close

Opini

Opini

Nonton Film di Bioskop, Pilihlah Kursi di Tengah

img_4952

Setelah saya membahas nonton film di Bioskop kita juga harus menikmati tata suaranya, kali ini saya akan sedikit membahas soal pemilihan kursi atau tempat duduk.

Bagi yang sedang kasmaran, yeps ini sih rata-rata ya, tapi belum tentu semua, biasanya kalau dengan pacar pasti akan memilih seat atau kursi yang di pojok. Kalau perlu paling belakang, paling pojok.

Bagaimana dengan jomblo seperti saya ini? Haruskah saya juga di pojokan untuk melihat atau mengawasi orang yang pacaran di dalam bioskop?

Lah, kok bahas ini malahan? Jadi begini sebenarnya.

Nonton film di Bioskop itu bagi saya, yang terutama adalah posisi kita untuk melihat ke layar utama. Pandangan harus menatap lurus ke depan. Jangan terlalu melihat ke atas, ataupun melihat ke bawah. Ingat! Kata kuncinya adalah lurus ke depan.

Kalau lihatnya lurus ke depan bukan berarti juga kita harus melihat ke kiri, atau ke kanan ke arah layar.

Artinya adalah, nonton film itu sebaiknya pilih kursi yang ditengah dong! Yes! Ya benar! Nonton film dengan memilih kursi di tengah, membuat kita nyaman. Nggak perlu pegal lehernya karena melihat ke atas atau ke kiri dan ke kanan.

Sebagai contoh, ketika saya menonton American Assassin, saya pilih seat di row C kursi nomor 13. Ini masih di tengah-tengah. Formasi seat ini, tergantung teater atau auditorium di masing-masing bioskop.

Ketika kita hendak membeli tiket atau karcis, silakan melihat formasi seat yang paling tengah dan pilihlah yang itu.

Kita nonton film di bioskop sudah pasti ingin menikmati filmnya. Mulai dari gambarnya, hingga tata suaranya. Kalau niatnya cuma mau berduaan di bioskop, mendingan bikin bioskop sendiri saja!

Duduk di tengah-tengah juga, selain kita lebih bisa menikmati tayangan filmnya, juga akan membuat kita menikmati tata suara atau sistem suara yang semakin canggih jaman sekarang ini.

Sekali lagi, bagi saya, masuk bioskop berarti saya ini benar-benar ingin menikmati filmnya baik gambar maupun tata suaranya. Kalian bagaimana? Mau ikut cara saya ini? Atau tetap mojok?

read more
Opini

Nonton Film di Bioskop, Nikmati Juga Tata Suaranya

img_4948

Suka nonton film? Nontonnya di bioskop? Di antara kita, pastilah menyukai atau menggemari nonton film. Entah itu nontonnya di bioskop, atau di televisi. Nah di antara kita juga pasti pernah menonton film di bioskop kan?

Menonton di bioskop ini, jika dibandingkan dengan di televisi memang lebih asyik. Kenapa? Yang jelas di dalam bioskop lebih adem karena pakai penyejuk udara.

Tidak hanya itu, layar yang lebih besar, dengan teknologi digital akan membuat mata kita semakin dimanja. Hanya itu saja?

Bagi saya menonton film di bioskop yang dinikmati bukan hanya menikmati gambarnya saja yang indah, dengan layar yang lebih besar. Kita juga harus menikmati tata suara juga.

Yaps! Tata suara ini juga peranan penting. Apalagi dengan surround sound saat ini, kita dibuat seperti berada dalam film. Suara bisa seakan-akan mengelilingi kita.

Apalagi dengan hadirnya Dolby Atmos, tata suara atau sistem suara film terbaru dari Dolby, kesannya lebih menggelegar. Nonton film action, atau film perang akan lebih terasa serunya.

Untuk menikmati tata suara yang lebih menggelegar ini, kita harus pilih seat yang ditengah. Kalau di pinggir atau di pojok, kurang begitu terasa tata suara yang sudah lebih oke.

Anda tidak percaya? Coba nonton film di bioskop dan bandingkan! Selamat menikmati tata suara.

read more
Opini

Private Tour Ke Lebih Dari Satu Pulau, Usaha Wisata Bisa Dikembangkan di Kepulauan Seribu

kapal ke kepulauan seribu

Kita sudah pasti tahu lah wisata Kepulauan Seribu sekarang ini tengah “booming”. Kunjungan ke Kepulauan Seribu di akhir pekan angkanya bisa mencapai ribuan dan puluhan ribu.

Destinasinya? Yang tengah jadi tujuan utama saat ini adalah Pulau Tidung dengan Jembatan Cintanya dan Pulau Pari dengan Pantai Pasir Perawannya.

Tapi, usaha wisata di Kepulauan Seribu ini dalam pandangan saya, masihlah cenderung sama. Belum ada hal-hal yang baru. Yang menjadi usaha saat ini adalah wisata ke salah satu pulau, menginap, snorkeling, banana boat dan lainnya.

Ada wisata yang menurut saya, dan akan saya kembangkan dalam satu tahun ke depan nantinya. Tidak salah kan kalau saya berbagi ide melalui tulisan ini?

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, wisata yang ada di Kepulauan Seribu saat ini didominasi oleh Wisata dengan Tujuan satu Pulau saja. Misalnya Paket wisata ke Pulau Tidung, Pulau Pari, Pramuka atau Pulau Lainnya seperti Harapan atau Kelapa. Pulau – pulau tersebut, merupakan pulau Pemukiman yang banyak homestay.

Bagi saya kecenderungannya, wisatawan hanya akan berpindah-pindah Pulau. Satu saat mereka akan bosan atau mungkin akan kembali dalam rentang waktu yang cukup lama.

Ada satu ide yang tengah saya kembangkan, dan saya tuliskan di blog saya, dan semoga bisa menginspirasi teman-teman yang lain. Ide ini adalah wisata explore kepulauan seribu. Atau menjelajah Kepulauan Seribu.

Wisatawan tidak hanya akan berwisata ke salah satu pulau tujuan utama seperti Pulau Tidung, Pulau Untung Jawa, Pulau Pari, Pramuka atau Pulau lainnya. Tapi akan ke tiga pulau dalam satu paket wisata tersebut.

Bagaimana modelnya?

Modelnya adalah private tour. Berangkat dengan kapal sendiri (bukan kapal transportasi umum seperti yang ada sekarang), tetapi dengan kapal carteran. Apa kelebihannya?

Kelebihan dari menggunakan kapal carteran ini adalah,  kita bisa berangkat tidak sesuai dengan jadwal kapal pada umumnya. Kapal reguler ke Kepulauan Seribu ada jam tertentu. Biasanya pagi jam 7 atau jam 8 dan siang jam 12 atau 14. Dengan kapal carteran kita bisa menentukan sendiri waktu keberangkatannya. Misalnya jam 10.00.

Dengan kapal carteran atau kapal yang lebih private ini, kita juga bisa berkunjung ke Pulau Untung Jawa, Pulau Pari dan Pulau Tidung. Lebih leluasa bukan? Dan kita tidak hanya melihat satu pulau saja.

Kita juga bisa mengeksplor atau menjelajahi Pulau Cagar Budaya seperti Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Kayangan. Ini wisata yang sebenarnya jarang sekali tersentuh oleh pengusaha wisata.

Bagaimana bisnisnya?

Okey, saya share tipsnya ya.

Tentukan jumlah peserta tour

Kita bisa menentukan peserta tour dalam wisata ini. Bisa 20 orang dan bisa juga 40 orang. Kenapa hanya 20-40 orang? Biar kita lebih gampang handlenya. Kebetulan saya beberapa kali menjadi tour leader. Kalau orangnya terlalu banyak, akan lebih repot.

Dengan menentukan jumlah peserta tour ini, kita bisa menentukan kapal yang akan kita sewa atau carter. Bisa kapasitas 20 atau  kapasitas 40 orang. Harga kapal carteran ini berbeda-beda sesuai kapasitas dan tujuan kita.

sumber foto :
http://www.redytourpulauseribu.com/wp-content/uploads/2015/10/speedboat-tidung-express2-marina-ancol-pulau-tidung-redytourpulauseribu-com.jpg

Tentukan Pulau Tujuan Wisata

Terkait dengan biaya menyewa kapal untuk private tour, kita harus menentukan pulau-pulau tujuan kita. Agar lebih seru, misalnya kita tour ke tiga pulau. Jangan Cuma satu pulau saja. Rugi soalnya.

Misalnya kalau di wilayah Kepulauan Seribu Selatan, kita bisa ke Pulau Onrust, Pulau Kelor, Untung Jawa, Pari dan Tidung. Kalau di Wilayah Kepulauan Seribu Utara, bisa ke Pulau Pramuka, Semak Daun dan Pulau Harapan, Kelapa, Sepa atau Putri.

Pulau Kelor :
sumber foto :http://2.bp.blogspot.com/-dFrWTVJCHLo/Th5kDZzrdjI/AAAAAAAAAFI/gK4MCAkcCeE/s1600/Kelor.jpg

Tentukan menginap atau one day tour

Nah, untuk private tour ini kita bisa memberikan pilihan. Misalnya kita hanya tur dalam satu hari atau one day tour, atau kita mau menginap. Ini juga akan menentukan harga sewa kapal, dan nantinya biaya tour.

Kalau kita memutuskan menginap, kita akan menginap di Pulau mana. Kalau kita sudah menentukan pulau mana kita menginap, kita akan bisa menentukan biaya tur ini.

Contoh tempat menginap di Pulau Tidung
https://travelwisatapulauseribu.com/wp-content/uploads/2015/12/penginapan-pulau-tidung-3.jpg

Atur Itinerary

Mengatur itinerary atau rencana perjalanan dari paket private tour ini sangatlah penting. Kita akan ke pulau mana saja, dan waktu kita berada di pulau tersebut dan kegiatan-kegiatan selama kita tour akan sangat menentukan.

Kalau kita bisa mengatur secara efisian, kita pasti akan lebih seru dan menikmati pulau-pulau lain dengan waktu yang cukup.

Hitung Biaya

Setelah semua ditentukan, kita kemudian menghitung biaya. Yang pertama biaya sewa kapal, ditambah biaya menginap di homestay, dan biaya makan selama beberapa program tour. Ini unsur yang terpenting.

Biaya tambahan lainnya adalah misalnya untuk tour guide, atau snorkel guide, sewa sepeda di Pulau menginap dan biaya lainnya. Setelah ditentukan, baru kemudian kita membagi biaya tersebut dengan jumlah peserta tour. Kita juga harus menentukan profit kita berapa sebelum menghitung harga paket tour.

Misalnya biaya total yang kita dapatkan adalah Rp 10.000.000. Kalau kita membaginya dengan 20 orang berarti paket tournya adalah Rp 500.000.  Kalau misalnya 40 orang, berarti 250.000. Ini hanya pengandaian saja, bukan harga pasti ya. Sebelum menentukan biaya tentunya kita harus survey dahulu untuk menentukan.

Sudah dapat harga paketnya? Kita bisa menjualnya baik untuk perseorangan, komunitas ataupun ke perusahaan atau perkantoran untuk outting. Untuk perseorangan, kita bisa menjualnya dan untuk memulai tur ini kalau sudah memenuhi peserta tour.

Menjual paket ini bisa lewat situs web yang menjual paket, lewat media sosial dan cara-cara penjualan lainnya.

Tertarik untuk mencobanya? Silakan comment atau tanya-tanya lewat comment yaa!

Tulisan ini disumbangkan untuk menjadi artikel di jadimandiri.org

 

 

 

read more
Opini

Pengen Liburan, Rencanakan dan Nggak Harus Mahal Kan?

Deck Chair on the Trapical Beach

Liburan, sebenarnya menjadi kebutuhan entah keberapa, tapi kalau melihat gejala akhir-akhir ini, liburan seperti menjadi kebutuhan utama.

Apalagi, kalau liburan itu, demi foto-foto dan share di media sosial. Tapi pertanyaannya, apakah liburan itu harus spending money atau menghamburkan uang secara berlebihan?

Oke, soal liburan atau bagi saya di sini disebut jalan-jalan atau bapontar, tidak perlu yang mahal. Pengalaman saya mengatakan seperti itu.

Saya akan berbagi sedikit lewat tulisan saya ini, berdasar pengalaman saya untuk liburan, sekedar piknik, atau jalan-jalan.

Oke yang pertama adalah, liburan tidak harus pergi jauh. Seperti saya yang tinggal di Jakarta, bagi saya tidak harus keluar kota jauh-jauh. Liburan di Jakarta saja sudah murah banget lho!

Misalnya, saya ingin keliling Jakarta, saya tinggal naik transjakarta, dengan tarif 3.500 saya bisa berkeliling sepuasnya di Jakarta seperti yang sudah saya tulis di blog saya yang lainnya.

Obyek wisata yang kita kunjungi di Jakarta juga tidak mahal. Misalnya, museum (atau musium) Nasional. Tiket masuk saja hanya 5000. Murah banget bukan?

Tidak jauh dari Museum Nasional, ada Monas. Kita bisa naik ke atas monas dan bisa melihat Jakarta  dari atas. Tiket naik ke atas monas? Cuma Rp 15.000 lho.

Nah, kalau mau lebih murah lagi, bisa ke Waduk Pluit, seperti ketika sehari setelah Natal atau tanggal 26 Desember, saya bisa bersantai di pinggir waduk.

Oke, itu kalau liburan di Jakarta. Pengalaman berikutnya ketika saya nekat jalan-jalan sendirian ke Bali.

Dua pekan sebelum niat saya ke Bali, dengan kondisi keuangan yang ada, saya browsing harga tiket melalui internet. Bukan rahasia lagi kan banyak web site yang menjual tiket pesawat ke berbagai penjuru negeri dengan harga murah.

Berbekal berselancar di dunia maya atau dumay seperti kata orang-orang sekarang, saya bisa mendapat tiket murah ke Bali. Dan ingat, untuk ke Bali, jangan pas peak season. Ini yang penting. Harga hotel murah, dan harga tiket pesawat juga murah.

Begitu juga dengan pemilihan tempat menginap. Kalau liburan ke Bali, ngapain kita nginap di hotel mahal, sementara hanya untuk tidur saja. Kalau siang kita seharian jalan-jalan ke obyek wisata.

Bagi saya, yang penting hotel nyaman untuk kita nginap. Itu sudah cukup. Ketika saya ke Bali, saya memilih homestay atau hotel dengan tarif maksimum 300 ribu.

Makan juga kita tidak harus di mall. Kalau bisa makan murah, hajar. Asal jangan bikin sakit perut saja. Setidaknya tempat makannya bersih.

Pengalaman ini saya lakukan ketika saya ada tugas di Lombok beberapa tahun lalu, dan saya bisa berlibur selama sehari. Saya dan teman mencari tempat makan yang murah dan khas di Lombok atau Mataram.

Ketika saya jalan-jalan, saya dan teman malah naik angkutan umum. Hasilnya, biaya jauh lebih murah. Kecuali kita liburan rame-rame dengan teman, bisa share biaya rental mobil yang bisa lebih murah.

Obyek wisata yang dikunjungi juga, kalau kita memang ingin menekan biaya, jangan ke yang mahal-mahal. Misalnya dengan tarif masuk di atas 200 ribu. Sebaiknya dihindari lho. Bener nggak?

Banyak kok pantai di Bali yang tidak ada biaya masuk. Paling kalau haus kita bayar minuman saja.

Nah, untuk mengatur keuangan kita ketika liburan? Bagi saya, pertama saya lihat budget yang saya siapkan dulu. Budget tersebut kemudian kita breakdown untuk biaya apa saja yang penting. Yang diutamakan adalah biaya transportasi dan akomodasi. Sisanya bisa kita atur.

Kita bisa rencanankan naik penerbangan kapan baik hari dan jam-nya. Begitu juga dengan akomodasi. Seperti saya sampaikan tadi, menginap tidak harus mahal. Yang penting nyaman.

Jangan malas untuk membaca review seperti di trip advisor untuk melihat penginapan murah tersebut. Ini penting, agar kita bisa tahu kondisi penginapan tersebut.

Sekali lagi yang terpenting adalah merencanakan. Liburan tidak harus buru-buru. Perlu perencanaan. Dengan perencanaan yang matang, setidaknya kita bisa mengatur budget atau anggaran liburan.

Tidak mudah memang, tapi setidaknya dengan perencanaan yang matang dan tips-tips yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kita akan terhindar dari membuang uang berlebihan.

Tulisan ini disumbangkan untuk menjadi artikel situs jadimandiri.org

read more
Opini

Bikin Status Panjang, atau Blog?

facebook

Sebagian besar dari kita, tentunya memiliki akun di social media, terutama facebook. Jarang sekali orang sekarang ini yang tidak memiliki akun facebook.

Nah, kalau kita punya akun facebook, mungkin kita sering melihat orang yang bercerita panjang, atau mungkin kita sendiri yang membuat cerita panjang, atau status yang panjang.

Misalnya, lebih dari 20 kata, atau lebih dari satu alinea. Pasti pernah melihat kan?

Status panjang ini, bukan hanya di facebook saja, namun di path juga.

Dua media sosial ini memang memberikan fasilitas menulis status yang panjang. Saya tidak tahu persis, berapa karakter yang dibatasi.

Oke pertanyaannya adalah : Pilih Nulis Status yang panjang di media sosial atau nge-blog? Ini pertanyaan menarik.

Dalam kacamata pribadi saya, saya sih lebih senang nge-blog, dibandingkan dengan menulis status panjang di facebook.

Pertama, kalau kita menulis status panjang di facebook, kasihan teman kita, Dia harus scroll beberapa kali, untuk melihat timeline facebook, sebelum dia menemukan postingan yang lain.

Postingan kita yang panjang, akan mungkin memenuhi satu layar ponsel atau tablet orang lain. Apalagi kalau sampai curhat panjang lebar di postingan facebook. Rempong kan?

Kedua, kalau status kita yang panjang itu sudah dikomentari, nanti akan semacam terpotong gitu. Untuk membacanya, kita harus mentap, klik yang bertuliskan “continue reading” atau “see more”. Akhirnya, tidak terbaca sama orang kan kalau dia malas tap atau klik di “see more” itu? Ya kecuali orang itu Kepo.

Ketiga, kalau postingan di facebook itu, lama kelamaan akan makin turun ke bawah. Apalagi kalau postingan itu akan kalah dengan postingan orang lain. Lama kelamaan akan tidak muncul di timeline.

Kalau orang mau melihat postingan itu, dia harus ke profile page facebook kita. Dan dia harus scroll ke bawah kan? Kalau postingan kita yang ngalay sih, ya nggak apa-apa.

Tapi kalau misalnya postingan kita berguna? Dia mau search jadi repot kan?

Postingan kita di facebook pun, biasanya niiih, biasayaaaa… sulit dicari di google. Dan kalaupun ada linknya di pencarian di google, orang belum tentu bisa melihat. Apalagi kalau setting privacynya postingan kita tidak bisa dilihat orang lain selain teman kita.

Kalau kita ngeblog, ada satu kelebihan. Blog memang fasilitas untuk kita curhat, cerita apapun, beropini apapun secara panjang lebar. Bebas sob! Mau tulis dua alinea, sampai 100 alinea pun bebas!!

Di blog kita, orang tidak akan melihat postingan orang lain, selain postingan kita di blog. Karena blog memang khusus postingan kita aja. Mau foto, video ataupun artikel ya hanya postingan kita aja.

Kalau kita menulis panjang lebar, di blog kita, orang sudah tahu, konsekuensi membaca blog adalah melihat tulisan yang panjang.

APa yang kita posting di blog, juga bisa disearch orang di google lho. Dan dia tidak perlu repot-repot harus berteman dengan kita untuk melihat blog kita. Cukup klik link dan muncullah blog kita.

Blog lama kita memang lama kelamaan akan tergusur oleh blog yang baru. Tapi, dengan fasilitas search yang ada di blog, orang akan mudah mencari postingan kita. APalagi kalau kita mau memberikan “tag” bagi postingan kita di Blog.

Dan yang pasti, ada satu hal yang bermanfaat. Blog kita kalau banyak dibaca orang, dan blog kita jadi top, bisa menghasilkan uang.

Orang mau memasang iklan di blog kita. Atau bisa pasang iklan google di blog kita. Kita juga bisa dapat undangan jalan-jalan gratis karena rajin menulis travel blog.

Kita juga bisa mendapatkan undangan untuk icip-icip makanan kalau kita rajing posting food blog.

Cerita curhatan kita yang panjang di blog juga satu saat bisa dilirik menjadi script ftv atau mungkin film.

Di facebook? Belum tentu bisa seperti itu.

Jadi, daripada cerita panjang di postingan facebook, mendingan nge-blog atau blogging aja lah!

Blog bisa gratis dan berbayar. Tinggal maunya kita gimana. Dan ini sudah saya tuliskan di blog saya yang lain. Silakan search yaaa…..

read more
FeaturedOpini

Ahok Cuti Kampanye, Perlu Nggak Sih?

ahok

Sepekan terakhir, sosial media dan media konvensional tengah membahas perlu atau tidak Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama atau yang lebih akrab disapa Ahok untuk cuti Kampanye selama empat bulan. Empat bulan!!

Peraturan atau UU memang menyebutkan bahwa seorang Calon Kepala Daerah Petahana, atau incumbent harus mengambil cuti kalau mau kampanye.

Ahok tidak setuju cuti kampanye selama empat bulan ini, atau pengen cuti kampanye karena dia ingin tetap bekerja seperti biasa.

Pertanyaannya, perlu kah dia cuti?

Jawabannya, bagi saya, tidak salah jika memang mengikuti aturan yang sudah ada. Tapi, kalau sampai empat bulan untuk cuti, itu bukan waktu sebentar.

Apalagi Ahok akan cuti mulai Bulan Oktober hingga Januari. Ini merupakan masa-masa penyusunan anggaran, atau APBD. Seperti diberitakan Media, Ahok khawatir kalau misalnya nanti dia cuti, ketika menyusun anggaran, dia tidak bisa mengawalnya.

Dalam pandangan pribadi saya, ada baiknya memang Ahok mengawal penyusunan Anggaran tahun 2017 nanti. Kenapa? Ya sudah bukan rahasia lagi kalau misalnya nanti ada anggaran-anggaran atau proyek “siluman” nanti masuk ke dalam APBD.

Masih jelas dalam ingatan kita kan kasus UPS itu?

Selain masalah anggaran, apa yang tengah dibangun di Jakarta ini, kalau tidak dikawal Ahok, ya bisa saja tidak berjalan. Mandek atau mangkrak dan akhirnya uang anggaran terbuang percuma.

Empat bulan bukan waktu yang singkat. Dalam empat bulan banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki birokrasi di Jakarta, membenahi Jakarta dari pembangunan maupun pelayanan masyarakat.

Kalau Ahok cuti empat bulan, kinerja PNS juga sapa yang bisa pantau? Sudah bukan rahasia umum kan kalau Ahok suka bongkar pasang pejabat kalau kinerjanya kurang?

Lagian, sepanjang pengetahuan saya, kampanye juga kan sekitar satu bulan. Atau saya yang tidak tahu kalau kampanye itu sekarang empat bulan?

Jadi, tidak ada salah, kalau memang Ahok melakukan judicial review soal cuti kampanye ini. Sayang sekali kalau masa jabatan Ahok harus terpotong empat bulan, sementara bisa melakukan banyak hal selama empat bulan tersebut.

Apalagi, sepertinya Ahok tidak pernah “libur”. Dia bahkan, memanfaatkan akhir pekan untuk datang ke nikahan warga, sekaligus blusukan.

Dan soal ini, saya hanya melihat ini dari pandangan pribadi saya saja. Soal Ahok harus cuti, jawabannya adalah, bagi saya tidak perlu cuti. Apalagi dia tidak mau cuti kampanye dan memilih bekerja. Tidak ada yang salah dengan hal ini.

Kecuali, Ahok tiba-tiba ketahuan sudah tidak cuti, tapi kampanye. Nah, itu lain lagi ceritanya. Kalau selama Ahok tidak memilih cuti dan dia tidak berkampanye, ya sah-sah saja. Bukan begitu?

read more
Opini

#TetapAhok

Warga memberikan dukungan kepada Ahok dengan mengisi formulir dan memberikan fotocopy KTP di salah satu posko Teman Ahok di Mall Ambassador, Jakarta, Sabtu (25/7).

Rabu 27 Juli malam, bertempat di markas Teman Ahok, Ahok Basuki T Purnama mengumumkan bahwa untuk pencalonan Gubernur di Pilkada serentak 2017 mendatang, dia memilih jalur parpol.

Ini memang sudah seperti prediksi saya, dan beberapa teman di twitter (yang saya kenal di twitter). Sebelumnya Ahok sepertinya akan maju melalui jalur Independen, dengan mengumpulkan KTP melalui teman Ahok.

Karena Ahok memilih jalur Parpol ini, seperti biasa, twitter menjadi riuh. Istilahnya menjadi Viral atau perbincangan soal keputusan Ahok menjadi Cagub lewat jalur Parpol.

In some cases, wajar kalau yang sudah bela-belain menyerahkan KTP sebagai dukungan kepada Ahok untuk maju melalui jalur independen. Sampai marah-marah untuk minta kembalikan KTP.

Mereka menyerahkan KTP karena memang ingin mendukung Ahok untuk maju lewat independen. Kalau pada akhirnya Ahok maju lewat jalur Parpol ya kecewa dong. Wajar? Wajar!

Banyak yang memang sudah muak kalau dicalonkan lewat Parpol. Alasan pertama memang ada mahar politik, atau nanti Ahok harus balas jasa. Yang ke-2 nanti Ahok akan disetir oleh parpol. Apalagi orang Parpol sering ketangkap karena korupsi. Lebih bikin muak sama Parpol kan?

Tapi begini, bagi saya, yang sudah menyerahkan KTP buat Ahok, dia maju lewat jalur apapun, saya akan tetap pilih Ahok. Bukan saya muak sama Parpol. Tidak sepenuhnya juga Muaknya sih.

Maju lewat jalur Parpol, Ahok akan lebih mudah. Maju lewat independen? Lihat aja apa yang akan dibuat. UU Pilkada mau dirubah lah, sistem verifikasi akan dibikin ribet lah, ini lah itu lah. Dijamin ribet.

Bagi saya juga, yang penting nanti Ahok itu terpilih kembali. Saya mendukung bukan hanya sebatas menyerahkan KTP. Saya pikir, itu hanya jalurjaga-jaga saja, kalau misalnya Ahok tidak bisa maju lewat jalur Parpol. Kenyataan, ada Parpol yang mendukung Ahok kan? Jadi ya saya tidak akan teriak-teriak di twitter, narik KTP.

Dukungan saya buat Ahok akan konsisten. Kalaupun nanti tidak terdaftar di DPT, saya rasa tetap akan ada jalur bisa nunjukkin KTP pas mau nyoblos. Nunggu nggak apa-apa dah. Yang penting nyoblos!

Bagi saya, dukungan buat Ahok bukan hanya sebatas memberikan KTP. Yang terpenting nanti, di TPS. Percuma kita dukung lewat KTP, dia maju nyalon gubernur aja tapi kita tidak memilihnya.

Tak perlu ribut-ribut di twitter minta tarik KTP. Sekali lagi yang penting, datang ke TPS, pilih Ahok nantinya. Itu yang penting!

read more
FeaturedOpini

Jadi Travel Blogger, Why Not?

Couple walking outdoors with rolling luggage

Semenjak era low cost carrier (LCC), atau tiket pesawat menjadi murah dan pilihan penerbangan semakin banyak, traveling atau bepergian, sudah menjadi kewajiban bagi kaum menengah.Di social media, banyak yang posting foto, atau check in (bukan masuk hotel ya) di lokasi-lokasi wisata di aplikasi semaca path atau facebook. Baik yang selfie, wefie atau fotonya diambil sama orang lain.

Di timeline akun social media saya, setiap pekan, ada saja yang jalan-jalan. Atau bepergian ke suatu tempat.

Tapi, sayangnya, mereka ini, lebih banyak posting, yang bagi saya, sekedar pamer. Iya pamer kalau berwisata ke tempat itu. Saya bukannya iri, tapi ya saya juga memang suka begitu. Pamer kalau saya berkunjung ke suatu tempat.

Tapi saya agak sedikit berbeda. Setiap saya berkunjung ke suatu tempat, belakangan ini, saya akan lebih menuliskannya di blog. Jadi travel blog.

Sayang di sayang, travel blog ini, banyak yang terhapus, karena saya yang memilih memakai self hosted blog, tidak perpanjang blog saya.

Tapi itu bukan initinya. Saya masih mengingat kok jejak-jejak perjalanan saya, sehingga saya bisa menuliskannya kembali.

Back to topic! Kalau kata tukul, kembaliii ke laptooop

Saya memutuskan untuk menulis perjalanan saya, karena, bagi saya, tidak ada salahnya kalau cerita perjalanan saya, saya bagikan ke orang lain, melalui blog. Setidaknya, bagaimana berkunjung ke tempat yang saya kunjungi, orang lain bisa tahu. Memang, banyak travel blog yang ditulis blogger lain, tapi ituntidak menyurutkan saya untuk menuliskan perjalanan saya.

Selain berguna untuk orang lain, setidaknya, saya bisa membaca kembali kisah-kisah perjalanan saya. Karena itu, setiap perjalanan saya, saya akan berusaha ingat kembali, untuk saya tuliskan. Mumpung daya ingat masih baik.

Dengan menuliskan perjalanan atau travel blog kita, kita secara tidak langsung ikut membantu mempromosikan obyek atau tempat yang kita kunjungi. Apalagi tempat tersebut masih belum ramai dikunjungi.

Melalui travel blog kita, kita juga bisa merekomendasikan tempat untuk orang lain kunjungi. Setidaknya, orang lain yang mau bepergian ke suatu tempat, bisa tahu obyek wisata di daerat tersebut. Nggak salah kan?

Yang terpenting lagi, sukur-sukur blog kita atau travel blog kita banyak diakses atau dibaca orang, blog kita bisa menghasilkan uang dari iklan, atau kita bisa diundang ke daerah tertentu, dikasih tiket gratis, karena kita travel blogger yang terkenal.

Tapi, ya jangan itu tujuan utama kita. Tujuan kita ngeblog, sepertimkata saya tadi. Untuk berbagi, dan sebagai catatan kita untuk bisa kita baca kembali.

Jadi travel blogger, why not?

read more
Opini

Blogging : Self Hosted atau Gratisan?

image

Urusan blogging, saya sudah dari tahun 2007 atau 2008 sudah senang ngeblog. Pasang surut mood untuk ngeblog itu bukan sekali saya alami. Kalau lagi ketemu mood bagus, ngeblog lancar jaya.Kalau lagi badmood, mau memulai aja udah susah setengah mampus. But, di tulisan kali ini bukan soal mood ya. Saya udah nulis di catatan harian yang lain.

Blogging ini, ada dua pilihan. Kita bisa gratisan atau pakai punya blogger di blogspot, atau pake wordpress. Awal-awal saya blogging itu saya di gratisan. Ada blogspot, ada wordpress. Sampe saat ini tuh blog masih ada. Bahkan wordpress saya bikin ada dua, termasuk yang baru.

Tapi, seiring perjalanan waktu, saya juga punya blog yang self hosted. Alias hosting dan domain bayar sendiri. Pake nama sendiri trus pake domain dot com. Keren? Ya iyalah.

Nah, enakan mana? Gratisan atau self hosted?

Gratisan
Oke, kalau gratisan, jelas dan sangat jelas tidak bayar. Itu kelebihannya. Selain itu juga, selama kita nggak lupa password, blog kita aman sentosa sejahtera lahir batin.

Gak perlu khawatir.

Kelemahannya, ya alamat blog kita itu jadi subdomain. Misalnya xxxx.blogspot.co.id atau xxxx.wordpress.com. Bagi saya ini masih agak gimanaaa gitu. Kayak kurang “personal” gitu lah.

Sebenarnya, kita bisa lebih personalkan dengan beli domain sendiri. Tapi, ya bagi yang suka otak atik themes, kurang yahud lah. Kita nggak bisa leluasa.

Selain itu juga beli domain, cenderung lebih mahal kalau melalui wordpress. Ke blogspot juga ya begitu. Domain juga hanya cenderung untuk mengarahkan aja sih. Misalnya kita beli xxxxxx.com, domain itu hanya sekedar redirecting ke xxxx.wordpress.com dan xxxx.blogspot.com, meskipun tertera tetap nama domain yang kita beli.

Kalau domain itu juga kelupaan kita perpanjang, alamat domain blog kita akan kembali ke subdomain juga.
Self hosted

Dibandingkan dengan gratisan, blog yang self hosted more personal. Kita bisa pakai domain sendiri, trus sewa hosting server sendiri. Bayar? Sudah jelas. Kita bisa leluasa membeli domain dan menyewa hosting. Tergantung kebutuhan.

Kelemahan yang paling parah kalau self hosted ini, kalau hosting kita lupa perpanjang. Atau tiba-tiba nggak ada uang untuk perpanjang. Maka kehapuslah data blog kita. Udah banyak, eh ilang deh blog nya.

Kejadian ini saya alami bukan sekali. Lebih!! Hehehe

Kalau mau punya blog dengan self hosted ini, kita harus lebih punya perencanaan, dan menyiapkan dana. Jauh-jauh hari sebelum perpanjang, dana kudu alias harus siap. Jangan pake tunggu atau tunda.
Nah, kalian pilih yang mana jadinya? Kalau yanmg penting ngeblog, cukup pake gratisan. Nah kalau mau plus lebih personal atau gegayaan, silakan self hosted.

Belajar dari pengalaman lama, blog saya lebih sering terhapus alias ilang data, saya bikin keduanya. Gratis & self hosted. Kita bisa backup blog kita di blogspot atau wordpress. Gampang kok caranya.
Selamat ngeblog!

read more
FeaturedOpini

Perlukah Akun Twitter Kita Menjadi Verified Account?

verified account 11

Dua hari lalu, twitter “membuka” kesempatan kepada pengguna atau pemilik akun twitter untuk membuat akun mereka menjadi “verified account” dengan tanda awan bulat biru dan centang putih.

Saya pun latah, untuk ikut daftar menjadi “verified account”. Seperti yang sudah saya jelaskan di blog sebelumnya, langkah memang mudah. Cukup mengisi persyaratan, langsung bisa request.

Tapi, pertanyaan muncul. Akankah akun kita menjadi verified account? Sudah saya jelaskan juga di blog sebelumnya. Okeh, sekarang pertanyaannya, perlu kah akun kita menjadi verified account?

Bagi saya, yang bukan selebriti, pesohor, tokoh politik terkenal, pemberi pengaruh di lini masa, atlit atau apapun, sebenarnya tidak perlu menjadi verified account.

Kenapa tidak perlu menjadi verified account? Jadi begini. Akun twitter orang seperti saya yang antusias di social media, tidaklah terlalu perlu. Saya cuma blogger, penulis, suka curhat atau ngomel-ngomel di twitter, buat apa gaya-gayaan menjadi verified account.

Yang perlu menjadi verified account itu selebriti, tokoh terkenal, politisi, pejabat negara atau apapun, yang berpotensi akunnya untuk dipalsukan.

Coba search aja, akun twitter selebriti atau pemimpin negara, ada aja yang iseng bikin akun yang sama, yang tujuannya macam-macam. Karena itu, twitter perlu membuat akun mereka menjadi verified agar nantinya, bisa dibedakan mana yang asli dan mana yang tidak.

Lah, kayak saya? Mau dipalsukan atau dibikin akun palsu? Sapa gue? Sapa saya? Apalagi yang saya twitkan itu common twit, atau twit yang umum-umum saja.

Ya lain cerita juga kalau saya businesman sukses, punya usaha yang walaupun kecil tapi berjalan. Kemungkinan besar saya juga akan menjadi “verified account”.

Tidak ada pengaruh yang saya berikan di twitter. Saya sebatas hanya memberi tahu atau share informasi saja. Bermanfaat atau tidak, itu urusan yang baca informasi saya.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya. Perlukah akun twitter kita jadi “verified account”? Ya kembali ke siapa kita.  Kalau saya, cukup jadi akun biasa saja. Tidak perlu untuk menjadi verified account. Kecuali saya tiba-tiba mendadak menjadi terkenal, berpengaruh di twitter, akun palsu jadi banyak dan bikin bingung pengguna twitter, ya ceritanya lain.

Tapi, tidak ada salahnya juga bagi kita untuk mencoba membuat akun kita menjadi verified account bukan?

read more
1 2
Page 1 of 2