close

Cerita

Cerita

Cerita dari RPTRA : Hiasan Bebek-bebekan di RPTRA Sutra Indah 2

RPTRA Sutra Indah 2

Ketika saya berkunjung ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Sutra Indah 2 dua pekan lalu, saya melihat banyak hiasan-hiasan unik dan lucu yang berada di ruang serbaguna, wastafel dan bagian belakang RPTRA.

Ternyata, hiasan unik ini, bukan hanya ada di gedung serbaguna RPTRA. Ada juga di bagian taman. Saya menyadarinya, ketika saya mengunjungi RPTRA ini untuk ke-3 kalinya. Saya kembali mengunjungi RPTRA ini untuk mempersiapkan nonton bareng.

Hiasan unik tersebut adalah berupa bebek-bebekan, atau berbentuk bebek/ itik. Eits, jangan salah pikir dulu. Ini bukan bebek-bebekan yang suka ada di danau yang bisa kita naiki dan dikayuh untuk bersantai di atas danau.

Bebek-bebekan ini bukan seperti bebek mainan berwarna kuning yang menjadi mainan anak-anak.

Hiasan bebek-bebekan di RPTRA Sutra Indah 2 ini, sebenarnya adalah tanaman gelombang cinta yang berada di taman, dan ditambahi hiasan berbentuk kepala bebek.

Koordinator Pengelola RPTRA Sutra Indah 2, Lifi bercerita kepada saya, hiasan ini memang ingin dibuat seperti itu oleh mereka.

“Kami mencari di internet hiasan seperti ini untuk mendapatkan idenya, dan kami buat,”

Setelah mendapatkan ide, Lifi melanjutkan ceritanya, mereka menanamkan tanaman gelombang cinta di taman yang ada di RPTRA, kemudian dipasang botol bekas minuman air mineral yang dicat putih di sekelilingnya, dan kemudian ditambahkan hiasan bebek.

Ketika saya melihat hiasan bebek ini, tanaman Gelombang Cinta ini terlihat seperti sayap bebek yang mengembang, sementara tanah tempat menanam dan botol air mineral yang mengelilingi tanaman Gelombang Cinta terlihat seperti badan bebek.

Bagi saya, ini ide unik. Sudah 20 RPTRA yang saya datangi, banyak tanaman di taman. Namun, dibuat seperti di RPTRA Sutra Indah 2 ini, baru saya temui. Begitu juga dengan hiasan-hiasan lainnya di RPTRA Sutra Indah 2.

RPTRA juga menjadi ruang kreatifitas, baik dari pengelola maupun anak-anak yang berkunjung ke RPTRA.

This slideshow requires JavaScript.

read more
FeaturedMakang Sadap

Sate Bebek Putra Tambak, Top Be Ge Te

IMG_20170322_142526

Kalau ke Kelapa Gading atau Sunter dari kosan saya di daerah Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, saya kerap lewat “jalur belakang”. Apalagi kalau saya dapat notifikasi “jalur depan” itu macet.

Kalau melewati Jalur Belakang yang menembus ke kawasan industri milik grup astra, saya sering melewati sebuah kios makanan, yang kalau lagi jualan suka menebar asap wangi.

Asap wangi ini berasal dari pembakaran sate. Karena wangi saya suka memperhatikan tempat makan yang punya nama “Putra Tambak” ini. Jualanya ya masakan daging bebek.

Yeah, makan bebek merupakan kegemaran saya. Saya biasanya menyantap masakan bebek Madura. Setelah beberapa kali niat mampir batal karena tempat makan ini suka rame, akhirnya saya hari ini mampir juga.

Mau mencoba masakan sate bebek. Jujur saja, saya sih kalau sate, sudah biasa makan sate ayam, kambing, sapi ataupun babi. Tapi sate bebek ini pengalaman pertama.

Parkir motor, saya langsung masuk ke warung makan. Saya pesan sate bebek 10 tusuk. Saya sempat bertanya, harga sate bebek 10 tusuk itu berapa? 26 ribu tanpa nasi, dan pakai nasi sepiring 30 ribu. DEAL!

Menunggu kira-kira 10 menit karena banyak yang pesan, pesanan sate bebek saya pun datang. Tak butuh waktu lama, saya langsung tancap gas menyantap sate bebek.

Sate bebek ini, pakai bumbu kacang seperti sate ayam pada umumnya. Tapi. Ingat, ada tapinya lho. Pas saya coba bumbu kacang sate bebek Putra Tambak ini, ternyata sangat enak. Dan lebih encer dari bumbu kacang sate ayam pada umumnya.

Usai mencicipi bumbu kacang, saya langsung menyantap tusukan pertama. Ternyata, daging bebeknya empuk. Tidak alot. Duh, makin sedap deh menyantapnya.

Oh iya, saya juga diberikan satu mangkok kecil semacam kuah sop. Pas saya cicip, kuah sopnya gurih, asin enak gitu. Makin sedap deh makannya. Di kuah sop ini, saya obok-obok dengan sendok, ternyata ada potongan daging dan tulang bebek.

Saking enaknya sate bebek ini, nasi satu piring terasa kurang. Saya sudah pasti meminta tambah. Sate masih lima tusuk lagi, tapi nasi sudah habis, ya nambah dong!

Bumbu kacang sate, tak lupa saya siramkan ke nasi. Biar tambah mantap. Karena enak, bumbu kacang sampai ludes saya makan juga.

Usai makan, pastinya bayar dong! Satu porsi sate 10 tusuk, dua piring nasi dan segelas es teh tawar, saya tebus dengan harga 36.000. Nggak nyesel sih, enak soalnya.

Sepertinya saya akan balik lagi deh kapan-kapan. Untuk makan sate bebek lagi.

read more
Cerita

Cerita dari RPTRA : Hiasan Unik dan Lucu di RPTRA Sutra Indah 2

RPTRA-Sutra-2 (16)

Berkunjung ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Sutra (Singkatan dari Sunter Agung) Indah 2 ini sebenarnya sudah saya lakukan sebulan lalu. Tepatnya 25 Februari. Tapi ketika itu saya berkunjung ke RPTRA ini, malam hari dalam rangka acara syukuran (Tasyakuran).

Karena malam hari dan acara tasyakuran, saya hanya live di periscope sebentaran saja. Meliput pun, hanya acara tasyakuran saja.

Berniat untuk kembali mengunjungi RPTRA ini, sudah ada. Tapi entah kenapa, belum terwujud. Sampai pada hari Sabtu 18 Maret kemarin, atau tiga pekan setelah kunjungan pertama, saya mendatangi SMP 221. Ada kegiatan seleksi atlet voli.

Setelah mendapat informasi dari Google Maps, ternyata SMP 221 ini berada di Kompleks DKI RW 13 Sunter Agung. Tepatnya di Belakang Mall Sunter dan Pasar Sunter Podomoro. Lah berarti tidak berjauhan dengan RPTRA Sutra Indah 2 ini.

Setelah tiba di SMP 221, ternyata acara seleksi atlet Voli tidak ada. Batal rupanya karena paginya hujan. Karena sudah berada di lokasi yang sama dan berdekatan, saya sekalian saja ke RPTRA. Hore!!

Sampai di RPTRA Sutra Agung 2, saya parkir motor di luar pagar. Masuk RPTRA saya temui signage RPTRA. Sama dengan Signage di RPTRA Bawang Putih dan RPTRA Radar Pembangunan (yang ini belum saya buat blognya).

Di belakang Signage atau Plang RPTRA, ada ampitheater dan lapangan bulutangkis yang berhadap-hadapan dengan gedung serbaguna RPTRA. Di Sebelahnya ada jogging track yang mengelilingi RPTRA. Sama seperti RPTRA lainnya.

Usai mengambil gambar lapangan bulutangkis, ampitheater dan jogging track, saya mengambil gambar sarana permainan anak. Saya lihat ada bola besar dan ayunan dicat berwarna-warni. Tidak hanya itu, ada juga sarana bermain anak khas RPTRA yang dibangun menggunakan APBD.

Sarana bermain anak ini, terintegrasi dan terbuat dari kayu. Dasarnya dari pasir. Persis sama dengan di RPTRA Bawang Putih. Jadi anak-anak tidak perlu dikhawatirkan akan terluka kalau jatuh kalau dasarnya terbuat dari kon atau peaving block.

Sarana permainan anak-anak yang dicat berwarna-warni ini, sudah ada sebelum dibangun RPTRA karena sebelumnya ada taman dengan sarana bermain ini. Taman tersebut kemudian berubah menjadi RPTRA.

Setelah itu, saya menuju ke ruang serbaguna. Menemui pengelola itu adalah standard. Di gedung serbaguna, saya bertemu mbak Rina. Eh ternyata saya sudah pernah bertemu dengan mbak Rina di RPTRA Sungai Bambu.

Di Gedung Serbaguna, terutama bagian aulanya, anak-anak sedang ramai bermain. Ada sekitar 20-an anak mungkin yang bermain. Saya melihat ada permainan anak dari plastik seperti perosotan.

“Ini sumbangan dari warga”

“Wah ini sumbangan warga?”

“Hiasan-hiasan ini juga dari warga”

Mbak Rina kemudian menunjuk ke hiasan yang tergantung berupa balon berbentuk hati, kapal, dan balon bertulisan “RPTRA Sutra Indah 2”. Sudah pasti saya langsung ambil gambar.

Ketika di Ruang Serbaguna, saya melihat seorang oma, duduk di kursi roda, bersama dengan perawatnya, yang sedang bersantai di sebelah gedung serbaguna. Saya kemudian menghampiri. Mengambil foto dan mewawancarai.

Sudah pasti saya tidak lupa untuk menyapa dulu.

“Selamat sore oma”

Sapaan saya kemudian disambut dengan senyuman oma. Oma tidak bisa berbicara, saya memaklumi. Tapi perawat yang bersama dengan oma mengatakan, bahwa setiap hari oma datang ke RPTRA untuk bersantai.

Nah ini dia! RPTRA ternyata bukan hanya untuk anak-anak saja!

Saya kemudian ajak berkeliling Mbak Rina. Tujuan pertama, ruang perpustakaan. Di ruang perpustakaan saya melihat ada buku (ya iyalaah namanya juga perpustakaan). Tapi yang menarik adalah rumah barbie atau rumah boneka ada di ruang perpustakaan. Dan rumah Barbie ini, ternyata adalaaah sumbangan warga juga.

Di Ruang Perpustakaan juga ada boneka. Untuk menjadi permainan anak-anak. Sekali lagi mbak Rina bilang ini adalah sumbangan warga.

Rina juga menunjukkan hiasan gantungan berupa burung yang terbuat dari kertas. Hiasan ini hasil kreatifitas anak-anak yang bermain di RPTRA. Wawwww!

Tidak hanya itu, di ruang perpustakaan, juga ada lukisan dan gambar hasil karya anak-anak yang datang di RPTRA dengan dibimbing oleh pengelola RPTRA. Makin kagum saya. Banyak hasil kreatifitas anak-anak di RPTRA ini.

Ditemani mbak Rina, saya kemudian berkeliling ke bagian belakang RPTRA. Saya melihat PKK Mart yang belum berfungsi (nantinya akan diisi), Ruang Pengelola RPTRA, Kolam Gizi, dan toilet.

Yang menarik perhatian saya, adalah di bagian belakang RPTRA, di temboknya, ada hiasan caterpillar. Rina menjelaskan hiasan caterpillar ini ada fungsi edukasinya. Badan Caterpillar terdiri dari nama hari dan gambar buah.

Ternyata ini untuk seperti jadwal makin buah untuk anak-anak.

Ketika berada di wastafel, mbak Rina menunjukkan hiasan berbentuk laba-laba yang digantung. ternyta tidak hanya di aula serbaguna yang ada hiasan unik. Di wastafel pun ada. Hiasan ini dibuat dari botol air mineral bekas.

Setelah dari wastafel dan toilet (untuk mengambil gambar, saya kembali ke Aula. Mau bersantai dulu. Melewati ruang laktasi, Rina mengatakan belum lengkap isinya. Saya pun mengatakan bahwa nanti akan diisi oleh UKPD terkait, menunggu anggaran turun untuk pengadaan perlengkapan ruang laktasi.

Kembali ke aula serbaguna, saya melihat anak-anak sedang diajari senam skipping oleh seorang ibu-ibu. Rupanya setiap hari sabtu, anak-anak ini diajari senam skipping.

Usai foto-foto anak-anak yang senam skipping, saya kemudian pamit pulang. Ada acara lain di Tanjung Priok.

Yang terbayang-bayang dalam pikiran saya sampai saya menulis cerita ini adalah, keunikan RPTRA ini ada di hiasan unik hasil kreatifitas pengelola dan anak-anak.

ini galeri fotonya, silakan disimak gambar-gambarnya

read more
CeritaFeatured

Ini RSUD? Cerita Berkunjung ke RSUD Koja

IMG_20170309_165847

Seperti yang seperti saya tuliskan di beberapa blog saya sebelumnya (Cerita dari Pasien RSUD Koja), tanggal 9 Maret lalu, saya berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Utara. Kunjungan saya ke Rumah Sakit ini, untuk menjenguk salah seorang Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Saya dan salah seorang teman jurnalis saya, ketika tiba di RSUD Koja, kami memarkirkan sepeda motor di Parkiran Sepeda Motor di bagian belakang. Ketika mengambil karcis parkir sepeda motor, sudah memakai dispenser karcis parkir otomatis. Tinggal pencet tombol,  karcis sudah keluar. Sudah seperti di mall atau perkantoran. Tidak ada petugas yang mengetik atau menginput data dan karcis parkir keluar.

Masuk ke kompleks RSUD Koja, saya tertegun. Kaget saya! Ini RSUD? Bukan rahasia sih kalau namanya RSUD itu seperti apa. Tapi kali ini berbeda. Karena pengalaman saya berburu foto Rumah Sakit Umum itu harus ngumpet-ngumpet (nanti saya tulis juga tentang ini), saya juga ketika mengambil foto buru-buru. Dari gedung belakang kompleks RSUD Koja, dan memasuki koridor, kesannya sudah jauh sekali dari Rumah Sakit.

Saya melihat ada restoran tempat makan ayam goreng. Wah sudah ada beginian di RSUD ya. Ada restoran, meskipun bukan yang restoran waralaba yang menyebar di mana-mana itu.

Masuk ke lobby gedung utama RSUD Koja, saya makin kagum. Bersih dan sangat rapi. Sekali lagi, saya nyolong-nyolong ambil foto. Bukan sekali saya kena tegur satpam karena mengambil foto RSU di Jakarta. Padahal saya cuma mau memposting di media sosial bahwa RSU di Jakarta ini sudah lebih baik.

Ketika saya harus berebutan masuk lift untuk ke Lantai 12, yang merupakan kamar tempat dirawat-inap salah seorang petugas PPSU, saya melihat lift di RSUD koja ini liftnya bagus dan terawat. Bangunan utama RSUD Koja ini tinggi, lebih dari 12 lantai, dan sudah ada lebih dari setahun. Tapi, liftnya terawat.

Keluar dari lift di Lantai 12, saya temui ruang untuk yang menunggu pasien. Ada jejeran kursi besi seperti di bandara-bandara. Masih bagus. Melihat ke luar kaca, saya bisa melihat wilayah Koja, Cilincing dan Kelapa Gading dari ketinggian.

Masuk ke koridor kamar-kamar Ruang Rawat Inap, saya semakin tertegun. Modern sekali RSUD Koja ini. Malah, bagi saya, lebih baik dari sejumlah Rumah Sakit Swasta di wilayah Sunter yang pernah saya datangi untuk membesuk teman.

Koridor terlihat terawat. Pintu-pintu ke kamar sangat bagus. Ruang perawat dan lobby lantai 12 sangat bagus. Sekali lagi tidak kalah dengan rumah sakit swasta. Saya pernah ke menjenguk sahabat di salah satu rumah sakit swasta, tapi maaf saja, kalah dengan RSUD Koja ini.

Ketika saya masuk ke kamar tempat Petugas PPSU dirawat, ternyata petugas PPSU tersebut masih dioperasi. Kebetulan deh, saya bisa leluasa melihat kamar rawat inap. Ini kesempatan yang super langka. Besuk ke RSUD, bisa leluasa foto karena pas jam berkunjung juga. Jadi sedang ramai dan tidak diawasi satpam.

To be honest, atau jujur saja, fasilitas di kamar rawat inap, maaf saya mau katakan berulang-ulang, sangat bagus. Jauh sekali dari kesan RSUD. Ranjangnya yang sudah modern, tidak kalah dengan Rumah Sakit Swasta. Terkagum-kagum saya. Dalam hati saya mengatakan, ini RSUD?
Untuk kamar Kelas III, dengan enam ranjang dalam satu kamar, sangat bagus. Setiap ranjang ada tirainya. Tirai juga terawat dan bersih.

Saya menyempatkan diri menengok kamar mandi yang ada di kamar. Bagus benar kamar mandinya. Bukan hanya bagus, bersih juga.


Saya bukan hanya mengambil foto satu kamar saja. Tapi ada kamar lainnya yang terlihat berjejer ranjangnya. Di setiap pintu kamar, di sebelahnya, ada hand sanitizer atau pembersih tangan. Hal seperti ini begitu diperhatikan.

Bahkan, saya melihat untuk yang menjaga pasien, atau menunggu pasien, ada kartu khusus tunggu pasien. Setiap penunggu pasien wajib mengenakan kartu ini. Untuk mendapatkannya, harus memberikan KTP kepada satpam. Ketat ya!


Usai foto-foto, saya menyempatkan diri berbincang dengan salah satu pasien. Tidak lama kemudian, petugas PPSU yang mengalami kecelakaan sudah selesai dioperasi. Selesai sudah foto-foto saya dan liputan saya untuk RSUD Koja.

Sebuah kesempatan langka. Jenguk sekalian liputan.

read more
Cerita

Kali Kresek Lagoa Kanal yang Kini Lebih Bersih

Kali-Kresek-Lagoa (1)

Selasa Malam, 14 Maret lalu, saya tiba-tiba dihubungi oleh salah seorang teman saya, Bang Jhon. Jarang-jarang sekali bang Jhon menghubungi saya malam-malam, kalau tidak ada liputan yang penting.

Dan memang benar, bang Jhon menghubungi saya karena ada liputan penertiban di Lagoa Kanal, Kelurahan  Lagoa, Koja, Jakarta Utara. Penertiban Bangunan Liar di bantaran kali Kresek (atau Kali Sunter) di Lagoa, RW 04 dan RW 07 hari Rabu Pagi.

Hari Rabu pagi, masih pagi-pagi sekali, saya sudah dihubungi kembali oleh Bang Jhon. Tapi karena posisi masih kurang enak badan, saya baru ke lokasi, sekitar jam 10.00 pagi.

Sampai di lokasi, penertiban sudah hampir selesai. Prosedur tetap saya jalankan. Mencari data soal penertiban yang pasti.

Rupa-rupanya, penertiban ini, selain karena bangunan di bantaran kali memang dilarang, rupanya juga untuk pengerukan kali Kresek. Dua alat berat, meskin beko (back hoe) tengah beroperasi mengeruk kali. Saya melihat lumpur dikeruk dari dasar kali.

Tapi, perhatian saya lebih tertuju ke keadaan kali. Saya berjalan kurang lebih 200 meter, yang saya lihat adalah kali yang semakin bersih. Airnya memang masih berwarna hitam, tapi yang saya lihat sampah sudah jauh berkurang. Bahkan hampir tidak ada sampahnya.

Pemantauan kali Kresek atau Kali Sunter di RW 04 dan RW 07 Kelurahan Lagoa Koja ini, saya lakukan sampai ke jembatan sebelah Depo Pertamina Koja atau sudah masuk Jalan Raya Cilincing.

Di Jembatan juga kali terlihat bersih. Tidak banyak sampah yang menumpuk. Dan sekali lagi, bahkan hampir tidak ada sampah. Biasanya kan sampah ini menumpuk di bawah jembatan. Tapi yang saya lihat tidak.

Hasil keruk yang dilakukan oleh dua alat berat berupa lumpur yang saya perhatikan adalah, sampah tidak banyak. Berarti Kali ini memang sudah lebih bersih. Setidaknya sampah jauh berkurang.

Tidak hanya itu, bau tidak sedap dari kali sepanjang hari itu tidak tercium oleh saya. Saya bahkan berdiri tepat di pinggir Kali, tapi sama sekali tidak ada bau tak sedap yang tercium.

Semoga saja kali ini terus terjaga kebersihannya, karena sudah dekat dengan muara di Teluk Jakarta.

read more
Cerita

Cerita dari RPTRA : Bisa Beli Sembako Murah di RPTRA

IMG_20170316_143253

Di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, yang kerap kita jumpai adalah sarana bermain anak, lapangan olahraga baik sepakbola maupun bulutangkis, ruang laktasi, ruang atau aula serbaguna dan fasilitas lainnya.

Sebenarnya, ada satu fasilitas lagi di RPTRA.Namanya adalah PKK Mart atau ada yang bilang juga dengan PKK Grossmart. Nah apakah sebenarnya PKK Grossmart atau PKK Mart ini?

Sebenarnya, PKK Mart ini, adalah sarana untuk berjualan di RPTRA. Yang bisa dijual bermacam-macam. Dari kudapan, makanan ringan, minuman ringan hingga hasil kerajinan dari ibu-ibu PKK.

Namun dari beberapa kali kunjungan saya ke sejumlah RPTRA, fasilitas ini sepertinya kurang berjalan, meskipun di beberapa RPTRA sudah ada barang yang dijual.

Sewaktu saya berkunjung ke RPTRA Sungai Bambu Kamis 16 Maret 2017 atau siang tadi, ketika berbincang dengan ibu Tumiyanti salah satu pengelola RPTRA Sungai Bambu, ibu ini mengatakan kepada saya bahwa sudah ada yang berbeda dengan PKK Grossmart di RPTRA Sungai Bambu.

Saya yang panasaran kemudian melihat Grossmart yang ditunjukin oleh Bu Tumiyanti. PKK Grossmart ini menyatu dengan ruang pengelola dan perpustakaan di RPTRA Sungai Bambu. Kalau di RPTRA Lain, PKK Grossmart ini terpisah ruangannya. Semacam ada sekat lah gitu.

Bu Tum, memamerkan kepada saya sejumlah sembako yang dijual. Sembako yang dijual tersebut gula pasir, minyak goreng dan beras. Bu Tum ketika memamerkan kepada saya, mengatakan harga sembako yang dijual tersebut lebih murah dibanding yang dijual di mini market yang banyak bertebaran. (Tidak perlu saya sebutkan merknya kan?)

Sekilo gula pasir premium yang dijual di RPTRA Sungai Bambu, harganya hanya Rp 14.700. Beras lima kilo, harganya 60.000. Begitupun minyak goreng 1,8 liter hanya 23.500.

Karena harga yang cenderung lebih murah, bahkan ada beberapa stok barang mulai menipis. Karena menipis, Bu Tum kemudian menunjukkan kepada saya bahwa untuk memesan stok sembako tersebut, tidak perlu repot. Hanya lewat internet.

Bu Tum kemudian mengambil gadget berupa tablet, dan menunjukkan kepada saya, cara memesan. Aplikasinya berupa web. Setiap RPTRA ada username dan password untuk login.

Setelah login, saya lihat Bu Tum menginput pesanan stok barang yang sudah menipis dan hampir habis.

“Setelah diinput nanti akan dikirim oleh Pusat Pengelola PKK Mart”

“Wah Simpel banget ya Bu Tum”

Selain sembako tersebut, Bu Tum juga menunjukkan kepada saya sejumlah minuman ringan dan kudapan dan makanan ringan yang dijual.

Di kaca ruang pengelola, perhatian saya kemudian tertuju ke daftar harga sembako yang dijual. Ini baik menurut saya, karena konsumen diberikan informasi.

Selain itu juga, pembeli yang tidak membawa uang tunai, bisa membelinya dengan menggunakan debit atm Bank DKI. Wah berarti pemegang KJP bisa beli sembako murah ini.

Saya juga sempat berpesan kepada ibu Tum agar jangan sampai ada spekulan yang memborong sembako murah ini dan menjualnya lebih mahal kepada warga. Bu TUm sudah paham soal ini.

Selesai ke RPTRA Sungai Bambu, Kamis malam, saya ke salah satu mini market. Panasaran untuk membandingkan harga. Dan ternyata untuk produk serupa (beda merk), harga lebih mahal. Gula Pasir Premium di angka lebih dari 16.000.Untuk minyak goreng di kisaran lebih dari 25.000. Beras lima kilogram juga lebih dari 60.000.

Memang benar sembako di RPTRA ini murah. Dan semoga PKK Grossmart di RPTRA yang lain sudah menjual barang dengan harga yang sama.

read more
Cerita

Cerita dari RPTRA : Ibu-ibu Ini Belajar Merajut di RPTRA Sungai Bambu

PelatihanRajutanRPTRASungaiBambu (4)

Sekira dua bulan lalu, saya yang sedang mempersiapkan acara nonton bareng film anak-anak di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau RPTRA, mendatangi RPTRA Sungai Bambu. Sudah pasti untuk persiapan acara nonton bareng.

Seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya (bacirita.id), waktu itu ada kurang lebih 30 ibu-ibu sedang belajar atau ikut pelatihan membuat kue dan roti. Pelatihan tersebut merupakan pelatihan terakhir setelah selama empat bulan (sekali dalam sebulan) mereka belajar membuat kue.

Dua bulan berselang, saya yang biasanya suka lewat depan RPTRA Sungai Bambu, tiba-tiba melihat di RPTRA tersebut sedang ramai. Ibu-ibu sedang berkumpul. Ada apakah gerangan? Kalau pelatihan membuat kue kok tidak ada kompor dan oven.

Usai memarkir sepeda motor, saya kemudian langsung menuju ke dalam RPTRA. Setelah melihat spanduk yang dipasang, ternyata, ibu-ibu sedang ikut pelatihan merajut dasar. Bukan merajut cinta merenda kasih yang jelas.


Sejenak saya mengambil foto. Dan usai mengambil foto saya menuju ke ruang pengelola RPTRA. Mau nanya-nanya. Untuk liputan blog saya dong pastinya.

Tapi niat saya untuk tanya-tanya sedikit tertunda. Sama salah seorang pengelola, saya diajak untuk memanen kangkung. (lihat di blog saya sebelumnya ya).

Usai memanen kangkung, saya kemudian bertanya-tanya ke pengelola RPTRA. Tapi di dalam ruang pengelola saya bertemu dengan dua orang staff kantor pengelola jalan tol lingkar dalam atau tol dalam kota Jakarta. Rupanya ini bagian dari CSR mereka.

“Ada 100 orang ibu-ibu yang ikut pelatihan ini mas”

“Dari mana saja ibu-ibu ini?”

“Dari Dua kecamatan. Tanjung Priok dan Pademangan”

Begitu bincang-bincang saya dengan Mas Fahrizal, yang merupakan staff dari pengelola jalan tol dalam kota Jakarta. Mas Fahrizal menjelaskan, kantornya menyiapkan Benang dan Jarum atau alat rajut. Untuk instrukturnya mereka membayar tenaga ahli.

Saya pun berbincang dengan ibu yang setelah saya tanya namanya adalah Ari Asih Pratiwi. Saya ingin bertanya apa materi yang diberikan kepada ibu-ibu ini.

“Mereka diajari merajut dasar dengan membuat dompet atau tas kecil”

Wah, mantap juga ya. Ibu Ari menambahkan, kalau sudah diberikan pelatihan seperti ini, nantinya ibu-ibu ini bisa sembari iseng daripada bengong di rumah, bisa membuat rajutan. Satu saat mereka bisa membuat baju atau tas yang lebih besar.

Mas Fahrizal menambahkan, pelatihan ini dilakukan sehari saja. Setelah pelatihan, para ibu-ibu diberikan angket atau kuisioner. Nantinya dari kuisioner atau angket ini, bisa diketahui apakah perlu dilakukan pelatihan lanjutan.

Usai berbincang dengan Mas Fahrizal dan Ibu Ari Asih, saya kembali ke ruang serbaguna RPTRA. Mau melihat hasil rajutan dari ibu-ibu PKK ini. Kebetulan salah seorang ibu (yang saya tidak tanya namanya) sudah menyelesaikan rajutannya berbentuk dompet.


Selesai mengambil foto, saya harus kembali ke tempat saya sehari-hari mengedit berita dan menulis blog. Dalam hati saya berharap, semoga ibu-ibu ini bisa memanfaatkan pelatihan yang didapat ini untuk menambah pendapatan keluarga.

read more
CeritaFeatured

Cerita dari RPTRA : Ikutan Panen Kangkung di RPTRA Sungai Bambu

PanenKangkungRPTRASungaiBambu (3)

Kira-kira dua bulan lalu, pertengahan Januari 2017, saya menuliskan bahwa di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Sungai Bambu, ada tanaman Jahe Merah.

Tapi ternyata, tidak hanya jahe merah saja sebenarnya yang ditanam di RPTRA Sungai Bambu ini. Ceritanya begini.

Seperti biasanya, saya kalau ke Sunter atau Kelapa Gading dan balik dari arah yang sama, saya suka melewati jalan “belakang” yang tidak macet.

Nah jalurnya ini melewati RPTRA Sungai Bambu yang dibangun di kolong tol dalam kota Jakarta, tepatnya di Kelurahan Sungai Bambu.

Kebetulan, saya dari wilayah Sunter dan ingin kembali ke kosan saya di Tanjung Priok. Ketika melewati RPTRA Sungai Bambu, saya lihat ada ibu-ibu sedang ramai di ruang serbaguna.

Saya pun langsung memarkirkan sepeda motor di depan RPTRA Sungai Bambu. Memang betul ada ibu-ibu yang sedang acara pelatihan. Pelatihannya apa? Saya tulis di blog saya yang lainnya saja ya….

Setelah melihat aktifitas ibu-ibu di RPTRA ini, saya kemudian menuju ke ruang pengelola RPTRA. Mau bertanya-tanya soal kegiatan ini pastinya. Tapi ketika baru mau masuk ke ruang pengelola, saya bertemu ibu Tumiyanti.

Karena saya sudah dikenal sama ibu Tum, saya diajak ibu Tum untuk panen kangung.

“Ayo panen kangkung di belakang RPTRA”

“Wah ada kangkung yang ditanam ya bu”

“Iya.. ayo kita panen”

saya, ibu Tum, dan anaknya ibu Tum (panggilan ibu Tumiyanti) kemudian bergegas ke lokasi penanaman kangkung.

Lokasinya berada di belakang RPTRA, sebelah lapangan sepakbola. Saya lihat, pengelola RPTRA Sungai Bambu yang lain (aduh ibu siapa saya lupa namanya) sedang memanen kangkung.

Ada empat bedeng kangkung. Ukurannya setengah meter lebar dan panjang dua meter. Tidak bisa saya hitung jumlah kangkung yang ada di bedeng tersebut.

Yang belum dipanen tinggal tiga bedeng. Yang satu bedeng lagi sudah dipanen bersama ketua Tim Penggerak PKK Jakarta Utara bu Ani Wahyu Haryadi.

Saya pun dengan senang hati ikut memanen. Mencabuti kangkung yang ditanam. Beruntung tidak becek, dan saya sedang pakai sandal. Jadi tidak perlu khawatir akan kotor.

Kira-kira 10 menit, saya dan ibu Tum selesai panen. Tidak lupa saya foto-foto dong. Kan buat di blog dan di twitter.

Bu Tum bahkan sempat menawari saya apakah kangkung yang saya panen mau dibawa pulang untuk dimasak. Lah bawa pulang? Dimasak? Mungkin bu Tum pikir saya bukan nge-kos.

“Nggak usah bu, saya ngekos, tidak bisa masak. Mendingan kangkungnya dijual dan uangnya bisa buat kas RPTRA,”

Mungkin yang kami panen siang itu, ada sekitar 10 ikat. Kangkung tidak dipanen semua, tapi masih ada sisanya. Mungkin akan dipanen lagi besok atau hari lainnya.

Seusai panen saya masih berbetah-betah di RPTRA. Masih mau melihat ibu-ibu yang sedang ikut pelatihan merajut. Setelah blog ini, saya akan tuliskan juga ya soal pelatihan tersebut.

read more
Cerita

Bertemu dan Selfie dengan Pak Djarot

wp-1486903293945.jpg

Sebagai seoerang pendukung Ahok (dan juga Djarot) untuk kembali memimpin (atau menjadi pelayan) DKI Jakarta, berfoto dengan pak Ahok itu sudah beberapa kali saya lakukan. Begitu juga dengan bertemu pak Ahok, tanpa berfoto bersama beliau.

Namun, bertemu dengan Pak Djarot langsung, apalagi berfoto dengan beliau, jujur saja, sangat jarang. Sesekalinya saya bertemu pak Djarot, ketika beliau tiba di Rumah Lembang. Ketika itu saya memang meliput untuk blog saya.

Ketika melihat pak Djarot datang, saya hendak berfoto dengan beliau. Tapi, kalah sama emak-emak atau ibu-ibu yang memang ingin berfoto dengan beliau. Dari pada ribet, sudahlah, saya mengalah saja.

Kesempatan untuk bertemu dengan pak Djarot Saiful Hidayat, akhirnya saya dapatkan setelah Pak Djarot (dan juga Ahok), selesai cuti kampanye selama kurang lebih 3,5 bulan. Dynamic Duo ini kembali aktif menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur 11 Februari 2017 lalu.

Setelah kembali aktif menjadi Wakil Gubernur, saya mendapatkan informasi, pak Djarot akan mengunjungi Kantor Walikota Jakarta Utara. Saya yang sehari-hari meliput di sana, pasti ingin datang.

Minggu 12 Februari, pak Djarot dijadwalkan datang di Kantor Walikota Jakarta Utara. Semua pejabat sudah menunggu beliau. Saya waktu itu menunggu beliau di Lobby Kantor Walikota Jakarta Utara.

Dan akhirnya pak Djarot tiba. Tidak ada protokol ribet ketika beliau turun dari mobil. Turun dari mobil, langsung menyalami Walikota Jakarta Utara, Pak Wahyu Haryadi dan pejabat lainnya yang menunggu.

First Impress? Atau Kesan Pertama saya ke beliau adalah, humble. Beliau ini santai banget. Ucapan Assalamualaikum terucap dari mulut pak Djarot. Setelah itu beliau naik ke Lantai 2.

Karena hari sudah siang, pak Djarot makan siang di Ruang Fatahillah. Bersama dengans sejumlah pejabat. Karena ini acara santai, ada acara nyanyi-nyanyinya. Disinilah saya terkesan sekali dengan pak Djarot.

Sebagai Wakil Gubernur aktif, tidak ada kesan pejabat tinggi ke Beliau. Beliau ketika diundang untuk menyanyi, nggak pake ribet. Langsung menuju ke tempat menyanyi.

Beliau dengan ceria, dan lucu. Beliau memilih menyanyikan lagu “Yang Penting Happy”. Mengapa beliau memilih lagu ini, karena istrinya bernama Happy. Karena istrinya bernama Happy, pak Djarot bilang dia selalu berbahagia alias Happy. Makin terkesan deh saya.

Ketika menyanyi, bahkan Pak Djarot dengan santainya sempat mengajak beberapa pejabat ikut menyanyi. Caranya, pak Djarot menghampiri pejabat tersebut, menyodorkan Mikrofon . Terlihat akrab sekali beliau ini dengan pejabat di DKI Jakarta.

Usai menyanyi, Pak Djarot mengajak semua pejabat untuk berkumpul di Ruang Pola Kantor Walikota Jakarta Utara. Hari itu memang ada pengarahan dari Pak Djarot.

Selesai menyanyi ini, ketika semua Pejabat sudah beranjak menuju ke ruang pola, saya melihat Pak Djarot sedang foto-foto dengan pemain organ dan kru penyanyi.Saya menghampiri beliau untuk ajak selfie.

Tanpa ribet, dan beruntung tidak berebutan, akhirnya saya bisa selfie dengan Pak Djarot. Beliau tersenyum ceria ketika selfie dengan saya. Oh betapa beruntungnya saya.

Selesai selfie, saya menuju ke Ruang Pola. Pak Djarot sedang memberikan arahan ke Pejabat. Dan akhirnya, saya pun ikut mendengarkan arahan beliau, Kepentingannya adalah liputan.

Ketika memberikan arahan, banyak candaan beliau. Beliau memberikan arahan sembari berseloroh. Mirip dengan pak AHok yang kalau berpidato suka melucu.

Hingga selesai berpidato dan pulang, saya mendapat kesan. Pak Djarot ini memang asyik orangnya. Humble alias rendah diri. Saya memang tidak salah memberikan dukungan. Hehehehe

read more
CeritaFeatured

Wah! Ada Hutan Sekolah di SMA Negeri 110

Hutan Sekolah SMAN 110 (5)

 

Hari Minggu, bagi hampir semua orang, merupakan akhir pekan.Akhir pekan biasanya dimanfaatkan untuk berjalan-jalan dengan keluarga atau aktifitas liburan lainnya.

Tapi, lain bagi saya. Hari Minggu pagi hingga siang, biasanya saya berkeliling wilayah. Entah meliput warga yang melakukan kerja bakti, atau blusukan keliling ke fasilitas publik seperti RPTRA dan lainnya.

Hari minggu 12 Maret, setelah saya ke Kelapa Gading, saya menuju ke Koja. Setelah berkeiling di Koja, saya dan dua orang teman, menuju ke Sekolah Menengah Atas Negeri 110.

Ada apa di sana? Sebenarnya kami hanya ingin bertemu dengan Lurah Tugu Selatan, pak Tulus SIlalahi. Ada kegiatan bersih-bersih di sekitar sekolah. Dan memang benar ada kegiatan bersih-bersih di sana.

Pak Lurah dan pasukan PPSU, saya temui di sampin SMPN 136 yang letaknya bersebelahan dengan SMAN 110. Pak Lurah kemudian mengajak kami ke SMAN 110.

Ketika masuk gerbang SMAN 110, saya melihat sebuah halaman yang luas dengan banyak pohon yang meski belum tumbuh tinggi, tapi jumlahnya banyak. Saya pun hanya melewatinya.

Saya berpikir, nanti setelah kembali saja baru mengambil foto. Setelah tiba di dalam kompleks sekolah, kami menuju ke ruang aula sekolah. Rupanya sudah berkumpul sejumlah pejabat kelurahan dan juga Kepala Sekolah atau Kepsek SMAN 110.

Ketika bertemu dengan Kepsek, saya akhirnya mengetahui bahwa yang banyak pohon di dekat gerbang sekolah tersebut adalah Hutan Sekolah. Wah!

Kepsek SMAN 110, Bu Romlah kemudian bercerita kepada saya. Hutan sekolah tersebut luasnya kurang lebih 880 meter persegi.Lumayan luas ternyata. Hutan sekolah ini sudah ada semenjak tahun 2015 lalu. Atau sudah kurang lebih dua tahun.

“Pohon apa saja yang ditanam bu?”

“Untuk awalnya, ada 40 pohon yang ditanam”

“Pohon apa saja bu?”

Bu Romlah menjelaskan, Pohon yang ditanam tersebut adalah pohon yang masuk kategori pohon spesies yang langka seperti Buah Buni, Kesemek, Matoa, Kecapi dan Gamblang.

Kehadiran hutan sekolah ini, lanjut Bu Romlah, selain untuk memberikan pengetahuan kepada siswa, juga untuk menjadi paru-paru Kota.

“Pembuatan Hutan Sekolah ini dibangun dengan menggunakan CSR sebuah perusahaan otomotif”

“Wah keren juga bu ya, dibantu CSR”

Bu Romlah lanjut bercerita, Bulan November Tahun 2016 lalu, pohon di Hutan Sekolah SMAN 110 bertambah 30 pohon. Jenis pohon yang ditanam adalah Pohon Nyamplung dan Ledah.

“Yang menanam adalah Bapak Walikota Jakarta Utara dan sejumlah pejabat lainnya”

Pohon Nyamplun ini juga, menurut Bu Romlah merupakan pohon yang langka dan juga merupakan pohon khas Jakarta Utara dan merupakan lambang Jakarta Utara. Wah-wah, Hutan Kota menjadi pusat konservasi pohon juga ya, gumam saya dalam hati.

Setelah berbincang dengan Bu Romlah, dan meliput aktifitas bersih-bersih, saya kemudian pamit untuk kembali ke kosan.

Saya dan teman, mampir untuk mengambil foto Hutan Sekolah. Ketika mengambil foto hutan sekolah, saya melihat ada tanaman hidroponik.Yang ditanam adalah sayur sawi.

Di Hutan Sekolah saya melihat ada kolam ikan. Bu Romlah tadi sempat bercerita bahwa di kolam ikan tersebut dipelihara beberapa jenis ikan seperti ikan nila dan ikan mas.

Semoga pohon di hutan sekolah ini bisa tumbuh menjadi besar dan terus terawat!

Oh iya, karena adanya hutan sekolah ini, tahun 2016 lalu SMAN 110 mendapatkan penghargaan sekolah Adiwiyata yang diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya. Selamat ya!

read more
1 27 28 29 30 31 43
Page 29 of 43