close

Cerita

CeritaFeatured

Asyiknya Bersantai di Tepi Waduk Pluit

Waduk Pluit (14)

26 Desember 2016, kalau di kampung saya di Minahasa Utara, dan  Manado, Sulawesi Utara, merupakan hari natal ke-2. Kebiasaan kami di  sana, adalah berkunjung ke sahabat atau saudara yang belum dikunjungi  di hari natal pertama.

Tapi di Jakarta, kebiasaan itu sudah tidak saya lakukan. Biasanya pas  natal tanggal 25 Desember saya sudah berkumpul dengan Keluarga. Ada  adik kandung saya di Jakarta dan sejumlah sepupu. Biasanya kami  kumpul-kumpul.

Balik ke topik yang ingin saya tuliskan ini, 26 Desember tersebut,  saya janjian bertemu dengan seorang sahabat lama saya, di bilangan  penjaringan, Jakarta Utara. Saya pun dengan sepeda motor pinjaman  dari teman saya menuju ke sana.

Akhirnya, saya gagal bertemu dengan teman saya tersebut. Karena  terlanjur sudah ke daerah penjaringan, saya pun berpikir kalau  sekalian blusukan ke fasilitas publik saja. Pikiran saya ke Waduk  Pluit karena lokasinya tidak berjauhan dengan tempat saya janjian  ketemu dengan teman saya itu.

Saya pun bergegas menuju ke Waduk Pluit. \

Awalnya saya berpikir akan parkir di pinggir jalan di Waduk Pluit.  Tapi karena saya lihat tidak ada yang parkir,saya mencoba peruntungan  saya mencari parkir di jalan tembus Waduk Pluit ke arah pasar Ikan.  Jalan tembus ini dekat ke Polsek Penjaringan.

Setelah saya menuju ke jalan tembus tersebut, tiba-tiba saya melihat  ada parkiran motor di dekat jembatan yang berada di Waduk Pluit. Saya  pun langsung berbelok dan memarkirkan sepeda motor yang saya  tunggangi.

Usai memarkir sepeda motor, perhatian saya tertuju ke sebuah lapangan  sepakbola yang dikelilingi pagar. Ada lapangan sepakbola dari beton  dan ada lapangan sepakbola dari rumput. Wah keren! Lapangan sepakbola  ini luput dari perhatian saya ketika beberapa kali melewati Taman  Kota Waduk Pluit.

Lapangan sepakbola ini, terletak di sebelah “kantor” Jakpro, yang  terbuat dari kontainer. Saya pun berjalan menuju ke Lapangan  Sepakbola tersebut. Rumput terlihat rapi dan terawat. Karena waktu  sudah siang, tidak ada yang bermain sepakbola.

Setelah mengambil gambar, atau foto, saya melanjutkan perjalanan  blusukan ke jembatan yang ada. Jembatan ini, jujur saja, sudah  beberapa kali ingin saya kunjungi, tapi belum pernah kesampaian.

Seusai menyebrangi atau melewati jembatan, saya sampai ke taman kota  Waduk Pluit, sisi barat atau sebelahnya taman kota yang diresmikan  ketika Jokowi masih Gubernur DKI Jakarta.Kalau Taman Kota yang itu  sudah lebih dari sekali saya kunjungi.

Taman Kota yang ini, barulah kali ini saya kunjungi. Setelah lapangan  sepakbola tadi menarik perhatian saya, kali ini saya sedikit terpana  dengan pepohonan yang teduh dan rumput yang terawat persis di tepi  waduk Pluit. Wakwaaaw!

Kaki saya pun melangkah ke tepi waduk Pluit yang teduh tersebut. Saya  lihat ada beberapa warga yang sedang duduk-duduk santai menikmati  sejuknya pohon. Ada satu keluarga yang sedang bersantai. Keluarga  muda dengan tiga orang anak yang masih kecil-kecil.

Karena hari agak panas, cukup menyengat, saya memutuskan untuk  bersantai dan berteduh di bawah pohon. Saya bersandar di salah satu  pohon sambil mengambil gambar. Rumput yang bersih, dan terawat  membuat orang-orang dan saya asik bersantai duduk di rumput.

Sedikit lebay kalau saya bilang ini seperti karpet. Tapi ya memang  kenyataan memang hampir kayak karpet. Saya bahkan sempat merebahkan  diri seperti orang-orang lain. Tiduran di rumput.

Usai rehat sejenak, saya jalan-jalan ke taman Waduk Pluit. Taman ini  saya lihat bersih. Ada bangku untuk orang duduk-duduk. Ada jogging  track dan ada juga alat-alat fitnes sederhana. Bukan yang modern  seperti di fitness club gitu.

Sekali lagi, karena hari sudah siang, tidak ramai di taman ini. Di  Bangku saya lihat ada seorang bapak-bapak yang tidur. Nyenyak benar  karena berada di bawah pohon. Ada juga beberapa orang yang asik  pacaran. Di alat fitness saya melihat ada anak-anak yang bermain.  Bukan olahraga.

Seusai berkeliling taman, saya kembali duduk-duduk di bawah pohon. Di  bawah pohon ini saya kembali bersantai tanpa terganggu dengan bau  dari waduk Pluit. Waduk yang sudah dibersihkan dan lebih bersih dari  sampah, membuat suasana bersantai di bawah pohon di tepi waduk  semakin asyik.

saya kembali rebahan di rumput. Sesekali saya mengobrol dengan bapak  yang mengajak keluarganya bersantai di waduk pluit. Saya tidak sempat  menanyakan namanya. Dia terlihat asik bercengkerama dengan anaknya.  Bahkan dia asik momong putri bungsunya yang baru berusia empat bulan.

Tidak ada kendaraan, tidak ada PKL, suasana taman yang sepi membuat  suasana semakin santai. Saya pun beberapa kali terkantuk-kantuk  karena suasana yang teduh ditambah hembusan angin.

Tidak terasa hampir dua jam saya bersantai di Tepi Waduk Pluit. Saya  pun beranjak untuk pergi. Masih ingin jalan-jalan. Sampai saya  menulis blog ini, saya masih terkesan dengan suasana santai di bawah  pohon dengan hamparan rumput hijau seperti karpet.

Mungkin satu saat saya akan ajak teman atau keluarga untuk piknik di  sini. Saya juga berharap, semoga taman ini terus terawat.

Mau lihat foto-fotonya? Ini galerinya :

read more
Cerita

Cerita dari RPTRA : Ada Tugu Bersejarah di RPTRA Bawang Putih

RPTRA Bawang Putih (53)

Berkunjung ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau RPTRA, menjadi kegemaran saya. Beberapa RPTRA di Jakarta Utara, Pusat, Timur dan Selatan serta Kepulauan Seribu, kecuali Jakarta Barat, sudah saya sambangi meskipun belum semua RPTRA yang ada di wilayah tersebut.

Tapi, tiba-tiba saja, dalam kurun waktu hampir dua bulan, kebiasaan tersebut terhenti. Memang saya mengunjungi RPTRA, tapi bukan seperti biasa. Ke RPTRA Kalijodo 22 Februari lalu, hanya sebatas lewat saja. Ke RPTRA Sutra II di Sunter Agung cuma dalam rangka liputan tasyakurannya saja. Tidak seperti biasa.

Kesempatan berkunjung ke RPTRA akhirnya datang lagi hari Minggu 5 Maret kemarin. Lokasi RPTRA nya tidak berjauhan dari kosan saya, dan juga memang saya niatkan mampir, karena saya sudah melihat pembangunan RPTRA ini semenjak beberapa bulan lalu.

RPTRA yang saya kunjungi adalah RPTRA Bawang Putih yang berada di Jalan Kebon Bawang V (atau VI). RPTRA ini dahulunya merupakan Taman Kebon Bawang. Sayangnya Taman ini tidak terurus seperti taman yang pernah saya kunjungi.

Daripada tidak terawat, akhirnya taman ini diubah fungsinya menjadi RPTRA. Ingat ya! Taman dan RPTRA ini berbeda lho.

Hari Minggu siang akhirnya saya mampir ke RPTRA ini. Saya tetap naik sepeda motor, karena setelah ke RPTRA saya akan berkunjung ke tempat lain juga. Selesai parkir motor, saya langsung masuk ke dalam RPTRA.

Setelah melalui pintu gerbang kecil, saya langsung mendapati ruang serba guna dan ruang aula RPTRA Bawang Putih.


Tidak terlalu besar seperti RPTRA lain yang saya kunjungi. Tapi cukup mumpuni. Siang itu, hari cukup panas. Gedung Serba Guna ini cukup teduh karena terlindung pohon.

Saya belum langsung masuk ke dalam ruang serbaguna. Saya mau live periscope dulu. Langsung deh berbelok ke kiri untuk live periscope. Saya menyusuri jogging track dan ampitheater untuk menuju ke signage atau plang RPTRA Bawang Putih.

Anak-anak saya lihat banyak yang bermain sepakbola di lapangan. Nah lapangan ini unik. Ada dua lapangan bulutangkis merangkap lapangan sepakbola. Di beberapa RPTRA yang dibangun dengan menggunakan APBD, hanya ada satu lapangan bulutangkis dan tidak ada lapangan sepakbola kecil atau futsal.

Ampitheater di RPTRA ini menghadap ke lapangan. Letaknya di bawah pohon. Ada beberapa anak yang saya lihat asik menonton yang bermain sepakbola dan ada sebagian yang sekedar “nongkrong”.

Kunjungan sekaligus live periscope saya berlanjut ke signage. Signage ini berupa tembok dan ada tulisan RPTRA BAWANG PUTIH dari besi. Plang Taman Kebon Bawang juga masih terpasang. Setelah sampai di signage, saya mengakhiri live periscope saya.

Tugas selanjutnya, foto-foto RPTRA. Ini sudah menjadi prosedur tetap. Lapangan sepakbola dan bulu tangkis, signage, ampitheater dan lantai refleksi saya foto. Oh iya, ada lantai refleksi di RPTRA ini.

Saya melihat sarana permainan anak di RPTRA ini, terintegrasi atau menyatu. Ayunan, perosotan hingga panjatan menjadi satu. Landasannya terbuat dari pasir. Jadi tidak terlalu khawatir kalau anak-anak terjatuh dan kemudian luka karena lantainya terbuat dari peaving atau kon block.


Bahkan saya melihat anak-anak bermain pasir. Mereka seakan-akan bermain di pantai. Ada sekitar 4-5 anak perempuan yang bermain pasir.

Usai bagian outdoor saya kunjungi, saya menuju ke Gedung Serbaguna dan Aula. Mau menemui pengelola RPTRA. Saya pun bertemu dengan tiga pengelola RPTRA. Salah satunya adalah Bang Icang atau Andi yang merupakan Koordinator Pengelola RPTRA. Wah asik!

Nah di depan ruang pengelola ini, saya melihat ada semacam tugu. Saya pun panasaran. Tugu Apakah ini? Bang Icang menjelaskan tugu tersebut sudah ada di situ semenjak zaman Belanda. Sayangnya Icang tidak menjelaskan sejarah tugu tersebut.

Di dekat ruang pengelola saya melihat ada ruang laktasi, sayangnya belum ada fasilitas di dalam ruang laktasi. Belum sempurna memang RPTRA ini. Baru selesai di bangun. Untuk penyediaan fasilitas ruang laktasi, memang belum diberikan karena menunggu pengadaan.

Di dekat ruang pengelola juga saya lihat ada toilet. Setelah dibuka oleh pengelola, ternyata toilet sangat bersih. Di depan Ruang Pengelola juga saya melihat ada Kolam Gizi lengkap dengan ikan lele dari Sudin KPKP Jakarta Utara dan sumbangan warga.

Di dekat Kolam Gizi juga ada tanaman obat Keluarga.

Ketika saya menuju ke ruang Aula, di sebelahnya ada perpustakaan. Saya tidak masuk karena sedang ditutup karena jam istirahat. Saya hanya melihat dari kaca. Sudah ada buku dan lemari serta permainan lego.

 


Seusai berkeliling, saya sedikit berbincang dengan pengelola RPTRA. Icang mengatakan, akhir pekan, bisa sampai 197 anak yang berkunjung. Wah ramai juga pikir saya.

Saya pun mengisi buku tamu. Tak lama kemudian saya mengakhiri kunjungan saya.

ini foto-fotonya ya

This slideshow requires JavaScript.

read more
CeritaFeatured

Asyiiik! Ada Bus Transjakarta Gratis ke RPTRA & RTH Kalijodo

TJ Kalijodo 4

Setelah tiga kali berkunjung ke Kalijodo, dari sementara dibangun, hampir selesai dibangun dan sudah selesai dibangun, akhirnya saya datang ke acara peresmian Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RPTRA)kalijodo yang terletak di dua wilayah di Jakarta.

Untuk RPTRA nya, masuk dalam Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, sementara RTH nya di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. RTH Kalijodo ini ada semacam hall dan Skatepark. Kalau RPTRA, tak perlu saya jelaskan panjang lebar ya.

Saya mengetahui RPTRA dan RTH ini akan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuk Tjahaja Purnama atau Pak Ahok, dari pemberitahuan seorang teman dan mengecek agenda Walikota Jakarta Utara yang biasanya saya dapatkan karena sering meliput di Jakarta Utara.

Rabu 22 Februari jam 14 lewat saya berangkat dari Tanjung Priok ke Kalijodo. Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai di Kalijodo. Macet karena ada acara peresmian. Biasa lah itu.

Ketika hendak memarkir sepeda motor milik teman saya yang saya pakai, saya melihat di tepi jalan ada tiga bus tingkat transjakarta sumbangan Tahir Foundation.

Bus ini pernah saya tumpangi untuk berkeliling Jakarta. Awalnya saya berpikir, mungkin bus ini membawa tamu atau wisatawan ke Kalijodo dalam rangka peresmian. Tapi perhatian saya tertuju ke sebuah spanduk yang bertuliskan Kalijodo Balaikota Mulai 22 Februari Layanan Bus Tingkat Wisata Jakarta.

Saya pun bergegas memarkir sepeda motor. Beruntung ada tempat parkir, jadi tidak butuh waktu lama saya sudah memarkir sepeda motor. Seusai memarkir sepeda motor, saya langsung menuju ke RPTRA Kalijodo.

Panasaran saya dengan spanduk tersebut.

Saya pun bertanya ke petugas. Beneran ya akan ada bus transjakarta gratis ke Kalijodo? Dia pun mengiyakan. Pertanyaan saya pun berlanjut Ke Bang Anugerah (yang saya lihat namanya tertera di ID Card-nya).

Pertanyaan sih standard, mulai kapan, berapa bus dan jam beroperasi.

“Ada tiga bus tingkat yang akan khusus melayani Rute Kalijodo Balaikota,” jelas bang Anugerah. Wah banyak juga ya ternyata.

Mengenai jam operasinya, Bang Anugerah tidak menjelaskan secara rinci. Dia sibuk mengatur pemasangan spanduk yang belum sepenuhnya selesai.

Saya pun menghampiri salah satu bus. Kebetulan pintunya mau dibuka. Dan ada dia petugas transjakarta dan pramudi atau supirnya. Saya pun bertanya, berapa kapasitas bus tersebut.

“Kapasitasnya 80 orang,” jelas Petugas Transjakarta. Saya pun tidak sempat bertanya namanya. Petugas mengatakan rute nya berangkat dari Balaikota dan ke Kalijodo. Jam operasinya masih diatur.

Beroperasi efektifnya pun mulai Kamis 23 Februari, karena baru diresmikan penggunaannya. Usai melihat-lihat bus yang pernah saya tumpangi, saya pun pamit untuk segera ke RTH Kalijodo yang ada skatepark nya.

Saya pun berpikir, wah asik juga ya, Ke Kalijodo bisa naik Transjakarta tingkat yang gratis. Setahu saya, angkutan umum ke Kalijodo ini sedikit ribet. Gonta ganti bus. Jadi dengan ada bus yang nyaman ini, makin enak deh.

Yuk kita coba!

read more
CeritaFeatured

Merasakan Pelayanan RSUK Tanjung Priok

wp-1487249569835.jpg

Seusai pulang dari kumpul-kumpul ama teman-teman di Jakarta Selatan, saya tiba di kosan sudah agak tengah malam. Sekitar jam 23.00. Selesai bersih-bersih badan, saya seperti biasa nonton televisi.

Tapi tiba-tiba, jantung merasa berdebar-debar, napas sesak dan saya kayak mau blackout alias pingsan. Saya pikir, bisa-bisa serangan jantung. Sedikit panik, tapi saya tetap berusaha tenang.

Saya berpikir bagaimana kalau saya ke rumah sakit umum yang ada di dekat kosan saja. Tapi karena sudah tengah malam dan kemudian juga hujan cukup deras, saya mengurungkan niat. Berdoa saja.

Setelah beristirahat dan bangun, paginya sudah agak mendingan. Tapi siang, karena saya masih di kosan, gejala berdebar-debar dan sesak napas kembali terasa.

Setelah bersiap dan membereskan edit berita dari kosan, saya akhirnya memutuskan ke Rumah Sakit Umum Kecamatan (RSUK) atau RSUD Kelas D, Kecamatan Tanjung Priok. Tidak terlalu jauh dari kosan soalnya. Naik motor cuma 5 menit sudah sampai.

Setelah parkir motor, saya masuk ke bagian pendaftaran. Ditanya keluhan apa, saya jelaskan sedikit, dan dibilang ke dokter umum saja. Petugas yang melayani saya, juga bertanya, pakai BPJS atau tidak? Saya bilang tidak.

Petugas kemudian meminta identitas saya, untuk dicatatkan karena saya belum pernah berobat di RSUK Tanjung Priok. Setelah saya menyerahkan identitas, saya mengisi formulir. Petugas pun menyampaikan, biayanya Rp 35.000. Wah kaget saya. Murah amat ya di rumah sakit. Ruang tunggu RSUK Tanjung Priok ini sangat luas. Ada kursi untuk yang antri juga.

Saya pernah ke salah satu rumah sakit swasta di Sunter, tahun 2010, saya mendaftar saja sudah 100 ribu. Pas ini dikasih tahu hanya 35.000 saya anggap murah banget. Setelah membayar di kasir, saya diminta menunggu. Proses pendaftaran hanya butuh waktu tidak sampai 5 menit. Tidak antri siang tadi.

Setelah menunggu, saya dipanggil masuk ke ruang IGD. Seorang perawat memanggil saya. Setelah masuk, saya juga terkagum-kagum melihat ruang IGD yang wah, skala rumah sakit besar dan top di Jakarta. Ada tiga atau empat bed.

Saya kemudian rebahan di salah satu bed dan diperiksa tensi oleh perawat. Setelah diperiksa tensi dan ditanya keluhannya, dan saya jelaskan, saya diminta menunggu karena dokter jaga sedang mengurus pasien yang habis melahirkan.

Tidak lama saya menunggu. Mungkin sekitar 10 menit. Dokter kemudian sampai dan menanyakan keluhan, setelah itu, memeriksa saya. Saya yang awalnya kira bermasalah di jantung, ternyata bermasalah di maag atau lambung. Seperti dugaan saya juga. Maag saya memang sudah lama bermasalah.

Dokter langsung memberikan resep. Saya sempat meminta agar jangan diberikan obat yang mahal. Dokter cuma bilan, obat di sini murah semua. Setelah diberikan resep, saya diminta untuk menebus di kasir.

Saya yang bawa uang tidak banyak, sempat deg-degan juga. Mahal nggak ya? Setelah menyerahkan resep, dan dihitung, ternyata obat saya cuma Rp 27.750. Walah murah amat yak. Saya lihat nota resep, ada salah satu obat yang harganya 23.250. Obat yang lain cuma RP 3.000 dan 1.500.

“Maak murah banget ya”

Gumam saya dalam hati. Petugas pun meminta saya ke kasir. Setelah membayar saya kembali ke tempat menebus obat. Dan obat pun diberikan sembari diberikan penjelasan oleh petugas. Menebus obat tidak butuh waktu lama. Hanya kurang dari 10 menit. Keren juga ya.

Saya pun selesai berobat ke Rumah Sakit Umum Kecamatan Tanjung Priok.Udah rumah sakitnya bersih, ditambah biaya yang murah dan obat yang terjangkau.

Kalau ke RS Swasta, tidak kurang dari 100 ribu saya harus bayar. Bisa lebih mungkin.

read more
Tekno Story

Kembali Nulis di Kompasiana

img_5981

Bicara soal blogging, saya ini sudah menggemari blogging semenjak tahun 2007 lalu. Blog pertama saya ada di blogspot, tommybernadus.blogspot.com. Namun, karena saya ini orangnya moody alias tergantung mood dan angin-anginan, ya blog itu terbengkalai.

Saya juga pernah bikin blog berbasis wordpress namun sama seperti blogpsot, menguap begitu saja. Data bahkan ilang.

Tidak hanya di wordpress. Saya juga ternyata ngeblog di kompasiana. Saya terdaftar sebagai kompasianer dari bulan desember 2008. Sudah delapan tahun jadi kompasianer rupanya. Cuma ya itu, sekali lagi terbengkalai.

Saya juga sudah lupa pakai alamat email apa, dan passwordnya apa. Sampai kemudian saya kembali diingatkan, untuk bisa mengajak orang ke blog saya, tulis di kompasiana, dan berikan link ke blog pribadi.

Saya pun akhirnya mereset password. Awalnya saya pikir, pakai alamat email yang di gmail. Ternyata tidak terdaftar di Kompasiana. Saya akhirnya kemudian mencoba pakai alamat email yang di yahoo. Wah dikirim link dooong untuk reset password. Dan akhirnya, saya berhasil mereset dan masuk kembali ke akun kompasiana.

Saya pun sudah upload dua tulisan, dan salah satu tulisan menjadi artikel pilihan. Wah senangnya saya bisa kembali menulis di kompasiana. Akun saya juga sudah terverifikasi dengan centang hijau. Wah makin senang deh!

read more
Makang Sadap

Pecel Enak di Mangga Dua

wp-1486533854770.jpg

Mangga Dua ini, hingga saat ini masih merupakan lokasi favorit saya untuk saya kunjungi baik untuk urusan komputer maupun gadget.

Nah, kalau membawa sepeda motor, saya biasanya parkir di parkiran motor depan hotel Le Grandeur Mangga Dua, yang dulunya dikenal dengan Hotel Dusit.

Setelah parkir motor, saya berjalan kaki ke arah Mall Mangga Dua lewat pintu keluar mobil dan motor yang berada di sebelah Le Grandeur ini.

Di sebelah pintu keluar sepeda motor dan mobil ini, ada ibu-ibu yang berdagang nasi pecel. Dia di pinggir jalan, dan bukan berdagang dengan gerobak. Dia menjual pecel dengan bakul.

Nah pecel yang dijual ibu ini, bagi saya enak. Pecel memang kuncinya ada di bumbu pecelnya. Bumbu pecel si ibu ini, untuk ukuran lidah saya, gurih atau spicy. Menggoyang lidah. Gurihnya pas, pedasnya juga pas.

Sayuran untuk nasi pecel ibu ini, dikukus dan berasal dari sayuran segar. Ditambah dengan bumbu pecel yang top markotop, pastilah sayuran ini makin enak disantap.

Biasanya saya pesan nasi pecel dengan tambahan telur dadar atau ikan tongkol. Saya sih lebih prefer pakai telur dadar.

Kalau pakai telur dadar, saya membayar nasi pecel sepiring, sangat murah. Cuma Rp 8.000. Saya malah pernah makan nasi pecel saja, tanpa tambahan lauk, dan membayar Rp 6.000.

Nasi pecel ibu ini dijual mulai jam 11.00, dan biasanya dalam dua jam sudah ludes. Beberapa kali saya mencari si ibu di atas jam 13.00, sudah tidak jualan atau nasi pecelnya sudah habis.

Jadi, kalau saya ke mangga dua dan memang ingin makan pecel ibu ini, saya biasanya sebelum jam 13.00 sudah harus tiba di Mangga Dua.

Pecel ibu ini memang recommended deh. Silakan dicoba.

Ibu-ibu penjual Pecel di dekat Le Grandeur Mangga Dua
read more
CeritaFeatured

Cerita dari PTSP Kepulauan Seribu : Layanan Berkeliling ke Rumah Warga

PTSP Kepulauan Seribu

Setelah saya bertemu dengan Pak Ion Maryono di Kelurahan Pulau Pari di Pulau Lancang (ada di blog saya sebelumnya), keesokan harinya, Selasa 8 November 2016, saya kembali bertemu dengan tim Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Kebetulan selama satu malam saya dan teman-teman dari Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan menginap di Pulau Lancang. Ada kegiatan dalam rangka HUT Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Siang itu, saya hendak ke empang di Pulau Lancang yang berada di samping Kantor Lurah  Pulau Pari. Tidak sengaja saya bertemu dengan Bang Kohar. Saya kenal Bang Kohar ini sudah lama. Dia itu di Sudin Kesehatan Kepulauan Seribu. Saya awalnya pikir dia ini ke Pulau Lancang karena ada urusan dengan Sudin Kesehatan.

Tapi setelah ngobrol2, ternyata, dia sudah bertugas di PTSP Kepulauan Seribu. Dan hari itu dia berada di Pulau Lancang, untuk berkunjung ke Pemilik Homestay di Pulau Lancang, untuk membantu mereka mengurus Tanda Daftar Usaha Pariwisata atau TDUP.

Bang Kohar bersama dengan orang Sudin Pariwisata dan Kebudayaan (saya tak sempat bertanya namanya) dan beberapa orang Lainnya. Oh iya, ada bang Jhas dan Haki juga. Saya kenal semuanya, dan sudah lama kenalnya.

Karena mereka akan berkeliling untuk memberikan layanan perijinan kepada warga, saya pun bersemangat mengikuti mereka. Tim PTSP Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ini, didampingi oleh Pak Ion yang sudah memegang data Pemilik Homestay di Pulau Lancang. Mereka akan dibuatkan TDUP.

Kami pertama kali datang ke rumah pemilik Homestay (maaf saya kembali lupa namanya). Ini akibat kelamaan menulis cerita ini, dan saya tidak mencatatnya karena sibuk merekam dan memfoto.

Bang Kohar dan tim menyambangi rumah pemilik Homestay ini dan menyerahkan formulir untuk diisi. Pengisian pun dibantu oleh Bang Kohar. Wah benar-benar dilayani. Pemilik hanya perlu menjawab pertanyaan yang ada di formulir.

Bang Kohar pun mengatakan kepada pemilik Homestay yang belum memiliki TDUP tersebut, ahwa akan segera dibereskan TDUP nya. Wah ini keren deh. Nggak perlu repot dan nggak perlu capek-capek ke PTSP. Petugas datang dan memberikan layanan.

Ini berbeda dengan layanan AJIB atau Antar Jembut Ijin Bermotor. Bang Kohar dan tim memang sengaja berkeliling. Kondisi wilayah di Kepulauan Seribu dan transportasi antar pulau yang mahal membuat Bang Kohar dan tim menyambangi rumah warga, agar warga pemilik Homestay ini bisa memiliki TDUP.

Hari itu, saya dan tim Bang Kohar juga menyambangi Bu Haji dan Pak Samsuri. Mereka sama-sama pemilik homestay yang belum memiliki TDUP. Mereka dibantu oleh PTSP untuk membuatkannya.

Saya kagum dengan pelayanan ini. Mereka menyambangi dan melayani warga agar bisa memiliki TDUP. Pak Samsuri pun mengaku senang karena diberi kemudahan. Begitu pun pemilih homestay yang pertama.

Mereka tak perlu repot menyebrang pulau atau ke kantor PTSP Kelurahan untuk mengurus TDUP. Petugas yang menyambangi homestay milik mereka, agar berijin dan lebih tertata.

Sekali lagi, seperti dikatakan Pak Ahok, PTSP memiliki unsur kata “Pelayanan” karena ingin melayani warga yang mengurus perijinan dan urusan kependudukan.

read more
Cerita

Cerita dari PTSP Kelurahan Pulau Pari: Melayani Warga Hingga di Rumah dan di Dini Hari

Ion Maryoni di Pulau Lancang

Seharusnya tulisan atau blog ini nongol jauh sebelumnya. Tapi entah kenapa saya tidak memikirkan untuk menuliskannya, sampai saya akhirnya menuliskan blog tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau PTSP Kelapa Gading yang membuka layanan di Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), dan saya menyadari bahwa ada cerita dari PTSP Kepulauan Seribu yang tidak saya tuliskan.

Ceritanya begini. Tanggal 7-10 November lalu, selama empat hari saya berkeliling Kepulauan Seribu. Saya diajak bang Arief Wibowo untuk hadir di acara Ulang Tahun Kepulauan Seribu tanggal 9 November, tapi sebelumnya menemani beliau untuk berkeliling. Saat ittu dia masih menjabat sebagai Camat Kepulauan Seribu Selatan.

Hari pertama, kami akan berada di Pulau Pramuka dan Pulau Lancang, Hari Kedua di Pulau Tidung dan Hari Ketiga dan Keempat di Pulau Pramuka dan Pulau Karya. Saya sudah pasti ikut dong. Karena sekalian ingin melihat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri (sudah saya tuliskan di blog ini) dan juga sekalian berkeliling.

Senin 7 November, setelah berkunjung ke Pulau Pramuka, saya menuju ke Pulau Lancang. Untuk diketahui, Pulau Lancang ini merupakan Kelurahan Pulau Pari, dan Kantor Kelurahan Pulau Pari berada di Pulau Lancang ini. Soal kenapa seperti ini, nanti saya ceritakan ya. We are not focusing on that!

Ketika berada di Kantor Kelurahan Pulau Pari, yang berada di Pulau Lancang, saya bertemu dengan Petugas PTSP Kelurahan Pulau Pari. Namanya Pak Ion Maryono. Saya pun berbincang-bincang dengan beliau. Namanya juga pengen cari tahu.

Soal pelayanan kependudukan, perijinan dan lain-lainnya, sebenarnya ceritanya sama saja. Tapi, ada satu hal yang menarik yang diceritakan pak Ion. Dia menceritakan soal pelayanan di luar jam kantor. Kita sudah pada tahu dong kalau pelayanan di PTSP ini di hari kerja Senin sampai Jumat jam 8 hingga 16.

Tapi di Pulau Lancang ini unik. Pak Ion bahkan menerima kalau ada warga yang datang ke rumah mereka. Di Pulau Lancang ini, ada semacam rumah untuk petugas PTSP karena mereka penduduk di pulau lain, tapi bertugas di Pulau Lancang. Karena ongkos transport naik kapal mahal, mereka ada rumah khusus atau rumah dinas.

Nah, karena ada rumah seperti ini, kalau misalnya ada warga yang membutuhkan pelayanan dan mendesak, tidak bisa ditunda karena besok pagi harus pergi ke pulau lain, pak Ion dan teman-teman petugas PTSP lainnya menerima warga di rumah mereka.

“Kalau ditunda besok hari, mereka akan kesulitan untuk naik kapal yang paling pagi menuju daratan utama di Tangerang atau Jakarta,” kisah pak Ion.

Bahkan, pak Ion juga bercerita, dia beberapa kali melayani warga di dini hari atau masih subuh. Ini karena warga juga harus berangkat dengan kapal yang paling pagi ke daratan utama Jakarta atau Rawa Saban (Tangerang).

“Kami tidak ingin mempersulit warga”

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala PTSP Kelurahan Pulau Pari yang saya kenal orangnya. Bang Hasanuddin namanya.

“Bener bang, kami melayani subuh dan di rumah”

Wah, saya tertegun. Semangat melayani seperti ini ada di mereka. Mereka tidak mau menolak warga.

“Ya kan kami ada di rumah, kalau kami bisa melayani, kenapa tidak?”

Begitu cerita Pak Ion dan Bang Hasanuddin kepada saya, yang saya terus ingat sampai saya menuliskan blog ini.

Terima kasih ya pak Ion dan Bang Hasanuddin….. yang sudah melayani warga. Oh Iya, ada juga cerita dari PTSP Kepulauan Seribu yang lain. Kebetulan saya bertemu dengan mereka di Pulau Lancang Tanggal 8 November.

Nanti ya tulisannya ….

read more
Bapontar

Pulau Kelapa Dua, dari Rumah Berarsitektur Bugis dan Makanan Khas Bugis

Pulau Kelapa Dua 7 Nov 2017

Tidak sengaja, iya tidak sengaja. Itulah yang terjadi ketika saya menemukan foto-foto saya tiga tahun lalu di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu Utara.

Saya sedang mencari foto-foto saya bulan November lalu di Pulau Lancang di Google Photos, dan ketika saya scroll ke bawah, tetiba muncul foto saya ketika berkunjung ke Pulau Kelapa Dua tahun 2013 lalu.

Saya pun teringat foto tersebut, ketika itu saya mengantar jurnalis televisi antv ke Pulau Kelapa. Ingin meliput di sana. Kebetulan sahabat saya, waktu itu menjabat menjadi lurah Pulau Kelapa.

Ketika di sana, saya dan teman-teman dari antv ini diajak ke Pulau Kelapa Dua. Meskipun saya sudah sering berkeliling ke Pulau-pulau di Kepulauan Seribu, ke Pulau Kelapa Dua ini kesempatan pertama saya.

Apa yang menarik dari Pulau Kelapa Dua ini? Di Rumah berarsitektur asli bugis atau Sulawesi Selatan berupa rumah panggung. Saya memang sudah mengetahui lama soal kehadiran rumah berarsitektur bugis ini. Tapi melihat langsung baru pertama kali.

Dari cerita yang saya dapatkan, penduduk di Pulau Kelapa Dua ini memang masih asli keturunan dari Bugis. Mereka hijrah dari Pulau Genteng. Ada dua kelompok. Yang kelompok lainnya hijrah ke Pulau Sebira. Saya sudah ke Pulau Sebira ini juga. Tahun 2006 atau 10 tahun lalu.

Ada banyak rumah khas Bugis atau berarsitektur Bugis ini di Pulau Kelapa Dua. Dan letaknya berdampingan. Rumahnya masih berbentuk rumah panggung.

Ketika berada di Pulau Kelapa Dua, saya yang berkunjung ke salah satu warga, masih disuguhi penganan asli Bugis. Borongko namanya. Selain Borongko, ada juga makanan seperti ikan yang dimatangkan hanya memakai jeruk. Saya lupa nama persisnya, semacam gohu ikan kalau di Manado. Makanan ini saya benar-benar suka.

Ada juga ikan yang dimasak dengan kuah dengan bumbu khas dari Bugis. Sekali lagi saya lupa namanya. Ini makanan enak sekali. Saya ingat, saya makan di rumah mertua Anci. Orang tuanya Sultan, saya kenal dengan Sultan ini yang bertugas di Polres Jakarta Pusat.

Tidak hanya itu, dialek dari warga di Pulau Kelapa Dua ini, masih kental sekali dengan dialek Sulawesi Selatan.

Pulau Kelapa Dua ini, bukanlah pulau tujuan wisata seperti Pulau Tidung, Pramuka, Pari dan Pulau-pulau Resort. Tapi, rumah yang berarsitektur Bugis ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi kita yang ingin melihat sisi lain dari Kepulauan Seribu.

Letak Pulau Kelapa Dua ini, bersebelahan dengan Pulau Kelapa. Tidak berjauhan. Menyebrang dari Pulau Kelapa, hanya sebentar saja. Pulau Kelapa sendiri ini letaknya di Kepulauan Seribu Utara. Naik speedboat dari Ancol, kurang lebih 1,5 hingga 2 jam.

Tertarik?

tulisan ini juga bisa dibaca di travel blog khusus saya pigipigi.id

read more
Cafe & Resto

Ragam Masakan Daging Babi di Kedai Acu Mall Artha Gading

Kedai Acu MAG (1)

Bicara soal makanan, mall memang menyuguhkan beragam masakan. Baik di restoran maupun di food court. Sama seperti yang di Mall Artha Gading, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Namun, dari sekian banyak tempat makan di Mall Artha Gading, di lantai Lower Ground ada sebuah tempat makan yang saya sukai. Tempat makan ini ada di semacam kantin tidak berjauhan dari Super Market Diamond.

Kantin di sini menjual beragam makanan dan ada beberapa kedai. Salah satunya adalah Kedai Acu. Kedai Acu ini kenapa saya sukai, karena menyajikan masakan berbahan daging babi.

Bukan cuma satu atau dua kali saya makan di sini. Makanannya ada paketnya. Paket dengan Nasi ditambah masing-masing 1 lauk dan sayur, harganya Rp. 20.000, sementara paket Nasi dengan 2 Lauk dan 1 Sayur, Rp 25.000.

Biasanya saya makan paket yang Rp 25.000. Dua lauk soalnya. Oh iya itu soal harga.

Soal masakannya, masakan daging babinya macam-macam. Ada lebih dari 10 jenis. Ada babi kecap, ada babi rica, ada kuping babi, ada babi merah, rusuk babi dan ragam masakan lainnya.

Sayur di kedai Acu ini seperti sop, capcay dan lainnya. Saya nggak hapal.

Yang saya sukai di kedai acu ini adalah babi kecap dan babi merahnya. Sudah sering kali saya memesan dengan lauk ini. Rasanya? Tidak perlu saya jabarkan. Jelas enak. Bumbu terasa dan tidak hambar.

Mau mencoba?

read more
1 30 31 32 33 34 45
Page 32 of 45