close

Cerita

Bapontar

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari Bagian-4 (Habis): Takbiran dan Lebaran Pertama Kali di Pulau Tidung

open house camat

Selama saya bertugas jadi koordinator media di Kepulauan Seribu, bukan hanya sekali atau dua kali saya bermalam takbiran atau berlebaran di Kepulauan Seribu.

Tapi, malam takbiran di Pulau Panggang dan lebaran hari pertama di Pulau Pramuka, meskipun saya seorang non muslim. Yang masih saya ingat, saya malam takbiran dan berlebaran di Pulau Panggang dan Pramuka itu, tahun 2004, 2005, 2006, 2008 dan 2009.

Tapi tahun 2015 ini sedikit berbeda. Saya berlebaran hari pertama di Pulau Tidung.

Seperti di catatan perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari bagian 1, saya diajak oleh Camat Kepulauan Seribu Selatan, Bang Arief untuk menemani dia dan keluarganya berlebaran di Pulau Tidung.

Lebaran hari pertama yang pasti.

Tapi, sebelum berlebaran, seperti di catatan perjalanan bagian 1 hingga 3, saya mengunjungi Pulau Pari, Karang Kudus dan Lancang.

5 Juli 2016, setelah berkeliling ke tiga pulau tadi untuk blusukan bersama camat, saya akhirnya kembali ke Pulau Tidung.

Bang Arief sempat menawarkan untuk melihat sunset di bagian barat Pulau Tidung yang lokasinya tidak berjauhan dengan tempat saya menginap, di rumah dinas camat yang berada di belakang kantor kecamatan. Tapi, saya pikir, ah sisakan untuk kunjungan berikutnya.

Nah, malam takbiran di Pulau Tidung, saya tidak ikut takbiran. Kalau di Pulau Panggang saya masih ikut takbiran, di Pulau Tidung, saya tidak ikut malam takbiran. Malah ngetem di rumah dinas aja.

Keesokan harinya, lebaran hari pertama, bang Arief dan anaknya, Alif, pergi shalat ied, saya bangun pagi, bangun, mandi langsung bantu-bantu istri bang Arief, mamanya Alif, Kak Erna untuk mempersiapkan open house camat di rumah dinas.

Kak erna tengah mempersiapkan opor ayam dan tekwan untuk tamu. Eh iya, malam takbiran atau akhir bulan Ramadan 2016, 1437H, saya dan keluarga bang Arief makan opor ayam di rumah dinas. Sama Tekwan juga. Nyuoss.. Enak enak enak.

Nah, sekitar jam 8, bang Arief dan Alif kembali dari shalat ied. Agak lama bang Arief memang, karena dia sebagai camat tentunya bersalam-salaman dengan warga.

Tak lama berselang bang Arief datang, tetamu datang ke rumah dinas. Sebagian besar staf kecamatan, dan pekerja di lingkungan kecamatan.

Mereka datang membawa keluarga. Sebagian saya masih kenal dan kenal saya. Jadi semacam reuni karena saya sudah sekitar 1,5 tahun tidak ke Pulau Tidung. Jadi ya ajang ngobrol-ngobrol juga sih.

Ada sekitar 1,5 jam acara open house. Dan saya bersama Bang Arief dan Keluarga, akan kembali ke Jakarta. Naik kapal cepat.

Jam 10 kurang, kami sudah kembali dermaga pulau tidung. Rencananya akan naik kapal yang jam 10. Tapi kapalnya penuh dan kami akhirnya naik kapal berikutnya.

Sekitar jam 11.30 kami kembali ke Jakarta. Dan tiba di Ancol sekitar jam 13.00 WIB.

Lebaran di Pulau Tidung ini berkesan buat saya. Jarang sekali saya menginap di Pulau Tidung. Terakhir menginap di Pulau Tidung itu tahun 2009, camatnya masih bang Billy, Satriadi Gunawan yang sekarang menjadi Kasudin PKP Jakarta Utara.

Berlebaran di Pulau Tidung juga hal pertama bagi saya di Kepulauan Seribu. Biasanya saya di Pulau Pramuka. Jadi ini sangat berkesan.

Ke Pulau Tidung kali ini juga, saya tidak ke Jembatan Cinta yang merupakan ikon pulau Tidung. Sudah beberapa kali ke sana sih sebenarnya. Jadi masih malas ke sana lagi.

The-Endopen h

read more
CeritaFeatured

Gajah, Biji, Kuncung, Brewok dan Binyo

friendship

Mungkin kalau membaca judul blog ini, akan sedikit bingung. Kenapa judulnya bisa Gajah, Biji, Kuncung, Brewok dan Binyo.

Jadi begini ceritanya, Gajah, Biji, Kuncung, Brewok dan Binyo itu, panggilan khusus di genk teman seperkuliahan saya di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Sebenarnya, ya kalau dalam pandangan saya, sudah lebih ke panggilan sayang sesama teman. Ha ha ha… maap kami bukan hombreng ya…. jadi panggilan khusus.

Nah kalau mungkin orang pacaran panggilannya honey, bebeb, beib atau seperti anak smp (parahnya lagi anak SD) pacaran trus panggilannya udah mah pah… nah kita ini panggilannya itu ya seperti itu.

Gajah itu, panggilan buat Hendra LDP. LDP itu singkatan dari Lesmana atau Laksmana atau apalah saya lupa, (mungkin perlu cek KTP si gajah) Dwi Putra. Bahkan saya masih ingat, pernah disingkat Lambada Dada Perek sama si Biji (haha ini kejadian bener yang masih saya ingat).

Panggilan gajah ini, ya merujuk ke badannya, yang waktu itu, diantara kami, dia paling lebar. Iya paling lebar. Gajah alias Hendra ini, memang waktu itu (maap ya ndra) paling gede sendiri diantara kami.

Dan entah kenapa, panggilan gajah itu masih sampe skarang. Meski sesekali panggil “Ndro” tetap aja, secara ilmu pemasaran, branding nya Hendra ya udah “gajah”. Bahkan di kontak di HP saya, masih saya simpan dengan “Gajah”. Sekali lagi maafkan saya Ndra. Brandingnya udah kelewat melekat seperti air mineral dengan “Aqua” dan mungkin sepeda motor dengan “Honda”. Jadi ya diantara kami, gajah, itu sudah seperti Aqua buat air mineral. Ada Gajah? eh Ada Aqua? Ha ha ha ha

Nah, kalau Biji ini, identik dengan Si Robert Handry Patadungan. Di perkumpulan kami ada dua Robert. Robert Biji dan Papi Rosi yang merujuk ke Robert Sigalingging (dia gabungnya belakangan sob, jadi nggak masuk ke blog ini ya).

Nah untuk mengidentifikasi, pakai Robert Biji atau si Biji ini udah untuk Robert Patadungan. Jadi kalau tanya Robert yang mana? Jawabnya untuk Robert H Patadungan ini, bisa bilang dengan Robert Biji.

Panggilan si Biji ini, juga karena si Robert yang suka menyebut Biji. Kalau mengumpat biasa dia bilang “Biji lo gendut” atau “Biji Lo”. Jadi maap ya bang Ongen yang di twitter sering terkenal dengan istilah “Bidji” ini, sudah didahului si Robert.

Dan ada satu panggilan Robert lagi, yang sering saja sebut. “Toraja”. Saya sih sering balas memanggil “Toraja”  ke dia karena dia sering memanggil saya dengan “Binyo”.

Binyo ini jadi panggilan saya, dari si Robert. Dan gara-gara si Biji ini, saya tau apa yang dimaksud dengan Binyo, yang merupakan panggilan untuk orang Manado perantauan di Jakarta. Atau bisa dibilang istilah “prokem” untuk orang Manado di Jakarta. Saya memang di perkumpulan sesat ini satu-satunya orang Manado… PERKUMPULAN SESAAT!!! Hahahaa….

Nah untuk Kuncung, panggilan ke si Singgih Wandiharto. Kalau soal panggilan kuncung ini, nggak tau saya asal muasalnya dari mana. Dia kenalan dengan kita aja udah menyebut “kuncung” wadoh. Bingung kan…. pokoknya Kuncung ini sudah menjadi panggilan kuncung dari awal.. udah gitu aja nggak usah repot mikir.

Untuk Brewok ini, panggilan khusus ke Adi Suseno. Dia memang brewokan, jadi ya dipanggil brewok. Kadang kita-kita ini, memanggilnya dengan Brews atau Adi Brews. Gak perlu panjang lebar jelasinnya.

Tambahan!

Ada juga pasukan tambahan di genk kita ini, namanya Jeffry Joris yang dipanggil ompong. Karena dia ompong. Dan ketika dia pasang gigi palsu tetap saja istilah ompong sudah melekat, ya palingan tambahan nya jadi Gipal, alias Gigi Palsu.

Khusus Robert Sigalingging, dia punya panggilan khusus Papi Rossi. Santai. Ini nggak ada hubungannya dengan Valentino Rossi. Papi ini jadi panggilan dia karena dia umurnya sudah tua dan tampilannya ya Kayak Papi Papi. Rossi itu singkatan dari Robert Sigalingging. Gampang tooh!

Selain yang di atas, ada juga Herry “Menyung” dan Tatut si Arab. Nggak tau deh kalau si Tatut ini turunan Arab, tapi ya memang sudah seperti itu.

Kalau si Bernard, panggilannya Bernie. Ya itu dari namanya sih. Jadi gak perlu lah dijadikan panggilan khusus.

read more
CeritaFeatured

24 Years Friendship

friendship

Sabtu 30 Juli kemarin, saya dapat undangan, atau mungkin lebih tepat lagi ajakan pertemuan di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan jalan Satrio. Ajakan ini berasal dari seorang teman, bahkan sahabat, Hendra.

Saya sering menyebut dia dengan Gajah (ya sudah kebayang kan kenapa sampe punya panggilan gajah). Bukan saya saja yang memanggil gajah. Saya juga sering memanggil dengan cukup menyebut “ndro”. Ya ini sih dari istilah di film Warkop DKI “Gile lu ndro”.

Oke, saya juga tidak perlu alasan ini itu, atau menolaknya. Saya langsung mengiyakan ketika diajak sedari hari kamis 28 Juli. Malahan untuk bertemu dengan Hendra, saya tidak jadi meliput acara seremonial nggak penting.

Ternyata, ajakan pertemuan itu, bukan hanya bertemu Hendra saja. Tapi bertemu dengan beberapa orang lainnya, seperti Berniex (Bernard Widjanarko), Tatoet (Isfahani), Brewok (Adi Suseno), dan Biji (Robert Handry Patadungan).

Itu yang bisa ketemuan. Masih ada yang tidak sempat hadir. Ada Singgih Wandiharto alias Kuncung, Gary Saputra yang berada di New Zealand, dan Smiley Kuncoro yang sudah jadi WNA Amerika Serikat.

Nah, nama-nama yang saya sebutkan tadi itu, bukan tersangka korupsi ataupun buronan bandar Narkoba. Hahaha … becanda sob!

Mereka itu sahabat saya sudah dari semenjak tahun 1992, semenjak saya merantau ke Salatiga dari Manado dan akhirnya kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana Fakultas Teknik Elektro (FTJE). Soal ini akan ada cerita khusus.

Sudah 24 tahun kami bersahabat. Berbagi suka dan duka, nakal bareng, jalan bareng. 24 Tahun, bukan waktu yang pendek. Dan persahabatan kami banyak suka dan duka. Kami melewati bersama.

Ketika kuliah, bisa bikin tugas bareng-bareng. Bikin laporan praktikum bareng-bareng. Satu kelas matakuliah. Jalan-jalan ke Jogja, Semarang. Nonton film bareng. Kalau ulang tahun saling traktir.

Itu kami lalui bersama sampai akhirnya saya membelot pindah ke Fakultas Ekonomi.

Namun, itu bukan berarti “lo gua end”. Persahabatan terus terjalin.

Waktu lulus dari UKSW yang berbeda-beda, kami berpisah karena sudah mencar-mencar bekerja di tempat yang berbeda-beda, bukan berarti kami itu kemudian melupakan satu sama lain.

Tidak ada yang melupakan. Akan ada yang saling mengingatkan. Atau mencari dimana keberadaan yang lain. Hendra dan Robert sudah bekerja jauh di Qatar. Tapi setiap tahun, ketika mereka pulang ke Indonesia, pasti akan bertemu.

Kalaupun tidak bertemu, masih bisa becanda di Grup Whatsapp, atau di media social. Intinya, masih “keep in touch”. Kalaupun tidak “keep in touch” alias “lost contact” tetap akan bertanya

” Eh si Bernie di mana? si Biji di Mana? Brewok apa Kabar?”

Jarak maupun waktu memang sulit memisahkan sahabat. Beruntung diantara kami tidak pernah terjadi perselisihan. Kami enjoy-enjoy aja. Buat apa bersilisih. Nggak ada gunanya.

Kami juga saling Support. Bukan hanya support. Saling mengkritik dan bahkan saling “mencela”. Kalau istilah anak sekarang “bullying”. Tapi toh kami saling bersahabat. Dan itu dinamikanya bersahabat. Tidak ada yang baper atau masukin dalam hati, sampai mendendam kalau saling meledek.

Banyak hal lain yang kami alami memang. Dan tidak mungkin akan diceritakan dalam satu blog ini. Dan semoga cerita persahabatan kami ini tidak akan hilang dari ingatan.

read more
FeaturedMakang Sadap

Tiga Bakmi Favorit Saya di Jakarta

bakmi (1)

Bakmi, atau biar lebih singkat kita sebut dengan Mie saja, merupakan salah satu makanan favorit saja. Bukan hanya Mie biasa. Mie instan aja saya doyan. Tapi, ya tidak seenak mie biasa atau umum ya.Untuk makan bakmi, saya suka keluar masuk tempat makan bakmi di Jakarta ini. Untuk menikmati bakmi tentunya. Nah dari beberapa tempat makan Bakmi ini, ada tiga bakmi yang menjadi favorit saya.

Bakmi Ahau Mangga Besar
Bakmi Ahau ini, lokasinya di jalan Mangga Besar. Lokasi persisnya, kalau kita dari arah Gunung Sahari, dia ada setelah rel kereta layang, sebelah kiri dekat tosoto. Kalau dari arah olimo, ada di sebelah kanan, sebelum rel kereta.

Bakmi Ahau ini, jualannya kaki lima. Ada gerobaknya. Dan bakminya mengandung babi. Jadi ya tak usah saya jelaskan kan?

Nah bakmi ahau ini bisa kita pesan porsi kecil dan porsi besar, standard dan komplit. Bedanya? Kalau standard hanya ada irisan daging babi dan “grabyas” atau semacam lemak babi yang digoreng.

Kalau komplit, nah isinya macam-macam. Ada irisan daging babi merah, grabyas tadi, swekiaw dan pangsit.

Bakmi Ahau ini juga berbeda. Dia seperti Mi karet. Agak kenyal-kenyal gitu kalau dimakan.

Rentang harga, ya 20ribu hingga 30an ribu. Tergantung porsi besar, kecil, atau standard dan komplit.

bakmi (2)
Bakmi Ahau “Standard”
bakmi (1)
Bakmi Ahau Kumplit

Bakmi Lung Kee Hayam Wuruk
Bakmi Lungkee ini, sebenarnya bakmi pada umumnya. Bakminya seperti bakmi keriting. Tapiii, soal rasa lebih enak dibandingkan mi pada umumnya. Entah kenapa bisa enak. Mungkin bumbunya lebih beda. Intinya enak ketika dikunyah.

Bakmi lung kee ini juga, ada yang pakai ayam, dan pakai daging babi. Bakso nya juga enak, begitu juga dengan pangsitnya. Nyosss….

Kita juga bisa pesan ekstra sayur di bakmi lung kee. Semangkok khusus sayur plus kuah bakmi. Sayurnya, sawi dong.

Lokasinya, ada di jalan Hayam Wuruk. Tidak jauh dari simpangan lampu merah Jalan Samanhudi. Kalau dari arah kota sebelah kiri, ada indomaret, nah ada bakmi yang rame yang jualan di pedestrian, itulah bakmi lung kee.

Bakmi Sidolaris.
Bakmi ini juga sebenarnya sama kayak Bakmi Lung Kee. Rasanya juga enak. Tapi yang membedakan bakmi Sidolaris ini, dia tidak memakai Sawi sebagai sayurannya. Namun Selada.

Di bakmi sidolaris ini, bakso gorengnya enak. Dan siomay babinya juga maknyus. Es kacang hijau dan cincau hitamnya juga enak. Jangan cuma makan bakmi aja di sini. Coba juga bakso goreng dan siomaynya atau esnya.

Lokasi bakmi sidolaris di Sunter. Di dekat ace hardware Sunter, jalan Danau Sunter Utara. Dekat karaoke koin ya. Harganya standard kok. 20an ribu. Untuk es masih dibawah ceban.

Bakmi Sido Laris
Bakmi Sido Laris

Ketiga bakmi ini, jualannya malam semua. Ingat jualannya malam semua! Jangan dicari kalau siang-siang.

Selamat mencoba!

read more
FeaturedMakang Sadap

Nasi Pecel Kaki Lima Depan Artha Gading, Nyuossss!

nasi pecel artha gading (4)

Nasi pecel, iya, nasi pecel ini sudah menjadi makanan favorit saya sejak lama. Bukan semenjak saya hijrah ke Jawa Tengah untuk kuliah. Namun kegemaran akan nasi pecel ini, sudah semenjak saya tinggal di Tontalete. Ibu saya suka membuat nasi pecel.

Kuliah ke Jawa Tengah, saya tetap masih menyukai nasi Pecel ini. Begitupun ketika saya mulai mengadu nasib di Jakarta. Tetap jadi makanan favorit.

Nah, di Jakarta ini, menjumpai nasi pecel, tidak hanya di restoran atau tempat makan di mall. Ada juga yang di kaki lima. Seperti nasi pecel favorit saya ini yang berada di samping kali, depan Mall Artha Gading (bukan di dalam mall ya!).

Penjual Nasi pecel ini, menggunakan mobil pickup untuk berdagang. Etalase makanannya, berada di bak terbuka. Ini penampakannya.

nasi pecel artha gading (2)

Nasi pecel ini, kuncinya juga ada di bumbu pecelnya. Dan nasi pecel yang dijual di tempat langganan saya (saya sebut langganan karena sudah berkali-kali makan di sini), ini bumbunya medok alias sangat enak. Pedas, asin, manis itu menggoyang lidah.

Bumbu pecel ini ditaburi di atas sayuran yang dikukus (atau direbus?) Semakin menambah enaknya. Kita bisa menambah lauk lainnya seperti gorengan, terong cabe (bukan terong-terongan digabung ama cabe-cabean) ya, bakwan, kentang, telur dan menu lainnya.

Soal harga, sangat murah. Kalau saya makan dengan sepotong bakwan, cuma 8000. Saya makan dengan terong dan kentang, cuma 10.000. Tidak mahal bukan?

Penjual ini buka diatas jam 19.00. Kalau kita datang sebelum jam 19.00 dia belum datang. Dia juga berjualan hingga malam. Saya yang sehabis nonton bioskop di Artha Gading XXI, jam 23 lewat masih suka makan di warung ini kok. Mau mencoba? Dijamin enak kok!

read more
CeritaFeatured

Peralatan Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan yang Semakin Canggih

hbkb sudin pkp

Minggu 24 Juli, saya yang sudah lama tinggal dan beraktifitas di Jakarta Utara, sekali-kalinya datang ke gelaran car free day atau hari bebas kendaraan bermotor di Jakarta Utara.

HBKB atau CFD ini dihelat di jalan Bulevar Raya, Kelapa Gading. Setiap bulan kegiatan ini digelar. Biasanya pekan terakhir. Minggu ke-3 atau Minggu ke-4. Yang pasti hari minggu digelarnya.

Nah, ketika sampai di lokasi CFD, Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) atau dahulu dikenal dengan Sudin Damkar a.k.a Pemadam Kebakaran, pamerin alat-alatnya.

Saya langsung nyamperin deh. Seorang petugas bernama Faturrohman, langsung mulai menjelaskan alat-alat Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.

“Yang ini alat buat memotong, pake baterai, jadi dia otomatis bergerak, kita nggak perlu repot-repot memakai kekuatan untuk memotong,”

“Kalau yang ini apa mas?”

“Kalau yang ini untuk membuka pintu, kalau kekunci, pas ingin melakukan penyelamatan kami buka pakai ini,”

“Wah canggih-canggih juga ya alatnya,” kata Saya

hbkb sudin pkp (2)
“Nah kalau yang ini alat untuk evakuasi orang dengan ketinggian berbeda. Misalnya kalau orang kecemplung sumur, kita bisa evakuasi dengan alat ini,” tambah Faturrohman sembari menunjuk alat evakuasi tadi

nih fotonya

hbkb sudin pkp (4)

tak hanya itu, alat lain yang dipamerin oleh Sudin PKP ini, adalah kamera yang bisa diselipin dicelah-celah gedung, kalau gedung runtuh.

“Iya mas, kalau misalnya ada gedung runtuh, kita mau melakukan penyelamatan, kita bisa memasukan kamera ke celah-celah gedung. Untuk melakukan pengecekan kalau ada orang di dalam gedung runtuh,”

hbkb sudin pkp (3)

 

wah semakin kagum saya!
Tak cuma itu, alat lain yang dipamerin ada lagi yang lain. Semisal sensor pergerakan gedung. Kalau misalnya gedung berpotensi runtuh, petugas langsung meninggalkan gedung tersebut, kalau melakukan evakuasi.

Mobil yang bisa melakukan pemadaman kebakaran di gedung tinggi juga dipamerin. Namanya Unit Aerial Fire Fighting and Rescue Hydraulic Platform. Keren dah namanya.

hbkb sudin pkp


Ada juga sepeda motor 250 cc yang dipamerin. Namanya Unit Pemadam Reaksi Cepat. Kalau ada kebakaran kecil, belum membesar, bisa dilakukan oleh sepeda motor ini. Keunggulan lain, bisa masuk ke gang-gang sempit. Sudah tau lah kita Jakarta ini banyak jalan sempit.

hbkb sudin pkp (5)

 

Anak-anak yang berkunjung ke Pameran Sudin PKP ini, juga bisa berfoto menggunakan baju pemadam kebakaran. Bahkan saya juga bisa berfoto lho. Pake baju pemadam kebakaran.

Di akhir kunjungan saya mendapat buku dari petugas.

“untuk dibaca di rumah ya. Tentang pencegahan kebakaran,” kata Faturrohman.

Wah makasih ya mas!

read more
BapontarFeatured

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari – Bagian 3 : Ke Pulau Karang Kudus dan Lancang

DCIM100MEDIA

Setelah kembali ke dermaga Pulau Pari, awalnya saya pikir, akan kembali ke Pulau Tidung. Ternyata bang Arief masih meminta saya menunggu. Okelah. Tidak masalah.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya

“Tom brangkat yuk”
“Ke mana Bang?”
“Ke Pulau Karang Kudus!”

wah saya baru ingat deh, dari awal keberangkatan, memang bang Arief udah bilang, selain ke Pulau Pari memang kita akan ke Pulau Karang Kudus. Kebetulan, pemilik pulau sedang liburan di situ.

Ternyata, berangkatnya bukan hanya saya, camat, dan anaknya camat si Alif. Lurah Pulau Pari Pak Maman, Istri dan anaknya, Babinkantibmas si Koim, sama Babinsa pak Samsul juga ikutan.

Mereka rupanya mau kembali ke Pulau Lancang, dan sekalian dianterin sama camat, pake Kapal Dinas, sekalian juga mereka mau dikenalin ke yang punya Pulau Karang Kudus. Om sapa lah gitu saya lupa. Chinese pokoknya.

Tak butuh lama untuk menuju ke Pulau Karang Kudus. Sekitar 10 menit naik speedboat dari Pulau Pari. Letaknya cuma sebelahan sama Pulau Tengah kok.

AKhirnya kami tiba di Pulau Karang Kudus. Wah, ternyata Private Island. Punya pribadi. Untuk menuju ke pulau, harus berjalan sekitar 100 meter-an dari dermaga. Kita meniti jalan dengan hamparan laut berwarna hijau tosca di sebelah kiri kanan.

DCIM100MEDIA
Jalan ke Pulau Karang Kudus

Pulau Karang Kudus juga tidak begitu luas. Mungkin 2 hektar. Sekitar segitu lah. Tapi yang saya suka, Pulau ini asri. Banyak pohon dan tanaman.

Kami disambut sama pemilik pulau untuk ngobrol-ngobrol di depan rumahnya yang adem, di bawah pohon gitu deh. Pak camat. lurah, babinkantibmas dan babinsa diajak ngobrol sama pemilik pulau.

Saya? Cari pantai dulu untuk foto-foto. Wah pantainya bagus ternyata. Landai dan tidak dalam. Pasir putih. Ada kok foto selfie saya di pantai. Hohohoho.

Pantai di Pulau Karang Kudus
Pantai di Pulau Karang Kudus

Karena nggak bawa pakaian renang, ya apes deh. Gak berenang. Hahahaha!!

Kami di Pulau Karang Kudus mungkin cuma sekitar satu jam. Tidak perlu menjelajahi pulau ini. Cukup ke pantai. Tidak enak sama yang punya Pulau. Kan Private Island.

Setelah selesai, kami kembali ke dermaga. Kami akan melanjutkan perjalanan mengantarkan lurah ke Pulau Lancang. Pulau Lancang ini merupakan pusat pemerintahan Kelurahan Pulau Pari. I’ll write on my special blog about this Island.

Perjalanan ke Pulau Lancang dari Karang Kudus tidak butuh waktu lama. Naik speedboat, ya cuma 20an menit. Kami cuma ngedrop Lurah dan rombongannya.

Setelah ngedrop Lurah dan rombongan, nahkoda minta waktu sebentar untuk mengisi BBM. Kami pun menunggu sekitar 10 menit dan akhirnya meluncur kembali ke Pulau Tidung

(bersambung lagi)

read more
CeritaFeatured

Mencoba Menjadi “Verified Account”

verified account 11

Seperti biasa, sebagai seorang yang antusias dengan media sosial, membuka twitter melalui tablet saya itu sudah keseringan. Bangun tidur, buka mata, sejenak berdoa dan kemudian buka twitter.

Lah buat apa? Ya sudah tentu untuk mengetahui informasi terkini. Di twitter ini, informasi mau akurat atau tidak, sudah beredar di twitter duluan. Media online pun kalah. Hoax atau tidak, urusan belakangan.

Nah, di twitter, ada salah satu orang yang saya follow, @InsideErick membuat blog tentang bagaimana biar akun twitter kita bisa menjadi “verified account” atau ada centang birunya. Dan dia memposting di twitter soal blognya itu.

Saya pun tertarik membuka dan membaca petunjuknya. Saya pun tertarik untuk mencoba untuk membuat akun twitter saya @baciritaID untuk menjadi akun yang terverifikasi alias ada centang biru.

Untuk meminta twitter membuat akun kita menjadi verified, kita membuka http://verification.twitter.com. Oh iya sebaiknya sebelumnya di browser atau perambah internet kita, kita login ke twitter dulu ya. Biar gampang.

IMG_1983
Nah akan tampil seperti ini. Kita tinggal mengklik atau tap/ mengetuk pada kotak biru bertuliskan “CONTINUE” atau lanjutkan.

IMG_1984
Setelah itu akan muncul form “request to verify an account”. Nah karena saya udah login di twitter di perambah internet saya, muncul dalam kotak twitter username, username twitter saya @baciritaID. Silakan ketuk atau klik “NEXT”.

IMG_1985
Nah, ternyata akun saya “not eligible for review”. Gara-garanya saya nggak menghubungkan akun saya dengan nomor ponsel. Simpel! Saya tinggal masukan nomor ponsel dan setelah dapat SMS dari twitter, sudah terhubung deh twitter kita dengan nomor ponsel kita.

Nah saya ketuk “back” dulu dan kemudian ya “next” lagi. Nah kemudian muncul seperti ini.

IMG_1986

Twitter meminta kita mengisi dua situs web yang akan membantu mereka untuk melakukan identifikasi akun kita. “At least two website”. Berarti setidaknya ada dua website.

Karena saya ada website pribadi dan blog pribadi, saya mengisinya dong.

Ternyata di bagian bawah juga, ada form yang harus kita isi dengan “mengapa akun kita harus diverifikasi”

Saya sih mengisinya dengan simpel. Saya real person, akun asli bukan anonim. Jadi saya pengen follower saya tau bahwa saya ini asli. Simpel kan? Nggak usah curhat lah di form itu. Lah wong maksimum 500 karakter. wkwkwkwkw

IMG_1987
Okeh selesai mengisi, twitter meminta kita memastikan apa yang kita isi dengan benar. Seperti ini tampilannya. Kalau sudah dianggap benar yang kita isi, silakan tap Submit.

Kelar deh.

IMG_1988
Mudah bukan? Nah soal hasil verifikasi, dan berapa lama verifikasi akan dilakukan, saya tidak tahu (apalagi tempe). Twitter cuma bilang, akan dikabari lewat email. Nah, pastikan juga email yang dilink ke twitter kita masih kita bisa buka. Supaya kita tahu apakah twitter kita terverifikasi atau tidak.

Saya sih bukan seleb, bukan orang top. Biasanya yang terverifikasi itu pejabat, atau selebriti. Lah saya bukan tipe itu. Tapi setidaknya saya mencoba. We’ll never now if don’t try ….

selamat mencoba yaaa!

 

oh iya, syarat untuk mendaftarkan akun kita menjadi verified account seperti ini nih. Jadi pastikan udah terpenuhi semua ya sebelum mencoba meminta twitter untuk membuat akun kita menjadi verified

IMG_1989

read more
BapontarFeatured

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari – Bagian 2 : Ke Pantai Pasir Perawan

ydxj1115.jpg

Bang Arief kemudian memanggil saya, yang tengah duduk di sawung di dekat Dermaga Pulau Pari. “Tom kamu sama Alif ke Pantai Pasir Perawan aja,” ujar Bang Arief.Oh iya, Alif ini anak semata wayang, atau putra tunggal Bang Arief. Saya sudah mengenalnya sejak lama, karena saya sudah pernah menginap di rumah bang Arief, tahun 2008 lalu (wow delapan tahun lalu).

Saya sih memang sudah berencana akan mengunjungi pantai Pasir Perawan. Pantai Pasir Perawan ini sendiri, memiliki cerita sendiri bagi saya. Karena saya pikir rombongan Camat dan Lurah akan berkunjung ke Pantai Pasir Perawan, akhirnya, saya memilih menunggu, tapi ternyata mereka punya agenda lain. 

Saya dan alif akhirnya memutuskan untuk menuju pantai pasir perawan. Bang Arief pada dasarnya menawarkan saya menggunakan sepeda motor. Tapi saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Lebih menyehatkan. Lagian jalannya tidak terlampau jauh. Kurang lebih lima sampai sepuluh menit berjalan kaki.

Dari dermaga Pulau Pari, kalau mau ke pantai pasir perawan, tinggal belok ke kanan, dan berjalan sampai mentok ke pemukiman warga dan belok ke kiri. Jalan lurus dan tiba deh di pantai pasir perawan.

Pantai Pasir Perawan ini, dahulunya belum terjamah. Tahun 2011 pantai ini mulai kesohor. Dulunya menuju pantai ini harus melewati alang-alang. Sekarang tidak lagi (akan ada blog khusus ya tentang pantai pasir perawan ini).

Di pantai pasir perawan juga sudah banyak sawung dan tempat makan. Sangat berbeda dengan kondisi awal. Kalau lagi di sini, cuma berteduh di bawah pohon saja.

Yang saya suka di pantai pasir perawan ini, adalah pantainya yang tidak terlalu dalam. Kalau lagi pasang, tinggi air laut hanya mungkin sekitar sepinggang orang dewasa. 

Standardnya ya paling cetek. Sepaha orang dewasa. Intinya friendly buat anak-anak. Pantai Pasir Perawan, Arus dan tidak berombak besar, karena pantai pasir perawan ini seperti teluk yang masuk ke dalam, dan terlindung oleh mangrove.

Di pantai ini juga, hamparan pasir putih luas. Kita bisa melakukan bermacam aktifitas. Bermain voli, duduk-duduk, main pasir atau sekedar duduk berteduh sambil makan di tempat makan yang terbuat dari bambu. Sangat tradisional.

Bukan cuma sekali dua kali saya datang ke sini. Tapi pantai pasir perawan masih sangat terkesan bagi saya. Bagus sekali pantainya.

Setelah selfie dan mengambil video dengan action cam saya, akhirnya saya dan Alif kembali ke dermaga Pulau Pari. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Karang Kudus.

(bersambung)

read more
Cerita

Berhenti Merokok

img_1433-1.jpg

Bulan Juli 2016 ini, saya sudah kurang lebih sembilan tahun berhenti merokok. Bahasa kerennya, quit smoking. Saya menjadi perokok, setelah saya duduk di bangku kuliah (bahasanya resmi amat yak). Kalau diingat-ingat, itu sekitar tahun 1993. Saya masuk kuliah tahun 1992. Berarti setelah setahun kuliah.

Awalnya, merokok cuma buat gaya-gayaan aja. Ikutan teman yang merokok. Saya merokok jaman itu, Gudang Garam Filter. Tapi gak perlu lah saya menceritakan rokok apa saja yang pernah saya hisap.

Ketika merokok, jaman itu, kalau di depan orang tua, masih ngumpet-ngumpet. Tapi itu jarang sekalinterjadi, karena saya merantau, dan kuliah di Salatiga Jawa Tengah.

Tujuh tahun merokok, sekitar tahun 2001 atau 2002 (lupa persisnya) saya memutuskan berhenti. Karena dorongan pacar saya ketika itu. Dan berhasil.

Tapi tahun 2004, eh saya cuma iseng menghisap sebatang rokok, akhirnya membuat saya merokok lagi. Rokok itu disodorin teman.

Dan saya merokok lebih parah lagi. Bisa dua bungkus rokok dan bahkan lebih dalam satu hari. Parah lagi.

Tahun 2009, saya waktu itu sekitar bulan Juli, saya sedang batuk. Karena batuk, saya kemudian iseng berhenti merokok. Saya ingin berhenti merokok selama seharian. I did it. Sehari tidak merokok.

Ketika saya sedang berhenti merokok sehari, saya teringat sebuah film, Constantine yang dimainkan Keanu Reeves. Disitu terlihat lung cancer yang diambil si iblis dari paru-paru Constantine.

Disitulah saya mulai ngeri akan dampak merokok.

Saya akhirnya memutuskan kembali mencoba berhenti merokok lebih lama. Dan setelah tiga hari, saya memutuskan berhenti merokok selama sepekan. Kembali berhasil. Dan akhirnya saya coba sampai sebulan. Dan semakin berhasil.

Ketika berhenti merokok, godaan itu datang. Bahkan seorang teman meledek. Bencong aja merokok, masa lu nggak ngerokok. Gw sih jawab enteng aja, saya bukan bencong.

Bahkan teman pernah memasukkan rokok di mulut, memegang kepala saya dan membakar rokok itu dan diminta menghisapnya. Tapi niat saya sudah bulat. Berhenti merokok.

Bagi yang ingin berhenti merokok, cara efektif dan paling berhasil adalah, memiliki niat untuk berhenti. Jangan pakai tunda atau dari mengurangi. Harus benar-benar total berhenti.

Apa yang saya rasakan ketika berhenti merokok, jujur badan lebih segar. Lebih enteng. Ketika batuk tidak terasa seberat ketika masih merokok. Bahkan saya tidak kurus lagi karena berhenti merokok.

Itu saja kok, simpel. Tak perlu pake teori ini itu. Yang penting niatkan berhenti merokok.
Jakarta, 4 Juli 2016

(Ditulis tanggal 4 bukan berarti diposting tanggal 4 juga)

read more
1 37 38 39 40 41
Page 39 of 41