close

Bapontar

Bapontar

Pedestrian di Jalan Gunung Sahari yang Kini Lebih Rapi

img_3968

Libur Idul Adha Senin 12 September dua hari lalu, seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya sebelumnya tentang danau sunter barat, saya berkeliling Jakarta Pusat dan Utara.

Kebetulan ada teman yang meminjamkan saya sepeda motor semenjak pekan lalu. Jadi, pas libur, tidak ada salah jika saya berkeliling. Mumpung jalanan cenderung sepi.

Setelah ke Danau Sunter Barat atau Waduk Sunter Barat, saya melanjutkan perjalanan melewati Kemayoran, Jalan Angkasa. Saya menuju ke Jalan Gunung Sahari.

Ada apa di Jalan Gunung Sahari?

Yang membuat saya tertarik ke Gunung Sahari adalah melihat pedestrian sepanjang jalan tersebut yang berada di samping sungai atau kali.

Saya akan memantau pedestrian dari perempatan Hotel Golden hingga dengan perempatan Mangga Dua Square. Pedestrian di sepanjang jalan Gunung Sahari ini, mengapa menarik perhatian saya, karena sudah lebih rapi.

Iya lebih rapi, dan tertata. Pedestrian di Jalan Gunung Sahari ini, kini sudah berubah. Benar-benar berubah.

Perubahan ini, semenjak kali yang ada di Gunung Sahari, dipasang sheetpile atau tanggul di pinggirnya. Pemasangan tanggul ini mungkin sekitar tahun 2013-2015 an. Saya tidak tahu persisnya.

Seusai tanggul dibangun, pedestrian kemudian dirapikan. Sudah ada pedestrian sebelumnya, namun masih belum rapi. Pedestrian yang dirapikan ini, tetap menggunakan Paving Block.

Mungkin selebar kurang lebih satu setengah meter. Maklum saya nggak bawa alat ukur. Jadi ya nebak-nebak aja.

Di samping kali ini memang lebarnya kurang lebih tiga hingga empat meter-an. Jadi masih ada space atau jarak dari tanggul ke jalan raya.

Jadi, selain pedestrian, ada juga spasi yang ditanami tanaman.

Selain tanaman bunga, atau tanaman perdu, ada juga pohon yang sudah besar. Memang banyak pohon di Jalan Gunung Sahari ini, namun, dipangkas ketika alat berat mengerjakan.

Dari yang saya lihat, pohon tersebut sudah mulai rindang kembali. Bahkan di beberapa titik sudah menaungi.

Pedestrian yang memakai paving block ini, lebih baik dari pada dicor, karena bisa menyerap air hujan yang turun. Adanya spasi yang ditanami rumput dan tanaman lainnya juga bermanfaat untuk penyerapan air.

Di pedestrian ini juga sejumlah bangku atau kursi panjang dari besi. Ini tentunya bermanfaat. Orang yang berjalan kaki di pedestrian bisa istirahat kalau capai atau capek.

Bagi yang malas menunggu angkutan umum di halte, walaupun ada, bisa duduk sembari menunggu angkutan umum yang lewat.

Dan yang jelas, pedestrian ini bisa dimanfaatkan pejalan kaki. Pejalan kaki akan semakin nyaman karena tidak ada pedagang kaki lima di sepanjang pedestrian itu.

Yang saya perhatikan juga, karena cenderung tinggi, sepeda motor nakal juga tidak ada yang naik ke pedestrian. Dan semoga saja sepeda motor nakal ini tidak akan naik ke pedestrian kalau macet.

Dan, semoga juga tidak akan ada pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan ini. Warga juga semoga tidak ada yang jail merusak pedestrian ini.

Semoga!!

read more
BapontarFeatured

Halte Transjakarta Monas Nan Asri

image

Kamis 8 September, saya harus ke STO Gambir, ke kantor IndiHome. Urusan nonton bareng Manchester Derby. Seperti biasa, saya naik transjakarta.

Untuk menuju ke STO Gambir di Jalan Medan Merdeka Selatan, saya berangkat sekitar jam 09.00 WIB dari kosan saya di Tanjung Priok. Start dari halte busway kantor Walikota Jakarta Utara, saya meluncur dengan bus koridor 12 ke halte Jakarta Kota.

Dari Jakarta Kota, saya akan menuju halte monas dengan bus koridor 1. Dari halte monas baru saya akan naik bus koridor 3, turun di halte balai kota. Saya memilih turun di monas, karena harmoni biasanya cukup padat.

Akhirnya saya tiba di halte monas. Jam 11 kurang.

Ketika saya berada di halte monas, saya sangat terkesan. Saya suka sekali halte transjakarta monas ini. Kenapa? Karena dinaungi pohon rindang, selain itu juga, berada di tengah-tengah taman hijau nan asri.

Saya pun mengambil foto. Mengabadikan keasrian sekitar halte monas ini. Rasanya mata sangat sejuk melihat taman yang ada di samping kiri kanan halte monas. Saya masih terkagum-kagum hingga akhirnya bus koridor 3 datang.

Saya pun bergegas menaiki bus. Sudah ditunggu sama kenalan di STO Gambir. Saya pun bertekad menceritakan apa yang saya lihat ini di blog. Tentunya dengan foto dong.

read more
Bapontar

Eh, Ada Taman Bermain Anak di Halaman Kelurahan Kebon Bawang

taman bermain kelurahan kebon bawang 3

Setelah kembali aktif meliput di Jakarta Utara, tempat awal saya meliput ketika menjadi wartawan, setiap akhir pekan saya biasanya ikut Walikota Jakarta Utara untuk blusukan atau berkeliling wilayah.

Hari Minggu 4 September kemarin, saya “kejar-kejaran” dengan rombongan Walikota Jakarta Utara ketika melakukan monitoring atau blusukan ke wilayah. Saya akhirnya bertemu dengan rombongan di Pademangan Barat. Setelah selesai acara blusukan, saya dan teman, kembali.

Tapi, saya juga pengen blusukan jadinya. Ya mampir-mampir ke Kantor Kelurahan, kali aja ada yang bisa ditanya ke pak Lurah, kalau mereka lagi di Kantor.

Dari Pademangan Barat, saya awalnya mampir di Kelurahan Papanggo, setelah dari Kelurahan Papanggo, saya mampir ke Kelurahan Kebon Bawang. Sama-sama masih di Kecamatan Tanjung Priok sebenarnya. Kebetulan juga, teman diajak mampir oleh Lurah Kebon Bawang, Willy Hardiana.

Sekitar jam 11 saya dan teman sudah tiba di Kelurahan Kebon Bawang. Pak Lurah dan Sekertaris Kelurahan sedang duduk-duduk di bawah pohon, dekat saung dan ngobrol-ngobrol sembari mengawasi petugas PPSU yang sedang merapikan kantor Kelurahan.

Saya pun ikut nimbrung ngobrol dengan pak lurah. Tapi, ada yang menarik perhatian saya. Tidak jauh dari tempat ngobrol-ngobrol, ada taman bermain anak-anak . Masih di halaman kantor Kelurahan pastinya.

Saya pun langsung mengeluarkan tablet saya, iPad, untuk mengambil foto, meskipun hasilnya tidak terlampau bagus. Fotonya silakan dilihat di blog ini, di bagian bawah dan featured image nya.

Saya pun bertanya ke pak lurah. Pak lurah bercerita, memang taman ini dibuat untuk sarana bermain anak-anak. Kebetulan, dari penelusuran saya, belum ada Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Kelurahan Kebon Bawang.

Pembuatan taman ini, dilakukan oleh lurah sebelum Willy. Pak Roni Jarpiko, yang sekarang menjadi Kasatpol PP Jakarta Utara.

“Anak-anak sering ramai bermain disini. Ini tumben lagi sepi aja,” jelas Pak Willy.

Di taman tersebut, saya melihat ada ayunan, perosotan yang menjadi sarana bermain anak. Tidak ada lapangan sepakbola mini seperti di RPTRA, tapi setidaknya sudah layak untuk tempat bermain anak.

Meskipun di pinggir jalan, ada pagar yang membatasi agar anak-anak tidak keluar ke jalan yang membahayakan mereka.

“Sarana bermain ini juga, bermanfaat bagi orang tua yang sedang mengurus keperluan di Kelurahan, anak-anaknya bisa bermain di taman ini,” tambah Pak Lurah.

Wah, ini ide menarik untuk kelurahan-kelurahan lainnya yang memiliki halaman cukup luas untuk dibuatkan taman bermain.

Saya dan teman kemudian dijamu makan siang oleh Pak Lurah. Setelah makan siang dan ngobrol-ngobrol masalah wilayah, saya dan teman pamit untuk kembali ke kantor.

taman bermain kelurahan kebon bawang 1

read more
Bapontar

Berkunjung ke Pemotongan Babi di Kapuk

rph babi dharma jaya kapuk

“Tom, anterin gua ambil daging babi di Kapuk ya”

Begitu ajakan teman saya, yang seorang Kanit Intel, Jumat 26 Agustus kemarin, ketika saya sedang nongkrong di tempat dia di Polsek Penjaringan.

Siangnya sih kami sempat makan siang dan ikut acara di The Media Hotel and Towers di Gunung Sahari. (Silakan baca blog saya soal ini nanti. Food blog yang pasti). Setelah acara itu, saya kembali ke Polsek Penjaringan dengan teman saya.

Oh iya, teman saya ini, dia orang Bali. Saya sudah kenal dari tahun 2003-an, ya kenal di Polsek Penjaringan juga kenalnya, sewaktu saya masih menjadi reporter di Sinar Harapan waktu itu.

Secara khusus teman saya ini, memang meminta saya untuk menyetir. Soalnya kalau dia nyetir, dia sedikit ribet. Harus menjawab telepon dan menelepon. Namanya juga tugas.

Sebelum magrib, akhirnya kami berangkat. Sekitar jam 17.50 an mungkin. Saya sih berpikir kami akan berkunjung ke semacam pasar khusus beli Daging Babi gitu lah. Saya ya tertarik aja sih. Kan lagi nyantai ini. Nggak pengen buru-buru pulang juga.

Perjalanan kami ke Kapuk, tempat mengambil daging babi ini, ya memakan waktu satu jam lebih. Macet bre. Saya yang nyetir aja pegel. Macetnya sih di jalan Tubagus Angke. Dari penjaringan kami naik tol, terus turun di exit Muara Angke dan jalan ke RPH ini kena macet.

Ternyata, kami ini pergi ke Rumah Potong Hewan khusus Babi di Kapuk. Milik Pemda DKI. Namanya PD Dharma Jaya. Walah, saya sekali-kalinya ini ke RPH Babi di Jakarta. Biasanya beli daging babi ke Supermarket seperti Carrefour gitu lah.

Kami sampai sekitar jam 19 lebih. Mungkin sudah jam 19.30. Kebiasaan saya, nggak lihat dan mencatat jam tiba. Awalnya nggak niat nulis blog sih.

Sampai ke dalam, seusai memarkir motor, saya diperkenalkan ke Bli Gondrong. Nama benernya saya udah nggak sempat nanya. Keasikan nanya-nanya soal Babi ini.

Bli Gondrong menceritakan, dalam sehari, bisa sampai 500 ekor babi yang dipotong di RPH ini. Weh banyak juga sob. Eh iya, Bli Gondrong ini orang Bali.

rph babi dharma jaya kapuk (4)
Bli Gondrong

Babi yang dipotong di RPH ini, menurut Gondrong, datang dari Lampung, Bali, dan sejumlah daerah lainnya. Ebuset jauh amat dari Bali.

Saya dan Bli Gondrong akhirnya masuk ke dalam RPH. Wah pemandangannya gelo. Jadi ingat sebuah film, kayaknya Bad Boys II deh yang ada adegan di tempat potong Babi.

Saya lihat, Babi yang sudah dipotong, sudah dibelah dua gitu dan digantung. Sudah ada tulisan nomer seri Babi dan beratnya. Weh gokil.

rph babi dharma jaya kapuk (10) rph babi dharma jaya kapuk (6)
Menurut Bli Gondrong, ini untuk memudahkan saja. Nanti juga Babi ini akan dipotong-potong untuk dikirimkan atau disuplai ke rumah makan dan supermarket.

Menunggu sekitar 10 menit, daging babi pesanan teman saya, sudah siap. Sembari menunggu saya berkenalan dengan sejumlah orang Bali yang bekerja di RPH ini.

Bagi saya, ini pengalaman unik. Bagi sebagian orang, jalan-jalan bisa ke tempat wisata. Tapi, bagi saya ini pengalaman unik.

AKhirnya saya dan pak Ketut kembali. Saya masih tetap menyetir sampai Sunter dan lanjut naik Transjakarta untuk kembali ke kosan. What a special day.

read more
Bapontar

Keliling Jakarta Naik Transjakarta

Bis-Modern-22-6-2015-237

Ada satu kebiasaan saya, kalau lagi jenuh, dan ingin “killing time” atau ya daripada bengong, cuma scoroll timeline twitter atau main game doang.Kebiasaan saya ini, naik Transjakarta, Keliling Jakarta.

Kemarin Minggu 21 Agustus, selesai saya update website yang biasa saya kelola, meski website kecil-kecilan, yang sampe dibilang sama teman, media ecek-ecek, saya rencana awalnya mau pulang ke kos-an saja.

Tapi, karena saya mikir, ah ngapain juga di kosan, akhirnya saya mikir, ya udah keliling Jakarta naik Transjakarta aja.

Dari tempat saya biasa update web, di Kantor Walikota Jakarta Utara, saya langsung meluncur ke Halte Transjakarta Walikota Jakarta Utara. Jalan kaki cuma sekitar 3-5 menit.

Naik tangga yang lumayan tinggi, akhirnya saya sampai di halte Transjakarta Walikota Jakarta Utara yang ada di seberang. Plan awal, Naik Koridor 12, ke Stasiun Kota.

Tapi, plan berubah. Yang datang duluan bus biru Transjakarta yang merupakan bantuan dari Kementrian Perhubungan. Bus ini Koridor 10, Tanjung Priok P- PGC Cililitan. Karena kosong, tak butuh waktu lama untuk saya berpikir naik aja lah.

Plan keliling Jakarta pun berubah. Saya akhirnya naik ke arah PGC, menurut rencana saya akan turun di Halte UKI Cawang, dan melanjutkan naik Koridor 9 Pinangranti Pluit. Wehehehehe.

Cuma butuh sekitar 40an menit perjalanan dari Halte Walikota Jakarta Utara sampai ke Halte UKI. Dan saya tidak lama menunggu, bus Koridor 9, berupa bus Scania Gandeng sudah tiba. Dan tidak banyak penumpang. Bisa duduk.

Langsung naik deh saya!

Perjalanan ke Pluit dari Halte UKI, butuh waktu sekitar tidak sampai satu jam. Jalanan lancar. Karena hari Minggu. Rute Koridor 9 ini melewati jalan MT Haryono, Gatot Subroto, S Parman, Latumeten.

Lumayan lah bisa sight seeing Jakarta di kala malam. Sekalian killing time.

Saya tiba di Halte Penjaringan, sekitar jam 20.50. Lupa nyatet jam-nya. Di Halte Transjakarta Penjaringan ini, halte start Koridor 12, Penjaringan Tanjung Priok. Ini artinya Koridor terakhir, alias, saya sudah akan kembali ke Priok.

Sekitar 10an menit menunggu, bus Koridor 12 akhirnya sampai di Halte. Saya pun naik, dan kosong ya bisa pilih kursi paling Belakang dong. Asiiik!

Perjalanan kembali ke Halte Walikota Jakarta Utara, butuh sekitar satu jam juga. Melewati Kota, Mangga Dua, Kemayoran.

Akhirnya jam 21 lewat saya tiba di halte Start saya. Walikota Jakarta Jakarta Utara. Puas deh keliling Jakarta pake Transjakarta.

Sebelumnya, soal keliling-keliling ini, sekitar Bulan Juli, saya lupa persisnya, saya berangkat dari Halte Sunter Kelapa Gading, naik Koridor 12 ke Halte Kota, Kemudian saya berpindah ke Rute Kota Pinang Ranti dan saya turun di Halte UKI Cawang dan kembali ke Tanjung Priok dengan Transjakarta Koridor 10.

read more
Bapontar

Brrrrrr…. Dinginnya AC Transjakarta

image

Selesai ngupdate website atau situs berita yang selama ini saya kelola, di kantor Walikota Jakarta Utara, saya memutuskan untuk kembali. Tapi, setelah ngecek jam, masih jam 18 kurang.Lah buat apa buru-buru pulang. Di kosan cuma main game atau palingan cuma scroll time line twitter atau ya tidur-tiduran.

Akhirnya, saya ambil keputusan, keliling naik Transjakarta saja. Plan saya, ya killing time atau membunuh waktu dengan naik Transjakarta keliling Jakarta.

Saya memutuskan naik dari halte Walikota Jakarta Utara. Tujuanny, seketemu bisnya aja. Setelah tergopoh-gopoh alias penuh sesak napas naik tangga JPO alias Jembatan Penyeberangan Orang, tibalah saya di halte Transjakarta.

Nggak lama nunggu, akhirnya nongol Transjakarta, Koridor 10 arah PGC. Saya lihat kosong. Akhirnya, memutuskan naik.

Plannya sampai di halte UKI Cawang, ganti ke arah Pluit. 

Sekira 40an menit, karena jalanan lancar, sampe di UKI Cawang. Di dalam bus Koridor 10 ini, AC terasa dingin. Tapi ya belum terlalu karena masih sore mungkin. Saya naiknya sekitar jam 18 lewat dikit.

Setelah turun di halte UKI Cawang, saya naik Koridor 9 Pluit Pinang Ranti. Bus nya, bus Gandeng Scania. Nah pas nik, dingin sangat terasa di bus ini. Beuntung saya memakai Jaket. Padahal rencananya Jaket udah mau ditinggal di Kantor.

Sepanjang perjalanan, saya berpangku tangan. Alias melipat tangan di bagian dada. Dingin sob, pake banget lagi. Saya lihat juga beberapa penumpang juga melakukam hal sama. Ya karena dingin juga. Entah berapa derajat dinginnya.

Ketika sampe di halte Grogol 2, supir atau pramudi Transjakarta sepertinya paham kalau penumpangnya kedinginan. Akhirnya dia mengecilkan AC. Blower dikurangin.

Huff, lumayan hangat sekarang.

Saya akhirnya sampai di Halte Penjaringan. Dari sini, saya mau naik koridor 12, arah Tanjung Priok. Balik ke kosan. Dapat busnya yang warna biru. Hino, bntuan Kementrian Perhubungan. Sama seperti bus Koridor 10 yang saya tumpangi menuju ke halte UKI Cawang,

Di bus ini, ACnya sama aja. Adem tenan. Ampun deh. Satu jam perjalanan kedinginan lagi dah. Tapi daripada nunggu lama, mendingan naik aja dah.

Sejam perjalanan, saya akhirnya tiba kembali di halte Walikota Jakarta Utara… 3 jam tanpa terasa keliling Jakarta. Dan kedinginan brrrrrrrr

Bus Transjakarta yang baru ini, memang dingin bener ACnya. Mungkin karena masih baru kali ya.

read more
Bapontar

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari Bagian-4 (Habis): Takbiran dan Lebaran Pertama Kali di Pulau Tidung

open house camat

Selama saya bertugas jadi koordinator media di Kepulauan Seribu, bukan hanya sekali atau dua kali saya bermalam takbiran atau berlebaran di Kepulauan Seribu.

Tapi, malam takbiran di Pulau Panggang dan lebaran hari pertama di Pulau Pramuka, meskipun saya seorang non muslim. Yang masih saya ingat, saya malam takbiran dan berlebaran di Pulau Panggang dan Pramuka itu, tahun 2004, 2005, 2006, 2008 dan 2009.

Tapi tahun 2015 ini sedikit berbeda. Saya berlebaran hari pertama di Pulau Tidung.

Seperti di catatan perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari bagian 1, saya diajak oleh Camat Kepulauan Seribu Selatan, Bang Arief untuk menemani dia dan keluarganya berlebaran di Pulau Tidung.

Lebaran hari pertama yang pasti.

Tapi, sebelum berlebaran, seperti di catatan perjalanan bagian 1 hingga 3, saya mengunjungi Pulau Pari, Karang Kudus dan Lancang.

5 Juli 2016, setelah berkeliling ke tiga pulau tadi untuk blusukan bersama camat, saya akhirnya kembali ke Pulau Tidung.

Bang Arief sempat menawarkan untuk melihat sunset di bagian barat Pulau Tidung yang lokasinya tidak berjauhan dengan tempat saya menginap, di rumah dinas camat yang berada di belakang kantor kecamatan. Tapi, saya pikir, ah sisakan untuk kunjungan berikutnya.

Nah, malam takbiran di Pulau Tidung, saya tidak ikut takbiran. Kalau di Pulau Panggang saya masih ikut takbiran, di Pulau Tidung, saya tidak ikut malam takbiran. Malah ngetem di rumah dinas aja.

Keesokan harinya, lebaran hari pertama, bang Arief dan anaknya, Alif, pergi shalat ied, saya bangun pagi, bangun, mandi langsung bantu-bantu istri bang Arief, mamanya Alif, Kak Erna untuk mempersiapkan open house camat di rumah dinas.

Kak erna tengah mempersiapkan opor ayam dan tekwan untuk tamu. Eh iya, malam takbiran atau akhir bulan Ramadan 2016, 1437H, saya dan keluarga bang Arief makan opor ayam di rumah dinas. Sama Tekwan juga. Nyuoss.. Enak enak enak.

Nah, sekitar jam 8, bang Arief dan Alif kembali dari shalat ied. Agak lama bang Arief memang, karena dia sebagai camat tentunya bersalam-salaman dengan warga.

Tak lama berselang bang Arief datang, tetamu datang ke rumah dinas. Sebagian besar staf kecamatan, dan pekerja di lingkungan kecamatan.

Mereka datang membawa keluarga. Sebagian saya masih kenal dan kenal saya. Jadi semacam reuni karena saya sudah sekitar 1,5 tahun tidak ke Pulau Tidung. Jadi ya ajang ngobrol-ngobrol juga sih.

Ada sekitar 1,5 jam acara open house. Dan saya bersama Bang Arief dan Keluarga, akan kembali ke Jakarta. Naik kapal cepat.

Jam 10 kurang, kami sudah kembali dermaga pulau tidung. Rencananya akan naik kapal yang jam 10. Tapi kapalnya penuh dan kami akhirnya naik kapal berikutnya.

Sekitar jam 11.30 kami kembali ke Jakarta. Dan tiba di Ancol sekitar jam 13.00 WIB.

Lebaran di Pulau Tidung ini berkesan buat saya. Jarang sekali saya menginap di Pulau Tidung. Terakhir menginap di Pulau Tidung itu tahun 2009, camatnya masih bang Billy, Satriadi Gunawan yang sekarang menjadi Kasudin PKP Jakarta Utara.

Berlebaran di Pulau Tidung juga hal pertama bagi saya di Kepulauan Seribu. Biasanya saya di Pulau Pramuka. Jadi ini sangat berkesan.

Ke Pulau Tidung kali ini juga, saya tidak ke Jembatan Cinta yang merupakan ikon pulau Tidung. Sudah beberapa kali ke sana sih sebenarnya. Jadi masih malas ke sana lagi.

The-Endopen h

read more
BapontarFeatured

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari – Bagian 3 : Ke Pulau Karang Kudus dan Lancang

DCIM100MEDIA

Setelah kembali ke dermaga Pulau Pari, awalnya saya pikir, akan kembali ke Pulau Tidung. Ternyata bang Arief masih meminta saya menunggu. Okelah. Tidak masalah.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya

“Tom brangkat yuk”
“Ke mana Bang?”
“Ke Pulau Karang Kudus!”

wah saya baru ingat deh, dari awal keberangkatan, memang bang Arief udah bilang, selain ke Pulau Pari memang kita akan ke Pulau Karang Kudus. Kebetulan, pemilik pulau sedang liburan di situ.

Ternyata, berangkatnya bukan hanya saya, camat, dan anaknya camat si Alif. Lurah Pulau Pari Pak Maman, Istri dan anaknya, Babinkantibmas si Koim, sama Babinsa pak Samsul juga ikutan.

Mereka rupanya mau kembali ke Pulau Lancang, dan sekalian dianterin sama camat, pake Kapal Dinas, sekalian juga mereka mau dikenalin ke yang punya Pulau Karang Kudus. Om sapa lah gitu saya lupa. Chinese pokoknya.

Tak butuh lama untuk menuju ke Pulau Karang Kudus. Sekitar 10 menit naik speedboat dari Pulau Pari. Letaknya cuma sebelahan sama Pulau Tengah kok.

AKhirnya kami tiba di Pulau Karang Kudus. Wah, ternyata Private Island. Punya pribadi. Untuk menuju ke pulau, harus berjalan sekitar 100 meter-an dari dermaga. Kita meniti jalan dengan hamparan laut berwarna hijau tosca di sebelah kiri kanan.

DCIM100MEDIA
Jalan ke Pulau Karang Kudus

Pulau Karang Kudus juga tidak begitu luas. Mungkin 2 hektar. Sekitar segitu lah. Tapi yang saya suka, Pulau ini asri. Banyak pohon dan tanaman.

Kami disambut sama pemilik pulau untuk ngobrol-ngobrol di depan rumahnya yang adem, di bawah pohon gitu deh. Pak camat. lurah, babinkantibmas dan babinsa diajak ngobrol sama pemilik pulau.

Saya? Cari pantai dulu untuk foto-foto. Wah pantainya bagus ternyata. Landai dan tidak dalam. Pasir putih. Ada kok foto selfie saya di pantai. Hohohoho.

Pantai di Pulau Karang Kudus
Pantai di Pulau Karang Kudus

Karena nggak bawa pakaian renang, ya apes deh. Gak berenang. Hahahaha!!

Kami di Pulau Karang Kudus mungkin cuma sekitar satu jam. Tidak perlu menjelajahi pulau ini. Cukup ke pantai. Tidak enak sama yang punya Pulau. Kan Private Island.

Setelah selesai, kami kembali ke dermaga. Kami akan melanjutkan perjalanan mengantarkan lurah ke Pulau Lancang. Pulau Lancang ini merupakan pusat pemerintahan Kelurahan Pulau Pari. I’ll write on my special blog about this Island.

Perjalanan ke Pulau Lancang dari Karang Kudus tidak butuh waktu lama. Naik speedboat, ya cuma 20an menit. Kami cuma ngedrop Lurah dan rombongannya.

Setelah ngedrop Lurah dan rombongan, nahkoda minta waktu sebentar untuk mengisi BBM. Kami pun menunggu sekitar 10 menit dan akhirnya meluncur kembali ke Pulau Tidung

(bersambung lagi)

read more
BapontarFeatured

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari – Bagian 2 : Ke Pantai Pasir Perawan

ydxj1115.jpg

Bang Arief kemudian memanggil saya, yang tengah duduk di sawung di dekat Dermaga Pulau Pari. “Tom kamu sama Alif ke Pantai Pasir Perawan aja,” ujar Bang Arief.Oh iya, Alif ini anak semata wayang, atau putra tunggal Bang Arief. Saya sudah mengenalnya sejak lama, karena saya sudah pernah menginap di rumah bang Arief, tahun 2008 lalu (wow delapan tahun lalu).

Saya sih memang sudah berencana akan mengunjungi pantai Pasir Perawan. Pantai Pasir Perawan ini sendiri, memiliki cerita sendiri bagi saya. Karena saya pikir rombongan Camat dan Lurah akan berkunjung ke Pantai Pasir Perawan, akhirnya, saya memilih menunggu, tapi ternyata mereka punya agenda lain. 

Saya dan alif akhirnya memutuskan untuk menuju pantai pasir perawan. Bang Arief pada dasarnya menawarkan saya menggunakan sepeda motor. Tapi saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Lebih menyehatkan. Lagian jalannya tidak terlampau jauh. Kurang lebih lima sampai sepuluh menit berjalan kaki.

Dari dermaga Pulau Pari, kalau mau ke pantai pasir perawan, tinggal belok ke kanan, dan berjalan sampai mentok ke pemukiman warga dan belok ke kiri. Jalan lurus dan tiba deh di pantai pasir perawan.

Pantai Pasir Perawan ini, dahulunya belum terjamah. Tahun 2011 pantai ini mulai kesohor. Dulunya menuju pantai ini harus melewati alang-alang. Sekarang tidak lagi (akan ada blog khusus ya tentang pantai pasir perawan ini).

Di pantai pasir perawan juga sudah banyak sawung dan tempat makan. Sangat berbeda dengan kondisi awal. Kalau lagi di sini, cuma berteduh di bawah pohon saja.

Yang saya suka di pantai pasir perawan ini, adalah pantainya yang tidak terlalu dalam. Kalau lagi pasang, tinggi air laut hanya mungkin sekitar sepinggang orang dewasa. 

Standardnya ya paling cetek. Sepaha orang dewasa. Intinya friendly buat anak-anak. Pantai Pasir Perawan, Arus dan tidak berombak besar, karena pantai pasir perawan ini seperti teluk yang masuk ke dalam, dan terlindung oleh mangrove.

Di pantai ini juga, hamparan pasir putih luas. Kita bisa melakukan bermacam aktifitas. Bermain voli, duduk-duduk, main pasir atau sekedar duduk berteduh sambil makan di tempat makan yang terbuat dari bambu. Sangat tradisional.

Bukan cuma sekali dua kali saya datang ke sini. Tapi pantai pasir perawan masih sangat terkesan bagi saya. Bagus sekali pantainya.

Setelah selfie dan mengambil video dengan action cam saya, akhirnya saya dan Alif kembali ke dermaga Pulau Pari. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Karang Kudus.

(bersambung)

read more
BapontarFeatured

Catatan Perjalanan ke Pulau Tidung dan Pari – Bagian 1 : Berangkat ke Pulau Tidung dan Pulau Pari

ydxj1122.jpg

Minggu 3 Juli 2016, saya bertandang ke Bojong Gede, ke rumah bang Arief. Sudah lama tidsk mampir ke rumah Bang Arief. Ke sana juga sekalian antar titipan beliau juga.Saya berangkat pagi dari stasiun kota. Tiba di sana mungkin sekitar setengah duabelasan. Maklum, commuter line agak lambat, karena memasuki beberapa stasiun seperti manggarai, suka antri.

Sesampai di Bojong, dan ke rumahnya, saya ditawari untuk berangkat ke Kepulauan Seribu H-1 Lebaran atau Selasa 5 Juli 2016. Saya yang sudah kangen dengan Kepulauan Seribu tak butuh waktu lama untuk mengiyakan.

Tibalah hari untuk berangkat ke Pulau Tidung. Selasa 5 Juli 2016. Masih sekira pukul 05.00 WIB, saya sudah bersiap. Karena berangkat dari Ancol, saya naik transjakarta, selanjutnya saya sebut tj aja ya. Saya naik tj koridor 12, dan akan berganti busndi halte jembatan merah untuk naik koridor 5 kp melayu ancol.

Saya start, jam 05.55 (kurang lebih) dan sampai di halte Ancol hanya kurang dari 1 jam. Keluar dari halte ancol, saya jalan kaki ke dermaga 17. Tempat kapal cepat ke Pulau Tidung berangkat. Sebelumnya, bang Arief sudah mengirimkan pesan singkat, sudah tiba di dermaga 17.

Seusai menunggu, kira-kira jam 07.43 kami berangkat. Bang Arief, Mbak Erna, dsn anaknya Alif serta saya. Kapal yang saya tumpangi cukup besar. Bisa mamuat 150an orang.

Mencapai pulau tidung, butuh waktu 1 jam 15 menit. Jam 9 lewat sudah tiba setelah mampir sekitar 5 menit di Pulau Untung Jawa.

Journey Begins

Saya akan menginap di Rumah Dinas Camat di Pulau Tidung. Setiba di dermaga, kami menumpang bentor atau becak motor a-la Pulau Tidung. Tidak ada angkutan umum, sekelas Angkot di Kepulauan Seribu. Bentor atau Sepeda Motor sajanyang ada.

Kami pun tiba di rumah dinas camat. 

Selesai merapikan barang-barang, Bang Arief ternyata mau blusukan ke Pulau Pari. Dan Karang Kudus. Wah sudah pasti saya mau ikut. 

Jam 11 kami berangkat dengan kapal dinas camat. Karena kapal dinas adalah speedboat, hanya butuh setengah jam sudah sampai di Pulau Pari.

Sampai di sana, sudah ada Lurah Pulau Pari, pak Surahman yang saya akrab panggil pak Maman. Beliau bersama keluarga, dan sejumlah petugas PPSU sudah menunggu untuk diberi pengarahan.

Soal Pulau Pari ini, akan jadi blog tersendiri, saya sering bolak balik datang. Ketika Astawan Husen masih menjadi lurah sekira tahun 2010. 

Karena sudah sering ke sini, beberapa teman PHL yang kini sudah menjadi PPSU masih kenal baik. Rommy dan Yudhi menyambut. Bang Tommy udah lama nggak ke sini. Kalau dipikir-pikir mungkin tiga tahun tidak ke Pulau Pari.

Karena mereka akan dapat pengarahan dari Camat, saya hanya menyempatkan diri berfoto sebentar dengan Rommy dan Yudhi. Saya juga sempat ngobrol sebentar dengan pak Maman.

Eh iya, ternyata ada juga Babinkantibmas Pulau Pari, Koim dan Pak Samsul, Babinsa. Masih kenal baik dengan mereka juga saya. Hehehe. Sempat ngobrol dong dan foto-foto. Ya ngelepas kangen dong.

Banyak hal yang dibicarakan dengan mereka. Banyak sekali, karena sudah lama tidak bertemu. Hehehe.

Perbincangan mulai dari bahas apa yang dilakukan di Kelurahan Pulau Pari dan Pulau Lancang, hingga ke soal wisata di Pulau Pari yang mulai berkembang. Sangat berkembang akhir-akhir ini.

Dan … Tiba-tiba bang Arief memanggil saya …..
(Bersambung)

read more
1 4 5 6 7
Page 6 of 7