close

Makang Sadap

FeaturedMakang Sadap

Gado-gado Depan Mitra Praja yang Masih Enak

Gado2 Dpn Mitra Praja (3)

Soal makanan favorit saya, selain nasi pecel (yang beneran ada pecelnya), bisa dibilang saya juga gemar menyantap gado-gado. Makanan yang khas Indonesia ini, yang jual mulai dari kaki lima hingga restoran dan di foodcourt mall.

Tapi, kalau soal penjual gado-gado, saya tetap suka menyantap gado-gado versi abang-abang atau versi Pedagang Kaki Lima (PKL).

Semenjak tahun 2004 lalu, ketika saya mulai beraktifitas di Kepulauan Seribu, saya sering bolak-balik ke depan Gedung Mitra Praja, Jalan Sunter Permai 1, Sunter Agung di Jakarta Utara.

Di Depan Gedung Mitra Praja ini, ada bapak-bapak yang tidak pernah saya tanya namanya, yang menjual gado-gado enak.

Secara kebetulan, Kamis 8 Desember ini, saya yang habis berpetualang blusukan melihat pedestrian di Tanjung Priok, menuju ke Sunter. Saya ingin main-main ke Mitra Praja. Ketika saya melintas di depan atau seberang Mitra Praja, saya tiba-tiba pengen makan gado-gado ini.

AKhirnya, saya pun berhenti di lapak Gado-gado yang sudah jadi langganan saya sejak tahun 2004 ini. Karena waktu masih 11.28, belum terlalu ramai, jadi tidak perlu antri lama untuk memesan gado-gado.

Setelah memesan, kurang lebih lima menit tersajilah gado-gado pesanan saya. Bumbu kacang gado-gado memang adalah kunci, dan bumbu kacang gado-gado bapak ini, masih enak.

Sayuran, tahu, tempe, pare dan bagan lainnya di gado-gadonya juga fresh. Ini yang saya suka dari bapak ini. Sayuran dan bumbu kacangnya mantap benar.

Bumbu kacangnya begitu menggoyang lidah. Tidak hambar. Biasanya gado-gado abang-abang suka ada yang bumbu kacang bisa dikatakan tidak ada rasanya alias hambar. Tapi gado-gado langganan saya ini memang mantap punya.

Harganya juga tidak mahal. Lengkap dengan nasinya, saya hanya membayar 15.000 plus dengan minuman es teh tawar. Kita juga bisa memesan gado-gado dengan lontong ataupun hanya gado-gadonya saja.

Kalau jam makan siang, yang memesan untuk bungkus banyak sekali. Begitu juga yang makan di tempat, sampai antri. Terkadang jam 13an gado-gado bapak ini sudah ludes terjual.

Mau mencobanya?

read more
Makang Sadap

Kwee Tiaw Goreng Mas Subur Ternyata Enak Juga

img_4660

Setelah mencicipi mie goreng dan nasi goreng bang Subur di Jalan Swadaya, Kebon Bawang, Tanjung Priok, entah kenapa saya masih kepengen makan lagi masakan bang Subur ini.Sepulang dari Kantor saya ke Walang Futsal. Janjian ketemu dengan orang di situ. Ketemu teman-teman.

Setelah urusan selesai, saya meluncur ke Kelapa Gading. Muter-muter di Kelapa Gading, entah kenapa yang terbayangkan adalah Nasi Goreng Subur ini.
Setelah muter-muter nggak jelas, akhirnya memutuskan kembali ke Kosan. Mau makan nasi goreng juga sekalian. Saya pun meluncur dengan motor pinjaman pak Darso.

Sampai di warung makan bang Subur, karena sudah tiga hari makan berturut-turut, pas parkir motor dan buka helm mas Subur langsung tanya.

“Pesan Nasi Goreng?”

Saya pun menanyakan,

“Ada kwee tiaw?”

“Ada”

“Oke saya pesan Kwee Tiaw Goreng, nggak pedas dan tanpa telur”

Kurang lebih 5 menitan, Kwee Tiaw sudah tersaji. Berhubung perut sudah pengen diisi, saya langsung tancap gas menyantap Kwee Tiaw Goreng.

Wah, ternyata enak. Kecap berasa enak, bumbu nya juga berasa enak. Tidak hanya nasi goreng dan mie goreng bang subur yang enak. Kwee Tiaw Gorengnya juga enaak. Waduuuh!

Karena enak, tak terasa makanan cepat habis.

Kwee Tiaw Bang Subur ini ada irisan sayuran kol dan sawi, plus ada daging dan baksonya. Top memang. Dia konsisten memasak enak.

Selesai makan, saya membayar. Harga juga ternyata sama. 10.000 Rupiah saja.

Berikutnya saya akan coba mie godog. Lah bukannya seperti di blog sebelumnya, saya pengen mie rebus? Wah itu buat besok saja deh.

read more
Makang Sadap

Nasi Goreng Mas Subur yang Enak

img_4652

Lapak NSemenjak ngekos di Swasembada Timur, Kebon Bawang, Tanjung Priok, saya setiap pulang kerja, tentunya mencari makan yang tidak jauh dari kosan saya. Itu sudah menjadi prosedur tetap.Kebetulan memang, di sekitaran tempat kos saya, banyak warteg, penjual mie instan, ketoprak hingga abang-abang penjual nasi goreng. Di Jalan Swadaya memang bertebaran penjaja makanan.

Tapi, ini kejadian unik. Ada satu tempat makan nasi goreng, yang sering saya lewati. Saya dari kos, beberapa kali makan warteg dan makan nasi goreng abang-abang di jalan bugis seperti yang saya ceritakan di food blog saya yang sebelumnya.

Nah karena penjual nasi goreng ini saya lewati cenderung sepi, ya saya menganggap nasi goreng atau mie goreng yang dijualnya kurang enak. Kan biasanya begitu.

Hingga akhirnya, saya kemudian pengen beli nasi goreng di tempat saya biasanya beli, tapi kebetulan dia nggak jualan. Saya beranjak menuju ke warteg, tapi tiba-tiba saya malas makan warteg.

Saha akhirnya berniat untuk makan nasi goreng. Saya akhirnya menuju ke tempat nasi goreng yang sering saya liwati ini. Nasi goreng mas subur. Dia berdagang bukan gerobak atau tenda kaki lima gitu. Dia jualan di rumah, yang bagian depannya menjadi tempat makan.

Tempat memasaknya, di teras depan. Saya yang awalnya niatnya makan nasi goreng, berubah pikiran pengen makan mie goreng. Jadi saya pesan mie goreng. Bang Subur kemudian saya lihat merebus mie.

Jah ini yang sudah jarang terjadi. Dia masihnpakai mie telur. Biasanya sudah memakai mie instan seperti mie sedap atau indomie.

Tak berselang lama, pesanan saya datang. Tampilan mie gorengnya enak. Pas disantap, ternyata enak. Bumbu mie goreng begitu terasa. Tidak hambar. Saya menyesal. Kenapa nggak makan dari kemarin-kemarin di situ.

Setelah makan mie goreng di hari pertama, hari berikutnya saya mencoba nasi goreng. Dan ternyata enak juga. Nasi dan Mie Goreng bang Subur ini ada bakso dan suiran daging juga. Top dah rasanya.

Hari ketiga, atau hari ketika saya menulis blog ini, saya kembali makan nasi goreng. Konsisten enaknya. Tidak hambar seperti nasi goreng biasanya.

Harganya juga murah. Tanpa telur, saya hanya membayar 10.000 saja, baik untuk nasi goreng maupun mie goreng. Untuk berikutnya, saya akan mencoba menyantap mie godog atau mie rebus.

Oh iya, pas saya tanya, Mas Subur ini berasal dari Tegal. Ah enak juga masakan nasi goreng orang Tegal.

 

read more
Makang Sadap

Jus Buah Murah di Mall of Indonesia

jus-murah-1

Suka jalan-jalan ke Mall? Pastilah kita pernah ke mall kalau tidak bisa dibilang sering ke mall. Ke mall ngapain? Bukan hanya sekedar cuci mata atau window shopping aja kan?

Pasti kita ke mall akan jajan atau membeli sesuatu. Setidaknya makanan atau minuman. Tapi biasanya harga makanan atau minuman di mall, ya diatas yang di warung atau convenience store semacam alfamart atau indomaret.

Semisal juice atau jus buah. Kalau kita makan di resto yang ada di mall, harganya lumayan tinggi. Bisa diatas 15 ribu atau 20 ribu malah.

Tapi ini berbeda. Di Mall of Indonesia, selanjutnya saya bilang MoI, supaya lebih mudah ngetiknya, ada penjual jus murah. Di mana? Di lantai LG dekat carrefour.

Ada tiga penjual jus buah murah di depan Carrefour di kios-kios yang ada. Tapi ketika saya membeli jus Jumat 7 Oktober, tinggal dua penjual jus buah saja. Yang satu sudah tutup.

Soal harga, bisa saya katakan bahwa jus di kios-kios di mall ini murah. Harganya 8 ribu hingga 12 ribu rupiah. Tergantung buahnya. KalauĀ  buah impor biasanya 10 ribu. Kalau buah lokal hanya 8000. 12 ribu itu jus mix atau campuran buah.

Hari ini kebetulan saya beli jus alpukat. Kalau biasanya saya beli 10 ribu satu gelas berukuran sedang, hari ini saya membayar 12 ribu. Mungkin karena alpukat lagi mahal.

Membayar 12 ribu untuk jus alpukat, bagi saya masih murah. Kenapa? Jusnya masih kental. Biasanya jus di mall encer alias kebanyakan air. Nah jus di MoI ini kental lho. Susunya juga banyak.

Bukan hanya sekali sih sebenarnya saya beli jus di penjual jus depan Carrefour ini. Saya pernah beli jus kiwi, mangga, hingga jambu. Bukan di satu kios aja, tapi di kios yang lain juga.

Mau mencoba membeli? sering lho yang beli jus di sini sampai antri. Hehe

read more
Makang Sadap

Lapak Nasi Goreng Enak di Jalan Bugis Tanjung Priok

nasgor-pandawa-1

Di antara kita, pastilah pernah menyantap nasi goreng abang-abang, nasi goreng gerobak, nasi goreng tek-tek. Singkatnya, nasi goreng kaki lima.

Sebagai orang Indonesia, nasi goreng ini merupakan salah satu makanan favorit saya. Sangat mudah ditemukan penjualnya, dari kaki lima sampai yang mewah di restoran mahal.

Saya ini suka berpetualang mencari nasi goreng, yang terkadang di dekat tempat tinggal saya, ataupun dimana tempat saya pergi.

Dan kali ini “Petualangan” saya mencari nasi goreng ini, tertuju ke sebuah “lapak” nasi goreng di Jalan Bugis, Kebon Bawang Tanjung Priok, Jakarta Utara. Lapak Nasi Goreng Pandawa.

Lapak penjual nasi goreng ini sedikit berbeda. Kalau lapak nasi goreng biasanya “open air” atau terbuka tanpa atap, yang hanya ditutup kalau hujan datang, yang ini sedikit berbeda.

LapakĀ  Nasi Goreng ini, lapak tenda seperti tenda pecel lele, yang bahkan ada kain poster besar, ya seperti pecel lele atau lapak makanan kaki lima lainnya.

Oke itu dari sisi lapaknya.

Karena saya memang niatnya memesan nasi goreng, saya kemudian memesan nasi goreng. Si Abang yang memasak, gondrong, langsung memasak nasi goreng.

Kalau dari yang saya lihat, nasi goreng sudah dimasak terlebih dahulu nasinya. Dia hanya tinggal memasak kembali dan menambahkan daging ayam.

Yes! Ada daging ayamnya. Biasanya kan nasi goreng abang-abang, atau nasi goreng gerobak, tidak mencampur daging ayam yang disuir-suir. Tapi di Nasi Goreng Pandawa ini ada.

Selesai dimasak (saya request tidak pakai telur), nasi goreng tersaji. Piringnya pun tidak seperti piring awam di abang-abang penjual nasi goreng. Lebih bagus piringnya.

Ketika saya menyantap, wah ternyata nasi goreng ini spicy. Terasa bumbunya. Tidak tawar, seperti nasi goreng abang-abang pada umumnya. Hohohohoho.

Nasi goreng abang ini memang enak. Tidak terasa satu piring sudah saya habiskan.

Harga nasi goreng juga masih standard. Karena tidak pakai telur, saya menebusnya dengan harga 10.000 saja. Mungkin kalau pakai telur di sekitar 12.000.

Saya memang tidak tanya ke abangnya kalau harga pakai telur berapa.

Beberapa hari setelah saya memakan nasi goreng di tempat ini, saya sempat kembali dan memesan mie goreng. Dan mie gorengnya enak. Saya tidak sempat mengambil gambar mie gorengnya, karena saya tidak membawa gadget ketika kembali makan di sini.

Tapi, bakmi goreng di sini, tidak seperti abang-abang lainnya yang memakai mi instan. Mie gorengnya masih memakai mie telur. Dan mie gorengnya juga enak. Terasa bumbunya.

Next time, saya akan mencoba kwee tiaw goreng atau mungkin mie godog atau mie rebusnya. Karena yang dijual di lapak ini, bukan hanya nasi goreng dan bakmi goren saja. Ada kwee tiaw dan juga mie rebus.

read more
FeaturedMakang Sadap

Enaknya Nasi Kuning Cakalang Om Meo di Tanjung Priok

img_4110

Semenjak tahun 2002, ketika pertama kali bertugas di Sinar Harapan, sebagai seorang stiringer, saya sudah bolak balik Jakarta Utara. Maklum saya penugasan liputan di Jakarta Utara.

Namun, tahun 2004 saya sudah berhenti dari Sinar Harapan. Tapi, bukan berarti saya berhenti ke Tanjung Priok. Ada saja job di Jakarta Utara ini.

Tahun 2005, saya masih tetap di Priok. Dan ada sepupu jauh saya mengajak saya makan nasi kuning khas Manado. Di Jalan Bugis. Wah, kalau di Manado saya memang doyan Nasi Kuning.

Tempat makan Nasi Kuning ini, bukanlah resto. Tapi, lapak kaki lima. Nah, yang jualan namanya Om Romeo, disingkat jadi Om Meo.

Selang beberapa tahun, saya sempat tidak makan di Nasi Kuning Cakalang Om Meo ini. Setelah kembali tinggal di Tanjung Priok, di Kebon Bawang, saya mendadak ingat sama Om Meo. Kangen Nasi Kuningnya.

Karena sering makan, akhirnya saya mencari di lokasi lapak kaki lima O Meo ini. Dan ketemu!! Tempat jualannya masih sama. Di Jalan Bugis sebelah Indomaret.

Selepas parkir motor, saya yang sudah craving untuk Nasi Kuning ini langsung masuk dan pesan.

“Makan di sini, nggak pakai telur”

Dan tersajilah nasi kuning cakalang, dengan cakalang suir mirip abon cakalang, dengan bihun goreng. Hmm semakin tidak sabar untuk menyantap.

Nasi Kuning nya ini yang saya suka, tidak berminyak. Berasnya pulen. Pas memang. Ikan Cakalang yang disuir-suir alias dihancurkan saya aduk-aduk dengan nasi kuning. Makin enak rasanya.

Tak terasa sepiring habis saya santap. Dan nambah lagi pastinya. Selesai makan, bayar. Untung 1,5 piring, saya bayar 29.000. Masih murah lah.

Jadi pengen makan lagi. Maklum udah lama nggak makan. Padahal ini langganan makan saya.

img_4109
Lapak Nasi Kuning Cakalang Om Meo
img_4112
Om meo. Sang pemilik lapak
read more
Makang Sadap

Kupat Tahu Enak di Penjaringan

kupat-sayur-1

Hari Minggu memang libur. Dan karena hari Senin 12 September itu Idul Adha, jadi long weekend. Dan yang seperti kalian tahu, orang-orang banyak yang keluar kota, mumpung libur.

Tapi tidak bagi saya. Dengan profesi freelancer seperti saya, nggak ada gaji, ya libur sih udah bukan akhir pekan aja. Begitu juga ketika bekerja, tidak mengenal akhir pekan. Kalau ada kerjaan, tancap gas!

Sama seperti hari Minggu 11 September. Saya ada di kantor walikota Jakarta Utara tempat saya mengupdate web dan blog saya. Saya sudah ada di Kantor Walikota Jakut ini, sudah dari jam 11an.

Setelah update web berita dan blog, saya mengirimkan pesan whatsapp kepada teman saya yang Kanit Intel Polsek Penjaringan. Janji bertemu. Dan setelah ok, saya sekitar jam 15an, ciao alias brangkat dari Kantor Walikota Jakut.

Karena jalanan kosong, tidak butuh waktu lama sampai ke Polsek Penjaringan. Sekitar setengah jam sudah tiba. Saya tidak kencang-kencang mengendarai motor. Sekalian menikmati perjalanan.

Sampai di Polsek Penjaringan, teman saya lagi keluar. AKhirnya saya nyari makan dulu. Suka ada Pedagang Kaki Lima, atau pikulan/ asongan di sebelah Polsek. Saya belum makan sedari siang. Jadi ya perut udah ngirim kode untuk segera diisi.

Dan perhatian saya tertuju ke sebuah dagangan yang dipikul. Tapi lagi ditaruh di jalan. Kasihan yang mikul kalo dipikul terus.

KUPAT TAHU! Yaaay!

Saya kemudian manggil-manggil abang yang jualan. Dia datang. Baru keluar untuk jualan ceritanya. Jadi formasi Kupat Tahunya masih kumplit! Dan yang jelas masih hangat kuahnya.

Saya kemudian memesan satu piring kupat tahu tanpa telur. Karena saya lagi alergi ama telur. Si Abang kemudian memotong-motong ketupat atau kupat dan tahu. Dia kemudian membuka panci kuah. Wangi menebar!!!

Saya semakin tidak sabar untuk menyantap!! Setelah abangnya menaruh kerupuk di piring, hidangan kupat tahu siap disantap.

Yang saya cicip duluan, bukan kupat nya. Kuah makanan ini adalah KOENTJI! Kuah Kupat Tahu ini punya peranan penting.

Pas dicicip, waaaah kuahnya medok, gurih, mantap pas rasanya. FYI aja, kadang-kadang kuah kupat tahu ini suka nggak ada rasanya kalau yang dijual. Tapi kali ini memang enak!

“Bikin sendiri ya bang?”
“Iya Bikin Sendiri”

Saya pun tak segan memuji kuah Kupat Tahu ini.

“Enak bang. Medok banget. Trus kuahnya kental juga”

Karena kuahnya medok, enak dan gurih. Saya santap habis kupat dan tahunya, dan kuahnya saya hajar sampai kering. Enak soalnya.

Pas bayar, karena tidak pakai telur, harganya cuma 7.000. Murah Sob!!

Kata si abang ini, dia biasanya jualan di sebelah polsek Penjaringan. Tapi terkadang juga dia jualan di Taman Waduk Pluit. Wah, jadi pengen makan lagi hohohohooho!!

kupat-sayur-2

read more
Makang Sadap

Kuah Asam dan Kepiting Saos Padang JKC Cafe, Mantap Sedapnya

IMG_3469

Sudah baca blog saya tentang cafe unik JKC di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara? Seperti saya ceritakan di blog tersebut, memang awalnya niat saya dan rombongan Walikota Jakarta Utara, untuk makan siang.

Namun, karena cara penyajian di cafe atau kedai kopi JKC ini unik, memang perhatian saya tertuju ke toples kopi dan cara penyajian kopi.

Ternyata, setelah kopi disajikan, dan roti bakar sudah lumayan mengganjal, tak lama berselang sudah tersedia makan siang, meskipun waktu belum saatnya makan siang.

Di meja, saya melihat yang tersaji masakan seafood seperti Kepiting Telur (bukannya sudah dilarang ya?) dimasak Saos Padang, Udang Saos Padang, Cumi Goreng Tepung dan Ikan Kakap Kuah Asam.

Namanya melihat makanan, dan sudah tersedia, saya dan teman semeja, langsung ambil dan makan. Untuk hidangan pembuka, saya pilih ikan kuah asam. Saya ambil belakangan, setelah teman semeja mengambil. Dan yang saya ambil adalah kepala ikan sekalian kuahnya.

Saya pun langsung menyeruput kuah dengan sendok. Waaaaw… rasanya segar… asam, agak pedas…. pas sekali asamnya. Tidak berlebihan. Begitu juga dengan rasa pedas. Hidangan pembuka yang pas bagi saya.

Makan ikan merupakan salah satu kesukaan saya. Terutama bagian kepala. Apalagi ini ikannya kakap putih. Masih segar dan empuk ikannya. Saya dengan lahap menyantap ikan kuah asam ini. Bahkan menambah kuahnya. Sedap, segar dan mantap.

Seusai menyantap ikan kuah asam, saatnya makan nasi. Karena saya lagi “alergi” makan udang, saya memilih makan kepiting saos padang. Kepiting telur.

Ukuran kepitingnya sedang, tidak terlalu besar. Tapi yang mantap adalah saos padangnya yang spicy. Wah mantap benar nih. Saos padangnya sedikit asam, manis dan pedas. Tapi ini bukan asam manis ya. Saos padang tapi sangat terasa bumbunya.

Karena enak, dan tasty, yang pasti saya dengan lahapnya menghajar kepiting saos padang ini. Entah berapa potong yang saya sikat. Apalagi ada telurnya, makin menambah kenikmatan.

Cumi goreng tepung yang disajikan juga enak. Ditambah sambal terasi yang mantap, semakin enak cocol cocolnya dah!

Saya lihat, teman saya yang semeja, pak Lurah Rorotan, juga sangat doyan makan kepiting ini.

“Mantap mas”
“Iya pak sedap mantap nih kepitingnya”

Dan akhirnya saya kekenyangan deh….

Mungkin Anda perlu mencicipi atau menyantap seafood di JKC Cafe ini. Makannya dengan suasana alam. Bukan di pinggir pantai, namun pinggir empang.

Selamat mencoba!

IMG_3470
Ikan Kuah Asam
read more
Cafe & RestoFeatured

JKC Cafe, Cafe Kopi Unik di Marunda Cilincing

IMG_3461

Nonton Ada Apa Dengan Cinta 2? Kalau nonton AADC2 tersebut, pasti masih teringat dengan jelas ketika Cinta mengerjai Rangga di sebuah kedai kopi, yang bernama Klinik Kopi.

Oke, kita tidak akan membahas Klinik Kopi tersebut. Saya akan menceritakan mengenai JKC Cafe, yang berada di daerah Gudang Peluru, Kelurahan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Trus kenapa kok bawa-bawa Klinik Kopi? Jadi begini, Minggu 28 Agustus pagi, saya bersama Walikota Jakarta Utara dan sejumlah pejabat lainnya, Blusukan ke Kelurahan Kalibaru. Masih di Cilincing juga. Nah seusai blusukan ini, Pak Wali mengajak rombongan, termasuk saya untuk makan.

Saya awalnya panasaran, diajak makan ke mana? Ternyata di bilangan Gudang Peluru ini. Teman saya bilang, kita makan seafood paling. Oke. Yang terbayang bagi saya adalah ya tempat makan seafood biasa saja. Standard lah gitu.

Setelah sampai, saya juga melihat, JKC Cafe ini agak unik. Ada empang tempat memancing, dan tempat makan yang natural banget. Bukan resto pada umumnya.

Setelah saya masuk, saya melihat kok ada sejumlah toples yang berisi kopi, seperti Kopi Jawa, Kopi Robusta, Kopi Gayo dan Arabica. Saya pun mendekati dan ternyata baristanya sedang beraksi.

IMG_3450
“Nama saya Herman mas. Ini baru buka sekitar seminggu”
“Wah baru juga ya”

Herman kemudian menceritakan sebelum disajikan, kopi digiling dan diproses dengan “vacuum”. Dia menceritakan sambil memproses kopi.

Saya melihat dia merebus air, menaruh kopi di saringan dan menyaring dengan cara menarik. Kita bisa melihat Herman yang sebelumnya bekerja di Aceh ini, beraksi meracik kopi.

“Bukan hanya kopi. Teh juga kami proses dengan cara vacuum”

IMG_3453
Dasar saya, tidak tahu soal proses Vacuum ini, ya cuma manggut-manggut saja.

Oke, unik 1, cara penyajian kopi yang mirip-mirip klinik kopi.

Nah unik 2 nya apa? Tempatnya. Kebanyakan cafe yang menyediakan kopi ini ya di ruko, atau mall. Atau rumah. Nah JKC Cafe ini malah dipinggir empang. Ciyusss loooh!!

IMG_3432
Sembari menikmati kopi, kita bisa menikmati alam daerah Marunda, dengan empangnya, masih asri dan hijau, tanpa bangunan beton di sekelilingnya. Asoy sob! Bisa menikmati kopi sembari menikmati alam. Atau juga ya mancing. Karena memang ada pemancingan.

Harga kopi di JKC cafe ini per cangkir juga tidak mahal. Masih di bawah 20 ribu. Soal rasa kopi, ya dasar saya bukan penggemar kopi, ya saya minumnya es teh.

IMG_3460

Selesai menyeruput dan menikmati kopi, kami akhirnya makan siang. Yang kami makan? Di blog terpisah yaaaa!!

Apa yang membuat saya mengait-ngaitkan dengan Klinik Kopi di film AADC 2, ya karena kita bisa melihat pemrosesan kopi, dijelaskan oleh baristanya, dan lokasinya yang alami.

Oh iya, untuk menuju Cafe ini, gampang kok. Kita dari jalan raya Cakung Cilincing, ke arah bekasi, belok kiri ke arah rumah susun marunda. Setelah melewati jembatan pertama, kita belok kanan ke arah Kompleks Marinir. Ada markas Intai Amfibi Marinir, dan tidak jauh dari Intai Amfibi Marinir ini, sebelah kanan ada JKC Cafe.

Panasaran kan?

 

read more
FeaturedMakang Sadap

Yang Saya Tunggu di Lebaran Betawi : Nasi Ulam

nasi ulam

Setiap perhelatan lebaran betawi, yang sudah sembilan kali, saya suka datang. Bukan hanya datang, tapi terkadang membackup, semisal menghias dengan membuat backdrop.

Sudah tiga kali lebaran betawi, 2014,2015 dan 2016 saya menjadi petugas membuat backdrop untuk Kepulauan Seribu Selatan dan yang pasti saya harus datang dong.

Nah, setiap saya datang ke lebaran betawi, untuk mengawasi Backdrop yang saya pasang, ada makanan khas betawi yang selalu disiapkan oleh Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Nasi Ulam!

Nasi ulam ini, merupakan makanan khas betawi. Nggak tahu ini bener atau tidak. Soalnya yang saya tahu itu, makanan khas betawi ya semisal nasi uduk atau gabus pucung, atau yang sering banyak ketika PRJ tengah berlangsung : Kerak Telor.

Nah nasi ulam yang selalu ada di stand kepulauan seribu Selatan di Lebaran Betawi ini, simpel sebenarnya.

Nasi putih, yang dibungkus di daun pisang, dengan srundeng (kelapa yang diparut dan disangrai), sayuran tauge, dan daun kemangi. Nasi putihnya sih standard aja, selayaknya nasi putih biasa, bukan nasi uduk gitu.

Nah untuk memakannya, di stand Kepulauan Seribu Selatan, tim kecamatan selalu melengkapi dengan semur telur dan tahu.

Kali ini, saya hanya menambahi dengan semur tahu saja, karena mengurangi makan telur. Kuah semur saya siram ke nasi ulam biar lebih enak dong.

Dan makan saya pun semakin lahap. Enyaaak….. Yang pasti, saya akan tunggu lebaran betawi tahun depan lagi untuk menyantap Nasi Ulam. SOalnya di restoran, jarang saya temui nasi ulam. Gitu lho.

read more
1 4 5 6 7
Page 6 of 7