close

Cafe & Resto

Cafe & Resto

Menikmati Kerlap Kerlip Lampu Kota Bandung dari Kepler Grand Mercure

kepler grand mercure 5

Makan di rooftop atau atap di sebuah gedung tinggi, baik itu gedung kantor ataup pun hotel, belakangan menjadi trend. Beberapa hotel memang menyediakan restoran di atap atau rooftop.

Meski tempat makan tersebut berada di atap, belum tentu kita bisa menikmati pemandangan yang indah. Apalagi di malam hari. Kita bisa melihat kerlap kerlip lampu.

Salah satu rooftop restaurant atau lounge yang menyajikan pemandangan keren yang saya kunjungi adalah Kepler. Kepler ini rooftop resto atau lounge di Hotel Grand Mercure, yang berada di kawasan Setiabudhi, Bandung.

Saya memang pekan lalu berkunjung ke Bandung, dan menginap di hotel Grand Mercure ini. Dan di malam terakhir menginap di hotel ini, oleh yang mengajak saya, diberikan kesempatan untuk makan malam di Kepler.

Saya naik lift ke Lantai 9 hotel Grand Mercure untuk ke Kepler ini. Keluar dari lift, harus berjalan tidak terlalu jauh. Belok kiri keluar dari lift, mentok, langsung ada pintu masuk. Sampai ke dalam Kepler, kita bisa makan baik di dalam, maupun di luar.

Maksud saya di luar, adalah yang tidak beratap. Ya beratap langit lah gitu. Dan karena di luar, udara dingin langsung menyergap saya. Tapi pemandangan yang tersaji, membuat betah. Kerlap kerlip lampu kota Bandung. Ah indahnya.

Dari dalam resto yang berdinding kaca, kita juga bisa menikmati pemandangan dari ketinggian kota Bandung juga kok. Tapi, ya kurang sreg sih melihat pemandangan seperti itu dari dalam ruangan. Setuju nggak?

Kepler ini suasananya sangat saya suka. Tidak ramai dan cozy banget. Saya tidak akan mengulas makanan di sini. Saya makan yang model prasmanan. Enak di lidah saya. Di Kepler sini, tak usah risau soal makanan.

Kita bisa menikmati kopi, teh atau wine sembari melihat pemandangan yang seperti saya ceritakan tadi. Berbincang atau sekedar duduk-duduk sudah pasti sangat santai. Sayangnya, di weekday, Kepler ini hanya beroperasi sampai jam 11. Jadi, saya tidak bisa bersantai hingga tengah malam.

Saya sudah pasti tidak lupa berfoto di Kepler dengan latar belakang Kota Bandung. Sayangnya saya memakai ponsel, hasil foto jadi tidak maksimal. Tidak apa-apa lah.

 

 

 

read more
Cafe & RestoFeatured

Geo Coffee, Cafe dengan Arsitektur Keren

IMG-20180130-WA0013.jpg

Kalau kita membayangkan sebuah kedai atau cafe atau tempat meminum kopi, apa yang muncul dalam pemikiran kita?

Kemungkinan besar, yang akan muncul adalah, sebuah tempat yang sebenarnya standard saja, tapi ada spot-spot untuk berfoto yang instagrammable. Keren untuk tempat foto dan diupload di instagram.

Tapi itu tidak semuanya. Saya menemukan sebuah cafe, atau tempat meminum kopi dengan arsitektur yang sangat unik. Dan bagi saya malah keren.

Saudara saya, namanya Diego Rumagit yang mengajak saya untuk hang out atau chilling out seusai dia menjemput saya di tempat saya menginap di kawasan Seminyak, Bali.

Dia mengajak saya untuk menikmati kopi sekaligus ngobrol-ngobrol. Maklum, sudah lama tidak bersua.

Ketika sampai di cafe bernama Geo Coffee ini, to be honest, saya langsung kagum. Kalau boleh lebay, saya tertegun. Tercekat!

Keren banget tempatnya. Lain daripada yang lain.

Arsitekturnya keren sekali. Atapnya berbentuk segitiga dari bagian bawah menjulang ke atas. Kalau kalian pernah melihat Sydney Opera House, ya rada-rada mirip lah.

Cafe Geo Coffee ini, bangunannya terbuat dari bambu. Atapnya daun yang sudah dikeringkan. Tradisional dan terkesan sangat natural. Very impressed me.

Plafonnya juga dibuat dari anyaman bambu. Warna coklat alami membuat mata kita dimanja.

Kursi atau sofa di cafe bagian dalamnya, juga dari anyaman. Makin terkesan asik. Bagian outdoor cafe yang dinaungi pohon-pohon teduh membuat sisi outdoor cafe makin keren. Kursi-kursinya dari Kayu.

Sekali lagi, sangat natural

Kesan natural cafe ini, semakin terasa dengan kopi yang dijual. Kopi yang dijual merupakan kopi lokal Bali. Arabika dan Robusta dari Pupuan dan Kintamani. WOW!

Saya bahkan berkesempatan untuk mencium aroma kopi Robusta Pupuan yang saya minum. Barista yang bernama Gede Nugroho yang menawarkan untuk mencium aroma kopi, yang sebelum disajikan, disimpan dalam toples, dan setelah itu digiling atau diproses untuk disajikan.

K

Kopi di Geo Coffee ini juga, dibeli dari petani langsung. Mereka memprosesnya sendiri.

Duduk-duduk di Cafe ini, bagi saya sangat asyik. Suasana alami, dengan pohon teduh, kawasan sekitar yang tidak ramai membuat suasana santai.

Nggak instagrammable? Siapa bilang. Kita tinggal mengambil angle yang bagus saja. Setiap sudut di Geo Coffee ini keren.

Saya pun tidak mau menghilangkan kesempatan untuk tidak berfoto.

Kalau ke Bali, silakan mampir ke sini. Barista Gede Nugroho yang ramah, asik diajak berbincang, sangat friendly menanti Anda.

Lokasinya, nih : Jl. Pengubengan Kauh No.94, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361

read more
Cafe & Resto

Dancok Cafe, Cafe Outdoor Unik di Malang

img_20180120_152517-11660566298.jpg

Ke Malang bersama dengan rombongan Indihome Jakarta Utara, saya tidak hanya berkesempatan ke Jatim Park II (sudah saya tulis di blog saya sebelumnya), dan ke Bromo sekali lagi. Saya sudah pernah berkunjung ke Bromo tahun 2014 lalu.

Hari terakhir kami berada di Malang, Sabtu 20 Januari 2018, kami berkunjung ke Taman Labirin di Wilayah Kabupaten Malang. Taman Labirin? Wah kok sepertinya baru saya dengar karena saya ketika berkunjung ke Malang sebanyak dua kali tahun 2014 lalu, tidak berkunjung ke sini.

Ternyata taman Labirin ini berada tidak jauh dari Coban (atau Cuban) Rondo. Ketika saya berkunjung ke Coban Rondo tiga tahun lalu, taman ini belum dibangun.

Saya bersama rombongan, setelah makan siang, kemudian menuju ke taman labirin. Soal taman labirin ini memang saya belum tuliskan di blog. Nanti saja, di blog terpisah.

Setelah saya dan rombongan berkeliling ke Taman Labirin dan beberapa spotnya, termasuk saya yang bermain ATV (All Terrain Vehicle), kami menuju ke Dancok Cafe. Sebuah Cafe yang memang terletak dalam kompleks atau satu area dengan Taman Labirin ini.

Oleh tour guide kami, sudah diberitahu bahwa yang namanya Dancok ini merupakan singkatan dari Daun Cokelat. Dancok memang sudah seperti bahasa akrab di Jawa Timur. Tapi kali ini Dancok dijadikan nama Cafe.

Masuk Cafe ini, kami kena tambahan biaya. Hanya 5000 Rupiah. GOCENG DOANG! Nggak mahal lah. Kami mendapat tiket masuk. Bukan tiket sih sebenarnya, karcis. LAH APA BEDANYA?

Masuk cafe ini, saya langsung melihat meja-meja yang berada di bawah pohon rindang. Karena cuaca gerimis saat itu, tidak ada yang duduk-duduk di meja yang berada di bawah pohon ini.

Gedung utama cafe (saya tidak masuk), adalah sebuah gedung kecil. Ukurannya tidak terlampau besar. Di sebelah gedung utama cafe ini ada tempat duduk yang ada atapnya. Ada sejumlah ibu-ibu saya lihat sedang duduk.

Saya dan teman, menuju ke semacam balkon. Turun ke bawah tidak terlalu jauh dengan menapaki tangga. Tapi dari semacam balkon tersebut bisa melihat pemandangan ke arah bawah perbukitan. Kita bisa berfoto dengan pemandangan rumah warga di perbukitan.

Saya juga melihat ada beberapa spot foto, yang memang bermanfaat buat para instagrammers. Tapi karena cuaca agak gerimis, saya tidak menuju ke spot tersebut. Saya dan rombongan tidak sempat icip-icip atau mencicipi makanan atau minuman di cafe ini.

Cafe ini memang unik dan keren. Mungkin satu saat saya akan kembali ke sini. Dan mungkin pembaca akan berminat mampir ke sini kalau ke malang.

read more
Cafe & Resto

Senja, Martabak, Roti Bakar, Mie Ayam dan Menatap Pencakar Langit di Lantai 2 Financial Club Jakarta

img20171122172912-1429788563

Setelah diajak berkunjung ke lantai 27 Financial Club Jakarta yang berada di Graha CIMB Niaga, teman saya, Gede Suhendra mengajak saya makan mie ayam.

“Yuk makan mie ayam di lantai dua”

Saya pun mengiyakan.

Awalnya saya berpikir, akan makan mie ayam di kantin yang berada di dalam kompleks Graha CIMB Niaga. Kami pun menuju elevator untuk turun ke lantai 2.

Setelah sampai di lantai dasar graha CIMB niaga, tempat saya menaruh KTP dan mengambil kartu tamu. Kami pun menuju ke tempat lantai dua yang dimaksud oleh teman saya tersebut.

Dua kali kami menaiki eskalator atau tangga berjalan. Dan kami melewati sebuah jalan kecil dan kami tiba di sebuah area. Lah kaget saya. Ternyata saya diajak makan mie ayam di sebuah area cafe yang berada di sebelah taman. Open area, atau area terbuka.

Open area ini letaknya berada di sebelah hall Financial Club Jakarta. Selain di lantai 27, ternyata ada hall atau ruang multiguna di lantai 2 Graha CIMB Niaga.

Tempat ini kalau saya bilang semacam cafe. Makanan yang tersedia … wait… tunggu….

Setelah mengambil gambar, Gede Suhendra menawarkan kepada saya untuk makan mie ayam. Langsung sirna deh anggapan saya yang mengira akan makan Mie AYam di Kantin.

Saya memesan Mie Ayam dan teman saya memesan Roti Bakar. Ya saya bisa icip-icip lah nanti roti bakarnya.

Sembari menanti roti bakar, saya dan teman saya, diberikan dua potong martabak. Untuk dicoba. Okei, saya mencobanya dan ternyata. Ini martabak telor, tapi lebih enak dari yang dijual di pinggir jalan.

Sesaat kemudian roti bakar datang. Roti bakar ini look delicious dari penampakannya.

Roti Bakar Coklat Kacang Strawberry

A post shared by Thomas J Bernadus (@bacirita) on

Isi dari roti ini adalah, Selai kacang dan strawberry. Ada saus coklat juga yang disiram di bagian atas roti. Jadi rasanya bercampur aduk. Dan enak-enak aja sih.

Setelah itu, mie ayam saya sampai. Waah.. penampakan mie ayamnya kok enak sekali ya. Tapi bagaimana rasanya. Saya cuma bisa bilang enak. Postingan soal mie-ayam ini akan dibuat terpisah. Nanti dibaca ya.

Sembari kami menikmati makanan yang, ada, kami pun mengobrol. Suasanya sore itu sehabis hujan dan akhirnya jadi tidak gerah. Sembari nongkrong, kami bisa menikmati taman, meskipun ukurannya tidak besar.

Selain taman tersebut, kami juga menikmati senja dengan pemandangan gedung pencakar langit. Suasana cafe semi terbuka dengan pemandangan gedung pencakar langit, terasa spesial bagi saya.

Karena berada di belakang gedung, tidak ada kebisingan kendaraan yang lewat. Area yang luas terbuka, membuat orang lain yang mengobrol tidak terlampau terdengar.

Tertarik untuk hangout atau chilling out di sini? Harga paket makanannya murah. Cukup merogoh Rp. 35.000, kita mendapat makanan dan minuman. Minumannya free flow. Bisa nambah sampe kita kembung. Hahahaha

Yuk ke sini….

 

 

read more
Cafe & RestoFeatured

Menikmati Jakarta dari Lantai 27 Financial Club Jakarta

img201711221639321696147507.jpg

Ajakan bertemu dengan teman, datang melalui sebuah pesan yang dikirim melalui twitter. Direct message. Pesan itu dikirim hari Senin 20 November.

Lokasi pertemuan, di kantor teman saya tersebut. Bro Gede Suhendra.

Karena lokasi pertemuan berada di Jakarta Selatan, saya lebih memilih menggunakan Transjakarta. Motor saya parkir di Gelanggang Remaja Jakarta Utara.

Saya tiba di kantor teman saya yang berada di Graha CIMB Niaga, Jalan Jenderal Sudirman. Dekat senayan. Saya tidak tahu kalau tempat bertemu tersebut berada di Lantai 27.

Setelah menelepon teman saya, dia mengatakan naik ke Lantai 27.  Dan saya harus menyerahkan KTP untuk mendapatkan kartu tamu. Usai mendapat kartu tamu, saya langsung naik lift. Ya eyalah gak mungkin naik tangga kan.

Sampai di lantai 27, Bro Gede Suhendra masih ada urusan. Saya menunggu. Oh iya, tempat pertemuan kami di Financial Club Jakarta.

Oleh mbak resepsionis, saya diarahkan masuk ke dalam financial club. 

Apa yang terjadi? Ternyata dari dalam jendela saya disajikan pemandangan senayan dan sekitarnya dari lantai 27. WOW!

Otomatis hape langsung dipake jeprat jepret cekrak cekrek.

Keren sih pemandangannya.

Di Financial club Jakarta yang berada di lantai 27 ini, kita bisa makan karena ini restoran, meeting atau rapat, berbincang dengan klien, teman, dan keluarga.

Suasananya sangat nyaman. Sejumlah kursi berada di dekat jendela. Jadi sembari berbincang, menikmati makan atau minum, kita bisa melihat Senayan dan sekitarnya.

Tidak perlu takut kehujanan ataupun diterpa angin. Ruangannya tertutup. 

Kesan eksklusif juga terasa di Financial Club Jakarta di Lantai 27 ini. Orang tidak bisa sembarangan masuk seperti resto pada umumnya. 

Meeting di sini, atau berdiskusi, tidak perlu khawatir bakal banyak gangguan. Namanya juga exclusive area.

Dan yang terpenting adalah, pemandangannya yang luar biasa. Jarang sekali kita bisa duduk bersantai, ngobrol, makan dan minum dengan view seperti ini.

Tak menyesal saya jauh-jauh dari Jakarta Utara dan bisa menikmati pemandangan indah begini.

Mau lihat-lihat foto yang lain soal Financial Club ini, saya tambahkan beberapa foto lagi ya.

read more
Cafe & Resto

Dapur Solo Hj Indrat Sajikan Ragam Masakan Enak di Solo

img_6658

Ketika kami, saya dan teman-teman Jasmev berpetualang di Solo, Rendi Doroii mengajak kami untuk sarapan (atau makan siang?) di sebuah tempat makan khas Solo. Namanya Dapur Solo.

Saya pun langsung membayangkan restoran Dapur Solo yang awal berkembangnya di Sunter, Jakarta Utara.

Kami dengan menggunakan bis, sempat berputar-putar untuk mencari restoran ini. Bermodalkan petunjuk dari google maps.

Setelah tiba di Restoran Dapur Solo, saya pun akhirnya sadar, ternyata memang berbeda dengan yang di Sunter. Dapur Solo ini asa tulisan Hj Indrat

Kami masuk ke tempat mengambil makanan. Ternyata modelnya makan prasmanan, alias kami mengambil sendiri makanannya.

Di bagian depan, sudah tersaji Tengkleng khas Solo dan Asem-asem Iga Sapi. Jujur saja, saya pengen Tengkleng, tapi apa daya habis. Saya memilih asem-asem Iga.

Sehabis mengambil asem-asem iga dalam mangkok, saya lanjut ke memilih makanan yang variannya sangat banyak. Saya melihat-lihat dahulu jenis makananya sebelum mengambil makanan.

Ada pecel, ada sambal kacang tolo, krecek, gudeg, teri, ayam bakar dan beragam jenis menu lainnya yang tersaji. Saya sampai bingung memilih.

Karena saya doyan pecel, pilihan jatuh ke pecel. Ada daun pepayanya.

Setelah mengambil makanan, langsung menuju kasir untuk mencatat makanannya.

Seusai itu, saya dan teman-teman langsung menuju meja makan.

Layout atau posisi meja makan, tidak ada yang spesial. Meja berderet selayaknya restoran atau tempat makan pada umumnya.

Bentuk restoran juga tidak spesial. Sepertinya ini dahulunya rumah dan dijadikan restoran.

Lokasi restoran ini sendiri berada di jalan Slamet Riyadi, Solo. Berada di seberang Pusat Pengembangan Bisnis UNS.

Mesipun restorannya sederhana, makanan yang tersaji, enak.

Kalau ke solo, tak salah mampir ke sini. Dan harus mampir!

Dapur Solo

Jl. Brigjend Slamet Riyadi, Kerten, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57139

https://goo.gl/maps/rjbHNHAvBHp

read more
Cafe & Resto

Ragam Masakan Daging Babi di Kedai Acu Mall Artha Gading

Kedai Acu MAG (1)

Bicara soal makanan, mall memang menyuguhkan beragam masakan. Baik di restoran maupun di food court. Sama seperti yang di Mall Artha Gading, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Namun, dari sekian banyak tempat makan di Mall Artha Gading, di lantai Lower Ground ada sebuah tempat makan yang saya sukai. Tempat makan ini ada di semacam kantin tidak berjauhan dari Super Market Diamond.

Kantin di sini menjual beragam makanan dan ada beberapa kedai. Salah satunya adalah Kedai Acu. Kedai Acu ini kenapa saya sukai, karena menyajikan masakan berbahan daging babi.

Bukan cuma satu atau dua kali saya makan di sini. Makanannya ada paketnya. Paket dengan Nasi ditambah masing-masing 1 lauk dan sayur, harganya Rp. 20.000, sementara paket Nasi dengan 2 Lauk dan 1 Sayur, Rp 25.000.

Biasanya saya makan paket yang Rp 25.000. Dua lauk soalnya. Oh iya itu soal harga.

Soal masakannya, masakan daging babinya macam-macam. Ada lebih dari 10 jenis. Ada babi kecap, ada babi rica, ada kuping babi, ada babi merah, rusuk babi dan ragam masakan lainnya.

Sayur di kedai Acu ini seperti sop, capcay dan lainnya. Saya nggak hapal.

Yang saya sukai di kedai acu ini adalah babi kecap dan babi merahnya. Sudah sering kali saya memesan dengan lauk ini. Rasanya? Tidak perlu saya jabarkan. Jelas enak. Bumbu terasa dan tidak hambar.

Mau mencoba?

read more
Cafe & RestoFeatured

JKC Cafe, Cafe Kopi Unik di Marunda Cilincing

IMG_3461

Nonton Ada Apa Dengan Cinta 2? Kalau nonton AADC2 tersebut, pasti masih teringat dengan jelas ketika Cinta mengerjai Rangga di sebuah kedai kopi, yang bernama Klinik Kopi.

Oke, kita tidak akan membahas Klinik Kopi tersebut. Saya akan menceritakan mengenai JKC Cafe, yang berada di daerah Gudang Peluru, Kelurahan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Trus kenapa kok bawa-bawa Klinik Kopi? Jadi begini, Minggu 28 Agustus pagi, saya bersama Walikota Jakarta Utara dan sejumlah pejabat lainnya, Blusukan ke Kelurahan Kalibaru. Masih di Cilincing juga. Nah seusai blusukan ini, Pak Wali mengajak rombongan, termasuk saya untuk makan.

Saya awalnya panasaran, diajak makan ke mana? Ternyata di bilangan Gudang Peluru ini. Teman saya bilang, kita makan seafood paling. Oke. Yang terbayang bagi saya adalah ya tempat makan seafood biasa saja. Standard lah gitu.

Setelah sampai, saya juga melihat, JKC Cafe ini agak unik. Ada empang tempat memancing, dan tempat makan yang natural banget. Bukan resto pada umumnya.

Setelah saya masuk, saya melihat kok ada sejumlah toples yang berisi kopi, seperti Kopi Jawa, Kopi Robusta, Kopi Gayo dan Arabica. Saya pun mendekati dan ternyata baristanya sedang beraksi.

IMG_3450
“Nama saya Herman mas. Ini baru buka sekitar seminggu”
“Wah baru juga ya”

Herman kemudian menceritakan sebelum disajikan, kopi digiling dan diproses dengan “vacuum”. Dia menceritakan sambil memproses kopi.

Saya melihat dia merebus air, menaruh kopi di saringan dan menyaring dengan cara menarik. Kita bisa melihat Herman yang sebelumnya bekerja di Aceh ini, beraksi meracik kopi.

“Bukan hanya kopi. Teh juga kami proses dengan cara vacuum”

IMG_3453
Dasar saya, tidak tahu soal proses Vacuum ini, ya cuma manggut-manggut saja.

Oke, unik 1, cara penyajian kopi yang mirip-mirip klinik kopi.

Nah unik 2 nya apa? Tempatnya. Kebanyakan cafe yang menyediakan kopi ini ya di ruko, atau mall. Atau rumah. Nah JKC Cafe ini malah dipinggir empang. Ciyusss loooh!!

IMG_3432
Sembari menikmati kopi, kita bisa menikmati alam daerah Marunda, dengan empangnya, masih asri dan hijau, tanpa bangunan beton di sekelilingnya. Asoy sob! Bisa menikmati kopi sembari menikmati alam. Atau juga ya mancing. Karena memang ada pemancingan.

Harga kopi di JKC cafe ini per cangkir juga tidak mahal. Masih di bawah 20 ribu. Soal rasa kopi, ya dasar saya bukan penggemar kopi, ya saya minumnya es teh.

IMG_3460

Selesai menyeruput dan menikmati kopi, kami akhirnya makan siang. Yang kami makan? Di blog terpisah yaaaa!!

Apa yang membuat saya mengait-ngaitkan dengan Klinik Kopi di film AADC 2, ya karena kita bisa melihat pemrosesan kopi, dijelaskan oleh baristanya, dan lokasinya yang alami.

Oh iya, untuk menuju Cafe ini, gampang kok. Kita dari jalan raya Cakung Cilincing, ke arah bekasi, belok kiri ke arah rumah susun marunda. Setelah melewati jembatan pertama, kita belok kanan ke arah Kompleks Marinir. Ada markas Intai Amfibi Marinir, dan tidak jauh dari Intai Amfibi Marinir ini, sebelah kanan ada JKC Cafe.

Panasaran kan?

 

read more