close

Makang Sadap

FeaturedMakang Sadap

Es Dawet Enak, Disajikan dalam Mangkok, di Pasar Klewer Solo

img_6741

Sebagian besar dari kita, tentunya sudah pernah mencicipi atau meminum es dawet. Es dawet ini adalah minuman yang terdiri dari santan, gula jawa, dawet (semacam cendol) dan tentunya es.

Es dawet yang kita minum, sudah sangat unum disajikan dalam gelas. Kalau tidak gelas beling, di gelas plastik.

Tapi, sebuah sensasi berbeda makan es dawet saya dapatkan ketika sedang berada di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah.

Saya yang sedang menunggu teman-teman berbelanja batik, melihat seorang ibu yang menjual es dawet. Karena hari agak gerah, saya memesan es dawet.

Dan apa yang terjadi? Saya melihat ibu-ibu penjual es dawet mengambil mangkok yang terbuat dari tanah liat. Sayapun langsung nyeletuk.

“Wah, bu, esnya disajikan di mangok?”

“Lah memang biasanya di pake gelas?”

“Iya bu!”

Ibu penjual es pun mulai menaruh gula Jawa, Dawet, dan Santan. Kemudian dia menambahkan cincau hitam, tape ketan dan selasih.

Wah wah .. ini yang lebih unik. Es dawet tapi ada cincau, tape dan selasih.

Rasanya? Menyegarkan!

Manisnya juga pas. Tidak terlalu manis! Pas rasanya.

Makan es dawet di mangkok, serasa makan sop buah.

Harga es ini juga murah meriah. Semangkok hanya 5000. Murah bukan?

read more
Makang Sadap

Bakso Malang AA Bikin Lidah Bergoyang

img_6131

Awal bulan Oktober, sebuah undangan untuk datang ke event yang dihelat Fakultas Hukum Universitas Pancasila di Jakarta Selatan, menghampiri saya.

Maya, sahabat saya yang jadi mahasiswa sekaligus panitianya, yang mengundang.

Event yang berjudul Mahakarya 2017 tersebut ada panggung musik dan ada juga bazaar.

Ketika event berlangsung, saya berangkat dari Tanjung Priok dengan menggunakan moda transportasi Transjakarta dan Kereta Commuter Line.

Sesampai di lokasi, perut lapar. Yang jual nasi belum ada. Perhatian saya tertuju ke penjual bakso malang AA. Namanya udah lapar, apa yang dijual di bazaar ya sikat saja dah.

Saya memesan satu porsi bakso malang. Ketika pesanan tiba, saya lihat dalam mangkok ada bakso goreng, bakso urat, bakso biasa dan pangsit.

Seumur-umur makan bakso malang, baru kali ini lihat ada bakso goreng.

Saya mulai menyantap. Bakso goreng duluan. Dan bakso gorengnya enak! Tidak alot dan rasanya mantap.

Bakso urat jadi target berikut. Wah! Sama enaknya. Tidak alot karena banyak tepung tapioka. Begitu juga dengan bakso biasa yang ketika digigit, sangat terasa campuran dagingnya.

Pangsitnya juga ada dagingnya. Tidak seperti pangsit bakso umumnya yang hanya kulit pangsit saja. Ini memang enak.

Nah, kuah baksonya gimana? Ini juga yang penting. Kuah baksonya tidak tawar dan hambar. Sangat terasa kaldu dan bumbunya.

Perpaduan ini membuat saya jadi menambah satu mangkok lagi. Nggak rugi deh.

Saya pun bertanya ke si abang bakso. Jualannya selain di bazaar ini di mana?

Dia menjawab, jualannya di depok, di ruko di Arif Rahman Hakim.

Hmmm…. mau nyoba nggak kalian?

read more
Makang Sadap

Nasi Campur Asan di Sunter, Layak Dicoba

img_5206

Kalau kita makan nasi campur, apalagi di Jakarta, pasti sudah terpatri dalam ingatan kita adalah nasi campur Kenanga dan “turunannya” semisal Putri Kenanga atau Putra Kenanga.

Namun, pada kenyataannya, ada juga nasi campur dengan brand lain yang tidak kalah enak.

Misalnya, nasi campur Asan khas Pontianak yang berada di Sunter, tepatnya di Jalan Danau Sunter Utara, seberang rumah sakit Royal Progress, dan tidak jauh dari Kia Motor.

Karena saya sering “main” di Sunter, saya kemudian menjajal untuk menyantap nasi campur Asan ini.

Ketika tersaji, memang seperti nasi campur pada umumnya. Ada babi merah, daging babi garing, siomay babi yang dipotong-potong dan telur kecap.

Tapi, ada yang membedakannya. Di nasi campur Asan ini, ada sayur asin. Ketambahan sayur asin ini semakin membuat nikmat nasi campur. Ada juga semacam kuah kental yang disiram di atas daging.Soal rasa, bagi lidah saya ini sudah enak sekali tentunya. Daging empuk, dan rasanya gurih enak, membuat saya lahap menyantap nasi campur.Soal harga, saya menebus nasi campur ini dengan es teh tawar seharga 44.000.Bagi yang ingin mencoba nasi campur selain kenanga, bisa lah ini dicoba.

read more
Makang Sadap

Ah Enaknya Bebek Muda di Bebek Kaleyo

img_6196

Selain doyan menyantap daging ayam, saya juga sebenarnya doyan menyantap daging bebek. Meski tidak sering, saya pasti akan makan daging bebek.

Di beberapa food blog saya, saya membahas soal masakan bebek favorit saya. Yang memang enak tentunya.

Kesempatan untuk menyantap daging bebek lagi, ketika saya diajak makan di bebek Kaleyo di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kebetulan ada teman yang mengajak makan.

Ketika menu datang, pilihan saya jatuh ke bebek muda goreng kremes. Saya sudah tidak melihat-lihat pilihan lain lagi. Nasi yang saya pilih, nasi merah.

Kenapa saya memilih daging bebek muda, karena yang saya bayangkan adalah, dagingnya yang so pasti empuk.

Dan memang ternyata benar. Ketika pesanan datang dan saatnya menyantap, daging bebeknya memang empuk dan gurih. Tidak salah memang pilihan saya ini.

Sambal di Bebek Kaleyo juga pedasnya mantap. Membikin goyang lidah. Dipadu dengan daging bebek muda yang lezat, san terasa bumbunya memang membuat saya harus menambah nasi.

Walhasil, nasi merah menjadi dua porsi.

Soal harga, tidak terlalu mahal. Masih cukup lah dengan kantong kita. Ya bagi saya nggak berat sih, karena ditraktir teman.

read more
Makang Sadap

Mencicipi Cakalang Suir dan Sayur Ganemo di RM Immanuel Pasar MOI

wp-image–199879596

Sebagai orang Minahasa atau katakanlah orang Manado yang merantau, pastilah saya akan merindukan makanan atau masakan khas Minahasa.

Di Jakarta, tempat saya mengadu nasib, banyak bertebaran tempat yang menjual masakan Minahasa. Mulai dari warung kaki lima hingga ke restoran mahal.

Karena saya bermukim di wilayah Jakarta Utara, saya kerap makan di Warung Makan Minahasa Utara di Tanjung Priok dan Restoran Klabat.  

Tapi, saya tidak akan membahas soal kedua restoran tersebut.

Selain kedua tempat makan tersebut, ternyata di Pasar Mall of Indonesia, sebuah foodcourt di Lantai LG, ternyata ada juga sebuah tempat makan, masakan khas Minahasa.

Saya menemukannya, ketika sedang berkeliling Pasar MoI untuk mencari makanan. Pandangan saya tetiba tertuju ke sebuah etalase makanan dan plang bertuliskan RM Immanuel.

Di dalam etalase, banyak sekali makanan Minahasa. Babi Kecap, Ikan Woku Belanga, Bunga Pepaya dan masih banyak lagi. Tampak lezat.

Karena tertarik, saya melihat-lihat harga paket makanan. Tidak terlampau mahal. Untuk yang nasi, ikan dan sayur hanya 25.000. Kalau paket nasi pakai dua lauk dan satu sayur harganya 35.000. Untuk daging dan sayur plus nasi, dijual 30.000. Belum dengan minum tentunya.

Saya pesan yang paket 25.000, dengan lauk cakalang suir dan sayur ganemo. Tak lama berselang makanan siap dan saya membayar.

Cakalang suir atau ikan cakalang asap yang daginya disuir atau disobek ini enak menggoyang lidah. Tidak terlampau pedas, dan ikan cakalangnya tidak keras. Empuk. 

Bumbunya sangat pas. 

Begitu juga dengan sayur Ganemo. Sayur daun ganemo ini adalah daun melinjo, dimasak santan dengan labu kuning. Enak? Pastinya. Santan yang kental dan labu yang sangat lunak plus daun melinjo nya mantap tenan. Ada bunga pepaya nya juga lho.

Tidak pedas, tidak asin dan so spicy. Bumbu terasa pas, tidak berlebihan. Tak terasa, sepiring saya santap hingga habis.

Next time, saya akan coba masakan yang lain. Oh iya, soal Rumah Makan Minut, akan saya tuliskan juga. Tapi nanti ya.

read more
Makang Sadap

Nikmatnya Babi Panggang Lapo Balige Sedia di Sunter

image-94

Seorang teman, di pekan ke-2 Bulan September 2017 menghubungi saya. Ketika itu saya dalam perjalanan ke Sunter dari Tanjung Priok, Jakarta Utara. Teman saya ini mengajak bertemu, masih di kawasan Sunter.

Namanya Pak Ginting. Saya berkenalan dengan beliau, ketika ada pementasan Keroncong di RPTRA. Karena saya tidak tahu dimana rumahnya, saya diajak bertemu di RPTRA Nirmala dan nantinya baru ke rumah dia.

Setelah berbincang dengan dia di rumahnya, dan mengetahui saya non muslim, Pak Ginting mengajak saya makan di lapo. Sebelumnya dia bertanya kepada saya, apakah saya suka makanan batak. Karena suka, saya kemudian diajak.

Dengan membonceng sepeda motor milik pak Ginting, kami berangkat ke Lapo. Kata oak Ginting, masakannya enak. Lokasinya saya tidak tahu. Berkendara kurang lebih 10 menit kami tiba di Lapo.

Lapo tersebut berada di pinggir jalan. Dan jujur saja, saya kaget karena lapo ini sering saya lewati. Tapi saya tidak tahu. Lokasinya berada di samping Astra Honda Motor, jalan Sunter Kemayoran, tidak terlalu jauh dari ITC Cempaka Mas. Namanya Lapo Balige Sedia.

Pak Ginting pun bertanya ke saya, mau makan apa. Berhubung saya senangnya makan Babi Panggang, saya pun ingin menyantap babi panggang. Pakai darah Saksang agar lebih enak.

Setelah pesanan sampai, tidak pakai nunggu lama, saya langsung menyantapi. Dan …. ternyata memang Babi Panggangnya enak. Masih renyah, gurih dan enak tentunya. Ditambah darah saksang atau kuah saksang, makin lezat.

Darah Saksang nya ini, bagi lidah saya sangat pas. Tidak asin dan tidak terlampau pedas. Begitu juga dengan daging panggang yang tidak keras, renyahnya pas. Tidak gosong juga. Memang pas masakannya.

Di nasi putih juga, karena saya request ada Darah Saksang, makin mantap untuk menyantapnya. Tidak lupa juga, ada sup dan daun ubi tumbuk yang tidak kalah enak. Saking enaknya, saya menambah nasi putih.

Harga makan di Lapo ini tidak mahal. Mau tambah nasi, harganya tetap 25.000. Saya sih ditraktir Pak Ginting.

Karena masih panasaran dan terbayang dengan enaknya Lapo Balige Sedia ini, dua hari setelah makan dengan Pak Ginting, saya kembali makan. Hari Sabtu. Dan memang benar, harganya memang 25.000 meskipun saya menambah nasi.

Yang ingin makan di Lapo ini, dijamin akan balik lagi. Mau mencoba?

read more
Makang Sadap

Tahu Gejrot Abang-abang di Sunter ini Enak!

img_4848

Setiap dari kita, ya walaupun tidak semua, pastilah suka jajan atau mencari makanan kecil dan tidak berat.

Seperti saya ini. Suka mencari makanan kecil. Tidak perlu sampai kenyang. Yang penting mengunyah makanan.

Ketika saya sedang nongkrong di warung teman di Sunter Agung dekat Sekolah Ipeka I, ada tukang tahu gejrot yang sedang mangkal.

Karena lagi pengen makan yang tidak berat2, saya tertarik memesan. Saya pun memesan tahu gejrot seporsi, tapi tidak pedas. Ekstra bawang putih saja.

Menunggu beberapa saat, pesanan pun datang. Dan, kesannya sudah enak. Ketika menyantap, memang enak. Tahunya masih renyah ditambah bumbu kuah tahu gejrot yang spicy.

Saking enaknya, saya sampai meminum hingga kering kuah tahu gejrotnya yang menurut saya pas. Tidak asin, tidak asam dan berasa sekali bawang putihnya.

Saking enaknya, saya sampai tambah. Harganya? Cukup 10000 per porsi. Sudah tahunya enak, kuahnya enak juga. Sepertinya kalau mampir ke Sunter lagi, akan cari bapak-bapak atau abang-abang yang jualan deh.

read more
Makang Sadap

Sate Langganan di Sunter Agung

img_0155-2

Setiap dari kita, pastilah punya makanan favorit. Seperti saya ini yang gemar menyantap gado-gado, pecel, dan sate.
Bisa dikatakan, ketika jenis makanan tersebut kerap saya santap. 

Bicara soal sate, kalau saya di Manado, saya menggemari sate Babi. Apalagi ada ragey atau sate Babi dengan daging yang besar-besar.

Tapi kalau di Jakarta, atau di daerah dengan mayoritas muslim, sate babi jarang ditemui kecuali di restoran Manado atau di penjual nasi campur.

Karena keterbatasan sate babi, ya saya menjadi penggemar sate ayam atau sate kambing. Sebenarnya sate sapi juga enak sih, tetapi ya jarang-jarang menemukan sate sapi di Jakarta ini.

Di tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya pernah mengulas mengenai sate Madura enak di Pasar Sunter Podomoro. Namun, sebenarnya, ada satu lagi pedagang sate lagganan saya di kawasan sunter.

Pedagang sate ini jualan (ya eyalah masa pedagang nggak jualan_), di dekat Bank BNI Seberang RS Satya Negara, Sunter. Tidak jauh dari Jalan Agung Permai Raya.

Saya yang sempat bermukim lama di Sunter, sering makan sate baik sate ayam maupun sate kambing di sini.

Setelah hijrah atau pindah tempat tinggal di Tanjung Priok, Kebon Bawang, saya tetap suka ke Sunter untuk makan di sate langganan saya ini.

Beberapa bulan lalu dia saya datangi tapi tidak jualan. Karena kebetulan lagi lewat di Sunter dan melihat pedagang sate langganan ini jualan, saya langsung berhenti untuk makan.

Daging kambing yang disate di sini, setiap saya makan, selalu empuk. Sering loh sate kambing tempat lain alot dagingnya.

Sate ayam yang saya santap beberapa waktu lalu juga, bumbu kacangnya enak. Spicy dan tidak hambar. Tidak sekali atau dua kali bumbu kacang tukang sate yang saya icip, suka tidak terlalu enak rasanya.

Yang jualan, masih sama. Orang Madura. Memang sate Madura sih.

Saya ini tipe orang yang kalau suka makan di suatu tempat ya akan kembali lagi. Meskipun sempat lama untuk tidak makan, pasti saya akan kembali lagi. Hehe. Jadi ya bisa dikatakan, sate di sini cocok untuk selera saya, sampai saya harus kembali untuk makan. 

read more
Makang Sadap

Pecel Mendoan di Jalan Asia Afrika ini Top Be Ge Te

IMG-20170514-WA0002-3

Ngemeng-ngemeng soal kuliner, meskipun saya orang Manado, ada satu makanan khas Jawa yang saya gemari. Bahkan sangat saya gemari. Namanya pecel.

Mungkin di blog saya ini tentang kuliner, ada beberapa tulisan mengenai  pecel. Tapi kali ini, pecel ini berbeda. Kalau biasanya makan pecel dengan nasi, kali ini tidak.

Ceritanya, setelah membeli jeruk peras murni, saya dan dua sahabat saya (baca blog sebelum ini), mencari sarapan. Entah lontong sayur, entah nasi uduk atau apapun lah.

Setelah berkeliling, sembari minum jeruk peras, akhirnya kami tertarik dengan pecel mendoan. What? Pecel mendoan?

Saya pun antri mau membeli pecel mendoan ini. Setelah menunggu kurang lebih tiga menit, akhirnya tiba giliran saya.

Awalnya ditawari memakai nasi atau tidak. Karena saya lebih tertarik dengan pecel mendoan. 

Ternyata, pecel mendoan ini adalah sayuran untuk pecel dan ditambah dengan gorengan tempe mendoan. Ini jelas unik.

Selain mendoan, saya juga menambahkan bakwan dan tahu isi. Wakwaaaaw..

Penjual pun memotong gorengan dan menempatkannya di atas sayuran pecel. Setelah itu disiram dengan bumbu pecel. Sayapun makin tidak sabar untuk menyantap pecel mendoan dan kawan-kawannya ini.

Nyosss memang. Bumbu pecel pedasnya sedang. Medok pula rasanya! Ah tak salah memang memilih sarapan pecel mendoan ini.

Seporsi pecel mendoan ini saya tebus dengan harga 20.000 saja. 

read more
FeaturedMakang Sadap

Sate Bebek Putra Tambak, Top Be Ge Te

IMG_20170322_142526

Kalau ke Kelapa Gading atau Sunter dari kosan saya di daerah Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, saya kerap lewat “jalur belakang”. Apalagi kalau saya dapat notifikasi “jalur depan” itu macet.

Kalau melewati Jalur Belakang yang menembus ke kawasan industri milik grup astra, saya sering melewati sebuah kios makanan, yang kalau lagi jualan suka menebar asap wangi.

Asap wangi ini berasal dari pembakaran sate. Karena wangi saya suka memperhatikan tempat makan yang punya nama “Putra Tambak” ini. Jualanya ya masakan daging bebek.

Yeah, makan bebek merupakan kegemaran saya. Saya biasanya menyantap masakan bebek Madura. Setelah beberapa kali niat mampir batal karena tempat makan ini suka rame, akhirnya saya hari ini mampir juga.

Mau mencoba masakan sate bebek. Jujur saja, saya sih kalau sate, sudah biasa makan sate ayam, kambing, sapi ataupun babi. Tapi sate bebek ini pengalaman pertama.

Parkir motor, saya langsung masuk ke warung makan. Saya pesan sate bebek 10 tusuk. Saya sempat bertanya, harga sate bebek 10 tusuk itu berapa? 26 ribu tanpa nasi, dan pakai nasi sepiring 30 ribu. DEAL!

Menunggu kira-kira 10 menit karena banyak yang pesan, pesanan sate bebek saya pun datang. Tak butuh waktu lama, saya langsung tancap gas menyantap sate bebek.

Sate bebek ini, pakai bumbu kacang seperti sate ayam pada umumnya. Tapi. Ingat, ada tapinya lho. Pas saya coba bumbu kacang sate bebek Putra Tambak ini, ternyata sangat enak. Dan lebih encer dari bumbu kacang sate ayam pada umumnya.

Usai mencicipi bumbu kacang, saya langsung menyantap tusukan pertama. Ternyata, daging bebeknya empuk. Tidak alot. Duh, makin sedap deh menyantapnya.

Oh iya, saya juga diberikan satu mangkok kecil semacam kuah sop. Pas saya cicip, kuah sopnya gurih, asin enak gitu. Makin sedap deh makannya. Di kuah sop ini, saya obok-obok dengan sendok, ternyata ada potongan daging dan tulang bebek.

Saking enaknya sate bebek ini, nasi satu piring terasa kurang. Saya sudah pasti meminta tambah. Sate masih lima tusuk lagi, tapi nasi sudah habis, ya nambah dong!

Bumbu kacang sate, tak lupa saya siramkan ke nasi. Biar tambah mantap. Karena enak, bumbu kacang sampai ludes saya makan juga.

Usai makan, pastinya bayar dong! Satu porsi sate 10 tusuk, dua piring nasi dan segelas es teh tawar, saya tebus dengan harga 36.000. Nggak nyesel sih, enak soalnya.

Sepertinya saya akan balik lagi deh kapan-kapan. Untuk makan sate bebek lagi.

read more
1 3 4 5 6 7
Page 5 of 7