close

Pengalaman Religi

CeritaPengalaman Religi

Cerita Naik Ojek : Jujurnya Si Driver Grab Bike

img_2512

Kemarin, saya rencananya akan berkunjung ke Terminal Rawamangun. Tapi akhirnya saya tunda hari ini saja. Setelah menemani bang Arief ke Festival Flona di lapangan banteng, saya akhirnya naik transjakarta, turun di halte rawamangun, lanjut jalan kaki. Sebelum ke terminal rawamangun untuk ketemu teman, saya mampir makan ke nasi goreng rempah mafia. Ke terminal rawamangun, eug janjian sama Boval sebenarnya.

Jam 21an, udah sampe di terminal Rawamangun. Biasanya Boval udah nyampe di situ jam 21an.

Tapi kali ini nggak. Saya sih memutuskan untuk tunggu sampe jam 22 awalnya. Tapi ya molor juga sampe jam 22.30.

Jam 22.40 saya putuskan kembali ke kosan. Karena transjakarta jam 22 yang dari Pulogadung sampe dukuh atas gak sampe malam, saya naek grab bike aja.

Saya pesan, dan berselang 5 menit driver sudah sampai.

Dan kami pun berangkat ke tempat drop yang saya tentukan.

Driver tadinya mau lewat by pass, tapi saya arahkan lewat kayu putih, perempatan pulo mas, kelapa gading dan lewat jalam Yos Sudarso.

“Lebih pendek rutenya bang,” kata saya ke Driver Grab.

Setelah 15an menit perjalanan, tiba di drop off point yang tentukan. Tiba saatnya saya membayar. Karena saya lihat di aplikasi bayar 16 ribu, saya menyiapkan dana.

“16 ribu ya bang”

“Ya udah seberapa aja”

Saya pikir si abang minta tips kali ya.

“Bayar 10 ribu aja bang”

“Disubsidi sama grab, harusnya bayar 16 ribu, jadi cukup bayar 10 ribu aja”

Saya masih bingung.

“Bayar 26 ribu ya bang?”

“Nggak, cukup 10 ribu aja, karena disubsidi sama grab”

“Oh gitu toh”

Saya sudah keburu menyerahkan 16 ribu ke driver. Tapi si driver mau mengembalikan 6 ribunya.

Akhirnya saya mengambil cuma 2 ribu saja. Karena saya mikirnya, perjalanan cukup jauh. Kasih lebih tidak apa-apa.

Naik ojek pangkalan bisa 30an ribu. Ini jauh lebih murah.

Dan saya kaget, si Driver jujur. Memberi tahu kalau ada subsidi. Mungkin saja driver lain akan tidak menyampaikan hal ini. Tapi si abang ini, jujur. Saya dengan kejujurannya. Dan di Jakarta masih ada orang seperti dia. Hebat Bang Rismanto.

img_2513-1

read more
CeritaPengalaman Religi

Kekuatan Sebuah Doa dan Iman

img_1194.jpg

Tulisan ini, merupakan sebuah tulisan pengalaman religi saya. Kalau dalam kekristenan, sebagai kesaksian.

Sebagai seorang kristen, saya terlahir kristen dan terdidik kristen. Kalau dahulunya saya rajin ke Gereja, belakangan udah malas. Kalau dulu sempat aktif di kegiatan kegerejaan, belakangan saya sudah non aktif.

Namun, soal berdoa, saya masih bisa katakan, saya masih berdoa. Doa ini, saya yakini, sebagai media saya berkomunikasi dengan yang maha kuasa.

28 Februari lalu, saya dapat kepercayaan menggelar event nonton bareng. Persiapan hanya sepekan bahkan kurang. Mungki cuma empat hari. Saya stress, panik dan hati saya berkecamuk penuh kegundahan kegalauan.

Tapi, saya terus berdoa. Setiap malam, sebelum tidur, ketika suasana teduh saya berdoa. Dalam setiap doa, saya selipkan kata-kata, seperti yang Tuhan katakan, iman sebesar biji sesawi mampu memindahkan gunung, saya mengimani bahwa kegiatan saya akan lancar.

Dan apa yang saya imani tersebut terjadi. Saya mendapatkan kelancaran. Begitupun dengan semakin dekat event tersebut, cuaca hujan. Bahkan pada hari H, hujan turun. Tapi saya tetap berdoa. Mengimani Tuhan menghalau hujan. Namun saya tetap memasrahkan biar kehendak Tuhan yang jadi. Dan kenyataan, event berlangsung lancar. Hujan pun ketika sudah akan berakhir, dan hanya gerimis.

Pengalaman serupa ketika event 1 Mei kemarin. Apa yang terjadi, ketika hari H ulang tahun United Jakarta Utara, cuaca mendung sedari pagi. Saya tetap berdoa dengan penuh keimanan. Dan, ulang tahun lancar, tanpa harus terganggu hujan. Teranyar, ketika hendak main sepakbola, saya meminta agar hujan tidak turun meskipun paginya hujan, ketika petang, saat main sepakbola, matahari bahkan sempat bersinar.

Saya juga setiap malam, sebelum tidur, hampir tidak pernah lupa menutup mata, berdoa mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang diberikanNya. Terkadang saya lupa, namun saya pasti sempatkan mengucap syukur. Saya yakin. Meskipun hanya bergumam dalam hati, Tuhan mendengar.

Saya juga, setiap Tuhan mendengar saya, saya mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya. Tulisan inipun sebagai bagian ungkapan syukur. Karena, saya berjanji dalam hati, akan menuliskan kesaksian ini. Karena kesaksian ini, bagian dari ucapan syukur.

Amin!

read more