirk yang diperankan Chris Pine. Eh ternyata anggapan saya jauh melenceng dari apa yang saya tonton.

Film ini ternyata menjadi “perang bintang” atau “perang galaksi”. Awalnya memang ditunjukkan adegan di dalam kapal USS Enterprise. Tapi selebihnya (nggak mau spoiler ah).

Overall, saya terkesima dengan film ini. Saya sangat dan teramat kagum dengan special effect di film ini termasuk ketika mereka berpindah-pindah tempat. Teleport gitu lah. Ini efeknya luar biasa keren.

Yang lebih mengagumkan lagi dari film ini, adalah CGI pesawatnya, untuk USS Enterprise, maupun pesawat “bee” nya alien atau musuh yang menyerang USS Enterprise yang akhirnya jatuh dan terdampar di sebuah planet.

Make up artistnya juga gila-gilaan. Dandanannya Joe Taslim yang menjadi Manas hingga Sofia Boutella yang menjadi Jaylah, keren sangat. Sangat keren.

Manas-Star-Trek-Beyond1-696x387
Joe Taslim (kanan) dan Manas yang diperankannya di Star Trek
star-trek-beyond-sofia-boutella
Sofia Boutella yang menjadi Jaylah. Keren kan kan kan kan kan

Kalau dari sisi cerita, saya lihat tidak ada plot hole atau celah dalam cerita. Kita cukup nikmati saja film ini. Tidak perlu dialog-dialog ribet. EH iya ada dialog berbau “fisika” atau “biologi” yang rada canggih sebenarnya, tapi kita akan mudah mencernanya kok.

Acting atau peran Chris Pine, Karl Urban, dan sejumlah pemain lainnya, saya katakan oke. Apalagi Joe Taslim dengan aksinya. Keren. Saya tidak sangka kalau yang menjadi Manas adalah Joe Taslim.

Film ini, bagi saya awesome. Keren sangat. Saya sangat menikmati adegan demi adegan. Mata saya hampir tidak berkedip menikmati film ini. Saya berusaha tidak ngantuk agar tidak melewatkan setiap adegan di film ini.

Tak perlu mengkritik terlalu banyak film ini. Toh saya bukan kritikus film. Cuma penikmat film.

Saya cuma bisa bilang, jangan sampai nyesel kalau tidak menonton film ini.

read more
Bauni

Finding Dory : Fun & Nice Story

finding dory

Setelah maju mundur untuk pengen nonton Finding Dory, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film animasi besutan Disney dan Pixar Studio ini. Entah kenapa saya sulit mengambil keputusan untuk menonton ini semenjak mulai tayang di sejumlah bioskop.

Finding Dory ini, semacam kelanjutan atau mungkin spin off dari film Finding Nemo yang diputar tahun 2003 lalu (sama juga ya kayak AADC). Tapi yang saya lihat ini konsepnya berbeda.

Kalau Finding Nemo itu berkisah pencarian nemo yang tertangkap, Finding Dory ini mengisahkan pencarian Dory terhadap kedua orang tuanya, Jenny & Charlie.

Ceritanya, Dory ini terpisah dari orang tuanya. Dia juga memiliki ingatan pendek, alias short term memory. Namun tiba-tiba dia teringat memiliki orang tuanya dan kemudian berniat mencarinya. Pencarian pun dilakukan dengan bantuan Marlin dan Nemo.

Bagi saya, Disney ini merupakan story teller yang ulung. Disney bisa mengisahkan pencarian orang tua Dory ini dengan runut, seru dan asik. Ada bagian yang jenaka, dan bisa membuat penonton bioskop terbahak atau tertawa, dan ada momen yang bisa membuat penonton terharu.

Pixar juga membuat film ini “hidup” dengan animasinya yang sangat bagus. Laut dengan isinya terlihat sangat hidup. Saya masih terkesima dengan animasi di dalam laut maupun animasi di marine institute yang benar-benar terlihat sangat nyata.

Selain itu juga, di film ini, Para pengisi suara tokoh di film ini juga sangat baik.

Ellen De Generes yang mengisi suara Dory baik di Finding Nemo maupun Finding Dory ini sangat sukses. Begitu juga pengisi suara lainnya. (Oh iya, pengisi suara nemo, setelah saya cek di IMDb, ternyata orang yang berbeda ketika di Finding Nemo maupun Finding Dory).

Banyak pesan yang disampaikan Disney melalui film ini. Meski kita memiliki ingatan yang pendek, Disney mau menunjukkan bahwa kita masih ingat bahwa kita memiliki orang tua.

Di film ini juga, terlihat Dory yang tidak lupa dengan Marlin dan Nemo yang sudah seperti keluarga bagi dia, meskipun dia sudah bertemu kembali dengan Jenny dan Charlie orang tuanya.

Bagi saya, film ini sangat bagus untuk ditonton bersama keluarga. Cerita yang ringan bisa dituturkan dengan baik oleh Disney melalui film ini.

Pada akhirnya, saya memang menyesal kenapa harus maju mundur menonton film sebagus Finding Dory ini.

read more
Bauni

ILY from 38000 Feet : FTV Banget

img_1635

Rasanya tidak adil, ketika saya mereview dua film Indonesia yang saya tonton yaitu Rudy Habibie dan Koala Kumal, sementara I Love You from 38000 feet yang juga saya tonton, tidak saya review.Saya memang bukan jago review, dan tidak pernah melalukan review selama di Sinar Harapan. Namun ini bukan berarti saya nggak bisa review dalam pandangan saya. (lho kok malah curhat)

Okeh, I Love You from 38000 feet ini (selanjutnya saya singkat ILY 38000 aja ya), ceritanya nggak ribet-ribet amat. Dan bagi saya, ceritanya ya pasaran banget, alias udah sangat umum. Dan bukan ide cerita baru.

Ceritanya, dua pasang remaja, atau anak muda, bertemu dan saling jatuh cinta. Simpel kan?

Arga dan Aletta, bertemu di pesawat menuju Bali. Selanjutnya, Aletta yang cute, imut, dan Arga yang ganteng saling jatuh cinta. Dan harus berpisah dan kemudian bertemu lagi. Standard FTV alias Film Televisi dan film Indonesia pada umumnya.

Yang membedakan, adalah niat pembuatannya dengan memilih lokasi pembuatan. Kalau biasanya FTV di Jogja, Bali atau Jakarta, lokasi pembuatan di Taman Nasional Baluran dan di laut dengan taman laut yang cukup indah. Iya ini saja yang membuat beda dengan FTV biasa. Selebihnya ya tetap FTV.

Sayangnya, taman nasional baluran ini, kurang di explore. Banyak spot yang tidak dipamerkan. Oh iya, saya juga malah bertanya, apa bener di taman nasional baluran ada komodo?

Untuk akting, ya Arga dan Aletta, serta sejumlah pemain pendukung, tidak mengecewakan lah. Tidak terlihat canggung dalam berakting. Mereka mampu memerankan dengan cukup baik. Ya di film seperti ini tidak perlu akting yang khusus sih. Cuma dialog biasa, nangis, ketawa dan lainnya.

Di film ini, banyak adegan yang buat saya gagal paham. Semisal ketika Arga di dalam pesawat, dan tekanan di kabin menurun dan alat bantu pernapasan keluar, kenapa Arga tidak mengaitkan alat bantu pernapasan tersebut ke kepala, padahal sebelum penerbangan, pramugari sering memberikan petunjuk untuk mengaitkan ke kepala. Ini malah Arga memegangnya.

Yang ke dua, Aletta dengan sangat cepat sudah berada di lokasi kecelakaan pesawat. Padahal baru paginya mendapat informasi bahwa pesawat yang ditumpangi Arga kecelakaan.

Yang paling “awkward” kalau versi abege sekarang, adalah Arga selamat tapi Aletta tidak tahu. Padahal ketika Arga ditemukan, ada petugas SAR. Masa ini tidak diumumkan ada penumpang selamat?

Masih banyak celah juga di film ini. Tapi, dari pemantauan lini masa, film ini sukses bikin “baper” para penonton. Padahal saya sih biasa-biasa aja.

Secara umum, saya setengah menyesal kenapa harus menonton di bioskop. Cukup streaming atau nanti beli vcd atau dvd aja untuk menonton film seperti ini. Untung saja, Michelle Ziudith, yang menjadi Aletta cukup memanjakan mata saya karena dia sangat imut. Itu aja sih. Selebihnya, ya, masih menyesal nonton di bioskop karena terlalu FTV ceritanya.

read more
Bauni

Koala Kumal, Realita Berbalut Komedi

img_1556.jpg

Sepanjang liburan lebaran tahun 2016, tersaji di jaringan bioskop di tanah air, sejumlah film Indonesia. Kalau pekan lalu ada Rudy Habibie yang sudah saya tonton lebih dahulu, dari H-1 lebaran ada tiga film lagi.I Love You from 38000 feet, Koala Kumal dan Jilbab Traveler. Dua film di awal kalimat sudah saya tonton. Namun saya akan bikin review sendiri-sendiri.

Okeh, untuk Koala Kumal, film Komedi Patah Hati, film ini diadaptasi dari novel Raditya Dika yang sekaligus menjadi pemain utama, sutradara dan penulis script.

Bintang lainya, Acha Septriasa, Sheryl Sheinafia, Nino Fernandez, Cut Mini, Dede Yusuf sampai Lidya Kandou.

Cerita dari Koala Kumal ini, sangat mengena sekali dengan realita yang ada di kita sekarang. Fokus ke patah hati. Iya patah hati setelah putus atau ditinggalkan pacar. To be fair, ini kena banget ke gue.

Iya, setelah patah hati, apa yang ada di film ini, sangat realistis. Mulai dari gagal move on, sampe balas dendam ke mantan, hingga upaya dijodohin, dikenalin sampe ke mencari jodoh atau pasangan lewat aplikasi atau event mencari jodoh.

Dan, Raditya Dika, atau Dika, membungkusnya dengan komedi di film ini. Yang membuat kita ngakak, meskipun ya dari awal sampe akhir, nggak ngakak terus.

Tidak perlu membuat dialog-dialog ribet, atau berkelas tinggi untuk membuat film ini hidup.

Dan pesan yang disampaikan juga sangat bagus. Kalau patah hati bukan berarti kita menutup hati buat orang lain. Dan sekali lagi, ini kena banget buat eug alias gue.

Untuk akting, ya Raditya Dika memang aktingnya begitu. Sama dengan film-film dia seperti Single. Memang tak perlu akting ribet sih di film ini.

Aktris dan Aktor lain juga bermain baik. Tidak kelihatan akting yang canggung atau pemula. Lokasi atau set nya juga untuk film smeperti ini, tak perlu sampe ke spot-spot yang keren.

Secara umum, nggak mengecewakan, karena inti cerita yang sangat membumi dan mengena banget dengan keseharian kita.

Tak perlu mengulas panjang dan lebar soal Koala Kumal ini. Cukup nonton dan kita nikmati saja filmnya sambil sesekali tertawa.

read more
1 2
Page 1 of 2