close

Cerita

Cerita

Ada Demo Pemadaman Kebakaran di HBKB Kelapa Gading

img_4130

Setiap hari Minggu ke-3 setiap bulannya, Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor digelar di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Tepatnya di Jalan Bulevar Raya, mulai dari Bundaran Kelapa Gading, hingga lampu merah perempatan Pulo Mas, di Jalan Perintis Kemerdekaan.

Saya yang tinggal di Jakarta Utara baru tiga kali ke acara HBKB atau CFD ini, seperti yang sudah saya ceritakan di blog-blog saya sebelumnya.

Di blog saya sebelumnya, saya sudah bercerita, kalau di setiap pegelaran HBKB ada pameran alat-alat pemadam kebakaran dari Suku Dinas (Sudin) Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP).

Agar tidak bingung, Sudin PKP ini dahulunya adalah Sudin Damkar atau Pemadam Kebakaran. Namun, sekarang berubah menjadi Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan.

Oke balik lagi ke cerita.

Di pameran alat-alat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan ini, seperti yang sudah saya ceritakan, kita bisa melihat alat-alat yang sudah cukup canggih.

Tapi, ternyata, Sudin PKP ini bukan hanya memamerkan alat-alat yang cukup canggih. Mereka juga memamerkan atau memberikan pengetahuan kepada pengunjung HBKB bagaimana mengatasi kebakaran yang berasal dari kompor gas.

Pasti sudah pada tahu lah, penyebab kebakaran itu, ya kalau nggak korslet listrik, dari kompor. Apalagi skarang pada pakai kompor gas. Dua hal ini masih menjadi penyebab utama kebakaran.

Karena itu, Sudin PKP, ketika saya sampai di tempat penggelaran HBKB, sedang mendemokan cara pemadaman kebakaran ini.

Dari yang saya lihat, ada empat hingga lima petugas yang mendemokan cara pemadaman kebakaran ini. Salah satunya, menjadi pemandu.

“Jadi, caranya kalau terjadi kebakaran di kompor gas, yang pertama dilakukan adalah mencabut regulator dari tabung gas”

Begitu petugas Sudin PKP memandu cara menanggulangi kebakaran.

Petugas yang lain pun langsung mencabut regulator dari tabung gas.

“Pencabutan regulator ini berguna untuk memutus aliran gas dari tabung ke kompor agar tidak membuat api semakin besar”

Setelah itu, petugas PKP mendemokan aksi mematikan api yang menyala besar di kompor. Caranya, sebenarnya simpel. Pakai Kain yang sudah dibasahkan dengan air (ya eyalaah masa pake minyak tanah!)

Dengan cekatan, petugas langsung melakukan pemadaman kebakaran di kompor gas ini. Api langsung padam.

Tidak ada tepuk tangan memang dari para pengunjung. Bagi saya, memang tidak perlu ada tepuk tangan. Tapi yang penting, petugas PKP ini menunjukkan ke warga cara menanggulangi.

Penonton memang ada yang berujar bahwa akan beda dalam keadaan panik. Tapi, apa yang disampaikan oleh petugas PKP ini penting, dan memberikan pencerahan bagi warga.

read more
Cerita

Perpanjang STNK Sendiri, Butuh Waktu Kurang dari Satu Jam

perpanjang-stnk

Hari Sabtu 17 September kemarin, saya berencana memperpanjang STNK kendaraan teman saya, yang sering pakai. Dia memang meminta tolong saya untuk memperpanjang STNK, karena dia sibuk orangnya, meskipun di akhir pekan.

Dari rencana memperpanjang di pagi hari, karena ditelepon teman dari telkom, akhirnya memperpanjangnya baru mau dilakukan jam 11 kurang.

Saya pun meluncur ke layanan STNK keliling di Kelapa Gading. Kebetulan memang lagi di Kelapa Gading. Biasanya pindah-pindah. Saya sampai sudah jam 11 pas.

Pas tanya ke petugas yang ada, eh sudah tutup. Apes dah gue. Kirain layanan sampe jam 12. Ternyata jam 11.

Hari senin 19 September hari ini, akhirnya saya putuskan ke Samsat Jakarta Utara yang ada di Gunung Sahari. Setelah ada kejadian yang menghalangi untuk berangkat jam 09.00 WIB, saya akhirnya berangkat ke Samsat di Jalan Gunung Sahari, sekitar jam 10, dan tiba jam 10.20.

Setelah memarkir sepeda motor teman yang ingin saya perpanjang STNK, saya ke bagian photocopy untuk mem-photocopy KTP teman saya dan BPKB. Dua hal ini sangat penting untuk perpanjang STNK.

Petugas photocopy juga langsung mengisikan formulir untuk memperpanjang STNK. Harga yang saya bayar? 5.000 Rupiah. Oke, saya akan bercerita di blog lain terkait masalah ini.

Waktu menunjukkan jam 10.33 di jam tangan saya ketika saya menyerahkan berkas perpanjang STNK. Petugas kemudian menyampaikan, tunggu dipanggil ya untuk pembayaran pajak.

Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, saya dipanggil untuk membayar pajak tahunan kendaraan bermotor. Yang harus saya bayar, masih sama dengan pajak yang tertera di STNK lama. Berarti tidak ada kenaikan.

Usai membayar, saya kembali menunggu untuk dipanggil untuk mendapatkan STNK yang sudah diperpanjang pajaknya. Untuk menunggu, agar tidak bosan, saya lihat-lihat timeline twitter, main game di tablet.

Akhirnya kurang lebih 11. 25 saya dipanggil. STNK sudah selesai diperpanjang. Wah ternyata kurang dari satu jam. Ini termasuk cepat karena yang memperpanjang STNK di Samsat ini banyak sekali. Mungkin ada ratusan atau ribuan orang dari pagi.

Dengan apa yang saya alami hari ini, dan pengurusan perpanjangan STNK sebelumnya yang pernah saya lakukan, ngapain juga ya kita pakai biro jasa perpanjangan STNK?

Kalau kita sibuk, ada layanan STNK akhir pekan dan STNK keliling. Dan hanya butuh waktu sebentar untuk perpanjangan STNK. Masih bisa minta ijin juga dong di kantor atau tempat kita bekerja?

Atau orang yang pakai biro jasa perpanjang STNK ini hanya karena malas pergi ke Samsat? Nggak tau juga.

Yuk urus perpanjangan STNK sendiri!

read more
Cerita

Me and My iPad Mini 2

ipad-mini-2

Bulan Desember saya biasanya dapat duit lebihan. Kan saya natalan. Biasanya saya dapat rejeki lebih. Uang Tunjangan Hari Raya dari teman-teman saya.

Ditambah dengan gaji saya waktu itu, ketika saya masih proyekan di sebuah institusi militer, akhirnya ada uang cukup.

Ketika itu saya pakai smartphone Asus Zenfone 2. Karena saya ini penggemar gadget, saya akhirnya berpikir kenapa saya tidak beli iPad saja.

Ada satu langganan saya, suka menjual iPhone dan iPad. Akhirnya saya mengontak dia. Incaran awal saya, iPad Mini 2 yang wifi saja. Pengalaman pake iPad biasa, kegedean. Repot kalau dibawa-bawa.

Lama kelamaan, males juga pake iPad Mini 2 yang wifi. Saya pun akhirnya mengganti dengan iPad Mini 2 yang seluler. Sudah bisa 4G pula. Internet bisa kenceng deh.

Akhirnya saya menukar. Dari iPad Mini yang cuma wifi, akhirnya pake yang seluler.

iPad Mini 2 saya ini, udah menemani saya selama sembilan bulan. Jarang-jarang bagi saya bisa punya gadget, tahan sampai diatas tiga bulan.

Kalau nggak ditukar, ya saya jual. Itu sih.

Tapi iPad mini 2 saya ini, betah di tangan saya. Saya kebanyakan pakai buat main game, seperti CoC dan Sim City Build It.

Balas email, ngetik di notesnya iPad Mini juga asik. Baca berita, scroll timeline twitter dan lihat-lihat di fb juga enak.

iPad mini 2 juga lebih nyaman kalau dibawa-bawa. Tidak perlu tas besar. Sambil jalan juga bisa sembari lihat-lihat ipad.

Semoga saja saya bisa bertahan lama pake iPad Mini 2 ini. Semogaaaa!!

read more
FeaturedMakang Sadap

Enaknya Nasi Kuning Cakalang Om Meo di Tanjung Priok

img_4110

Semenjak tahun 2002, ketika pertama kali bertugas di Sinar Harapan, sebagai seorang stiringer, saya sudah bolak balik Jakarta Utara. Maklum saya penugasan liputan di Jakarta Utara.

Namun, tahun 2004 saya sudah berhenti dari Sinar Harapan. Tapi, bukan berarti saya berhenti ke Tanjung Priok. Ada saja job di Jakarta Utara ini.

Tahun 2005, saya masih tetap di Priok. Dan ada sepupu jauh saya mengajak saya makan nasi kuning khas Manado. Di Jalan Bugis. Wah, kalau di Manado saya memang doyan Nasi Kuning.

Tempat makan Nasi Kuning ini, bukanlah resto. Tapi, lapak kaki lima. Nah, yang jualan namanya Om Romeo, disingkat jadi Om Meo.

Selang beberapa tahun, saya sempat tidak makan di Nasi Kuning Cakalang Om Meo ini. Setelah kembali tinggal di Tanjung Priok, di Kebon Bawang, saya mendadak ingat sama Om Meo. Kangen Nasi Kuningnya.

Karena sering makan, akhirnya saya mencari di lokasi lapak kaki lima O Meo ini. Dan ketemu!! Tempat jualannya masih sama. Di Jalan Bugis sebelah Indomaret.

Selepas parkir motor, saya yang sudah craving untuk Nasi Kuning ini langsung masuk dan pesan.

“Makan di sini, nggak pakai telur”

Dan tersajilah nasi kuning cakalang, dengan cakalang suir mirip abon cakalang, dengan bihun goreng. Hmm semakin tidak sabar untuk menyantap.

Nasi Kuning nya ini yang saya suka, tidak berminyak. Berasnya pulen. Pas memang. Ikan Cakalang yang disuir-suir alias dihancurkan saya aduk-aduk dengan nasi kuning. Makin enak rasanya.

Tak terasa sepiring habis saya santap. Dan nambah lagi pastinya. Selesai makan, bayar. Untung 1,5 piring, saya bayar 29.000. Masih murah lah.

Jadi pengen makan lagi. Maklum udah lama nggak makan. Padahal ini langganan makan saya.

img_4109
Lapak Nasi Kuning Cakalang Om Meo
img_4112
Om meo. Sang pemilik lapak
read more
Cerita

Wah Asik, Rute TransJakarta Semakin Banyak

img_3720

Naik transportasi umum di Jakarta, ini sudah menjadi pilihan utama saya, semenjak saya tidak punya kendaraan pribadi, berupa sepeda motor, meski ada sepeda motor pun saya masih suka naik transportasi umum.

Transportasi umum yang sering saya gunakan adalah TransJakarta. Dan bisa dikatakan paling sering malah saya naik TransJakarta ini.

Sekitar bulan Juni atau Juli lalu, saya ada undangan sebuah event di SCBD Sudirman. Awalnya saya pikir di Ritz Carlton Mega Kuningan, tapi ternyata saya salah. Yang benar ada di Ritz Carlton Pacific Place.

Saya yang berangkat dari Jakarta Utara, sudah kadung transit di halte BPKP Pramuka. Rencananya saya mau naik ke dukuh atas dan menyambung ke koridor Ragunan.

Karena tahu saya salah tempat event, akhirnya ya saya akan tetap naik koridor Dukuh Atas, transit Koridor Blok M – Kota. Tapi ternyata, ketika saya ada di halte BPKP Pramuka, ada bis arah Grogol. Wah rute baru nih.

Saya berpikir, ya sudah naik itu, nanti transit di halte yang di Semanggi itu. Saya pun sempat bertanya, lewat mana ke petugas di TransJakarta.

“Lewat Sudirman kok”
Wah saya pun berpikir wah saya turun di salah satu halte di Jalan Sudirman, dan bisa transit naik koridor 1 dan turun di Polda Metro. Kemudian berjalan kaki ke SCBD Sudirman.

Itu pengalaman pertama saya.

Nah pengalaman lainnya, saya beberapa kali ada di Halte TransJakarta dan melihat sejumlah Koridor baru. Ketika saya transit lagi di Halte BPKP Pramuka untuk ke Halte di dekat Mall Arion, saya melihat ada Bus Koridor Kampung Rambutan Ancol yang melewati Bypass dan Jalan Pramuka.

Tidak hanya itu, ada beberapa kesempatan saya melihat koridor seperti Senen Lebak Bulus yang melewati Halte Senen Central. PGC Harmoni, dan masih banyak rute lainnya.

Oh iya, saya juga pernah naik Tanjung Priok Bekasi Barat ketika saya hendak ke Bekasi. Dan saya juga pernah naik Bekasi Pasar Baru, untuk ke arah Halte Matraman.

Saya pun berpikir, wah semakin banyak rute transjakarta ini. Dan ternyata memang benar adanya. Saya mengetahuinya dari Twitter @PT_Transjakarta. Ternyata sudah melayani hingga BSD Tangerang Selatan, Depok dan rute lainnya. Bahkan Kampung Rambutan Lebak Bulus juga sudah ada. Wah keren sekali ini TransJakarta.

Asik sekali. Kemana-mana bisa murah. Modal 3.500 bisa kemana-mana. Dan busnya juga semakin enak. Udah baca kan blog saya yang saya kedinginan di dalam bus Transjakarta yang adem bener? Kalo blom baca, silakan cari di blog saya ini. Ada kok!

Dan ini saya tampilkan beberapa foto yang saya ambil dari twitter untuk beberapa rute terbaru TransJakarta.

read more
CeritaFeatured

Memfoto Kali dan Sungai yang Semakin Bersih di Jakarta

img_4081

Ada satu kebiasaan baru saya belakangan ini. Selain keranjingan blogging atau ngeblog, saya juga sekarang ini kalau ada kesempatan, lebih suka berkeliling, cari fasilitas publik yang sudah lebih rapi, dan dipercantik.Nyarinya buat apa?

Yang pertama, saya ini akhirnya sadar bahwa saya ini seorang content creator setelah dikasih tahu teman saya, yang bernama Hariadhi. Jadi, saya keliling-keliling ini, ya buat cari konten yang bakal saya publish. Bisa di akun media sosial saya, bisa juga buat blog saya.

Bedanya kalau saya publish atau posting di media sosial, saya hanya singkat saja. Tapi, kalau di blog, saya lebih leluasa dan bahkan bisa bercerita.

Kedua, banyak fasilitas publik yang sekarang sudah lebih baik. Sudah lihat sejumlah pedestrian di Jakarta? Sudah lihat perubahan drastis transJakarta? Tahu RPTRA? Itu fasilitas publik yang semakin cantik atau semakin baik.

Dan bukan hanya itu. Saya juga sekarang lagi keranjingan memfoto Kali atau Sungai yang ada di Jakarta. Bagi saya, sungai atau Kali di Jakarta banyak yang semakin bersih.

Memang belum semua kali atau sungai yang bersih. Namun, setidaknya mulai banyak yang bersih.

Saya dalam beberapa kali perjalanan atau berkeliling menemukan dan melihat bahkan memfoto kali-kali ini, meskipun saya tidak tahu apa nama kalinya.

Ketika berkunjung ke Kamal Muara, bersama teman saya dari Polsek Penjaringan, saya memfoto kali Kamal Muara. Begitupun ketika saya hendak ke Jalan Lembang. Saya menyempatkan diri mengambil gambar walaupun cuma satu.

Sehari menjelang Idul Adha, ketika saya melintas di atas Flyover perempatan Ancol, saya tak lupa mengambil gambar. Pengambilan gambar kali pun, saya lakukan ketika libur Idul Adha.

Saya yang diajak ke Cilincing oleh teman, dan melintas di Kali Sunter yang di Koja, langsung berhenti untuk mengambil foto.

Sekali lagi saya katakan, pengambilan foto ini karena saya melihat kali atau sungai yang semakin bersih. Tak ada salahnya kita merekam melalui gambar, sesuatu yang lebih baik, untuk kita sampaikan lewat blog, maupun media sosial.

Kali ini, merupakan salah satu yang banyak berubah saat ini. Semakin bersih. Setidaknya semakin lebih baik dari yang ada sebelumnya.

Ada beberapa foto kali di bagian bawah blog ini. Silakan dilihat. Kali ini hanya sebagian kecil saja. Tak usah khawatir. Akan banyak postingan lain yang akan saya buat, terutama soal fasilitas publik dan sungai.

read more
Bapontar

Pedestrian di Jalan Gunung Sahari yang Kini Lebih Rapi

img_3968

Libur Idul Adha Senin 12 September dua hari lalu, seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya sebelumnya tentang danau sunter barat, saya berkeliling Jakarta Pusat dan Utara.

Kebetulan ada teman yang meminjamkan saya sepeda motor semenjak pekan lalu. Jadi, pas libur, tidak ada salah jika saya berkeliling. Mumpung jalanan cenderung sepi.

Setelah ke Danau Sunter Barat atau Waduk Sunter Barat, saya melanjutkan perjalanan melewati Kemayoran, Jalan Angkasa. Saya menuju ke Jalan Gunung Sahari.

Ada apa di Jalan Gunung Sahari?

Yang membuat saya tertarik ke Gunung Sahari adalah melihat pedestrian sepanjang jalan tersebut yang berada di samping sungai atau kali.

Saya akan memantau pedestrian dari perempatan Hotel Golden hingga dengan perempatan Mangga Dua Square. Pedestrian di sepanjang jalan Gunung Sahari ini, mengapa menarik perhatian saya, karena sudah lebih rapi.

Iya lebih rapi, dan tertata. Pedestrian di Jalan Gunung Sahari ini, kini sudah berubah. Benar-benar berubah.

Perubahan ini, semenjak kali yang ada di Gunung Sahari, dipasang sheetpile atau tanggul di pinggirnya. Pemasangan tanggul ini mungkin sekitar tahun 2013-2015 an. Saya tidak tahu persisnya.

Seusai tanggul dibangun, pedestrian kemudian dirapikan. Sudah ada pedestrian sebelumnya, namun masih belum rapi. Pedestrian yang dirapikan ini, tetap menggunakan Paving Block.

Mungkin selebar kurang lebih satu setengah meter. Maklum saya nggak bawa alat ukur. Jadi ya nebak-nebak aja.

Di samping kali ini memang lebarnya kurang lebih tiga hingga empat meter-an. Jadi masih ada space atau jarak dari tanggul ke jalan raya.

Jadi, selain pedestrian, ada juga spasi yang ditanami tanaman.

Selain tanaman bunga, atau tanaman perdu, ada juga pohon yang sudah besar. Memang banyak pohon di Jalan Gunung Sahari ini, namun, dipangkas ketika alat berat mengerjakan.

Dari yang saya lihat, pohon tersebut sudah mulai rindang kembali. Bahkan di beberapa titik sudah menaungi.

Pedestrian yang memakai paving block ini, lebih baik dari pada dicor, karena bisa menyerap air hujan yang turun. Adanya spasi yang ditanami rumput dan tanaman lainnya juga bermanfaat untuk penyerapan air.

Di pedestrian ini juga sejumlah bangku atau kursi panjang dari besi. Ini tentunya bermanfaat. Orang yang berjalan kaki di pedestrian bisa istirahat kalau capai atau capek.

Bagi yang malas menunggu angkutan umum di halte, walaupun ada, bisa duduk sembari menunggu angkutan umum yang lewat.

Dan yang jelas, pedestrian ini bisa dimanfaatkan pejalan kaki. Pejalan kaki akan semakin nyaman karena tidak ada pedagang kaki lima di sepanjang pedestrian itu.

Yang saya perhatikan juga, karena cenderung tinggi, sepeda motor nakal juga tidak ada yang naik ke pedestrian. Dan semoga saja sepeda motor nakal ini tidak akan naik ke pedestrian kalau macet.

Dan, semoga juga tidak akan ada pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan ini. Warga juga semoga tidak ada yang jail merusak pedestrian ini.

Semoga!!

read more
CeritaFeatured

Danau Sunter Barat yang Semakin Berubah

img_3965

Sudah beberapa bulan ini, saya tidak tinggal di Sunter lagi. Otomatis, saya jarang-jarang lewat di Danau Sunter.

Apalagi saya kebanyakan menggunakan transportasi publik transjakarta yang tidak melintasi Danau Sunter. Semakin jarang melintas Danau Sunter. Kecuali ada keperluan.

Pas Idul Adha, saya berniat keliling-keliling Jakarta. Mumpung libur. Sekaligus mengambil foto dengan tablet saya.

Salah satu yang saya tuju, adalah Danau Sunter. Nah Danau Sunter ini ada dua, Danau Sunter Timur dan Danau Sunter Barat. Kedua Danau ini terpisah.

Danau Sunter Timur, adalah Danau Sunter yang lebih tertata. Ada restoran, tempat nongkrong dan bahkan tempat memancing di pinggiran danau. Dari yang berbayar, sampai gratisan.

Danau Sunter Barat ini nasibnya cenderung berbeda. Bisa dikatakan, lebih “dicuekin”. Apalagi di pinggiran Danau Sunter, ada rumah warga.

Jujur saja, Danau Sunter Barat ini, lebih sering dipenuhi sampah. Entah dari mana datangnya. Mungkin dari rumah warga, mungkin juga dari orang yang suka sembarangan buang sampah.

Dan yang pasti, tidak ada yang mengangkat sampah tersebut.

Tapi, dua tahun terakhir ini, agak berubah. Saya yang ketika masih tinggal di Sunter, sering melihat ada kapal kecil yang kerap mengangkat sampah dari Danau Sunter.

Dan itu masih terus berlangsung sampai sekarang.

Tahun 2014 awal, Danau Sunter ini juga sempat dikeruk agar semakin dalam. Semakin dalam berarti daya tampung air semakin banyak.

Terus apalagi yang berubah?

Nah yang sangat berubah adalah air danau yang mulai tidak berbau. Kalau lewat di Danau Sunter Barat ini, kadang-kadang dan bahkan hampir sering, suka ada bau yang aneh-aneh.

Itu perubahan yang pertama.

Perubahan kedua yang drastis adalah dipasangnya sheetpile atau tanggul di sekeliling Danau. Pemasangannya tahun 2016 ini. Saya jujur aja, setengah kaget. Karena semasa tinggal di Sunter, belum dipasang tanggul ini. Ini keren sih.

Setidaknya, tanggul ini bisa mengurangi sedimentasi atau pendangkalan sungai. Lumpur atau tanah yang hanyut tidak akan membuat Danau semakin dangkal.

Pembuatan Tanggul juga akan membuat air danau tumpah keluar kalau hujan deras atau curah hujan sangat tinggi. Danau ini, awal tahun 2015 pernah rata dengan jalan airnya, dan bahkan keluar. Akibatnya banjirlah Jalan Danau Sunter Selatan.

Pemasangan tanggul ini tentunya akan sangat bermanfaat.

Danau Sunter Barat yang semakin bersih juga membuat warga banyak yang duduk-duduk di samping danau, apalagi adanya pohon yang teduh membuat warga bisa bersantai.

Dan semoga Danau Sunter Barat ini bisa seperti danau sunter timur.

Semoga!

read more
Makang Sadap

Kupat Tahu Enak di Penjaringan

kupat-sayur-1

Hari Minggu memang libur. Dan karena hari Senin 12 September itu Idul Adha, jadi long weekend. Dan yang seperti kalian tahu, orang-orang banyak yang keluar kota, mumpung libur.

Tapi tidak bagi saya. Dengan profesi freelancer seperti saya, nggak ada gaji, ya libur sih udah bukan akhir pekan aja. Begitu juga ketika bekerja, tidak mengenal akhir pekan. Kalau ada kerjaan, tancap gas!

Sama seperti hari Minggu 11 September. Saya ada di kantor walikota Jakarta Utara tempat saya mengupdate web dan blog saya. Saya sudah ada di Kantor Walikota Jakut ini, sudah dari jam 11an.

Setelah update web berita dan blog, saya mengirimkan pesan whatsapp kepada teman saya yang Kanit Intel Polsek Penjaringan. Janji bertemu. Dan setelah ok, saya sekitar jam 15an, ciao alias brangkat dari Kantor Walikota Jakut.

Karena jalanan kosong, tidak butuh waktu lama sampai ke Polsek Penjaringan. Sekitar setengah jam sudah tiba. Saya tidak kencang-kencang mengendarai motor. Sekalian menikmati perjalanan.

Sampai di Polsek Penjaringan, teman saya lagi keluar. AKhirnya saya nyari makan dulu. Suka ada Pedagang Kaki Lima, atau pikulan/ asongan di sebelah Polsek. Saya belum makan sedari siang. Jadi ya perut udah ngirim kode untuk segera diisi.

Dan perhatian saya tertuju ke sebuah dagangan yang dipikul. Tapi lagi ditaruh di jalan. Kasihan yang mikul kalo dipikul terus.

KUPAT TAHU! Yaaay!

Saya kemudian manggil-manggil abang yang jualan. Dia datang. Baru keluar untuk jualan ceritanya. Jadi formasi Kupat Tahunya masih kumplit! Dan yang jelas masih hangat kuahnya.

Saya kemudian memesan satu piring kupat tahu tanpa telur. Karena saya lagi alergi ama telur. Si Abang kemudian memotong-motong ketupat atau kupat dan tahu. Dia kemudian membuka panci kuah. Wangi menebar!!!

Saya semakin tidak sabar untuk menyantap!! Setelah abangnya menaruh kerupuk di piring, hidangan kupat tahu siap disantap.

Yang saya cicip duluan, bukan kupat nya. Kuah makanan ini adalah KOENTJI! Kuah Kupat Tahu ini punya peranan penting.

Pas dicicip, waaaah kuahnya medok, gurih, mantap pas rasanya. FYI aja, kadang-kadang kuah kupat tahu ini suka nggak ada rasanya kalau yang dijual. Tapi kali ini memang enak!

“Bikin sendiri ya bang?”
“Iya Bikin Sendiri”

Saya pun tak segan memuji kuah Kupat Tahu ini.

“Enak bang. Medok banget. Trus kuahnya kental juga”

Karena kuahnya medok, enak dan gurih. Saya santap habis kupat dan tahunya, dan kuahnya saya hajar sampai kering. Enak soalnya.

Pas bayar, karena tidak pakai telur, harganya cuma 7.000. Murah Sob!!

Kata si abang ini, dia biasanya jualan di sebelah polsek Penjaringan. Tapi terkadang juga dia jualan di Taman Waduk Pluit. Wah, jadi pengen makan lagi hohohohooho!!

kupat-sayur-2

read more
Cerita

Tas Kumal yang Bikin Galau dan Cemas

tas-kumal

Tahun 2014 lalu, saya sempat bekerja, sebagai honorer di Tourist Information Center (TIC) Jakarta Utara. Saya bertugas untuk memberikan informasi kepada wisatawan yang berkunjung ke TIC.

Lokasi TIC ini sendiri ada di Pelabuhan Sunda Kelapa. Sekitar empat bulan pertama, saya bekerja, saya masih bolak-balik kantor pakai motor.

Sekitar bulan September 2014, saya mulai nginap di kantor. Capek bolak-balik.

Karena saya nginap di kantor, dan ada urusan dengan surat-surat, sejumlah surat-surat penting, saya bawa ke kantor. Apalagi waktu itu saya perpanjang paspor. Jadilah dokumen penting saya bawa.

Tahun 2015 awal, saya tidak bekerja di situ lagi. Ada “kekacauan sedikit”. Sudin Parbud Jakarta Utara, lebih membutuhkan cleaning service di TIC dibandingkan orang seperti saya yang bisa memberikan informasi kepada wisatawan.

Saya akhirnya dapat pekerjaan baru, dan barang-barang saya termasuk dokumen penting ini masih tertinggal di sana. Ya karena sudah tidak bekerja di sana, ya nggak mungkin nginap di sana lagi. Tau diri lah.

Setahun berlalu, saya tiba-tiba kepikiran dokumen saya ini. Pekan ke-3 Agustus 2016 saya berniat ambil dokumen ini. Dokumen ini saya simpan dalam tas ransel saya. Ransel hitam.

Saya meluncur ke TIC. Malam-malam. Sampai di situ, tidak ada orang. Wah tumben. Saya masuk ke ruangan saya, karena masih ada kunci, tasnya tidak ada. Waduh!!!

Saya langsung kembali dengan rasa galau. Cemas takut dokumen hilang. Saya dikuasai perasaan cemas itu selama tiga pekan. Sapa yang nggak cemas coba kalau dokumen penting hilang.

Setelah dapat pinjaman motor, malam sabtu 10 September kemarin, saya meluncur ke TIC lagi. Malam-malam. Pas sampe sana ada bang Iwan.

Setelah bertanya, ternyata tas dokumen itu disimpan bang Iwan di ruangan tempat Bang Dedi nginap. Walah! Ada rupanya. Kirain pada ilang.

Akhirnya saya ambil tas itu dan bawa ke kos. Rasa cemas pun hilang…. fiuuh

Tas itu sudah kumal, karena berdebu. Tapi isinya masih aman. Yang penting kan isinya.

Saya

read more
1 37 38 39 40 41 45
Page 39 of 45