close

Makang Sadap

FeaturedMakang Sadap

Pecel Madya, Makanan Legendaris Favorit di Salatiga

DSC00588

Di antara kita, pasti ada yang pernah merantau ke sebuah daerah lain, jauh dari kampung halaman kita, untuk menempuh pendidikan. Seperti yang saya lakukan lebih dari 25 tahun lalu.

Saya yang berasal dari Minahasa Utara, merantau ke Jawa Tengah, untuk kuliah di Salatiga. Dan kebetulan, di Salatiga ini punya beragam makanan khas. Kalau dua tulisan saya sebelumnya saya sudah membahas tentang soto yang legendaris dan sate sapi yang enak, kali ini saya akan menceritakan mengenai nasi pecel.

Iya nasi pecel! Nasi pecel ini merupakan salah satu makanan favorit saya. Di Jakarta saja, saya sering berburu nasi Pecel. Beberapa waktu lalu memang saya berkesempatan untuk berkunjung kembali ke Salatiga, dan sudah pasti saya harus menyantap nasi pecel ini.

Nasi pecel ini, adalah Nasi Pecel Madya. Kenapa disebut Nasi Pecel Madya, karena letaknya bersebelahan dengan Bioskop Madya. Bioskop ini sendiri sudah tidak beroperasi dan gedungnya berganti menjadi gedung gereja.

Untuk mendapati nasi pecel madya ini, kita harus masuk gang kecil di samping bioskop Madya ini. Masuknya kurang lebih 30 meter. Tidak jauh dari jalan besar. Setelah masuk kita akan mendapati rumah kecil yang menjual Nasi Pecel ini.

Ah ternyata masih ada, meskipun sudah semenjak lebih dari 20 tahun lalu saya menyantap pecel di sini. Saya memang suka menyantap pecel di sini di pagi hari.

Masuk ke dalam tempat makan, saya masih mendapati hidangan lauk tambahan pecel yang masih ada. Bakwan dan Onclang. Wogh! Onclang ini sebenarnya telur dadar dengan potongan atau irisan daun bawang. Ini lauk yang sangat saya sukai dari dulu.

Saya pun memesan pecel dengan lauk onclang ini. Masih ada ayam, babat dan menu lainnya, tapi saya lebih suka onclang ini.

Usai memesan, pecel pun tersedia. Bumbu pecel madya ini memang pas banget di lidah saya. Tidak terlampau gurih atau medok bumbunya, tapi sangat menggoyang lidah. Ah rasanya masih sama seperti dulu. Lidah saya masih mampu membangkitkan memori pecel ini.

Sepiring nasi pecel dengan onclang dan bakwan yang saya makan, tidak saya bayar dengan mahal. Hanya Rp 12 ribu saja. Sangat-sangat murah.

Kenapa saya suka datang makan pecel ini di pagi hari, karena kalau di siang hari, pilihan menunya semakin berkurang. Banyak teman saya yang berkunjung ke Salatiga dan datang ke pecel Madya ini.

read more
Makang Sadap

Soto Esto, Soto Legendaris di Salatiga

DSC00324

Indonesia ini, selain kaya akan budaya, kaya juga dengan ragam kuliner meski namanya sama. Kuliner terutama makanan ini, yang namanya sama, tersebar di berbagai daerah.

Nama atau jenis makanan tersebut adalah Soto. Kita mengenal berbagai jenis Soto, dan biasanya Soto ini ada embel-embel nama daerahnya. Misalnya Soto Betawi atau Soto Lamongan. Tapi juga ada Soto yang namanya sesuai penjualnya.

Soto ini pun penyajiannya beragam. Ada yang dengan kuah bening, ataupun kuah berwarna kekuningan. Nah kalau kuah kekuningan ini salah satunya adalah Soto Esto, di Kota Kecil yang terletak di antara Solo dan Semarang, yaitu Soto Esto.

Soto Esto ini merupakan soto yang legendaris di Salatiga. Saya yang merantau dari Manado ke Salatiga, sudah mengetahui kehadiran Soto Esto ini sudah dari dekade 90an.

Nama Esto ini, merupakan salah satu lokasi di Salatiga. Esto ini merupakan P.O Bus yang melayani trayek Salatiga Ambarawa. Nah karena soto ini jualannya di depan pool P.O Bus Esto, jadilah namanya menjadi Soto Esto.

Ketika saya berkunjung ke Salatiga, Soto Esto ini sudah tidak jualan lagi di depan Pool Esto. Sudah ada tempat makannya sendiri.

Namun, yang jualannya masih sama. Tapi yang membantu jualan, sudah berbeda. Soto Esto ini sendiri letaknya di Jalan Lagensuko Salatiga.

Bagaimana dengan Sotonya sendiri. Untuk sotonya, kita bisa memesan dengan nasi dicampur di dalam soto, maupun nasi dipisah. Sotonya sendiri, hanya ada suiran daging ayam dan tauge. Tidak ada bihun seperti soto lainnya.

Kuah soto Esto ini juga berwarna kekuningan. Berbeda dengan soto lainnya yang kuahnya bening.

Rasa soto ini juga bagi saya sangat pas. Tidak gurih, tapi tetap menggoyang lidah. Menyantap soto ini bisa kita tambahkan dengan semisal perkedel atau sate telur puyuh. Dan ada sate kerang juga yang saya sukai.

Kita bisa menambahkan kerupuk karak untuk soto ini. Soal harga, semangkuk soto ini hanya ditebus dengan harga 10.000 saja. Kalau nasinya dipisah menjadi RP 11.000. Sangat murah bukan?

Soto ini jualannya sudah sejak pagi. Dan kalau kita datang siang, biasanya sudah habis. Jadi memang sebaiknya datang di pagi hari.

read more
FeaturedMakang Sadap

Sate Sapi Suruh di Salatiga Ini Top Enaknya

DSC00404

Kalau kita bicara sate sapi, mungkin yang kita tahu adalah sate Maranggi khas purwakarta. Atau mungkin sate padang? Sate yang kita kenal juga pasti tidak jauh dari Sate Ayam atau Sate Kambing.

Bicara soal sate sapi, di kota tempat saya menempuh kuliah saya, ada sate sapi yang menurut saya khas dan enak. Saya menempuh kuliah di sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang terletak antara Semarang dan Solo. Kota ini bernama Salatiga.

Nah semasa kuliah di Salatiga, saya beberapa kali menyantap sate sapi yang bernama Sate Sapi Suruh ini. Atau ada yang bilang dengan Sate Suruh saja. Bertahun berlalu, saya beberapa kali ke Salatiga lagi.

Ketika kembali ke Salatiga belum lama ini, saya mencari penjual Sate Sapi Suruh ini yang berada di ruko yang bersebelahan dengan Tamansari Shopping Center. Dari hotel tempat saya menginap, hanya berjalan kaki tidak lebih dari 200 meter. Sangat dekat.

Tidak sulit untuk mencari penjual Sate Sapi ini. Lokasinya masih sama ketika saya berkunjung sebelumnya. Di depannya juga ada spanduk besar.

Masuk ke dalam, saya langsung memesan sate sapi 10 tusuk. Sate Sapi sudah matang, tinggal dipanaskan lagi oleh penjualnya. Dan Makan Sate Sapi Suruh ini, enaknya memang pakai ketupat.

Setelah dipanaskan, sate pun tersaji di depan saya. Dan saatnya untuk menyantap. Saya sudah kangen dengan sate ini karena ada empat tahun tidak menyantapnya.

Yang membuat sate sapi Suruh ini berbeda adalah citarasa bumbu kacangnya. Bumbu kacangnya berbeda dengan bumbu kacang sate ayam. Memang tetap memakai kacang, tapi kacang di sini lebih kasar. Tidak sehalus bumbu kacang sate ayam.

Yang membedakannya lagi adalah cita rasa. Bumbu sate sapi suruh ini terasa gula jawa dan bumbu masak yang digunakan. Rasanya manis dan gurih menyatu.

Daging sapi juga tidak alot dan sangat empuk. Saya memilih sate sapi campur yang artinya tidak hanya daging tapi ada lemaknya juga. Dan ini sangat enak.

Setelah menyantap, dan bertanya berapa harganya, ternyata cukup murah. Untuk 10 tusuk sate dan ketupat, saya cukup membayar Rp 30.000 saja. Lah di Jakarta itu sama dengan makan sate kambing 10 tusuk dengan nasi.

Kalau pembaca sedang berkunjung ke Salatiga, tak ada salahnya untuk mencicipi sate ini. Suruh sendiri merupakan sebuah wilayah di Salatiga. Di daerah Suruhnya sendiri juga dijual, tapi karena ke Suruh agak jauh, cukup makan yang berada di pusat kota Salatiga saja.

Mau mencoba?

 

read more
Makang Sadap

Sensasi Nikmat Perpaduan Bumbu Sate Padang dan Bumbu Kacang

IMG_1769

Tahu sate Padang? Pernah menyantapnya? Kalau sudah pada tahu soal sate Padang ini, pastilah sudah tahu kalau bumbu sate padang ini, rasanya gurih dan cukup pedas.

Anda juga pernah menyantap sate ayam dengan bumbu kacang? Bumbu kacang sate ayam ini biasanya rasanya manis. Kalau ditambahkan cabai, akan pedas.

Nah bagaimana kalau keduanya digabungkan menjadi satu?

Ketika saya sedang roadtrip di Sumatera, sebenarnya saya sudah melihat ada pedagang gerobak yang menjual sate Kacang. Tapi saya hanya sekedar melihat saja. Tidak membeli. Saya berpikir ya mungkin sate ayam reguler. Nothing special gitu lah.

Saya yang dalam perjalanan dari Jambi ke Air Hitam, Serolangun, kemudian melihat ada pedagang yang berjualan di lintas sumatera di jalan Muara Tembesi menuju ke Serolangun, langsung berhenti. Mau mencicipi.

Saya langsung memesan Sate Kacang ini. Dan meminta bumbu kacang dicampur dengan bumbu sate padang. Teman perjalanan saya yang menyarankan untuk mencobanya. Saya mengiyakan.

Sate yang tinggal dibakar sebentar saja, sudah langsung dihidangkan. Bumbu sate padang dan bumbu kacang disajikan bersama. Saya tinggal mengaduknya.

Sate disajikan dengan lontong. Tidak ada nasi. Saya pun mengaduk bumbu sate ini dan langsung mencicipi.

Oh My God! Ternyata rasanya lebih enak. Gurihnya bumbu sate padang bercampur dengan manisnya bumbu kacang, dan ada

 

rasa pedasnya.

 

Benar-benar membuat lidah bergoyang. Asin manis dan pedas menjadi satu. Sensasinya mantap benar. Daging yang dipakai di sate ini juga bukan daging sapi, tapi daging ayam.

Sate yang dijual ini juga sangat murah. Untuk 5 tusuk hanya 6.000 an saja. Nggak sangka, bisa semurah ini makan sate. Tak ada salahnya memang saya mampir.

Kalau sedang berada di Sumatera, tak ada salahnya Anda mencoba sate ini. Dijamin ketagihan!

read more
Makang Sadap

Lezatnya Mie Ayam Boim Ndeso di Tugu Selatan

IMG-20180813-WA0079.jpg

Sebagian dari Anda, dan mungkin semuanya sudah pada pernah menyantap yang namanya Mie Ayam. Mie Ayam ini ada Mie Ayam abang-abang, ada juga yang dijual di restoran.

Mie ayam abang-abang ini, bertebaran di mana-mana di Jakarta. Ada yang berkeliling dan ada yang mangkal. Saya pun sudah icip-icip makanan ini di beberapa tempat.

Salah satunya, adalah di Wilayah Kelurahan Tugu Selatan ini. Ketika saya sedang berada di Kantor Kelurahan, saya diajak oleh teman. Makan mie ayam bang Boim. Saya panasaran. Saya pikir bang Boim siapa gitu.

Setelah sampai, ternyata penjualnya saya kenal. Bang Boim yang ketua RT 04/02 Kelurahan Tugu Selatan rupanya. Dia jualan Mie Ayam rupanya.

“Semenjak mendapat bantuan gerobak Mie Ayam dari Sumarecon bang,” jawab Bang Boim ketika saya bertanya sejak kapan menjual Mie Ayam. Bantuan gerobak ini belum lama dia dapatkan. Dalam hitungan mungkin dua atau tiga bulan.

Saya langsung memesan Mie Ayam “Polos”. Kebiasaan saya memesan Mie Ayam memang polos. Polos disini adalah nggak pake sambal dan saos. Tukang mie ayam dan memang suka langsung menambahkan saos dan sambal di dalam mie ayam.

Saya juga bahkan bisa melihat Bang Boim yang mempersiapkan Mie Ayam. Gerobak bang Boim Bersih, saya tidak ragu untuk memesan Mie Ayam.

Mulai dari mencampur bumbu, merebus mie dan sayur hingga bang Boim menghidangkan Mie Ayam saya pantau. Mau melihat langsung prosesnya.

“Mau pakai ceker bang?”

“Mau dong”

Bang Boim langsung menambahkan ceker. Karena teman, saya melihat daging Ayam dapat ekstra. Wih!

Mie ayam pun tersaji. Tak sabar saya untuk menyantap. Dan memang ternyata enak. Tekstur minya bagus, lembut. Waktu perebusan yang tepat membuat Mie tidak bengkak.

Potongan daging ayam juga isinya daging. Beberapa kali saya makan mie ayam, banyak bercampur tulang. Duh nyebelin. Tapi di bang Boim daging semua. Mantap nggak?

Rasa mie ayam ini bagi saya pas di lidah. Tidak asin dan gurih. Porsinya juga pas, tidak banyak. Saking enak, sampai kuah mie ayam kering saya seruput.

Harga Mie Ayam bang Boim ini tidak mahal. Hanya Rp 11.000 saja. Murah nggak sih? Kapan-kapan saya mau makan lagi. Kalian mau mencobanya? Ada di RT 4/2 Kelurahan Tugu Selatan.

read more
Makang Sadap

Ada Rawon Enak di Kebon Bawang

Rawon 1

Beberapa bulan lalu, saya pernah menuliskan, soal makanan berupa pecel. Pecel ini merupakan salah satu  makanan favorit saya. Pecel yang saya tuliskan ini, penjualnya berada di Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Harus saya akui, pecel madiun di sini enak. Selain enak, harganya juga murah. Makan di tempat ini, kalau makan siang sudah pasti antri. Saya bukan cuma sekali atau dua kali makan di tempat ini.

Setelah saya makan beberapa kali di tempat ini, saya kemudian mengetahui bahwa penjual pecel di sini juga menjual rawon. Wah rawon? Boleh dicoba dong. Setelah saya mengetahui ada rawon yang dijual, saya pun memesan rawon, pecel nanti saja deh.

Ketika rawon disajikan, saya meminta kepada penjual untuk menambahkan telur asin. Biar makin mantap makannya. Dan rawon disajikan dengan telur asin yang belum dicampurkan, dan nasi plus kerupuk udang.

Kalau makan pecel, tidak akan ditambahkan kerupuk udang, tapi pakai rempeyek atau peyek. Rawon ini disajikan plus dengan irisan daun bawang, bawang goreng dan so pasti kecambah atau tauge.

Seusai makanan tersaji (saya harus menunggu karena antri), saatnya menyeruput kuah rawon. Wah nikmat bener kuahnya. Lidah memberikan signal ke otak, ini enak. Rasanya pas. Saatnya saya memasukkan telur asin ke dalam rawon biar makin mantap rasanya.

Ternyata, telur asin ini menambah kelezatan rawon. Makin mantap rasanya plus ada asin yang berasal dari telur asin. Soal daging sapi di rawon ini, terasa sangat empuk. Tidak perlu usaha yang kuat untuk mengunyahnya.

Bumbu rawon bisa meresap dengan baik di daging. Duh makin mantap rasanya daging ini. Tidak terasa, seporsi rawon bisa saya habiskan. Sampai kuahnya kering karena enak.

Ketika membayar, ternyata tidak mahal. Sepiring nasi, dan rawon plus telur asin dan es teh tawar hanya Rp 23.000. Murah nggak sih.

read more
Makang Sadap

Kwetiaw Sapi Hayam Wuruk 61 di Sunter, Juara Rasanya!

IMG_20180808_230443

Kwetiaw, kalau bisa dibilang, yang jualan ini sangat banyak. Apalagi di Jakarta Utara, sekitaran Kelapa Gading, Sunter dan Pluit atau Muara Karang.

Di daerah Jakarta Barat juga banyak yang menjual kwetiaw sapi. Kwetiaw ini bisa goreng, kuah ataupun siram.

Saya punya teman di sunter, beliau ini ketua RW 011 Kelurahan Sunter Agung. Kenalnya sudah lama, sudah belasan tahun. Sudah bagaikan keluarga sendiri.

Kalau bertemu dengan teman saya ini, sudah pasti akan diajak makan. Kali ini, dia mengajak makan di kawasan Sunter yang memang tempat langganan kami makan. Di sebelah total buah Sunter, berjejer tempat makan. Saya pernah membahas soal nasi ulam yang dijual di sini.

“Makan kwetiaw yuk”

Begitu ajakan teman saya. Dan kami pun menuju ke tempat makan ini. Namanya adalah Kwetiaw Sapi Hayam Wuruk 61. Wah mungkin ini cabang dari tempat makan yang sama yang berada di Hayam Wuruk.

Saya memesan kwetiaw sapi campur. Teman saya kwetiaw sapi dagingnya saja. Saya bisa melihat koki yang memasak kwetiaw ini. Dari cara memasak dan wangi yang terpancar, saya sudah menebak ini kwetiaw pasti enak.

Kalau teman saya mengajak makan, sudah pasti makanannya enak. Teman saya ini penggemar kuliner soalnya.

Menunggu 5 menitan, kwetiaw sudah tersaji di depan saya. Jreng! Dari masakannya sudah terlihat bahwa daging sapi dan yang lainnya terlihat banyak. Ada kecambah atau taugenya juga.

Karena belum makan dari sore, langsung saya melahap kwetiaw goreng ini. Dan memang enak. Bisa saya bilang enak banget karena bumbunya pas.

Beberapa kali saya makan kwetiaw goreng, bumbunya suka bikin eneg. Tapi kwetiaw ini, bumbunya sangat pas! Udah gitu campuran dagingnya banyak. Porsi kwetiaw juga pas untuk satu orang. Kadang-kadang kwetiaw ini porsinya suka banyak banget.

Tidak perlu buru-buru makan kwetiaw ini. Sayang kalau cepat dihabiskan karena enak. Dan saya memang menikmati obrolan bersama teman sekalian makan malam. Rasa kwetiaw goreng di sini memang juara.

Soal harga, saya tidak tahu. Namanya juga ditraktir. Tapi kalau Anda mau mencoba, saya pasti merekomendasi. Enak soalnya. Lokasinya ada di sebelah bakmi sidolaris yang juga langganan saya.

 

read more
Cafe & Resto

Menikmati Kerlap Kerlip Lampu Kota Bandung dari Kepler Grand Mercure

kepler grand mercure 5

Makan di rooftop atau atap di sebuah gedung tinggi, baik itu gedung kantor ataup pun hotel, belakangan menjadi trend. Beberapa hotel memang menyediakan restoran di atap atau rooftop.

Meski tempat makan tersebut berada di atap, belum tentu kita bisa menikmati pemandangan yang indah. Apalagi di malam hari. Kita bisa melihat kerlap kerlip lampu.

Salah satu rooftop restaurant atau lounge yang menyajikan pemandangan keren yang saya kunjungi adalah Kepler. Kepler ini rooftop resto atau lounge di Hotel Grand Mercure, yang berada di kawasan Setiabudhi, Bandung.

Saya memang pekan lalu berkunjung ke Bandung, dan menginap di hotel Grand Mercure ini. Dan di malam terakhir menginap di hotel ini, oleh yang mengajak saya, diberikan kesempatan untuk makan malam di Kepler.

Saya naik lift ke Lantai 9 hotel Grand Mercure untuk ke Kepler ini. Keluar dari lift, harus berjalan tidak terlalu jauh. Belok kiri keluar dari lift, mentok, langsung ada pintu masuk. Sampai ke dalam Kepler, kita bisa makan baik di dalam, maupun di luar.

Maksud saya di luar, adalah yang tidak beratap. Ya beratap langit lah gitu. Dan karena di luar, udara dingin langsung menyergap saya. Tapi pemandangan yang tersaji, membuat betah. Kerlap kerlip lampu kota Bandung. Ah indahnya.

Dari dalam resto yang berdinding kaca, kita juga bisa menikmati pemandangan dari ketinggian kota Bandung juga kok. Tapi, ya kurang sreg sih melihat pemandangan seperti itu dari dalam ruangan. Setuju nggak?

Kepler ini suasananya sangat saya suka. Tidak ramai dan cozy banget. Saya tidak akan mengulas makanan di sini. Saya makan yang model prasmanan. Enak di lidah saya. Di Kepler sini, tak usah risau soal makanan.

Kita bisa menikmati kopi, teh atau wine sembari melihat pemandangan yang seperti saya ceritakan tadi. Berbincang atau sekedar duduk-duduk sudah pasti sangat santai. Sayangnya, di weekday, Kepler ini hanya beroperasi sampai jam 11. Jadi, saya tidak bisa bersantai hingga tengah malam.

Saya sudah pasti tidak lupa berfoto di Kepler dengan latar belakang Kota Bandung. Sayangnya saya memakai ponsel, hasil foto jadi tidak maksimal. Tidak apa-apa lah.

 

 

 

read more
Makang Sadap

Dendeng Pucuk Ubi di Solok Selatan ini Rasanya Ngalahin Dendeng Daging

Dendeng Pucuk Ubi

Kalau kita menyantap makanan dendeng, seperti dendeng batokok yang saya tulis sebelumnya, biasanya dendeng tersebut akan terbuat dari daging sapi. Selain daging sapi, dendeng yang terkenal enak, juga dari daging rusa.

Semasa kuliah saya pernah mencicipi dendeng daging rusa yang dibawa teman saya dari Kalimantan. Tapi tulisan ini tidak akan membahas dendeng dari daging.

Dalam perjalanan saya dari Kabupaten Kerinci di Jambi ke Padang, Sumatera Barat, saya dan teman saya Hariadhi, melewati wilayah Kabupaten Solok Selatan. Karena sudah malam kami mampir di sebuah warung makan. Kebetulan warung makan ini buka. Agak susah mencari warung makan.

Ketika mau makan, di warung makan ini menjual camilan. Hariadhi mengambil sebungkus. Setelah kami melihat ternyata ini adalah dendeng pucuk ubi. Dendeng pucuk ubi? Apaan itu?

Saya kemudian bertanya ke pemilik warung. Ibu Tin namanya. Duh jadi ingat ibu negara jaman dahulu. Hehe.

Ibu Tin kemudian bercerita. Dendeng Pucuk Ubi ini dibuat dari daun singkong. Waw. Dendeng buat vegetarian nih. Atau Dendeng Vegan nih. Dendeng ini dibuat oleh ibu-ibu di Kabupaten Solok Selatan. Salah satu pembuatnya adalah Ibu Tin ini.

Untuk membuatnya, Bu TIn hanya bercerita bahwa dia mencampur Daun Singkong dengan berbagai bumbu. Saya tidak mau bertanya detail soal bumbu dendeng ini. Biarlah menjadi rahasia mereka.

Saya dan Hariadhi pun mencicipi Dendeng Ini. Kriukkhhh…. wah renyah banget. Rasanya? Seperti yang saya tuliskan di judul, rasanya mengalahkan dendeng dari daging. Enak dan gurih. Plus Renyah. Kalau dendeng daging, bisa saja dagingnya alot. Tapi ini renyah.

Dendeng pucuk ubi ini, teksturnya kalau saya bilang mirip dengan dendeng dari daging. Tapi ya sekali lagi, lebih renyah. Dendeng daging memang kalau yang kering itu renyah, tapi ini lebih renyah lagi.

Soal harga, 200 gram dendeng pucuk ubi ini murah banget. Hanya Rp 12.000. Dendeng ini enak buat camilan dan enak juga dimakan dengan nasi. Ibu Tin bercerita bahwa kalau mau memesannya bisa langsung ke dia. Menarik nih.

Kalau pembaca ingin membeli Dendeng ini, saya sudah meminta nomor telepon ibu TIn. Dan sepertinya saya akan memesan dan dikirimkan lewat paket. Makasih mas Budi Arie yang sudah membantu terlaksana perjalanan saya ini.

read more
Makang Sadap

Unik, Sop Iga di Pondok Bikers NCC Disajikan di Batok Kelapa

IMG-20180714-WA0038.jpg

Sudah pernah makan sop iga sapi baik di restoran mahal atau di warung kaki lima? Kalau sudah pernah makan, pastilah disajikan di dalam mangkok keramik atau berbahan pecah belah.

Nah bagaimana kalau disajikan secara unik? Ceritanya begini. Saya seperti biasa kalau malam minggu, mampir di Pondok Bikers NCC. Sebuah warung angkringan yang pernah saya tuliskan di sini.

Ketika sampai, saya mau makan. Tapi ya karena banyak, saya salaman dengan teman-teman bikers yang sedang kumpul. Ternyata ada Pak Danang Aris yang menawarkan untuk ditraktir makan Sop Iga.

Wah menu baru ya? Sayapun langsung memesan menu baru di Angkringan Pondok Bikers ini.

Ketika disajikan, saya setengah terkejut. Disajikannya bukan di mangkok keramik tetap di mangkok dari Batok Kelapa. Unik banget. Sangat natural.

Jeruk yang disajikan dengan sedikit garam juga di tempat semacam cobek kecil tapi terbuat dari kayu. Unik juga.

Bagaimana dengan rasanya? Ketika mencicipi, atau seruputan pertama, bumbu terasa tapi tidak berlebihan. Pas di lidah saya. Tidak asin juga. Perasan jeruk nipis dan tambahan sedikit kecap membuat enak kuah sop iga ini.

Daging sop iganya juga tidak alot. Empuk dan tidak perlu usaha untuk mengunyahnya. Bumbu terasa masuk di daging. Makin enak. Cita rasa daging sapi memang terasa di kuah. Tak terasa. Semangkok ludes.

Soal hargq, walaupun saya ditraktir, karena ownernya adalah teman, saya tetap tanya. Cuma Rp 25.000. Wah murah bener. Harga kaki lima, rasa bintang lima seperti semboyan sebuat restoran.

Mau mencicipinya? Ke Pondok Bikers aja. Ada di Google Maps kok kalau bingung.

read more
1 2 3 7
Page 1 of 7