close

Makang Sadap

Makang Sadap

Icip Icip Kentang Goreng A-la Coban Rondo

img_20180120_160827_1844378866.jpg

Berkunjung ke Coban Rondo, Malang, Jawa Timur ini bukan melulu kita melihat air terjun yang legendaris dengan kisahnya tersebut. Ada hal lain yang bisa kita icip-icip atau cicipi di kompleks wisata Coban Rondo ini.

Memang banyak yang menjual seperti strawberry, atau panganan lainnya yang biasa kita temui di daerah sejuk (atau cenderung dingin) seperti di Puncak. Panganan tersebut adalah Jagung Bakar.

Tapi di Coban Rondo ini, tidak berjauhan dengan parkir busnya, ada satu kios yang menjual kentang goreng dan gorengan lainnya. Gorengan lainnya ini tidak menarik perhatian saya.

Kentang goreng inilah yang menarik perhatian saya.

Kalau kita ke restoran siap saji seperti KFC atau katakanlah McDonald, kentang goreng biasanya digoreng polos dan packingnya semacam kantong kertas. Tapi, kentang goreng yang dijual di kios di area parkir ini menjual kentang goreng yang dimasukkan dalam gelas plastik.

Kentang gorengnya juga seperti digoreng dengan tepung. Soalnya kelihatan dari bentuk kentang goreng yang tidak mulus.

Satu gelas kentang goreng yang dijual di kios tersebut, harganya cukup murah. Hanya 10.000 per gelas sudah lengkap dengan sambal sachet-an merek sasa.

Rasa kentang goreng ini enak, dan empuk. Teksturnya cenderung lembek, makanya dipakai tepung. Meskipun agak lembek, tetap enak buat disantap. Apalagi di tempat yang sejuk, kentangnya masih hangat. Semakin membuat ingin menyantapnya.

Kalau kalian berjalan-jalan ke Coban Rondo di Kabupaten Malang ini, tak ada salahnya kok mencicipi kentang goreng ini. Apalagi harganya cuma Rp 10.000. Murah kan?

read more
Cafe & Resto

Dancok Cafe, Cafe Outdoor Unik di Malang

img_20180120_152517-11660566298.jpg

Ke Malang bersama dengan rombongan Indihome Jakarta Utara, saya tidak hanya berkesempatan ke Jatim Park II (sudah saya tulis di blog saya sebelumnya), dan ke Bromo sekali lagi. Saya sudah pernah berkunjung ke Bromo tahun 2014 lalu.

Hari terakhir kami berada di Malang, Sabtu 20 Januari 2018, kami berkunjung ke Taman Labirin di Wilayah Kabupaten Malang. Taman Labirin? Wah kok sepertinya baru saya dengar karena saya ketika berkunjung ke Malang sebanyak dua kali tahun 2014 lalu, tidak berkunjung ke sini.

Ternyata taman Labirin ini berada tidak jauh dari Coban (atau Cuban) Rondo. Ketika saya berkunjung ke Coban Rondo tiga tahun lalu, taman ini belum dibangun.

Saya bersama rombongan, setelah makan siang, kemudian menuju ke taman labirin. Soal taman labirin ini memang saya belum tuliskan di blog. Nanti saja, di blog terpisah.

Setelah saya dan rombongan berkeliling ke Taman Labirin dan beberapa spotnya, termasuk saya yang bermain ATV (All Terrain Vehicle), kami menuju ke Dancok Cafe. Sebuah Cafe yang memang terletak dalam kompleks atau satu area dengan Taman Labirin ini.

Oleh tour guide kami, sudah diberitahu bahwa yang namanya Dancok ini merupakan singkatan dari Daun Cokelat. Dancok memang sudah seperti bahasa akrab di Jawa Timur. Tapi kali ini Dancok dijadikan nama Cafe.

Masuk Cafe ini, kami kena tambahan biaya. Hanya 5000 Rupiah. GOCENG DOANG! Nggak mahal lah. Kami mendapat tiket masuk. Bukan tiket sih sebenarnya, karcis. LAH APA BEDANYA?

Masuk cafe ini, saya langsung melihat meja-meja yang berada di bawah pohon rindang. Karena cuaca gerimis saat itu, tidak ada yang duduk-duduk di meja yang berada di bawah pohon ini.

Gedung utama cafe (saya tidak masuk), adalah sebuah gedung kecil. Ukurannya tidak terlampau besar. Di sebelah gedung utama cafe ini ada tempat duduk yang ada atapnya. Ada sejumlah ibu-ibu saya lihat sedang duduk.

Saya dan teman, menuju ke semacam balkon. Turun ke bawah tidak terlalu jauh dengan menapaki tangga. Tapi dari semacam balkon tersebut bisa melihat pemandangan ke arah bawah perbukitan. Kita bisa berfoto dengan pemandangan rumah warga di perbukitan.

Saya juga melihat ada beberapa spot foto, yang memang bermanfaat buat para instagrammers. Tapi karena cuaca agak gerimis, saya tidak menuju ke spot tersebut. Saya dan rombongan tidak sempat icip-icip atau mencicipi makanan atau minuman di cafe ini.

Cafe ini memang unik dan keren. Mungkin satu saat saya akan kembali ke sini. Dan mungkin pembaca akan berminat mampir ke sini kalau ke malang.

read more
Makang Sadap

“Pondok Bikers”, Angkringan dan Tempat Nongkrong Asyik di Jalan Plumpang Semper

img-20180123-wa00121619486249.jpg

Siapa bilang angkringan itu hanya ada di Yogyakarta? Dan siapa bilang di Jakarta Utara ini tidak ada tempat nongkrong lesehan yang murah dan asyik?

Di Jakarta ini, sebenarnya sudah ada beberapa tempat angkringan. Saya pernah nongkrong atau sekedar bersantai sambil menikmati nasi kuncing dengan beragam lauknya di Kemayoran. Dekat Rumah Susun.

Tidak hanya itu, saya juga beberapa kali melihat angkringan di Jakarta Ini. Tapi, Pondok Bikers ini berbeda? Apa bedanya?

Angkringan Pondok Bikers ini, ada lesehannya. Kalau Angkringan lainnya, biasanya kita hanya duduk di depan gerobaknya saja. Di Pondok Bikers juga memang bisa duduk di depan gerobaknya.

Tidak hanya duduk atau lesehan menyantap makanan saja dan sekedar ngopi atau ngeteh. Pengelola atau pemilik Pondok Bikers ini juga menyediakan televisi 43 inci, dan lengkap dengan tv kabel dari indihome fiber.

Jadi sambil bersantai, kita bahkan bisa menonton televisi, sepakbola atau bahkan berkaraoke. STB dari Indihome ada aplikasi Karaokenya.

Penyajian makanan dan Kopi di Pondok Bikers ini juga unik. Retro style atau old fashioned. Pakai piring dan cangkir kaleng. Keren nggak sih?

Untuk makanan, nasi kucingnya disediakan dalam dua type. Pakai daging ayam dan pakai teri. Tidak hanya nasi kucing saja. Ada juga Nasi Goreng dan Nasi Uduk juga.

Lauk atau penganan dan camilan di Pondok Bikers ini juga banyak macam. Ada usus, ati ampela, nugget berbagai jenis dan penganan lainnya khas Angkringan.

Soal harga, dijamin tidak akan menguras isi kantong kalian. Masih sangat murah.

Oh iya, saya lupa. Nama pondok bikers ini dipakai karena pendiri atau pemilik dari pondok bikers ini memang seorang penggemar sepeda motor. Bang Benny. Karena sering nongkrong dengan teman sesama klub motor, Bang Benny membuat tempat untuk berkumpul para bikers! Ingat BIKERS ya! Bukan geng motor!

Lokasinya? Ada di Jalan Plumpang Semper. Di depan Dealer Yamaha, sebelah hotel cempaka. Gampang kok nyarinya. Tinggal cari di google maps dengan mengetik Pondok Bikers pasti ketemu.

Jadi mau ke sini nggak?

 

read more
Makang Sadap

Nasi Ulam Betawi di Sunter yang Enak

img-20180113-wa000821115490.jpg

Setelah berputar-putar mencari warteg atau warung makan, untuk makan siang, tiba-tiba saya berbelok ke semacam pusat jajanan makanan yang berada di sebelah Total Buah, Sunter ini.

Tadinya saya sudah berencana makan siang di warteg yang berada di belakang RS Satyanegara Sunter. Tapi saya kebablasan. Akhirnya saya melewati tempat makan ini dan mampir.

Ada nasi ulam Betawi yang beberapa bulan lalu saya santap tapi tidak sempat saya tulis di blog saya ini.

Setelah memarkir motor, saya langsung menuju ke lapak Nasi Ulam Betawi ini. Begini lah penampakannya.

Nah ada pilihan lauknya deh. Telur bulat, dadar dan dendeng sapi. Saya pilih dendeng sapi dong untuk lauknya. Saya pilih nasi ulam.

Penjual nasi pun menyiapkan pesanan saya dan pesanan langsung datang.

Nasi Ulam ini disajikan dengan lalapan timun yang diiris dan kemangi, bihun dan teri nasi yang ditaburkan di atas nasi dan sambal kacang.

Daging dendeng yang saya pilih sebagai lauk sangat empuk dan enak. Bumbu dendeng tidak berlebihan.

Bihun dan teri nasi membah kegurihan dari nasi ulam ini. Sambal kacangnya pedas dan manis berpadu. Memang sangat enak.

Penjual menambahkan semur tahu dan kuah di dalam mangkok menambah sedap. Sembari menyantap nasi ulam, bisa menyeruput kuah semur tahu yang enak dan pas di lidah. Makin semangat untuk menyantapnya. 

Harga? Plus es teh tawar, saya membayar Rp. 33.000.

Mau mencoba?

read more
Makang Sadap

Siomay dan Batagor Bandung Hoki di Sunter ini Top Markotop

img-20171229-wa00061231046264.jpg

Pada tahu Siomay dan Batagor dong. Makanan ini sepertinya sudah tidak terpisahkan dari kita. Baik Siomay maupun Batagor pasti pernah kita cicipi baik yang dijual dengan sepeda, gerobak maupun di restoran.

Salah satu siomay atau batagor enak yang pernah saya santap, adalah yang dijual abang-abang di Gedung Mitra Praja, Sunter, jakarta Utara. Saya pernah berkantor di sini, cukup lama. Dan abang-abang ini kalau Shalat Jumat pasti jualan di Gedung Mitra Praja. Biasanya dia berkeliling.

Hari ini kebetulan, saya harus bertemu teman pejabat sebelum Shalat Jumat di Gedung Mitra Praja. Setelah bertemu dan saya hendak kembali, saya melihat siomay ini sudah berjualan. Langsung pesan dong saya.

Sudah lama sekali saya tidak makan di abang-abang ini memang. Jadi saya memang niat untuk makan Siomay.

Berhubung yang terpampang alias paling duluan saya lihat adalah Batagor, saya pesan batagor sepiring. Sembari si abang mempersiapkan batagor pesanan saya, saya foto alias cekrak cekrek dulu. Buat blog dong! Eh iya, sama Instagram.

Sesaat kemudian pesanan saya sudah selesai. Karena sudah kenal dengan abang ini, saya minta ekstra bumbu atau saus kacang.

Ketika mencicipi batagor, ternyata si abang masih konsisten dengan produknya. Tekstur lembut dan tidak alot. Kadang-kadang kalau saya suka makan batagor gerobakan, memang suka alot dan rada keras. Tapi batagor si abang ini tidak.

Bumbu kacangnya juga bagi lidah saya sangat pas. Tidak pedas, tidak asin. Bumbunya pas dan ini memang kuncinya. Banyak bumbu kacang yang rasanya hambar dan biasanya pedas sehingga tidak terasa lagi campuran bumbunya.

Setelah sepiring batagor selesai, saya tambah setengah porsi atau piring siomay. Tetap dengan bumbu kacang ekstra.

Soal siomaynya, terasa ikannya. Sudah pada tahu dong kalau misalnya, ladang-kadang, siomay itu kebanyakan tapioka, sehingga seperti makan lem. Tapi abang ini tidak. Beda dan memang teksturnya lembut.

Satu piring batagor dan setengah piring siomay, saya hanya tebus dengan harga 15.000 saja. Sangat murah bukan?

Nah, kalau mau makan siomay si abang ini, bisa datang ke Gedung Mitra Praja pas Shalat Jumat. Soalnya kalau dia berkeliling, susah nyarinya.

Panasaran soal tampilannya? Begini nih

 

 

read more
Makang Sadap

Klangenan, Angkringan Berkonsep Beda di Yogyakarta

img-20171223-wa00311247795810.jpg

Apa yang terbayang di benak kita, dengan sebuah tempat makan bernama angkringan? Sudah pasti itu adalah sebuah lapak atau gerobak dengan beragam penyajian makanan. Dan lokasinya, di pinggir jalan, dan ada tempat lesehannya.

Angkringan ini sudah jelas banyak bertebaran di Yogyakarta, meskipun kini sudah merambah hingga Jakarta.

Ketika saya berkunjung ke Yogyakarta, akhir November lalu, saya bersama teman-teman ingin menikmati angkringan di Yogyakarta tentunya. Tapi pilihan kami, akhirnya jatuh ke sebuah tempat bernama “Klangenan”. Saya pun bertanya-tanya seperti apa klangenan itu.

Beberapa teman yang sudah tahu, mengatakan, Klangenan ini sebuah konsep Angkringan yang berbeda. Oke baiklah kalau begitu.

Ketika saya dan rombongan teman-teman blogger tiba di lokasi, saya pun mendapati sebuah rumah yang “disulap” menjadi sebuah tempat makan. Rumah ini disainnya tradisional. Menurut saya lho!

Saya pun diajak untuk memasuki bagian dalam rumah atau Klangenan ini. Untuk apa? Ya sudah pasti untuk memilih makanan yang hendak disantap. Wah! Ini yang saya tunggu!

Tiba di dalam, beragam makanan sudah disiapkan. Yaps! Memang makanan angkringan yang ada. Tapi ini lebih beragam pilihannya. Kalau biasanya angkringan yang kita bisa nikmati adalah nasi teri atau tempe, kali ini lebih banyak pilihannya.

Ada nasi sambal terong, nasi cumi, nasi jambal asin dan ragam pilihan lainnya. Saya memilih Nasi Wader. Ya Wader ini ikan yang keil-kecil tapi enak.

Beralih ke lauk, nah pilihannya juga sangat beragam. Sekali lagi, kalau di angkringan “konservatif” alias “mainstream”, kita hanya disajikan serba ayam dan telor puyuh. Misalnya usus ayam, ampela hati, daging ayam dan lainnya. Tapi ini berbeda. Banyak dan beragam pilihannya.

Ada sate jamur, ada sate gembus, ada sate baso ikan. Wah lebih banyak pilihannya lah.

Selesai memilih nasi, kemudian kita akan menuju kasir. Untuk dihitung. Berhubung ditraktir, saya tidak tahu berapa bayarannya. Yang saya tahu adalah kisaran harganya tidak mahal. Masih “harga Yogya” kok.

Saatnya menyantap makanannya.

Saya dan rombongan memilih makan di teras bagian belakang. Cuaca hujan gerimis ini membuat saya harus segera menyantap makanan yang saya pilih.

Nah, kalau di angkringan, lauk yang kita pilih akan dipanggang terlebih dahulu. Penjual yang akan memanggangnya. Untuk menghangatkan makanannya sudah pasti. Tapi di klangenan ini, kita akan disediakan tempat memanggang. Jadi, kita akan memanggang sendiri.

Sensasi berbeda! Hahaha

Setelah memanggang, saatnya kita menyantap. Hohohohoho…..

Nasi wader yang saya santap memang nyoss. Begitu juga pilihan lauk berupa sate-sate yang saya pilih. Memang enak.

Suasana tempat makan atau rumah makan Klangenan ini juga asik. Tidak berisik, tapi suasananya lebih nyantai. Top dah pokoknya.

Kami bisa ngobrol-ngobrol santai, dengan suasana santai khas Yogyakarta. Ditemain cuaca gerimis, suasana makin asyik deh.

Oh iya, lokasinya ada di : Jl. Patangpuluhan No.28, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta

Yuk disimak foto-fotonya di galeri di bawah ini :

read more
Makang Sadap

Lama Nggak Makan, Akhirnya Bisa Makan Sate Kambing di Bulevar Artha Gading ini Lagi

IMG-20171228-WA0003.jpg

Lebih Empat tahun lalu atau mungkin lebih, sepulang atau kalau sedang berada di Mall Artha Gading, saya suka keluar Mall dan menyantap sate kambing atau ayam di tukang sate yang berjualan tidak jauh dari Mall Artha Gading ini.

Dia biasa berjualan dekat jembatan di ujung Bulevar Artha Gading arah Jalan Yos Sudarso. Namun semenjak kawasan jembatan tersebut ditertibkan karena banyak bangunan liar, akhirnya tukang sate ini pindah entah kemana.

Saya beberapa kali mencari, tapi dasar belum jodoh, tidak pernah bertemu.

Karena saya suka bolak balik di Kawasan Artha Gading, sepekan lalu saya melihat ada tukang sate di Jalan Bulevar Artha Gading ini. Saya pun mampir untuk makan sate kambing.

Masuk ke lapaknya, saya pun kaget! Lah ini kan tempat makan langganan. Saya masih bisa mengenali ibu-ibu penjualnya.

Saya pun memesan sate kambing 10 tusuk. Setelah dibakar dan satenya disajikan, sayapun dengan lahap menyantap.

Bumbu kecap ditambahi irisan tomat dan bawang plus taburan bawang goreng dan perasan jeruk limau di atas sate, membuat sate kambing mak nyus rasanya.

Daging kambing pun empuk dan dibakar dengan baik. Kadang-kadang, sate kaki lima, dagingnya suka nggak empuk. Tapi yang ini memang beda.

Karena memang lebih enak, dua pekan terakhir, sudah tiga kali saya makan sate. Lah 10 tusuk dan nasi tambah setengah, saya hanya membayar 25.000.

Kayaknya bakal sering makan di sini deh!

read more
Makang Sadap

Nasi Goreng Kampung The Goods Cafe yang Berbeda

img-20171223-wa0005207805293.jpg

Beberapa hari lalu, saya mengikuti sebuah acara workshop yang digelar oleh Jenius, produk perbankan dari Bank BTPN. Kegiatan workshop ini sendiri, digelar di sebuah Cafe Resto di Kelapa Gading, The Goods Cafe namanya.

Karena workshop ini berlangsung di jam makan siang, kami para peserta oleh penyelenggara disuguhkan makan siang berupa nasi goreng. Nasi goreng kampung, dari The Goods Cafe.

Nasi goreng kampung The Goods Cafe ini, sebenarnya pada dasarnya mirip dengan nasi goreng pada umumnya. Tapi apa yang membuatnya berbeda?

Biasanya kalau nasi goreng kampung di resto atau di cafe yang ada, biasanya ada telur ceplok atau mata sapi, ataupun telur dadar. Tapi kali ini saya tidak menemukan adanya telur ceplok ataupun telur dadar.

Dan kalau biasanya daging ayam dicampur pada nasi goreng, kali ini juga berbeda. Daging ayam suir disajikan di atas nasi goreng. Dan yang membuat spesial adalah taburan bumbu sate ayam.

Pasti pada tahu lah kalau bumbu sate ayam ini seperti apa? Nah kali ini disajikan disiram di daging ayam. Ini yang membuat berbeda. Dan membuat nasi goreng bertambah enak.

Soal taste nasi goreng, bagi lidah saya, sudah cukup enak. Bumbu nasi goreng terasa, dan tidak berlebihan. Jadi tetap enak disantap. Oh iya, ada juga acar wortel dan emping yang disajikan bersama dengan nasi gorengnya.

Saya lupa, penyajian nasi goreng ini juga sangat berbeda. Kalau biasanya di piring bulat, nasi Goreng di The Goods Cafe ini disajikan dalam semacam mangkok panjang atau lonjong. Beda memang!

read more
Cafe & Resto

Senja, Martabak, Roti Bakar, Mie Ayam dan Menatap Pencakar Langit di Lantai 2 Financial Club Jakarta

img20171122172912-1429788563

Setelah diajak berkunjung ke lantai 27 Financial Club Jakarta yang berada di Graha CIMB Niaga, teman saya, Gede Suhendra mengajak saya makan mie ayam.

“Yuk makan mie ayam di lantai dua”

Saya pun mengiyakan.

Awalnya saya berpikir, akan makan mie ayam di kantin yang berada di dalam kompleks Graha CIMB Niaga. Kami pun menuju elevator untuk turun ke lantai 2.

Setelah sampai di lantai dasar graha CIMB niaga, tempat saya menaruh KTP dan mengambil kartu tamu. Kami pun menuju ke tempat lantai dua yang dimaksud oleh teman saya tersebut.

Dua kali kami menaiki eskalator atau tangga berjalan. Dan kami melewati sebuah jalan kecil dan kami tiba di sebuah area. Lah kaget saya. Ternyata saya diajak makan mie ayam di sebuah area cafe yang berada di sebelah taman. Open area, atau area terbuka.

Open area ini letaknya berada di sebelah hall Financial Club Jakarta. Selain di lantai 27, ternyata ada hall atau ruang multiguna di lantai 2 Graha CIMB Niaga.

Tempat ini kalau saya bilang semacam cafe. Makanan yang tersedia … wait… tunggu….

Setelah mengambil gambar, Gede Suhendra menawarkan kepada saya untuk makan mie ayam. Langsung sirna deh anggapan saya yang mengira akan makan Mie AYam di Kantin.

Saya memesan Mie Ayam dan teman saya memesan Roti Bakar. Ya saya bisa icip-icip lah nanti roti bakarnya.

Sembari menanti roti bakar, saya dan teman saya, diberikan dua potong martabak. Untuk dicoba. Okei, saya mencobanya dan ternyata. Ini martabak telor, tapi lebih enak dari yang dijual di pinggir jalan.

Sesaat kemudian roti bakar datang. Roti bakar ini look delicious dari penampakannya.

Roti Bakar Coklat Kacang Strawberry

A post shared by Thomas J Bernadus (@bacirita) on

Isi dari roti ini adalah, Selai kacang dan strawberry. Ada saus coklat juga yang disiram di bagian atas roti. Jadi rasanya bercampur aduk. Dan enak-enak aja sih.

Setelah itu, mie ayam saya sampai. Waah.. penampakan mie ayamnya kok enak sekali ya. Tapi bagaimana rasanya. Saya cuma bisa bilang enak. Postingan soal mie-ayam ini akan dibuat terpisah. Nanti dibaca ya.

Sembari kami menikmati makanan yang, ada, kami pun mengobrol. Suasanya sore itu sehabis hujan dan akhirnya jadi tidak gerah. Sembari nongkrong, kami bisa menikmati taman, meskipun ukurannya tidak besar.

Selain taman tersebut, kami juga menikmati senja dengan pemandangan gedung pencakar langit. Suasana cafe semi terbuka dengan pemandangan gedung pencakar langit, terasa spesial bagi saya.

Karena berada di belakang gedung, tidak ada kebisingan kendaraan yang lewat. Area yang luas terbuka, membuat orang lain yang mengobrol tidak terlampau terdengar.

Tertarik untuk hangout atau chilling out di sini? Harga paket makanannya murah. Cukup merogoh Rp. 35.000, kita mendapat makanan dan minuman. Minumannya free flow. Bisa nambah sampe kita kembung. Hahahaha

Yuk ke sini….

 

 

read more
Cafe & RestoFeatured

Menikmati Jakarta dari Lantai 27 Financial Club Jakarta

img201711221639321696147507.jpg

Ajakan bertemu dengan teman, datang melalui sebuah pesan yang dikirim melalui twitter. Direct message. Pesan itu dikirim hari Senin 20 November.

Lokasi pertemuan, di kantor teman saya tersebut. Bro Gede Suhendra.

Karena lokasi pertemuan berada di Jakarta Selatan, saya lebih memilih menggunakan Transjakarta. Motor saya parkir di Gelanggang Remaja Jakarta Utara.

Saya tiba di kantor teman saya yang berada di Graha CIMB Niaga, Jalan Jenderal Sudirman. Dekat senayan. Saya tidak tahu kalau tempat bertemu tersebut berada di Lantai 27.

Setelah menelepon teman saya, dia mengatakan naik ke Lantai 27.  Dan saya harus menyerahkan KTP untuk mendapatkan kartu tamu. Usai mendapat kartu tamu, saya langsung naik lift. Ya eyalah gak mungkin naik tangga kan.

Sampai di lantai 27, Bro Gede Suhendra masih ada urusan. Saya menunggu. Oh iya, tempat pertemuan kami di Financial Club Jakarta.

Oleh mbak resepsionis, saya diarahkan masuk ke dalam financial club. 

Apa yang terjadi? Ternyata dari dalam jendela saya disajikan pemandangan senayan dan sekitarnya dari lantai 27. WOW!

Otomatis hape langsung dipake jeprat jepret cekrak cekrek.

Keren sih pemandangannya.

Di Financial club Jakarta yang berada di lantai 27 ini, kita bisa makan karena ini restoran, meeting atau rapat, berbincang dengan klien, teman, dan keluarga.

Suasananya sangat nyaman. Sejumlah kursi berada di dekat jendela. Jadi sembari berbincang, menikmati makan atau minum, kita bisa melihat Senayan dan sekitarnya.

Tidak perlu takut kehujanan ataupun diterpa angin. Ruangannya tertutup. 

Kesan eksklusif juga terasa di Financial Club Jakarta di Lantai 27 ini. Orang tidak bisa sembarangan masuk seperti resto pada umumnya. 

Meeting di sini, atau berdiskusi, tidak perlu khawatir bakal banyak gangguan. Namanya juga exclusive area.

Dan yang terpenting adalah, pemandangannya yang luar biasa. Jarang sekali kita bisa duduk bersantai, ngobrol, makan dan minum dengan view seperti ini.

Tak menyesal saya jauh-jauh dari Jakarta Utara dan bisa menikmati pemandangan indah begini.

Mau lihat-lihat foto yang lain soal Financial Club ini, saya tambahkan beberapa foto lagi ya.

read more
1 2 3 4 5 7
Page 3 of 7