close

Makang Sadap

Makang Sadap

Sensasi Nikmat Perpaduan Bumbu Sate Padang dan Bumbu Kacang

IMG_1769

Tahu sate Padang? Pernah menyantapnya? Kalau sudah pada tahu soal sate Padang ini, pastilah sudah tahu kalau bumbu sate padang ini, rasanya gurih dan cukup pedas.

Anda juga pernah menyantap sate ayam dengan bumbu kacang? Bumbu kacang sate ayam ini biasanya rasanya manis. Kalau ditambahkan cabai, akan pedas.

Nah bagaimana kalau keduanya digabungkan menjadi satu?

Ketika saya sedang roadtrip di Sumatera, sebenarnya saya sudah melihat ada pedagang gerobak yang menjual sate Kacang. Tapi saya hanya sekedar melihat saja. Tidak membeli. Saya berpikir ya mungkin sate ayam reguler. Nothing special gitu lah.

Saya yang dalam perjalanan dari Jambi ke Air Hitam, Serolangun, kemudian melihat ada pedagang yang berjualan di lintas sumatera di jalan Muara Tembesi menuju ke Serolangun, langsung berhenti. Mau mencicipi.

Saya langsung memesan Sate Kacang ini. Dan meminta bumbu kacang dicampur dengan bumbu sate padang. Teman perjalanan saya yang menyarankan untuk mencobanya. Saya mengiyakan.

Sate yang tinggal dibakar sebentar saja, sudah langsung dihidangkan. Bumbu sate padang dan bumbu kacang disajikan bersama. Saya tinggal mengaduknya.

Sate disajikan dengan lontong. Tidak ada nasi. Saya pun mengaduk bumbu sate ini dan langsung mencicipi.

Oh My God! Ternyata rasanya lebih enak. Gurihnya bumbu sate padang bercampur dengan manisnya bumbu kacang, dan ada

 

rasa pedasnya.

 

Benar-benar membuat lidah bergoyang. Asin manis dan pedas menjadi satu. Sensasinya mantap benar. Daging yang dipakai di sate ini juga bukan daging sapi, tapi daging ayam.

Sate yang dijual ini juga sangat murah. Untuk 5 tusuk hanya 6.000 an saja. Nggak sangka, bisa semurah ini makan sate. Tak ada salahnya memang saya mampir.

Kalau sedang berada di Sumatera, tak ada salahnya Anda mencoba sate ini. Dijamin ketagihan!

read more
Makang Sadap

Lezatnya Mie Ayam Boim Ndeso di Tugu Selatan

IMG-20180813-WA0079.jpg

Sebagian dari Anda, dan mungkin semuanya sudah pada pernah menyantap yang namanya Mie Ayam. Mie Ayam ini ada Mie Ayam abang-abang, ada juga yang dijual di restoran.

Mie ayam abang-abang ini, bertebaran di mana-mana di Jakarta. Ada yang berkeliling dan ada yang mangkal. Saya pun sudah icip-icip makanan ini di beberapa tempat.

Salah satunya, adalah di Wilayah Kelurahan Tugu Selatan ini. Ketika saya sedang berada di Kantor Kelurahan, saya diajak oleh teman. Makan mie ayam bang Boim. Saya panasaran. Saya pikir bang Boim siapa gitu.

Setelah sampai, ternyata penjualnya saya kenal. Bang Boim yang ketua RT 04/02 Kelurahan Tugu Selatan rupanya. Dia jualan Mie Ayam rupanya.

“Semenjak mendapat bantuan gerobak Mie Ayam dari Sumarecon bang,” jawab Bang Boim ketika saya bertanya sejak kapan menjual Mie Ayam. Bantuan gerobak ini belum lama dia dapatkan. Dalam hitungan mungkin dua atau tiga bulan.

Saya langsung memesan Mie Ayam “Polos”. Kebiasaan saya memesan Mie Ayam memang polos. Polos disini adalah nggak pake sambal dan saos. Tukang mie ayam dan memang suka langsung menambahkan saos dan sambal di dalam mie ayam.

Saya juga bahkan bisa melihat Bang Boim yang mempersiapkan Mie Ayam. Gerobak bang Boim Bersih, saya tidak ragu untuk memesan Mie Ayam.

Mulai dari mencampur bumbu, merebus mie dan sayur hingga bang Boim menghidangkan Mie Ayam saya pantau. Mau melihat langsung prosesnya.

“Mau pakai ceker bang?”

“Mau dong”

Bang Boim langsung menambahkan ceker. Karena teman, saya melihat daging Ayam dapat ekstra. Wih!

Mie ayam pun tersaji. Tak sabar saya untuk menyantap. Dan memang ternyata enak. Tekstur minya bagus, lembut. Waktu perebusan yang tepat membuat Mie tidak bengkak.

Potongan daging ayam juga isinya daging. Beberapa kali saya makan mie ayam, banyak bercampur tulang. Duh nyebelin. Tapi di bang Boim daging semua. Mantap nggak?

Rasa mie ayam ini bagi saya pas di lidah. Tidak asin dan gurih. Porsinya juga pas, tidak banyak. Saking enak, sampai kuah mie ayam kering saya seruput.

Harga Mie Ayam bang Boim ini tidak mahal. Hanya Rp 11.000 saja. Murah nggak sih? Kapan-kapan saya mau makan lagi. Kalian mau mencobanya? Ada di RT 4/2 Kelurahan Tugu Selatan.

read more
Makang Sadap

Ada Rawon Enak di Kebon Bawang

Rawon 1

Beberapa bulan lalu, saya pernah menuliskan, soal makanan berupa pecel. Pecel ini merupakan salah satu  makanan favorit saya. Pecel yang saya tuliskan ini, penjualnya berada di Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Harus saya akui, pecel madiun di sini enak. Selain enak, harganya juga murah. Makan di tempat ini, kalau makan siang sudah pasti antri. Saya bukan cuma sekali atau dua kali makan di tempat ini.

Setelah saya makan beberapa kali di tempat ini, saya kemudian mengetahui bahwa penjual pecel di sini juga menjual rawon. Wah rawon? Boleh dicoba dong. Setelah saya mengetahui ada rawon yang dijual, saya pun memesan rawon, pecel nanti saja deh.

Ketika rawon disajikan, saya meminta kepada penjual untuk menambahkan telur asin. Biar makin mantap makannya. Dan rawon disajikan dengan telur asin yang belum dicampurkan, dan nasi plus kerupuk udang.

Kalau makan pecel, tidak akan ditambahkan kerupuk udang, tapi pakai rempeyek atau peyek. Rawon ini disajikan plus dengan irisan daun bawang, bawang goreng dan so pasti kecambah atau tauge.

Seusai makanan tersaji (saya harus menunggu karena antri), saatnya menyeruput kuah rawon. Wah nikmat bener kuahnya. Lidah memberikan signal ke otak, ini enak. Rasanya pas. Saatnya saya memasukkan telur asin ke dalam rawon biar makin mantap rasanya.

Ternyata, telur asin ini menambah kelezatan rawon. Makin mantap rasanya plus ada asin yang berasal dari telur asin. Soal daging sapi di rawon ini, terasa sangat empuk. Tidak perlu usaha yang kuat untuk mengunyahnya.

Bumbu rawon bisa meresap dengan baik di daging. Duh makin mantap rasanya daging ini. Tidak terasa, seporsi rawon bisa saya habiskan. Sampai kuahnya kering karena enak.

Ketika membayar, ternyata tidak mahal. Sepiring nasi, dan rawon plus telur asin dan es teh tawar hanya Rp 23.000. Murah nggak sih.

read more
Makang Sadap

Kwetiaw Sapi Hayam Wuruk 61 di Sunter, Juara Rasanya!

IMG_20180808_230443

Kwetiaw, kalau bisa dibilang, yang jualan ini sangat banyak. Apalagi di Jakarta Utara, sekitaran Kelapa Gading, Sunter dan Pluit atau Muara Karang.

Di daerah Jakarta Barat juga banyak yang menjual kwetiaw sapi. Kwetiaw ini bisa goreng, kuah ataupun siram.

Saya punya teman di sunter, beliau ini ketua RW 011 Kelurahan Sunter Agung. Kenalnya sudah lama, sudah belasan tahun. Sudah bagaikan keluarga sendiri.

Kalau bertemu dengan teman saya ini, sudah pasti akan diajak makan. Kali ini, dia mengajak makan di kawasan Sunter yang memang tempat langganan kami makan. Di sebelah total buah Sunter, berjejer tempat makan. Saya pernah membahas soal nasi ulam yang dijual di sini.

“Makan kwetiaw yuk”

Begitu ajakan teman saya. Dan kami pun menuju ke tempat makan ini. Namanya adalah Kwetiaw Sapi Hayam Wuruk 61. Wah mungkin ini cabang dari tempat makan yang sama yang berada di Hayam Wuruk.

Saya memesan kwetiaw sapi campur. Teman saya kwetiaw sapi dagingnya saja. Saya bisa melihat koki yang memasak kwetiaw ini. Dari cara memasak dan wangi yang terpancar, saya sudah menebak ini kwetiaw pasti enak.

Kalau teman saya mengajak makan, sudah pasti makanannya enak. Teman saya ini penggemar kuliner soalnya.

Menunggu 5 menitan, kwetiaw sudah tersaji di depan saya. Jreng! Dari masakannya sudah terlihat bahwa daging sapi dan yang lainnya terlihat banyak. Ada kecambah atau taugenya juga.

Karena belum makan dari sore, langsung saya melahap kwetiaw goreng ini. Dan memang enak. Bisa saya bilang enak banget karena bumbunya pas.

Beberapa kali saya makan kwetiaw goreng, bumbunya suka bikin eneg. Tapi kwetiaw ini, bumbunya sangat pas! Udah gitu campuran dagingnya banyak. Porsi kwetiaw juga pas untuk satu orang. Kadang-kadang kwetiaw ini porsinya suka banyak banget.

Tidak perlu buru-buru makan kwetiaw ini. Sayang kalau cepat dihabiskan karena enak. Dan saya memang menikmati obrolan bersama teman sekalian makan malam. Rasa kwetiaw goreng di sini memang juara.

Soal harga, saya tidak tahu. Namanya juga ditraktir. Tapi kalau Anda mau mencoba, saya pasti merekomendasi. Enak soalnya. Lokasinya ada di sebelah bakmi sidolaris yang juga langganan saya.

 

read more
Cafe & Resto

Menikmati Kerlap Kerlip Lampu Kota Bandung dari Kepler Grand Mercure

kepler grand mercure 5

Makan di rooftop atau atap di sebuah gedung tinggi, baik itu gedung kantor ataup pun hotel, belakangan menjadi trend. Beberapa hotel memang menyediakan restoran di atap atau rooftop.

Meski tempat makan tersebut berada di atap, belum tentu kita bisa menikmati pemandangan yang indah. Apalagi di malam hari. Kita bisa melihat kerlap kerlip lampu.

Salah satu rooftop restaurant atau lounge yang menyajikan pemandangan keren yang saya kunjungi adalah Kepler. Kepler ini rooftop resto atau lounge di Hotel Grand Mercure, yang berada di kawasan Setiabudhi, Bandung.

Saya memang pekan lalu berkunjung ke Bandung, dan menginap di hotel Grand Mercure ini. Dan di malam terakhir menginap di hotel ini, oleh yang mengajak saya, diberikan kesempatan untuk makan malam di Kepler.

Saya naik lift ke Lantai 9 hotel Grand Mercure untuk ke Kepler ini. Keluar dari lift, harus berjalan tidak terlalu jauh. Belok kiri keluar dari lift, mentok, langsung ada pintu masuk. Sampai ke dalam Kepler, kita bisa makan baik di dalam, maupun di luar.

Maksud saya di luar, adalah yang tidak beratap. Ya beratap langit lah gitu. Dan karena di luar, udara dingin langsung menyergap saya. Tapi pemandangan yang tersaji, membuat betah. Kerlap kerlip lampu kota Bandung. Ah indahnya.

Dari dalam resto yang berdinding kaca, kita juga bisa menikmati pemandangan dari ketinggian kota Bandung juga kok. Tapi, ya kurang sreg sih melihat pemandangan seperti itu dari dalam ruangan. Setuju nggak?

Kepler ini suasananya sangat saya suka. Tidak ramai dan cozy banget. Saya tidak akan mengulas makanan di sini. Saya makan yang model prasmanan. Enak di lidah saya. Di Kepler sini, tak usah risau soal makanan.

Kita bisa menikmati kopi, teh atau wine sembari melihat pemandangan yang seperti saya ceritakan tadi. Berbincang atau sekedar duduk-duduk sudah pasti sangat santai. Sayangnya, di weekday, Kepler ini hanya beroperasi sampai jam 11. Jadi, saya tidak bisa bersantai hingga tengah malam.

Saya sudah pasti tidak lupa berfoto di Kepler dengan latar belakang Kota Bandung. Sayangnya saya memakai ponsel, hasil foto jadi tidak maksimal. Tidak apa-apa lah.

 

 

 

read more
Makang Sadap

Dendeng Pucuk Ubi di Solok Selatan ini Rasanya Ngalahin Dendeng Daging

Dendeng Pucuk Ubi

Kalau kita menyantap makanan dendeng, seperti dendeng batokok yang saya tulis sebelumnya, biasanya dendeng tersebut akan terbuat dari daging sapi. Selain daging sapi, dendeng yang terkenal enak, juga dari daging rusa.

Semasa kuliah saya pernah mencicipi dendeng daging rusa yang dibawa teman saya dari Kalimantan. Tapi tulisan ini tidak akan membahas dendeng dari daging.

Dalam perjalanan saya dari Kabupaten Kerinci di Jambi ke Padang, Sumatera Barat, saya dan teman saya Hariadhi, melewati wilayah Kabupaten Solok Selatan. Karena sudah malam kami mampir di sebuah warung makan. Kebetulan warung makan ini buka. Agak susah mencari warung makan.

Ketika mau makan, di warung makan ini menjual camilan. Hariadhi mengambil sebungkus. Setelah kami melihat ternyata ini adalah dendeng pucuk ubi. Dendeng pucuk ubi? Apaan itu?

Saya kemudian bertanya ke pemilik warung. Ibu Tin namanya. Duh jadi ingat ibu negara jaman dahulu. Hehe.

Ibu Tin kemudian bercerita. Dendeng Pucuk Ubi ini dibuat dari daun singkong. Waw. Dendeng buat vegetarian nih. Atau Dendeng Vegan nih. Dendeng ini dibuat oleh ibu-ibu di Kabupaten Solok Selatan. Salah satu pembuatnya adalah Ibu Tin ini.

Untuk membuatnya, Bu TIn hanya bercerita bahwa dia mencampur Daun Singkong dengan berbagai bumbu. Saya tidak mau bertanya detail soal bumbu dendeng ini. Biarlah menjadi rahasia mereka.

Saya dan Hariadhi pun mencicipi Dendeng Ini. Kriukkhhh…. wah renyah banget. Rasanya? Seperti yang saya tuliskan di judul, rasanya mengalahkan dendeng dari daging. Enak dan gurih. Plus Renyah. Kalau dendeng daging, bisa saja dagingnya alot. Tapi ini renyah.

Dendeng pucuk ubi ini, teksturnya kalau saya bilang mirip dengan dendeng dari daging. Tapi ya sekali lagi, lebih renyah. Dendeng daging memang kalau yang kering itu renyah, tapi ini lebih renyah lagi.

Soal harga, 200 gram dendeng pucuk ubi ini murah banget. Hanya Rp 12.000. Dendeng ini enak buat camilan dan enak juga dimakan dengan nasi. Ibu Tin bercerita bahwa kalau mau memesannya bisa langsung ke dia. Menarik nih.

Kalau pembaca ingin membeli Dendeng ini, saya sudah meminta nomor telepon ibu TIn. Dan sepertinya saya akan memesan dan dikirimkan lewat paket. Makasih mas Budi Arie yang sudah membantu terlaksana perjalanan saya ini.

read more
Makang Sadap

Unik, Sop Iga di Pondok Bikers NCC Disajikan di Batok Kelapa

IMG-20180714-WA0038.jpg

Sudah pernah makan sop iga sapi baik di restoran mahal atau di warung kaki lima? Kalau sudah pernah makan, pastilah disajikan di dalam mangkok keramik atau berbahan pecah belah.

Nah bagaimana kalau disajikan secara unik? Ceritanya begini. Saya seperti biasa kalau malam minggu, mampir di Pondok Bikers NCC. Sebuah warung angkringan yang pernah saya tuliskan di sini.

Ketika sampai, saya mau makan. Tapi ya karena banyak, saya salaman dengan teman-teman bikers yang sedang kumpul. Ternyata ada Pak Danang Aris yang menawarkan untuk ditraktir makan Sop Iga.

Wah menu baru ya? Sayapun langsung memesan menu baru di Angkringan Pondok Bikers ini.

Ketika disajikan, saya setengah terkejut. Disajikannya bukan di mangkok keramik tetap di mangkok dari Batok Kelapa. Unik banget. Sangat natural.

Jeruk yang disajikan dengan sedikit garam juga di tempat semacam cobek kecil tapi terbuat dari kayu. Unik juga.

Bagaimana dengan rasanya? Ketika mencicipi, atau seruputan pertama, bumbu terasa tapi tidak berlebihan. Pas di lidah saya. Tidak asin juga. Perasan jeruk nipis dan tambahan sedikit kecap membuat enak kuah sop iga ini.

Daging sop iganya juga tidak alot. Empuk dan tidak perlu usaha untuk mengunyahnya. Bumbu terasa masuk di daging. Makin enak. Cita rasa daging sapi memang terasa di kuah. Tak terasa. Semangkok ludes.

Soal hargq, walaupun saya ditraktir, karena ownernya adalah teman, saya tetap tanya. Cuma Rp 25.000. Wah murah bener. Harga kaki lima, rasa bintang lima seperti semboyan sebuat restoran.

Mau mencicipinya? Ke Pondok Bikers aja. Ada di Google Maps kok kalau bingung.

read more
Makang Sadap

Gulai Kepala Ikan di Resto Pagi Sore Trans Sumatra, Lezat Bener

Pagi Sore 2

Hari menjelang sore ketika saya tiba-tiba melihat Restoran Pagi Sore. Saya dalam perjalanan menuju ke Jambi. Saya dan Hariadhi berangkat dari Palembang.

Sudah pada tahu kan kalau restoran padang Pagi Sore ini juga ada di Jakarta. Saya juga sudah pernah makan di restoran Pagi SOre ketika berada di Jakarta.

Namun, ketika melihat ada Resto Pagi Sore yang sekalian rest area di Trans Sumatra, saya memaksa Hariadhi untuk mampir.

Daripada nanti di Jalan menuju Jambi tidak bertemu dengan tempat makan, sekalian saja, beli makan di Resto Pagi Sore ini.

Masuk dalam restoran, saya langsung melihat-lihat makanan yang tersaji. Pada umumnya adalah masakan minang atau Padang. Ketika saya melihat ada potongan ikan seperti ikan tongkol di restoran Padang, saya pun bertanya. Ternyata ini adalah Ikan Baung.

Saya sudah mau memesan untuk dibungkus, ketika Hariadhi melihat ada gulai kepala ikan kakap. 1 Porsi Gulai Kepala Kakap ini bisa untuk berdua. Saya pun setuju untuk memilih Gulai Kepala Kakap Ini untuk dibungkus.

Satu Porsi Gulai Kepala Kakap ini diberi harga RP 100.000. Cukup mahal, tapi ukurannya yang jumbo, jadi tidak rugi lah. Seperti saya ceritakan di atas tadi, kami tidak makan di resto. Kami pilih bungkus.

Di mana kami akan menyantapnya? Hehehe, karena sudah dekat dengan jambi, kami akan menyantapnya di Jambi saja. Sekalian makan malam.

Saatnya makan.

Saya dan Hariadhi tiba di Jambi sudah sekitar jam 21.00. Hariadhi menawarkan kita makan sambil melihat Gentala Arasy di Jambi. Untuk ini akan saya tuliskan terpisah ya.

Kami mampir di tepi sungai Batanghari. Gentala Arasy ini memang berada di Sungai Batanghari ini. Di Tepi Sungai, menjadi lokasi warga untuk berwisata. Ada beragam makanan kaki lima.

Seusai duduk di salah satu lapak kaki lima, saatnya menyantap Kepala Ikan Kakap. Sudah tak sabar saya untuk menyantapnya.

Suapan pertama ke mulut? Hmmm terasa sekali bumbu gulai ikan yang gurih. Tidak salah memang kami memilih menu Gulai ini untuk dibungkus.

Suapan selanjutnya makin semangat menyantap Kepala Ikan. Karena berukuran jumbo, sudah pasti Daging Ikan di bagian kepala banyak. Tulang Kepala Ikan juga sangat enak untuk dihisap-hisap.

Ah nikmatnya.

Menyiram kuah Gulai ke atas nasi makin membuat santapan semakin enak. Satu bungkus nasi tak terasa habis dilahap. Perjalanan yang lumayan melelahkan, terbayar dengan menyantap Gulai Kepala Ikan ini.

Kalau lagi melintas di Jalur Trans Sumatra dan melihat ada resto Pagi Sore, jangan lupa mampir ya. Belilah gulai kepala ikan.

read more
Makang Sadap

Salalaluak, Camilan Khas Pariaman yang Enak

salalaluak 1

Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki makanan khas, baik makanan berat, ataupun makanan ringan berupa camilan. Seperti yang saya temukan di Pariaman, salah satu wilayah di Sumatera Barat.

Panganan ini diberitahukan oleh teman saya, Hariadhi, ketika kami dalam perjalanan dari Sumatera Barat menuju Sumatera Utara dan melintasi wilayah Pariaman atau Padang Pariaman ini.

“Tom, kita cari Salaluak deh”

“Apaan itu Salalaluak?”

“Cari aja di Google”

Teman saya pun menceritakan gambaran sedikit sambil menunggu hasil googling saya soal Salalaluak ini. Hariadhi bercerita bahwa Salalaluak ini seperti combro. Tapi kalau combro isinya oncom, Salalaluak ini isinya ikan!

Wah enak nih…..

Sepanjang perjalanan pun, Hariadhi meminta saya untuk melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari Salaluak ini. Tapi nggak ketemu. Duh!

Sampai akhirnya, kami berbelok ke sebuah pantai, namanya Pantai Katapiang. Pantai Katapiang ini sudah saya ceritakan di tulisan saya yang lainnya. Kami ingin bersantai di Pantai, sembari ya buat bahan tulisan.

Ketika kami mampir di salah satu kedai yang menjual makanan dan minuman, Hariadhi bertanya apakah ada Salalaluak. Dan ternyata ada. Hariadhi pun menunjukkan ke saya.

“Ini lho Tom Salalaluak ini. Cobain aja”

Saya pun mengambil satu Salalaluak ini dan mencicipinya. Bentuk Salalaluak ini seperti bola kecil. Kalau combro kan biasanya lonjong. Kalau Salalaluak ini bola. Ketika menggigit, wah renyah. Dan isi dari salaluak ini enak banget. Ikannya seperti pakai mayonaise. Sedap di lidah.

Saking enaknya, saya makan lebih dari 5 Salaluak ini. Enak memang.

Harga Salalaluak ini murah banget. Ketika saya tanya, harga per buah atau per bijinya hanya Rp. 500. Wait what? 500? Di Jakarta mana dapat segitu. Murah banget asli!

Nah ternyata, ketika dalam perjalanan ke Pusat Pariaman dari Pantai Katapiang, saya melihat banyak yang menjual gorengan di pinggir jalan. Ada sebuah wilayah (saya lupa nama desanya), sepanjang jalan menjual gorengan. Salah satunya ya Salaluak.

Saya membeli di sini lebih murah. 10.000 dapat 25 Salalaluak. Sekantong plastik isi 50 hanya 20.000, alias sebijinya cuma 400 perak. Murah banget dan puas makannya.

Menurut informasi sih, di Jakarta juga ada yang menjual Salalaluak ini untuk disantap dengan Lontong Sayur. Tapi makan di daerah asalnya sudah pasti berbeda lah. Ibarat makan Gudeg ya di Jogja. Makan Pempek ya di Palembang. Begitu kan?

 

read more
FeaturedMakang Sadap

Dendeng Batokok Nan Enak di Kabupaten Kerinci

batokok 3

Seusai bertemu dengan Suku Anak Dalam di Kabupaten Serolangun, Provinsi Jambi, saya bersama teman saya melanjutkan perjalanan ke Sumatera Barat. Dalam perjalanan ini, kami melewati Kabupaten Kerinci dimana ada Danau Kerinci dan Gunung Kerinci.

Hari masih subuh ketika kami tiba. Kamipun berniat untuk mengelilingi Danau Kerinci ini. Setelah mampir sebentar di tepi danau, kami melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, dan hari mulai menanjak siang, perut mulai memberikan kode. Lapar! Kami pun melirik ke kanan dan kiri mencari tempat makan. Karena masih suasana lebaran, tidak ada yang buka. Waduh!

Perjalanan terus kami lanjutkan sampai akhirnya kami temukan sebuat tempat makan. Masakan minang sebenarnya. Tapi yang membuat berbeda adalah plangnya. Ada Dendeng Batokok. Wah baru pertama kali saya lihat ini.

Dokpri
Dokpri

Yang terbayang dalam pikiran saya adalah dendeng yang crispy atau renyah ketika dikunyah. Ada juga yang alot juga sebenarnya.

Sampai di dalam tempat makan bernama Pancuran Tujuh ini, saya melihat daging sapi yang dibuat fillet, atau diiris tipis dan berada dalam tempat panggangan. Teman saya, Hariadhi pun bilang itulah dendeng Batokok!

Dokpri
Dokpri

Woh! Penampilannya lain ternyata!

Karena memang ingin mencicipi (atau menyantap) dendeng Batokok ini, kami tidak memesan menu atau jenis makanan lain. Hanya Dendeng Batokok saja.

Pesanan pun sampai di meja. Dendeng Batokok ini disajikan dengan dua jenis sambal. Ada semacam sambal seperti sambal ayam pop dan sambal uleg atau semacam sambal terasi. Ada dua jenis sambal ternyata.

Dokpri
Dokpri

Dan yang uniknya lagi adalah, ada keripik kentang (atau singkong?) Semacam opak tapi kecil-kecil.

Tiba saatnya menyantap. Saya mengambil satu potong daging dendeng batokok ini. Kalau kita lihat sekilas, mirip dengan empal. Gigitan pertama sampai di mulut dan Empuk! Nggak alot.

Ketika mulai dikunyah, ada rasa seperti jeruk. Dan ternyata memang menggunakan limau. Oh My God! Sungguh enak benar. Bumbu manis asam jeruk terasa. Ditambah dengan sambal, makin sedap menyantapnya.

Tak terasa dua potong daging dendeng batokok ini saya santap. Teman saya hanya menyantap satu potong saja. Ketika membayar, kami hanya membayar Rp 60.000 untuk makan sudah dengan nasi dan minum.

Soal dendeng batokok ini, sampai saya menulis tulisan ini, masih terbayang rasa enak dan empuknya. Kalau sedang berpetualang di Sumatera, tak ada salahnya kita mencoba mencicipi dendeng batokok ini.

read more
1 2 3 7
Page 1 of 7