close

Cerita

CeritaFeatured

Cerita dari RPTRA : Ada Kebun di RPTRA Ciganjur Berseri

20161126_141952.jpg

Hari Sabtu akhirnya datang lagi. Setelah beraktifitas Senin sampai Jumat, akhirnya akhir pekan datang lagi. Pekan lalu, saya tidak blusukan karena harus mengurus nonton bareng komunitas di Jakarta Utara yang saya urus.

Kesempatan blusukan akhirnya datang lagi. Dan seperti biasa, saya akan blusukan dengan Hariadhi. Malam Sabtu saya sudah janjian untuk blusukan.

Dan setelah hari Sabtu saya dan Hariadhi akhirnya Blusukan. Kali ini kami ingin jalan-jalan blusukan ke Jakarta Selatan. Niatnya ke Rumah Sakit Umum Kecamatan dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Dalam perjalanan kami awalnya menuju ke RSUK Kramat Jati. Sekalian lewat deh. Dan tujuan kami berikutnya ke RSUK Jagakarsa. Saya akan ceritakan ini di blog yang lain.

Setelah makan siang di sebelah RSUK Jagakarsa, Saya, Hariadi meluncur ke RPTRA Ciganjur Berseri. Yang pastinya kami sudah search di Google dulu RPTRA di daerah Jakarta Selatan.

Lokasi RPTRA Ciganjur Berseri ini, tidak jauh dari RSUK Jagakarsa. Lah masih satu Kecamatan. Kami tiba di RPTRA Ciganjur Berseri ini, setelah nyasar sedikit. Maklumlah pake Google Maps, salah dikit ya nyasar haha.

Masuk ke RPTRA Ciganjur Berseri ini langsung disambut oleh Signage besar bertuliskan nama RPTRA dan Perusahaan yang membangun. Dibangun oleh Astra rupanya.

Ketika masuk kami langsung bertemu dengan lapangan sepakbola atau futsal di sebelah kanan dan kebun tanaman obat keluarga (toga) dan tanaman buah serta sayur dan umbi-umbian di sebelah kiri.

Inilah yang menarik perhatian. Ada kebun yang bermanfaat. Saya pun menelusuri kebun ini dan memfoto. Ada Jahe, ada Kumis Kucing, Terong hingga Singkong. Wah-wah.

Pohon terong ini sedang berbuah ternyata. Buahnya sudah siap dipanen dan besar-besar. Di RPTRA ini juga ada kolam gizi. Isinya, ikan patin. Tidak hanya itu, ada hidroponik juga.

Saya dan Hariadhi dan teman satunya lagi, mas Roy Hendrawarman langsung menuju ke Gedung Pengeloa dan Ruang serbaguna.

Seperti biasa, di gedung utama, ada Ruang Laktasi, Toilet, Ruang Pengelola dan Ruang Serbaguna atau Aula. Ketika kami berkunjung kami bertemu dengan mas Syarif dan Bu Sri. Kami meminta ijin untuk mengambil foto.

Ruang Laktasi di RPTRA ini unik. Ada tempat tidur bayinya. Ini baru saya temukan di RPTRA di sini. Rak Buku di perpustakaan juga unik bentuknya. Ruang Perpustakaan sedikit terbuka dan karena cuaca sedang mendung, adem benar di Ruang Perpustakaan.

Sewaktu kami berkunjung, anak-anak sedang ramai. Ada yang bermain lego di ruang serbaguna dan bermain di sarana bermain anak yang letaknya bersebelahan dengan gedung utama.  Sarana bermain anak juga banyak di RPTRA ini. Dari ayunan, hingga perosotan dan sarana bermain lainnya.

Ada juga anak-anak yang bermain sepakbola atau futsal. Menurut Bu Sri, yang berkunjung ke RPTRA bisa 100 anak di hari biasa dan 300 anak di akhir pekan. Kami pun menyempatkan diri mampir di ruang pengelola, yang ada sofa nya.

Setelah ngobrol, kami pun pamit. Dan sebelum pulang, Hariadhi membeli terong. Uang hasil pembelian terong ini, nantinya buat membeli bibit. Lahan untuk berkebun di RPTRA ini benar-benar dimanfaatkan. Dan menghasilkan.

Jahe merah juga sedang disemai bibitnya. Ini keren, karena salah satu perusahaan bekerja sama dengan Pemprov DKI akan memberikan bantuan bibit jahe merah untuk ditanam oleh warga. Salah satunya di RPTRA.

Selain itu juga, kami juga sempat memberikan bantuan buku bacaan untuk RPTRA ini. Dan kami pun melanjutkan perjalanan ke RPTRA berikutnya. Nantikan tulisan saya ya untuk RPTRA berikutnya.

Dan seperti biasa, ini foto2nya yaa

 

read more
CeritaFeatured

Menumpang Transjakarta Non BRT

20161125_105025.jpg

Transjakarta ini, bisa dibilang merupakan transportasi publik favorit saya untuk bepergian ke mana saja, di Jakarta. Harga yang murah dan bus yang nyaman hingga rute baru yang banyak seperti saya ceritakan di blog-blog saya sebelumnya membuat moda transportasi ini menjadi favorit saya.

Namun, sebagian besar transjakarta yang saya tumpangi adalah transjakarta BRT atau Bus Rapid Transit yang beroperasi di koridor utama 1-12 ataupun melintasi beberapa koridor. Selain itu juga sepanjang pengetahuan saya, transjakarta BRT ini, hanya mengangkut penumpang di halte transjakarta yang tersedia.

Tetapi, rupanya ada terobosan baru dari transjakarta. Namanya transjakarta Non BRT. Transjakarta Non BRT ini, melintasi sejumlah rute yang tidak ada halte transjakarta dan bisa mengangkut penumpang dari pinggir jalan. Tapi eits tunggu dulu, jangan berpikir kayak bus seperti metromini atau mayasari bakti yang seenak udel mengangkut penumpang di mana saja.

Saya berkesempatan untuk mencoba transjakarta non BRT ini Kamis 24 November dan Jumat 25 November. Saya dari rumah lembang akan menuju Jatinegara. Saya jadi ingat ketika itu saya dibonceng mas Iman dan turun di Taman Suropati Jalan Diponegoro.

Saya melihat ada sejumlah bus transjakarta yang melintas di Jalan Diponegoro. Niat untuk naik pun tercetus. Tapi ternyata saya tidak bisa naik sembarangan. Dari jalan diponegoro saya berjalan kaki ke arah Salemba, RSCM. Nah saya kemudian lihat bus transjakarta berhenti di Jalan Salemba. Saya pun bergegas naik. Kebetulan busnya rute Grogol Kampung Melayu. Pas mau ke Jatinegara nih.

Saya pun naik. Naiknya dari pintu depan. Kebetulan bus sedang sepi penumpang. Saya menyodorkan e-money untuk melakukan pembayaran. Tapi karena tidak bisa, saya membayar cash atau tunai. Bisa ternyata.

Pengalaman berikutnya, ketika saya berangkat dari Halte Pemuda Rawamangun untuk ke Rumah Lembang. Saya naik ke arah Grogol, yang melewati Jalan Diponegoro. Saya kali ini bisa turun di Jalan Diponegoro di Pemberhentian bus SMKN 8, Jumat 25 November pagi. Saya turun dari pintu depan karena bus berhenti di area bus stop yang bukan halte transjakarta.

 Siangnya, saya berjalan kaki dari Rumah Lembang, ke Taman Suropati.

Saya berniat naik rute ke arah Salemba. Mau melanjutkan perjalanan ke Priok dari Salemba. Saya sudah bertanya ke petugas transjakarta. Ada halte di Taman Suropati, dan bisa naik dari situ. Setelah jalan kaki dan sempat foto-foto, tibalah saya di halte Taman Suropati. 

Saya melihat ada plang tempat pemberhentian bus. Wah bisa naik dari halte ini deh. Petugasnya memang juga menyampaikan ketika saya naik dari Pemuda Rawamangun ke Diponegoro,  bus berhenti di halte yang ada plang bus stop (lihat foto). 

Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, bus pun tiba. Seperti sebelumnya, saya naik dari pintu depan. Kali ini bisa bayar pakai e-money. Dan saya pun melakukan perjalanan menuju halte salemba. 

Sepanjang perjalanan, saya berpikir. Transjakarta sudah ada rute yang melewati jalan yang non koridor dan penumpang tidak perlu naik dari halte transjakarta. Lama kelamaan, semua jalan di Jakarta yang belum ada halte transjakarta, bisa naik bus yang non BRT ini. Kita juga bisa turun di pinggir jalan.

Transportasi umum di Jakarta pun semakin joss gandoss, mantap surantap.

This slideshow requires JavaScript.

read more
CeritaFeatured

Membersihkan Laut dan Pantai dari Sampah

bersih-laut-13

Hari masih pagi, ketika saya dan rombongan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Bang Arif, Bang Ismail dan yang lain menyebrang dari Pulau Pramuka ke Pulau Karya.

Kamis 10 November, sekitar jam 7.00 pagi Camat dan rombongan termasuk saya menyebrang ke Pulau Karya karena akan mengikuti upacara hari pahlawan.

Kami menginap di Pulau Pramuka dari Rabu 9 November karena ada acara ulang tahun Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Upacara memang akan dimulai pukul 08.30. Sembari menunggu upacara dimulai, kami menunggu di dermaga Pulau Karya. Cuaca yang adem dan pepohonan yang rindang membuat pagi itu sejuk.

Saya seperti biasa, keluarkan actioncam, foto-foto deh.

Tidak lama kemudian, ada sebuah kapal berwarna oranye menyebrang dari Pulau Panggang yang berada bersebelahan dengan Pulau Karya. KM Laut Bersih (saya lupa nomor serinya berapa) sedang mengantarkan Pasukan Oranye menyebrang.

Pasukan Oranye ini akan ke pinggir Pulau Karya. Ngapain? Mereka akan membersihkan Pantai atau Laut dari Sampah. Setelah turun dari kapal, pasukan oranye yang saya lihat dari seragam nya bertuliskan UPK (Unit Pengelola Kebersihan) Pesesir dan Pantai, langsung ke Pantai untuk mengangkat sampah.

Dengan peralatan dan menggunakan tangan mereka mengangkat sampah. “Kami mulai bekerja dari jam 7-an sampai jam 11an,” kata salah seorang Pasukan Oranye yang (kembali) saya lupa tanya namanya.

Saya pun tak lupa untuk memfoto mereka dan merekam video.

Pemandangan lain pagi itu adalah KM Laut Bersih saya lihat menyisir laut untuk mengangkat sampah. Tidak hanya itu, sampah di pinggir Pulau Karya yang tidak terangkat oleh Pasukan Oranye yang turun dari kapal, diangkat oleh Pasukan Oranye yang berada di atas kapal.

Pasukan Oranye yang saya hitung kurang lebih berjumlah delapan orang ini, terus membersihkan sampah. Ada kurang lebih setengah jam sampai sampah selesai terangkat di dermaga Pulau Karya dan sekitarnya.

Setelah itu mereka berpindah tempat untuk mengangkat sampah. Seperti yang disampaikan oleh salah satu orang pasukan Oranye, mereka akan mengangkat sampah hingga jam 11 siang.

Kehadiran mereka, membuat Kepulauan Seribu semakin bersih dari sampah. Terutama di laut dan pantai. Semoga warga ataupun wisatawan yang Kepulauan Seribu tidak membuang sampah sembarangan agar laut tetap bersih.

Yuk simak foto dan videonya di bawah ini :

This slideshow requires JavaScript.

read more
CeritaFeatured

Jalan Lingkungan dan Gang Sempit Pun Dibeton

20161029_084521

Blusukan, atau kalau boleh diganti dengan “bapontar” ke beberapa titik di Jakarta ini sudah menjadi hal yang biasa bagi saya. Daripada bengong, daripada cuma berdiam diri di kosan, mendingan saya bepergian.

Selain itu juga, saya memang terbiasa berjalan kaki dari kosan saya untuk ke kantor atau ke tempat lain yang jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Berjalan kaki ini menyehatkan lho.

Nah, ketika blusukan, atau berjalan kaki biasanya saya pergi ke RPTRA, atau melihat fasilitas publik lainnya yang semakin lama-semakin banyak dan yang jelas semakin cakep. Tapi kali ini berbeda.

Yang pertama ketika berjalan kaki dari kosan ke tempat biasanya saya beli pulsa untuk ponsel saya, sekitar dua pekan lalu, saya tiba-tiba melihat jalan lingkungan Swasembada Timur XXII atau 22 sudah selesai dibeton.

Memang saya sebelumnya melihat proses pengecoran. Tapi karena malam hari proses pengecorannya, saya hanya numpang lewat saja. Kayak kurang kerjaan aja ngelihat orang ngecor jalan.

Pemandangan yang sama saya temukan di jalan swasembada timur 23 dan 21 (tulis angka aja ah. Capek nulis pake angka romawi haha). Jalan lingkungan sudah mulus dicor.

Yang lebih gokil lagi adalah jalan sempit, atau gang sempit di rumah warga di sebelah GRJU. Saya yang biasanya lewat dari kosan ke kantor Walikota melihat jalan gang sempit tersebut dicor. Wih gelo! Gang sempit aja sudah dicor!

Itu baru di Kebon Bawang. Hari Minggu 13/11 yang lalu, saya dan rombongan pejabat Jakarta Utara, blusukan ke RW 05, Sunter Agung. Nama daerahnya sih dibilang Sunter Muara.

Kami waktu itu ingin menengok lokasi yang menjadi usulan warga untuk dibuatkan RPTRA. Ketika sedang menyusuri jalan lingkungan dengan berjalan kaki, saya juga melihat jalan lingkungan yang sudah dibeton. Bahkan sampai yang gang sempit, atau gang berukuran sebatas satu motor lewat juga sudah dicor.

Ini baru di dua lokasi di dua kelurahan. Kebon Bawang dan Sunter Agung. Banyak jalan lain yang sudah dibeton dan saya belum sempat mengambil foto. Tahun 2015 sejumlah jalan lingkungan juga sudah dibeton lebih dahulu.

Jalan lingkungan lain memang banyak juga yang belum dibeton. Tapi akan ada gilirannya dan kalau memang diusulkan untuk dibeton, Suku Dinas Bina Marga akan membeton jalan tersebut.

Apabila warga ingin jalan lingkungannya dibeton, bisa diusulkan lewat musrenbang.

Biar nggak dibilang no pict hoax, ini foto-fotonya yaa

This slideshow requires JavaScript.

read more
Bapontar

Jembatan Cinta Pulau Tidung yang Terus Bersolek

20161108_160415.jpg

Pekan lalu, saya mendapat kesempatan untuk ke Kepulauan Seribu. Seperti yang saya ceritakan di blog saya tentang RPTRA Tanjung Elang Berseri, saya diajak oleh Bang Arief Wibowo karena akan ada sejumlah event terkait dengan Ulang Tahun Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ke-15.

Setelah ke Pulau Pramuka dan Pulau Lancang di Hari Senin 7 November dan Selasa 8 November, saya dan rombongan ke Pulau Tidung. Berangkat ke Pulau Tidung dari Pulau Lancang, hari Selasa 8 November siang.

Saya dan rombongan yang menggunakan kapal Dinas Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan tiba di Pulau Tidung sekitar jam 14.30 an petang. Setelah beristirahat sebentar dan makan rajungan, saya meminta tolong, Bang Apen yang setiap harinya mengurusi urusan “rumah tangga” kecamatan Kepulauan Seribu Selatan untuk mengantar saya ke Jembatan Cinta.

Sewaktu lebaran Bulan Juli lalu, sebenarnya saya berada di Pulau Tidung, tapi tidak berkesempatan ke Jembatan Cinta, yang sudah menjadi ikon wisata Kepulauan Seribu dan Pulau Tidung.

Dengan menggunakan sepeda motor, saya diantar Bang Apen ke Jembatan Cinta. Perjalanan dari Rumah Dinas Kecamatan Kepulauan Seribu selatan, tidak membutuhkan waktu lama. Sekitar 15an menit. Maklum jalan di Pulau Tidung sempit.

Setelah tiba di Jembatan Cinta, saya melihat Jembatan Cinta tengah diperbaiki. Jalan menuju jembatan cinta tengah ditata. Dibuat semakin cantik. Jembatan Cinta, terutama yang bagian yang tinggi yang melengkung ke atas tengah dirapikan. Untuk kenyamanan pengunjung.

Saya pun berjalan ke dermaga yang ada di Jembatan Cinta. Kanopi atau bangunan di Dermaga Dermaga Jembatan Cinta ini cakep bener. Bentuknya tidak monoton. Menurut informasi, sudah ada semenjak tahun 2013an. Keren dah pokoknya.

Bagian dermaganya juga tertata cantik. Bersih dan apik. Pemandangan semakin menarik. Saya pun sempat selfie di lokasi ini.

Selat antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil ini merupakan lokasi jembatan cinta dan dermaga Jembatan Cinta. Lautnya hijau tosca atau entah apalah warnanya. Air yang sangat bening seakan ingin menarik saya untuk nyebur. Apadaya tidak bawa perlengkapan renang.

Sekitar 15 menit saya berkeliling dan mengambil foto di kawasan wisata Jembatan Cinta. Keren memang. Kepulauan Seribu terus bersolek karena menjadi destinasi wisata andalan dalam beberapa tahun belakangan.

Saya yang sudah lama tidak ke Jembatan Cinta, tidak bisa berhenti kagum dengan apa yang dibuat di Jembatan Cinta. Pulau Tidung dan Jembatan Cinta memang terus bersolek.

This slideshow requires JavaScript.

read more
Cerita

Cerita dari RPTRA : Kerennya Lapangan Sepakbola dan Basket di RPTRA Rusun Marunda

20161112_105327.jpg

Hari Sabtu bagi sebagian orang mungkin hari beristirahat atau berkumpul bersama keluarga. Tapi hari Sabtu bagi saya yang jomblo kadang-kadang menyesakkan. Nggak ada gebetan yang diajak kencan. Apalagi pacar untuk diajak nonton atau jalan-jalan.

But Wait! Bukan berarti saya tidak bisa beraktifitas. Meskipun jomblo saya bisa jalan bersama teman ataupun sendirian.

Sabtu 12 November kemarin, niat memang blusukan atau keliling ke sejumlah fasilitas publik yang dibangun di masa pemerintahan Gubernur Basuki T. Purnama. Kebetulan pula dapat pesan Whatsapp dari Hariadhi untuk blusukan seperti dua pekan lalu.

Dan akhirnya pilihan jatuh ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak setelah berdiskusi di Whatsapp.

Sabtu 12 November saya bersiap berangkat. Rencana awal naik Transjakarta yang ke Rumah Susun Marunda. Tapi rencana awal berantakan akibat kemacetan akhir pekan yang membuat saya menunggu cukup lama di halte transjakarta untuk rute Rumah Susun Marunda.

Saya beralih ke ojek online. Naik gojek sajalah. Setelah melalui perjalanan yang lumayan “tempur” saya akhirnya tiba di Rusun Marunda. Sudah agak siang saya sampainya. Saya bertanya ke satpam, untuk RPTRA ada di cluster A. Dari gerbang cluster A saya berjalan kaki. Tidak terlampau jauh dan melelahkan.

Sesampainya saya di RPTRA Rusun Marunda, yang pertama saya dapati adalah lapangan sepakbola, atau mungkin futsal. Wah keren deh! Lapangan sepakbola dipagari di sekelilingnya. Dan terbuat dari beton.

Sudah standard turnamen dalam penglihatan saya. Di belakang gawang ada juga ring basket. Rupanya bisa berganti-gantian main futsal atau basket. Ini makin keren. Meskipun agak siang, saya lihat ada anak-anak yang bermain.

Saya pun melanjutkan ke Ampiteater RPTRA. Sangat luas AMpitheaternya. Dan di Ampiteater ini ada signage RPTRA Marunda. Di sebelah Ampiteater juga ada sarana bermain anak.

Setelah memfoto lapangan futsal, ampiteater dan sarana bermain anak-anak, saya menuju ruang serbaguna atau aula. Saya melihat anak-anak sedang ramai mengikuti lomba menggambar.

“Dalam rangka hari pahlawan nih,” jelas Bu Lyah yang merupakan pengelola RPTRA Rusun Marunda.

Tak lama berselang, Hariadhi dan Ledi Kurniawan sudah tiba di RPTRA. Kami memang berangkat secara terpisah. Janji bertemu di RPTRA Marunda.

Lanjut cerita, di sebelah aula, ada Perpustakaan. Saya melihat ruang perpustakaan cukup luas. Perpustakaan terluas yang saya temui di RPTRA, ada di RPTRA Marunda ini. Hiasan dinding mempercantik ruang perpustakaan. Begitu juga dengan ruang laktasi.

Fasilitas lain dari RPTRA ini, terlihat sangat bersih dan memadai. Ada toilet, ruang laktasi hingga ruang pengelola. Mantap memang. Toliet untuk penyandang disabilitas juga tersedia. Ini yang keren.

Ruangan Aula, Perpustakaan, Pengelola, Toilet, dan lainnya terletak di salah satu blok di Cluster A. Di lantai dasarnya yang memang sangat luas.

Hari Sabtu ketika saya berkunjung, juga ada Alif yang merupakan Abang Buku Jakarta Utara, sedang membacakan dongeng buat anak-anak. Abang dan None Buku Jakarta Utara secara bergantian datang ke RPTRA untuk membacakan cerita kepada anak-anak.

Dan kunjungan ke RPTRA Marunda berakhir. Saya Hariadhi dan Ledi Kurniawan akan melanjutkan blusukan ke tempat lain.

This slideshow requires JavaScript.

read more
CeritaFeatured

Cerita dari RPTRA : RPTRA Tanjung Elang Berseri, RPTRA Unik di Tepi Pantai

20161107_090447.jpg

Terakhir ke Pulau Pramuka, yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu itu dua tahun lalu. Ketika itu saya mengantarkan rombongan wisatawan. Saya menjadi tour leader.

Wah sudah lumayan lama ternyata. Padahal, beberapa tahun lalu, saya sering sekali bolak-balik ke Pulau Pramuka semasa saya menjadi koordinator wartawan dan bekerja untuk Kominfo Kepulauan Seribu.

Kesempatan untuk ke Pulau Pramuka datang ketika Camat Kepulauan Seribu Selatan, Arief Wibowo mengajak saya ke Kepulauan Seribu dalam rangka ulang tahun Kepulauan Seribu ke-15. Kami akan ke Pulau Pramuka, Tidung dan Lancang.

Hari Senin 7 November pagi akhirnya saya berangkat ke Pulau Pramuka. Mengawal bang Arief yang akan Apel di Pulau Pramuka sekalian Rapat Pimpinan. Wah kesempatan nih untuk meninjau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

Saya akhirnya berangkat kurang lebih jam 07.30 bersama dengan rombongan Bupati Kepulauan Seribu dan sejumlah pejabat menggunakan Kapal Dinas Praja Utama (PU) III. Perjalanan butuh waktu kurang lebih satu jam.

Sesampai di Pulau Pramuka, saya hanya rehat sebentar dan langsung menuju ke RPTRA Tanjung Elang Berseri. RPTRA ini tidak berjauhan dengan Kantor Kabupaten Kepulauan Seribu.

Lokasinya? Ternyata ketika saya bertahun baru 2014 di Pulau Pramuka, ini dahulunya bernama Tanjung Pengantin. Pak Lurah Ali (almarhum) yang memberikan nama sebagai Tanjung Pengantin. Entah dari mana asalnya.

Memang berbentuk tanjung kecil karena menonjol ke laut dan diapit oleh kolam labuh di depan Plaza Kantor Kabupaten dan sebuah “kolam alami” atau pantai yang diberikan semacam “penghalang ombak”.

Tanjung Pengantin ini memang ketika saya bertahun baru di Pulau Pramuka, merupakan lokasi berkumpulnya wisatawan.

Nama Tanjung Pengantin ini kemudian berubah nama menjadi Tanjung Elang. Pulau Pramuka ini memang secara sejarah dahulunya bernama Pulau Elang karena banyak Elang Bondol yang beterbangan.

Saya kemudian masuk ke RPTRA Tanjung Elang Berseri karena dibangun di Tanjung Elang. Ada beberapa hal unik yang saya tidak temui di RPTRA yang berada di daratan utama Jakarta.

Ruang Serba Guna di RPTRA ini, saya lihat berbentuk panggung di atas laut. Wah ini jelas unik dong. Saya lihat ada dua ruang serba guna ini. Yang asik lagi, salah satu ruang serba guna ada tangga untuk turun ke “kolam alami” berbentuk laut tersebut.

Yang unik lagi dari RPTRA ini adalah bangunan yang ada Ruang Perpustakaan, Ruang Pengelola dan Ruang Laktasi. Bangunan ini terbuat dari kayu, dan berbentuk kapal Pinisi. WAW! Jelas berbeda.

Dan bagian atasnya ada semacam hall. Saya sempat naik tapi tidak boleh masuk oleh pengelolanya. Karena terbuat dari kayu rupanya. Jadi tidak bisa sembarangan masuk. Ok. No Problem.

Yang unik lagi adalah, di RPTRA ini ada lapangan voli pantai. Ini belum saya temui di RPTRA lainnya yang ada di daratan utama Jakarta. Ada juga lapangan sepakbola mini.

Fasilitas yang unik di RPTRA ini adalah sejumlah rambu lalu lintas untuk edukasi mengenai aturan-aturan lalu lintas. Wah wah wah!

Ampitheater dari RPTRA ini juga menghadap ke Kolam Labuh. Selain itu, RPTRA Tanjung Elang Berseri ini sangat adem karena dinaungi banyak pohon. Duduk-duduk di RPTRA ini asik sekali karena bisa menikmati angin pantai, dan sejuknya pepohonan.

Sarana bermain anak, juga tersedia di RPTRA ini. Bangunan Toilet terpisah atau berdiri sendiri. Ada juga lantai refleksi dan fasilitas lain seperti hidroponik, tanaman obat keluarga dan lainnya.

Soal kunjungan, salah seorang pengelola RPTRA yang saya temui, Paramita mengatakan, anak-anak mencapai ratusan yang datang berkunjung. Jumlahnya bisa dua kali lipat di akhir pekan.

Wisatawan juga suka datang duduk-duduk di RPTRA ini. Tak hanya itu, saya lihat sejumlah remaja dan orang tua datang ke RPTRA ini. Selesai berkeliling dan foto-foto serta mengambil sejumlah video, saya pun mengakhiri kunjungan saya ke RPTRA Tanjung Elang Berseri.

Akan ada cerita yang lain juga dari RPTRA Tanjung Elang Berseri ini. Tapi di blog yang terpisah. Untuk foto-fotonya, bisa dilihat di Galeri di bawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

read more
CeritaFeatured

Satu Jam Bersama Ahok : Memaparkan Visi dengan Gaya “Stand Up Comedy”

ahok-di-workshop-jasmev

Bulan Agustus (atau Juli ya?) Saya memutuskan untuk bergabung dengan Jakarta Ahok Social Media Volunteer atau yang disebut dengan Jasmev 2017. Bulan Agustus saya mengikuti pelatihan atau workshop batch pertama.

Akhirnya saya berkenalan dengan teman-teman Jasmev. But I’m not telling story about this.

November ini, saya “diwajibkan” untuk mengikuti workshop batch 3. Wajib ikut karena akan mendapat sertifikat. Saya pun kira-kira beberapa hari sebelum event ini mendaftar untuk ikut. Kalaupun nggak mendaftar, saya pasti akan datang. Sekalian kumpul-kumpul deh.

Hari pelatihan pun datang. Menurut informasi, pak Ahok akan datang di event ini. Makin semangat deh saya untuk datang. Saya dan mas Iman Hermawan yang berangkat bareng dari Tanjung Priok tiba di lokasi semenjak jam 10.00 Pagi, Sabtu 5 November.

Workshop dimulai sekitar pukul 13.30 setelah kami makan siang. Sekitar satu jam berselang, Pak Ahok datang. Saya diminta Rendi dan Nando untuk jadi pagar betis pak Ahok. Idih kesannya deh. Ya cuma agar pak Ahok tidak dikerubutin teman-teman aja sih. Biasalah minta selfie.

Damn! Saya nggak pernah sedekat ini dengan Pak Ahok. Di samping beliau. Beberapa kali kesempatan bertemu tapi tidak bisa sedekat ini lho.

Di Acara workshop ini, pak Ahok pun diberikan kesempatan untuk memaparkan visi, dan misinya beliau. Tanpa text, tanpa paparan pake power point. GILA! Dia hapal semua.

Pak Ahok, menyampaikan secara general bahwa dia ingin agar Otak, Perut dan Kantong warga Jakarta ini penuh. Ini selalu disampaikannya setiap ada kesempatan.

Untuk urusan pendidikan, KJP ini sudah jadi unggulan. Yang kerennya lagi adalah nanti sampai jadi Mahasiswa pun pemegang KJP akan mendapat beasiswa. Goks!! alias Gokil!! Pak Ahok ingin warga Jakarta yang kurang mampu mendapat kesempatan belajar hingga perguruan tinggi.

Urusan kesehatan juga, melalui BPJS, warga yang kurang mampu untuk kelas III akan gratis iuran BPJS. Asik bener ya jadi warga Jakarta! Untuk kelas 3 rumah sakit sekalipun, akan dibikin lebih baik. Satu kamar hanya akan ada empat ranjang.

Anak-anak juga akan diwajibkan untuk vaksin. Ke depan sebelum masuk sekolah akan diperiksa apakah vaksinnya sudah lengkap atau belum. Begitu juga dengan kesehatan gigi. Akan diperiksa sebelum masuk sekolah. Dari gigi susu akan diperiksa terus secara gratis di puskesmas karena fasilitas untuk gigi akan ditambah terus.

Soal gizi Ahok juga memperhatikan. Pemprov menjual daging murah untuk pemegang KJP agar warga DKI bisa meningkat konsumsi dagingnya dan bisa lebih pintar.

Untuk harga barang-barang di Jakarta seperti sembako juga melalui Pasar Jaya akan dibuat agar sembako semakin murah. Akan ada pusat perkulakan di lima wilayah di DKI. Pasar Jaya akan langsung membeli seperti beras langsung kepada produsen untuk memotong jalur distribusi agar lebih murah.

Ahok dalam pemaparan visi dan misinya juga menyampaikan mengapa dia memakai sistem tap out untuk Transjakarta. Pak Ahok ingin mengetahui pengguna transjakarta ini berangkat dari mana ke mana. Pengguna transjakarta akan dibuat tidak perlu terlalu banyak berpindah shelter. Akan dibuat rute-rute baru pada intinya.

Tidak hanya itu, bus-bus transjakarta akan menggunakan bus yang bagus. Bus lower deck yang bisa mengangkut kaum difabel ini menjadi andalan transjakarta nanti. Ahok juga membuat transjakarta care untuk menjemput lansia dan kaum difabel agar bisa berwisata di Jakarta.

Makin kagum lah saya! Memang saya tidak salah pilih!

Pak Ahok yang suka kocak dalam menyampaikan visinya ini, juga menyampaikan tentang pembebasan BPHTB untuk rumah di bawah 2 milyar. Pak Ahok ingin warga memiliki sertifikat.

Soal ekonomi, pak Ahok juga akan mendorong warga untuk bertani dan memelihara ikan. Tanah-tanah yang dalam kondisi sengketa akan “dipakai sementara” sebagai ladang atau empang/ kolam memelihara ikan dan akan dikembalikan ketika sudah ada keputusan tetap tentang sengketa lahan tersebut.

Pemprov akan memberikan bantuan. Hasilnya akan dibagi 80-20. 80% untuk warga yang mau bertani dan 20% untuk pemprov. Apa kurang enak? Warga akan dibikin kaya bagi yang mau berusaha.

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak juga menjadi program unggulan Ahok. Ahok ingin RPTRA ini menjadi ruang interaksi warga. Warga bisa saling mengetahui kondisi tetangganya. Anak-anak juga bisa mendapat tempat bermain yang layak.

RPTRA ini menurut Ahok bukan hanya akan ramah terhadap anak-anak saja. Namun ramah dari Janin sampe Lansia. Ini visi yang luar biasa bagi saya. Selama ini taman dibangun hanya taman saja. Tapi RPTRA ini sangat plus plus plus plus. Banyak Manfaatnya.

Ahok juga mengatakan bahwa dia akan lebih sering menjaga perkataannya. “ini casing baru saya. Saya akan lebih menjaga perkataan,” begitu kata Pak Ahok.

Tanpa terasa satu jam lebih berlalu. Pak Ahok memaparkan visinya yang sangat banyak.  Yang saya tuliskan di blog ini hanyalah beberapa dari yang beliau sampaikan. Saya tidak sempat merekam. Hanya otak saya saja yang merekam apa yang disampaikan ini.

Ketika memaparkan visi dan programnya ini, pak Ahok sesekali guyon. Selayaknya standup comedy. Kamipun tertawa. Bahkan Komedian Mongol Stres yang menjadi MC ikut tertawa.

Dan setelah pemaparan ini, kami pun berfoto. Pak Ahok memberikan kesempatan kepada kami satu persatu untuk foto bersama beliau. I’ll share about this dalam blog yang berbeda.

read more
CeritaFeatured

Pasar Nangka Bungur yang Kini Lebih Bagus

20161103_101820.jpg

Hari rabu 2 November petang, saya dapat pesan Whatsapp dari teman di Kepulauan Seribu. Seperti biasa, saya diminta mendisain sekaligus mencetak spanduk. Langsung saya kerjakan dan malamnya saya mencetak di tempat langganan saya di daerah Kepu Selatan, Senen, Jakarta Pusat.

Harus segera dicetak karena harus diserahkan ke teman saya Hari Kamis 3 November. Hari kamis pagi saya mengambil barang. Dari tempat percetakan saya naik grab menuju tempat pertemuan dengan teman untuk mengantarkan spanduk.

Ketika saya naik grab, saya melintas di seberang pasar Nangka, Bungur, Kemayoran Jakarta Pusat. Saya melihat pasar yang masih baru bangunannya. Saya langsung meminta driver grab untuk memutar. Soalnya jalan ke pasar dipisahkan oleh kali kecil. Jadi saya harus berputar untuk menuju ke pasar.

Beruntung driver grabnya baik hati. Dia bersedia menunggu saya untuk mengambil foto. Saya kan hobi mengambil gambar dan menulis fasilitas yang dibangun di era kepemimpinan Gubernur Basuki T. Purnama.

Sampai di depan pasar, saya langsung mengambil ponsel. Foto-foto. Saya ambil bagian depan kemudian masuk ke dalam pasar.

Pasar tidak terlalu besar. Masih lebih besar dari pasar Sunter. Yang membuat saya berdecak kagum, adalah pasar yang sudah lebih bagus. Kurang lebih setahun lalu saya pernah membeli karung di pasar ini. Jalanannya saja rusak dan becek. Sekarang sudah dibeton.

Kios-kios yang berada di pinggir jalan juga sudah dipindah ke dalam pasar. Waw! Mau lihat kondisi pasar sebelumnya, silakan lihat di link ini : http://masfebjalanjalan.blogspot.co.id/2013/06/blusukan-ke-pasar-nangka-pasar.html

Ketika saya masuk ke dalam, pasar terdiri dari dua lantai. Bersih sekali pasarnya. Kios tertata rapi. Masih ada beberapa kios yang kosong. Saya naik ke lantai dua juga kios tertata dengan rapi.

Saya berkeliling untuk mengambil beberapa foto, setelah itu saya ke depan pasar. Di bagian depan pasar sebelah kiri arah keluar saya melihat ada beberapa kios.

Kios di bagian depan ini untuk yang menjual daging, sayur mayur dan bumbu masak serta bahan lainnya. Saya berpikir, ditaruh di depan mungkin agar bagian dalam pasar nangka tidak berantakan.

Pasar terlihat sangat ramai ketika saya mampir berkunjung. Halaman pasar penuh dengan sepeda motor. Begitu juga dengan warga yang menggunakan angkutan umum.

Karena sudah janjian dengan teman, saya pun mengakhiri kunjungan saya ke pasar Nangka yang sudah model baru ini. Semoga saja pasar ini bisa terus terawat.

This slideshow requires JavaScript.

read more
CeritaFeatured

Cerita dari Ibu Tuti : Tinggal di Rumah Susun Lebih Enak

1158

Ketika saya sedang berkunjung ke Rumah Susun Pulo Gebang bersama Hariadhi, dan seperti yang saya ceritakan di blog saya tentang RPTRA Pulo Gebang, saya mengambil gambar RPTRA.

Ketika sedang mengambil gambar RPTRA di lantai refleksi, saya bersua (gila bahasanya resmi amat) dengan dua orang Ibu. Salah satunya Ibu Tuti.

Saya bertanya ke Ibu Tuti, sudah berapa lama tinggal di Rumah Susun Pulo Gebang. Ini sebagai pembicaraan awal saya dengan Ibu Tuti. Dia mengatakan bahwa sudah tinggal selama dua tahun-an di Rumah Susun Pulo Gebang.

Ibu Tuti bercerita kepada saya, dia merupakan warga yang direlokasi ke Rusun Pulo Gebang. Sebelumnya dia tinggal di kawasan padat dan kumuh, di Waduk Pluit.

Karena Waduk Pluit akan dinormalisasi, dia dan sejumlah warga dipindahkan atau direlokasi ke Rumah Susun Pulo Gebang.

Saya pun bertanya-tanya ke Bu Tuti apakah dia senang tinggal di Rusun Pulo Gebang. “Iya sangat senang di sini, karena bersih dan nyaman,” begitu cerita Bu Tuti yang diiyakan oleh temannya (saya tidak sempat bertanya ke Ibu yang sedang bersama Bu Tuti mengantarkan anaknya bermain di RPTRA).

Setelah bertanya-tanya ke Bu Tuti, saya pun meminta ijin merekamnya dalam bentuk Video. Sambil malu-malu ibu Tuti sebenarnya menolak. Tapi saya merayu (ingat ya! Merayu bukan memaksa) dan saya bilang ke Ibu Tuti ini nantinya untuk dokumentasi aja dan biar orang lain pada tahu bahwa tinggal di Rumah Susun itu enak.

Saya pun merekam pernyataan Bu Tuti. Di Video tersebut, bu Tuti bercerita bahwa dia menyewa Rusun RP 225 ribu setiap bulan. DItambah biaya listrik dan air, mencapai 300an ribu setiap bulan.

Dibandingkan ketika tinggal di Waduk Pluit, dia lebih senang di sini. Ada dua kamar dan dapur. Tersirat bahwa ketika dia tinggal di Waduk Pluit , kondisi sangat jauh berbeda.

Ibu yang menemani atau bersama bu Tuti juga menyatakan hal yang sama. Sayangnya dia tidak mau direkam. Bagi saya tidak apa-apa.

Bu Tuti bahkan bercerita, beberapa kali dia mengajak anak-anaknya berkunjung ke Waduk Pluit. Anak-anak Bu Tuti ini sudah lebih senang tinggal di Rusun Pulo Gebang.

“Anak-anak cuma mau jalan-jalan ke sana saja. Mereka lebih senang tinggal di sini,”

Begitu cerita bu Tuti yang kembali diiyakan oleh temannya.

Saya pun mengakhiri perbincangan dengan Bu Tuti, yang suaminya berprofesi sebagai supir di sebuah perusahaan. Bu Tuti tidak bekerja, dia hanya menjaga dan mengurus anak-anaknya saja.

Ucapan terima kasih, tidak lupa saya sampaikan ke Bu Tuti.

 

Featured Video sebagai gambar utama di blog ini bisa di klik/ di tap dan ditonton.

ini video lainnya ya

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=cUPINHTy3gQ[/embedyt]

 

 

read more
1 32 33 34 35 36 43
Page 34 of 43