close

Bapontar

Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian III : Disuguhi Pemandangan Alam di Tol Semarang Bawen

img_6423

Sekitar pukul 05.00 WIB, hari masih sangat pagi, saya terjaga dari tidur saya. Saya terjaga karena hari sudah mulai terang meskipun matahari belum nenampakkan diri.

Semenjak dari keluar tol brebes, sekitar pukul 00.05, saya sudah mulai tidur. Dan ketika terjaga, saya melihat sedang berada di jalan tol antara Semarang dan Bawen.

Sepanjang jalan tol tersebut, saya disuguhi pemandangan alam, perbukitan yang masih hijau.

Kawasan hutan masih terlihat. Beberapa kali saya melintasi pedesaan yang terlihat masih sepi, karena masih pagi.

Bus yang saya tumpangi bersama teman-teman Jasmev, melintasi belokan, jembatan, dan menanjak karena memang melewati area perbukitan.

Pengalaman ini tentunya mengesankan buat saya karena kalau melintas jalan tol di Jakarta yang terlihat hanya gedung tinggi dan kawasan pemukiman padat penduduk.

Melintasi jalan tol di Jawa Tengah ini setidaknya membuat pikiran lebih fresh. Jenuh juga kalau hanya melihat gedung dan kepadatan kendaraan.

(Tulisan ini saya buat di perjalanan dari Bawen menuju Boyolali).

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian II : Rombongan Besar 33 Bus dan Lebih dari 1000 Orang

img_6373

Bepergian dalam bentuk tur dengan menggunakan bis atau bus bukan sekali saya lakoni. Semasa sekolah, pernah Tur. Begitu pun ketika kuliah, pernah juga tur bersama dengan teman-teman.

Tapi itu jumlahnya busnya tidak banyak.

Nah, perjalanan ke Solo bersama Jasmev dalam rangka menghadiri pernikahan Putri Tunggal Presiden Joko Widodo, bagi saya ini pengalaman gilak. Alias seru.

Ketika tiba di lokasi pemberangkatan yang berada di Parkiran 6A JI Expo Kemayoran Jakarta Pusat, saya agak terpana. Wah busnya banyak sekali.

Yang parkir sudah lebih dari 10 bus dengan kapasitas besar. Semasa mencari teman-teman Jasmev yang sudah tiba lebih dahulu, saya sempat ke Mesjid.

Saya kembali kaget karena banyak Relawan Pro Jokowi atau Projo yang sudah berkumpul. Capek lah kalau mau menghitung berapa banyak.

Saya tiba di lokasi keberangkatan, sekitar 14.30.

Semakin beranjak petang, semakin bertambah bus yang datang. Dan bukan hanya bus, relawan Projo yang datang juga semakin banyak.

Bahkan seorang teman sempat nyeletuk. Kalau bikin partai ini sudah bisa. Banyak sekali soalnya.

Setelah menunggu, sekitar jam 18.30 kami berangkat. Tim Jasmev berada dalam satu bus khusus. Kami memang terpisah, tetapi tetap dalam satu rombongan.

Yang mencengangkan adalah, jumlah bus yang berangkat ada 33 bus. BUSET DAH! Ini jelas banyak banget. Seumur-umur tur, bagi saya ini rombongan sangat besar.

Kalau satu bus saja sudah berisi rata-rata 40 orang, berarti ada 1200 orang yang berangkat. Uedyaan!

Dan nantinya, akan ada rombongan yang betgabung dan sudah tiba duluan. Sudah kebayang kan nanti acara nikahan Putri Pak Jokowi bakal seperti apa?

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian I : Naik Bus (Lagi) ke Jawa Tengah

img_6401

Tahun 1992 hingga 2001, saya pernah bermukim di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yang terletak di antara Semarang dan Solo.

Kota tersebut bernama Salatiga (benar tujuh… kriukkhh). Ngapain aja di situ? Saya kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana.

Selama saya kuliah di Salatiga, saya kerap bepergian ke Jakarta. Bepergiannya, naik bus. Bus malam yang pasti.

Tahun 2001, saya kemudian hijrah ke Jakarta dan bekerja di ibukota. Setelah hijrah ke Jakarta, saya sudah sangat jarang sekali ke Jawa Tengah.

Kalaupun ke Jawa Tengah, naiknya pesawat (gaya bener).

Terakhir, naik bus ke Salatiga itu, tahun 2009. Ada acara di kampus saya.

Kesempatan naik bus lagi, datang ketika saya bersama teman-teman Jasmev datang ke acara nikahan Putri Tunggal Jokowi yang digelar di Solo.

Kami berangkat dari JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Bis yang kami tumpangi adalah bus pariwisata berukuran sedang. Kapasitas tempat duduk 29 orang.

Ada 14 teman-teman dari Jasmev yang berangkat. Karena kami hanya ber 14 dan kapasitas seat 29, kami bisa duduk dengan lega. Dua kursi untuk satu orang.

Asik kan?

Oke, ini tulisan pertama dari sejumlah tulisan perjalanan saya ke Solo bersama dengan teman-teman Jasmev. Akan ada beberapa rangkaian tulisan lain lagi.

read more
BapontarFeatured

Kesempatan Langka, Berkunjung ke Pameran Lukisan Istana “Senandung Ibu Pertiwi”

image-51

Sebuah kesempatan langka, datang ke saya pekan lalu di hari terakhir Bulan Juli 2017. Ada sebuah pesan yang masuk melalui aplikasi whatsapp saya. Isi pesan tersebut mengajak saya untuk datang ke perhelatan Pameran Lukisan koleksi Istana Kepresidenan bertajuk Senandung Ibu Pertiwi. Tak butuh waktu lama berpikir, saya pasti mengiyakan. Pesan tersebut datang dari tim jadimandiri.org.

Jujur saja, mendatangi pameran lukisan bagi saya, sangatlah jarang untuk saya lakukan. Saya memang mengagumi karya seni rupa berupa lukisan, bahkan saya pernah melukis dengan cat air meskipun hasilnya nggak keren-keren amat. Tapi, ke pameran lukisan baik yang tetap atau seasonal ataupun waktu tertentu itu sangat jarang.

Saya hanya pernah mendatangi sebuah pameran lukisan, di Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada di Kawasan Kota Tua. Di sini memang sejumlah lukisan dipajang. Lukisan yang berusia 50 tahunan memang dipajang. Dan memang ada banyak yang menarik.

Kembali ke topik tulisan, saya diundang untuk datang ke Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi ini tanggal 9 Agustus 2017, atau sepekan setelah pembukaan pameran Lukisan yang sedianya dibuka oleh Presiden Joko Widodo yang merupakan penggagas pameran lukisan ini, namun karena kesibukan beliau (sudah pada tahu dong, kalau Presiden ini suka blusukan), akhirnya dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Saya juga diminta oleh Pengundang untuk datang ke event ini, untuk mendaftarkan diri. Langsung saya daftarkan dengan mengisi formulir online. Beberapa hari sebelum hari kunjungan saya ke Pameran ini, saya dimasukkan ke grup Whatsapp yang berisi sejumlah blogger maupun vlogger. Ya! Saya memang akan berkunjung ke Pameran ini dengan sejumlah teman-teman vlogger dan blogger.

Excited? So pasti karena saya akan bertemu dengan teman-teman blogger yang artinya punya kenalan baru, network akan bertambah, dan yang pasti, akan punya pengalaman seru dengan teman -teman blogger.

Di grup whatsapp pastinya kami diberikan jadwal atau rundown untuk kegiatan kunjungan ini. Yang pasti juga informasi seputar apa yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dibawa dan dilakukan selama di pameran, diberitahukan lewat grup ini.

Hari H Kunjungan ke Pameran Lukisan

Waktu kunjungan akhirnya datang juga. Jujur saja, dari Selasa malam, saya sudah tidak sabar untuk datang ke kunjungan ini. Tempatnya di Galeri Nasional yang berada di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Lokasinya berada di seberang Stasiun Gambir, tidak terlampau jauh dari Gereja Imanuel.

Mudah bagi saya, untuk mencapai Galeri Nasional dengan menggunakan sepeda motor. Saya berangkat sekitar setengah sembilan. Perkiraan saya, kurang lebih setengah sepuluh saya sudah tiba di lokasi.

Perjalanan relatif lancar. Masuk ke Galeri Nasional, saya pikir lokasi parkir motor ternyata berada di belakang. Ternyata lokasinya tidak jauh dari gerbang masuk. Berada di depan. Lah biasanya parkir sepeda motor kan berada di belakang atau di basement.

Saya lihat jam di ponsel saya, ternyata waktu menunjukkan jam sembilan lewat lima menit. Jauh dari perkiraan saya, untuk tiba di lokasi Galeri Nasional. Usai parkir sepeda motor dan mengamankan helm, saya selfit-selfie dahulu di bagian depan Galeri Nasional. Tak cuma selfie, saya juga mengambil gambar.

Usai foto-foto, saya menuju ke lokasi tempat berkumpul teman-teman dan panitia. Lokasinya ada di Cafe Galeri Nasional. Tidak sulit mencari cafe ini, karena dari kejauhan saya sudah melihat ada tulisan tanda Cafe. Sesampainya di Cafe, sudah ada beberapa teman yang berkumpul.

Waktu registrasi memang masih jam 10.00 WIB. Jadi sejumlah teman-teman masih ada yang belum datang. Tak lama berselang, akhirnya sudah mulai banyak yang berdatangan, dan registrasi berlangsung. Banyak juga teman-teman yang datang. Lebih dari 30 orang.

Setelah registrasi dan makan siang, kami diberikan brief singkat dan langsung diajak untuk menuju ke tempat registrasi untuk masuk ke dalam lokasi pameran. Karena kami para blogger dan vlogger datang berkelompok, panitia yang meregistrasi kami.

Tas slempang saya, harus saya titip. Yang boleh dibawa hanyalah ponsel dan powerbank. Tak apa. Saya memang tidak memiliki kamera DSLR ataupun Mirrorless, jadi aman deh. Petugas penitipan juga sangat ramah, begitu juga dengan petugas keamanan dan registrasi.

Kami diberikan stempel berwarna merah di tangan. Tulisannya Senandung Ibu Pertiwi. Wah-wah. Serasa masuk di salah satu lokasi hiburan di Kawasan Ancol. Kami pun menuju ke lokasi pameran di gedung yang berada di tengah-tengah Kompleks Galeri Nasional.

Mengagumi Lukisan

Untuk masuk, kami harus menapaki tangga. Sesampai di gerbang masuk, dilakukan pemeriksaan. Apa yang berada di kantong kami, harus kami keluarkan dan dipegang. Petugas pun menggunakan metal detector memeriksa badan kami. Seperti masuk di Bandar Udara. Begitulah suasananya.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas, kami langsung disambut sebuah panel LED yang memamerkan lukisan berukuran besar karya Konstantin Egorovick Makovsky. Meskipun hanya dipamerkan dalam bentuk LED, ukurannya hampir sama dengan lukisan sebenarnya. 295cm (tinggi) dan lebar 450cm. Kebayang kan besarnya seperti apa.

Petugas yang menjelaskan kepada kami, Lukisan ini sudah berusia 125 tahun dan merupakan hadiah dari Pemimpin Rusia kepada Presiden Soekarno ketika berkunjung kesana. Lukisan ini menggambarkan Pesta Adat Rusia. Sangat indah terlihat meskipun melalui LED.

Untuk diketahui, Lukisan oleh Makovsky ini hanya ada tiga di dunia. Bukan lukisan yang sama ya, namun lukisan hasil karyanya. Dua lukisan berada di Indonesia dan satu lagi berada di Inggris. Kenapa dipajang hanya menggunakan LED, Lukisan ini sudah pernah direstorasi tahun 2002. Karena sudah cukup tua, akhirnya diputuskan untuk dipajang melalui LED saja.

Lanjut ke dalam, kami langsung menemukan lukisan-lukisan Nuansa Alam. Lukisan tentang keragaman Alam, dipajang. Yang menarik perhatian saya di bagian dengan tema Nuansa Alam ini adalah Lukisan Pantai Flores karya Basoeki Abdullah. Lukisan ini, merupakan pelukisan kembali Lukisan Soekarno ketika diasingkan di Ende.

Soekarno yang meminta Basoeki Abdullah untuk melukiskannya kembali. Begitu cerita pemandu kami.

Di tema alam ini, saya sempat melihat Lukisan Pemandangan Alam Sulawesi karya Henk Ngantung. Tahu Henk Ngantung kan? Beliau adalah mantan Gubernur DKI yang ditunjuk Soekarno sebelum Ali Sadikin dan merupakan perancang patung Selamat Datang di Bundaran HI.

Lukisan tertua adalah hasil Karya Raden Saleh dengan judul Harimau Minum. Harimau Minum ini dibuat tahun 1863 dengan sangat mendetail. Daun-daun dipepohonan dengan cahaya matahari dibuat sangat detail. Saya cuma bisa bilang Wow!

Setelah tema Nuansa Alam dengan cat tembok warna Hijau, kita akan bertemu dengan Lukisan-lukisan bertema Dinamika Keseharian. Lukisan-lukisan ini pastinya tentang Keseharian.

Lukisan yang saya kagumi disini adalah, Lukisan Ida Bagus Made Widja tentang Warga Bali yang menyambut kedatangan Presiden Soekarno. Saya memang bukan ahli lukisan, tetapi, saya bisa melihat bahwa lukisan ini memang bergaya Bali. Seperti yang kita lihat di beberapa tempat di Bali gayanya.

Meski begitu, lukisan ini, sangatlah detail. Presiden Soekarno digambarkan memakai baju putih di bagian tengah Lukisan.

Perhatian saya di bagian Dinamika Keseharian ini adalah, Lukisan Tino Sidin. Masih ingat dengan Tino Sidin? Ketika jaman TVRI berjaya, semasa saya masih duduk di Bangku SD, Pak Tino Sidin dengan topinya yang Khas mengajarkan cara melukis.

Untuk bagian Dinamika Keseharian ini, temboknya bernuansa Merah Marun. Oh iya, ada satu lukisan yang unik bernuansa tiongkok di sini. Saya pikir lukisan Tiongkok, namun ternyata, lukisan Penjual Sate Madura tetapi dibikin bergaya lukisan tiongkok.

Petualangan saya di Pameran Lukisan IStana Senandung Ibu Pertiwi ini berlanjut ke Tradisi dan Identitas.

Di bagian ini, tembok bernuansa biru. Lukisan yang dipajang adalah Lukisan protrait atau potret wanita berkebaya, ataupun yang memakai baju daerah. Ada sebuah lukisan wanita berkebaya kuning yang mengundang decak kagum saya.

Mengapa mengundang decak kagum saya, karena wanita yang dilukiskan, menurut saya, cantik berbalut Kebaya. Yang melukis, adalah Sumardi, tahun 1964. Entah siapa wanita yang berada di Lukisan ini.

Dipenghujung bagian ini, diberikan penjelasan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, tentang Kebaya.

Seusai Bagian ini, saya akhirnya menemukan lukisan yang sangat ingin saya lihat. Lukisan apa itu?

Ya! Itu adalah lukisan Nyai Roro Kidul karya Basoeki Abdullah. Saya yang sudah mengetahui soal kehadiran lukisan ini semenjak pekan lalu, sangat gembira melihat lukisan ini. Dari sekian banyak lukisan, saya paling suka adalah lukisan ini.


Lukisan Nyai Roro Kidul ini, merupakan bagian dari Mitologi dan Religi. Basoeki Abdullah membuat lukisan ini tahun 1955. Sudah Enam puluh tahun lebih usia lukisan ini.

Berdekatan dengan lukisan ini, Lukisan Gatot Kaca dengan Anak-anak Arjuna Pergiwa-Pergiwati. Tahun dia melukisnya sama dengan Nyai Roro Kidul, 1955. Ukuran lukisan ini adalah 255 x 170 cm. Cukup besar.

Bagian Mitologi dan Religi ini rupanya bagian terakhir dari Pameran Lukisan Istana dengan Tema Senandung Ibu Pertiwi.

Sebelum kita keluar dari lokasi pameran ini, kita akan disajikan Lukisan Karya Basoeki Abdullah berjudul Djika Tuhan Murka. Lukisan ini menggambarkan kemarahan Tuhan kepada manusia. Saya melihatnya cukup seram. Seperti dooms day atau hari kiamat.

Di sisi kanan bawah ini, ada tulisan tangan Basoeki ABdullah, Untuk Bung Karno Pribadi. Lukisan ini memang hadiah dari Basoeki Abdullah untuk Bung Karno, Presiden Pertama RI.

Saya pun selesai mengunjungi dan mengagumi lukisan-lukisan karya maestro senirupa Indonesia. Empat bagian dari pameran lukisan dari Nuansa Alam hingga Mitologi dan Religi terangkai menjadi senandung Ibu Pertiwi.

Setelah keluar dari Gedung pameran, saya melihat ada mural yang sangat "instagrammable". Tidak mungkin saya lewatkan untuk berfoto dan posting di Instagram.

Terima Kasih untuk Tim Jadi Mandiri yang sudah mengajak saya untuk datang melihat pameran ini. Sebuah pengalaman yang berharga dan sangat keren bagi saya.

Tulisan ini juga bisa dibaca di tommi.id dan pigipigi.id

read more
Bapontar

Mural di RTH Kalijodo yang “Instagrammable Banget”

f58ba52b-b049-4543-8a7b-30c1f25e537f-1

Sudah pada tahu Kalijodo kan? But wait, Kalijodo ini sudah berubah. Mungkin kalian tahu nya Kalijodo ini adalah tempat yang “negatif”. Tapi tidak. Semenjak dibongkar tahun lalu, Kalijodo kini sudah bertransformasi.

Kalijodo yang dahulunya dicap daerah tempat berbuat hal-hal yang tidak baik, kini sudah banyak berubah. Bahkan sudah menjadi lokasi fasilitas atau wisata publik yang banyak dikunjungi oleh warga.

Kalijodo ini terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah Jakarta Barat yang ada Ruang Publik Terpadu Ramah Anak dan Wilayah Jakarta Utara yang ada Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang dilengkapi dengan sebuah gedung serba guna dan skate park, atau extreme sport park yang ada tempat bermain skateboard, bmx dan lainnya.

Sehabis lebaran 25 Juni lalu, dan masih dalam kondisi libur lebaran, saya mengajak keponakan saya untuk jalan-jalan ke Kalijodo. Sudah lama saya mengajak mereka namun baru kali ini terwujud.

Di Kalijodo ini, setelah diresmikan beberapa waktu lalu, di salah satu temboknya, tembok berukuran besar, dibuat lukisan dinding atau mural. Mural ini dibuat oleh seniman mural yang disebut dengan “bomber”. Ada 10 orang yang membuat mural ini.

Ketika saya berkunjung ke RTH Kalijodo bersama dengan ponakan saya, saya melihat mural ini sangat instagrammable. Maksudnya apa? Ya menjadi latar belakang foto untuk diposting di instagram. Pasti sudah pada tahu dong ini.

Mural di RTH kalijodo ini cukup tinggi. Bisa di atas enam meter. Panjangnya? Lebih dari 20 meter. Saya melihat orang-orang hanya sekedar duduk-duduk di sekitar tembok yang ada mural ini. Ada banyak yang foto-foto juga sih, tapi lebih banyak yang sekedar nongkrong. Atau mereka sudah berfoto ria.

Karena instagrammable banget, saya langsung mengajak dua ponakan saya untuk berfoto. Kebetulan mereka senang posting di instagram. Saya juga tidak mau ketinggalan dong. Ikutan foto. Soalnya kalau saya jalan-jalan sendiri, susah untuk berfoto.

Mural ini berwarna warni dan setiap meternya berbeda. Jadi kita bisa berfoto dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dan yang asyiknya lagi, muralnya ini berwarna warni dan membuat foto semakin colorful atau penuh warna.

Sayang sekali kalau kita berkunjung ke RPTRA dan RTH Kalijodo ini, tapi melewatkan momen untuk berfoto di Mural. Posting di instagram pun akan semakin bagus. Sayangya ketika saya berkunjung ke RTH Kalijodo, suasana sedang sangat ramai. Jadi ketika berfoto, harus mencari celah yang kosong,

Mau lihat hasil foto saya di Mural RTH Kalijodo? Ada di galeri foto di bawah ini. Jadi, kalau ke RTH kalijodo, jangan lupa foto dan posting di instagram ya!

read more
Bapontar

Jeruk Peras di Jalan Asia Afrika Senayan, Seger Bener

IMG-20170514-WA0009-3

Hari Minggu 14 Mei lalu, saya diajak teman untuk ke perhelatan car free day atau hari bebas kendaraan bermotor. Saya memang dari Jumat 12 Mei malam, menginap di rumah teman, yang bahkan sudah seperti keluarga. 

Mereka awalnya mau lari (bukan lari dari kenyataan ya)  mengelilingi Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tapi karena sedang diperbaiki, akhirnya pindah lokasi. Saya sih tidak ikutan lari atau jogging. Cuma mau jalan-jalan lihat bazaar saja.

Setelah dua sahabat selesai jogging, kami pun berpetualang di bazaar atau area jualan tenda di jalan Asia Afrika depan FX Sudirman. Banyak jajanan di situ.

Karena haus, kami mencari yang segar-segar. Perhatian kami pun tertuju ke tenda yang menjual jeruk peras. 

Apa yang unik di tenda yang menjual jeruk peras ini? 

Jeruk peras yang dijual ini tidak dicampur dengan air. Murni jeruk. Kalaupun menambah es, menggunakan es kristal yang lebih terjamin kebersihannya.

Karena bertiga, kami memesan tiga gelas. Satu gelas (plastik) harganya 15.000. Tidak terlalu mahal karena isinya benar-benar murni jeruk. Yang berdagang ada empat orang.

Mereka bertugas untuk memotong, memeras jeruk dan kasir. Agar tidak terlampau antri, yang bagian memeras jeruk ada dua orang. 

Alat perasnya juga khusus. Biji jeruk langsung terrpisah, tidak perlu repot untuk menyaring. Prosesnya juga cepat lho. Mungkin satu gelas hanya kurang dari semenit.

Soal rasa? Tidak asam dan tidak terlalu mania. Penjualnya tidak menaruh gula, jadi sekali lagi memang murni jeruk. Rasanya pun menyegarkan. Melepas dahaga. 

Kalau pengen coba, silakan ke Car Free Day di kawasan Senayan.

read more
Bapontar

Pulau Kelapa Dua, dari Rumah Berarsitektur Bugis dan Makanan Khas Bugis

Pulau Kelapa Dua 7 Nov 2017

Tidak sengaja, iya tidak sengaja. Itulah yang terjadi ketika saya menemukan foto-foto saya tiga tahun lalu di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu Utara.

Saya sedang mencari foto-foto saya bulan November lalu di Pulau Lancang di Google Photos, dan ketika saya scroll ke bawah, tetiba muncul foto saya ketika berkunjung ke Pulau Kelapa Dua tahun 2013 lalu.

Saya pun teringat foto tersebut, ketika itu saya mengantar jurnalis televisi antv ke Pulau Kelapa. Ingin meliput di sana. Kebetulan sahabat saya, waktu itu menjabat menjadi lurah Pulau Kelapa.

Ketika di sana, saya dan teman-teman dari antv ini diajak ke Pulau Kelapa Dua. Meskipun saya sudah sering berkeliling ke Pulau-pulau di Kepulauan Seribu, ke Pulau Kelapa Dua ini kesempatan pertama saya.

Apa yang menarik dari Pulau Kelapa Dua ini? Di Rumah berarsitektur asli bugis atau Sulawesi Selatan berupa rumah panggung. Saya memang sudah mengetahui lama soal kehadiran rumah berarsitektur bugis ini. Tapi melihat langsung baru pertama kali.

Dari cerita yang saya dapatkan, penduduk di Pulau Kelapa Dua ini memang masih asli keturunan dari Bugis. Mereka hijrah dari Pulau Genteng. Ada dua kelompok. Yang kelompok lainnya hijrah ke Pulau Sebira. Saya sudah ke Pulau Sebira ini juga. Tahun 2006 atau 10 tahun lalu.

Ada banyak rumah khas Bugis atau berarsitektur Bugis ini di Pulau Kelapa Dua. Dan letaknya berdampingan. Rumahnya masih berbentuk rumah panggung.

Ketika berada di Pulau Kelapa Dua, saya yang berkunjung ke salah satu warga, masih disuguhi penganan asli Bugis. Borongko namanya. Selain Borongko, ada juga makanan seperti ikan yang dimatangkan hanya memakai jeruk. Saya lupa nama persisnya, semacam gohu ikan kalau di Manado. Makanan ini saya benar-benar suka.

Ada juga ikan yang dimasak dengan kuah dengan bumbu khas dari Bugis. Sekali lagi saya lupa namanya. Ini makanan enak sekali. Saya ingat, saya makan di rumah mertua Anci. Orang tuanya Sultan, saya kenal dengan Sultan ini yang bertugas di Polres Jakarta Pusat.

Tidak hanya itu, dialek dari warga di Pulau Kelapa Dua ini, masih kental sekali dengan dialek Sulawesi Selatan.

Pulau Kelapa Dua ini, bukanlah pulau tujuan wisata seperti Pulau Tidung, Pramuka, Pari dan Pulau-pulau Resort. Tapi, rumah yang berarsitektur Bugis ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi kita yang ingin melihat sisi lain dari Kepulauan Seribu.

Letak Pulau Kelapa Dua ini, bersebelahan dengan Pulau Kelapa. Tidak berjauhan. Menyebrang dari Pulau Kelapa, hanya sebentar saja. Pulau Kelapa sendiri ini letaknya di Kepulauan Seribu Utara. Naik speedboat dari Ancol, kurang lebih 1,5 hingga 2 jam.

Tertarik?

tulisan ini juga bisa dibaca di travel blog khusus saya pigipigi.id

read more
BapontarFeatured

Menikmati Senja di Waduk Cincin, Papanggo

Waduk-Cincin (5)

Waduk Cincin, iya mungkin bagi sebagian besar orang, tidak mengenal waduk ini. Termasuk saya yang sudah lama beraktifitas di Jakarta Utara. Waduk Cincin ini atau ada yang bilang dengan Waduk Sunter Utara awalnya saya tahu berada di sebelah taman BMW.

Udah tidak tahu namanya, saya juga tidak tahu cara menuju waduk ini. Tapi karena sering melewati, akhirnya saya paham jalan ke waduk ini. Tidak jauh dari kantor kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok. Tapi ya saya belum mampir.

Akhirnya kesempatan pertama datang untuk mengunjungi waduk ini. Saya, Hariadhi dan Ledi Kurniawan yang berkunjung ke RPTRA Marunda dan RSUK Cilincing mampir untuk blusukan ke sini. Bulan November 2016 waktu itu.

Ketika kami mampir, pemasangan sheetpile atau turap sedang dilakukan. Kondisi masih belum terlalu rapi karena masih dipasangi turap. Kami pun tidak lama berada di situ karena sudah petang dan waduk masih dalam posisi dipasang turap.

Kesempatan kedua untuk datang ke waduk ini ketika saya blusukan lagi bersama Hariadhi. Kami yang sedang naik mobil, melewati tol dalam kota dari Priok menuju ke Pluit. Tujuan kami ke Waduk Pluit. Itu tanggal 7 Januari lalu.

Tapi kami yang sedang asik periscope-an (udah tahu kan aplikasi periscope ini), dari dalam mobil kemudian melihat waduk cincin dari jalan tol. Pikiran pun berubah, kami keluar tol dan langsung menuju waduk cincin.

Sesampainya di waduk Cincin, kondisi sudah lebih rapi. Pemasangan sheetpile sudah rapi atau selesai. Ketika kami tiba, hari sudah sore sekitar jam 17an WIB. Warga ternyata sedang asik berwisata, ada yang mengajak anak, ada yang membawa sepeda motor dan banyak yang memancing di waduk Cincin ini. Wah!

Saya mengambil foto, dan Hariadhi live dari periscope dan facebook. Dia memang lagi senang-senangnya live dari dua aplikasi itu. Biar follower ama teman dia bisa menyaksikan langsung.

Yang terlihat dari waduk cincin di petang itu, sudah jauh lebih bersih. Masih ada sampah sih, tapi sudah tidak menyebar di danau. Tidak mungkin bisa mengangkut sampah dari waduk ini, karena ada aliran air dari kali atau saluran air dari tujuh kelurahan.

TUJUH KELURAHAN SODARA SODARA!!! Kebayang kan?

Kami pun menyusuri semacam jogging track (bukan jalan inspeksi). Warga ada yang asik memancing, jalan-jalan atau naik sepeda motor. Ada yang duduk-duduk di turap. Sekedar menikmati senja.

Saya juga ikut menikmati senja di Waduk Cincin dengan mengambil foto yang menakjubkan. Danau yang bersih, ditambah senja bernuansa oranye membuat foto saya meskipun menggunakan kamera dari ponsel semakin cakep. Saya pun takjub.

Tidak hanya mengambil foto. Saya juga mengajak warga untuk berbincang. Beberapa warga yang saya ajak ngobrol tanpa saya menanyai nama mereka, mengatakan Waduk Cincin sudah lebih baik. Tidak banyak eceng gondok dan sudah tidak berbau.

Salah satu warga yang sedang memancing, mengaku bernama Kris mengatakan, dia tidak takut mancing lagi di Waduk Cincin karena sudah lebih bersih. Wilayah sekitar waduk cincin memang sudah dirapikan. Kris tidak takut ular lagi.

Bahkan Kris bisa sampai malam memancing di sini. “Banyak ikan lele” katanya.

Saya pun meminta ijin untuk merekam melalui video dari kamera ponsel.

Senja di Waduk Cincin memang asik, meskipun belum rapi sepenuhnya. Tapi setidaknya, waduk yang sudah direvitalisasi atau direfungsi ini bukan hanya sekedar untuk menampung air untuk mencegah banjir. Tapi bisa dinikmati warga.

Hari semakin gelap. Saya dan Hariadhi mengakhiri kunjungan. Kami mau ke lenggang Jakarta Kemayoran. Malam mingguan di sana.

Tulisan ini juga bisa dibaca di travel blog saya pigipigi.id

Foto-foto waduk cincin ada di galeri foto di bawah ini ya.

Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

read more
BapontarFeatured

Aiiih …. Kerennya Lenggang Jakarta Kemayoran

wp-1483726551648.jpg

Sekitar sebulan lalu, saya sedang meliput di Rumah Lembang. Pak Ahok, ketika itu menjelaskan bahwa tengah dibangun sebuah “relokasi” atau lokasi untuk pedagang kaki lima di kawasan kemayoran. Namanya Lenggang Jakarta Kemayoran. Mirip Lenggang Jakarta yang sudah ada di Irti, Monas.

Panasaran? So pasti dong saya panasaran dengan Lenggang Jakarta Kemayoran ini. Eh kebetulan, ketika libur Maulid Nabi Muhammad bulan Desember kemarin, saya berkeliling alias blusukan untuk blog saya. Ketika saya melintasi jalan Garuda seusai berbelok dari Jalan Benyamin Sueb ke arah Jalan Garuda, saya melihat sebuah kawasan yang dulunya bernama gang laler, tengah dibangun.

Saya pun berhenti. Untuk mengambil foto. Dan ternyata, setelah dicek, ini lokasi sedang dibangun kawasan yang namanya Lenggang Jakarta Kemayoran. Wakwawwww !! Ini tempat yang saya cari.

Karena masih dibangun, saya mengambil foto proses pembangunannya. Ketika itu masih belum selesai. Menurut tukang yang sedang bekerja, pas perayaan malam tahun baru, akan digunakan. Wah.

Senin 2 Januari, saya siangnya ikut blusukan pak Ahok di kawasan Semper Barat. Malamnya saya bersama hariadhi, mampir ke Lenggang Jakarta Kemayoran. Tapi Hariadhi langsung pergi, dan saya mampir sebentar. Karena malas makan sendirian, saya hanya niatnya mengambil foto saja.

Ketika masuk ke Lenggang Jakarta Kemayoran ini, saya tercengang. Asli bukan lebay, tapi saya tercengang karena tempatnya bagus banget. Penataannya hype alias kekinian banget. Sumpah! Tempat PKL jual makanan aja keren banget disainnya. Kontainer yang ditumpuk-tumpuk terlihat unik.

Ambil foto dan lihat-lihat makanan saya lalukan. Tapi ya sekedar ambil foto saja.

Kesempatan kedua, datang jumat 6 Januari. Tanpa janjian, saya ketemu Hariadhi di Lenggang Jakarta Kemayoran. Niatnya kali ini makan. Setelah masuk ke lokasi, jujur saya masih tercengang. Bagus tempatnya.

Dan yang gilanya lagi, ketika saya dan hariadhi memilih makan di kontainer bagian atas, makin tercengang saya. Cakep banget kalau dilihat dari atas.

Tenda payung plus meja dan kursi makan, terlihat ciamik. Begitu juga dengan tenda besarnta. Lampu-lampu yang bergela tungan membuat tempat ini makin cakep.

Di lokasi ini juga ada tempat bermain anak. Deretan kuliner kaki lima, juga sangat banyak. Bisa pilih-pilih makanan. Waaaaah!! 

Oh iya, makanan yang dijual di Lenggang Jakarta Kemayoran ini memiliki standard khusus, sudah dicek BPOM dan ada sertfikasi halal juga. Keren kan? 

Harganya juga nggak mahal. Masih lebih murah dibanding dengan mall. Variasi makanan juga banyak. Ini yang penting nihhh.

Untuk makanannya, dan minuman yang saya pesan, akan saya tulis di blog tersendiri ya. 

This slideshow requires JavaScript.

read more
BapontarFeatured

Tiga Taman Asri di Jakarta, Wajib Dikunjungi

wp-1481024083520.jpg

Blusukan, atau berkunjung ke beberapa fasilitas publik di Jakarta, sedang saya tekuni belakangan ini. Mulai dari Bulan Agustus lalu sebenarnya. Namun, yang sering eug (bahasa gaul dari Gue atau saya) kunjungi adalah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), Sungai dan Pedestrian.

Berkunjung ke taman, kerap kali tidak menjadi tujuan utama eug (halah pake bahasa gaul lagi). Tapi akhirnya, karena melihat ada tiga taman yang bagus, akhirnya saya niatkan berkunjung.

Taman Sunter
Kunjungan pertama saya adalah ke Taman Sunter. Kunjungan ke taman Sunter ini ketika saya blusukan bulan Oktober Lalu, tepatnya 16 Oktober.

Saya ketika itu blusukan ke sejumlah spot seperti Kali Sunter, Danau Sunter Barat dan RPTRA Pademangan Timur. Dalam perjalanan saya dari Danau Sunter Barat ke RPTRA Pademangan Timur, saya melewati Taman Sunter Barat.

Saya pun mampir, karena memang sudah meniatkan ke Taman Sunter ini.

Taman Sunter ini lokasinya di Jalan HBR Motik, dekat perempatan Sekolah Jubliee, dari Sunter ke Kemayoran. Tepat ada di pojokan tidak jauh dari perempatan lampu merah.

Taman Sunter ini, lengkap dengan Jogging Track, sarana permainan anak dan juga alat fitness sederhana.

Karena masih baru, Taman Sunter ini, tidak terlampau rindang. Pepohonan hanya berada di beberapa titik saja, dekat permainan anak. Pohon yang lain belum tumbuh besar dan menjadi rindang.

Ada beberapa tempat untuk duduk-duduk santai juga di taman ini. Ketika saya berkunjung, ada beberapa anak yang sedang bermain di Sarana Permainan Anak, remaja yang sedang duduk-duduk santai.

Di Taman Sunter ini juga ada semacam gerbang beton dan besi (gabungan) di jalan setapak atau jogging track.

This slideshow requires JavaScript.

Oke Lanjut!

Taman Rawa Badak Utara
Kunjungan ke taman berikutnya adalah Taman Rawa Badak Utara. Taman ini sering saya lewati ketika dari Tanjung Priok ke Kelapa Gading karena berada di Jalan Yos Sudarso.

Taman Rawa Badak Utara ini dahulunya adalah SPBU, yang kemudian dibongkar dan dijadikan taman.

Saya berkunjung ke Taman Ini, Hari Rabu 30 Desember lalu. Saya yang sedang menuju ke Sukapura, menyempatkan diri untuk mampir.

Taman Rawa Badak Utara ini, seluruh bagiannya sudah ditumbuhi pohon besar. Jadi taman ini sangat rindang. Seperti Taman Sunter, ada juga jogging track di taman ini.

Rumput hijau dan kembang menghiasi taman ini. Segar mata memandang ke taman ini, karena dipenuhi tanaman rumput hijau dan bunga yang terawat.

Bangku atau kursi beton dan tempat sampah melengkapi taman ini. Kita bisa bersantai sambil duduk-duduk membaca buku atau bersantai di sini.
Ketika saya menyusuri taman, saya menemukan area khusus bersantai dimana kursi ada atapnya.

Oh iya, tidak ada sarana bermain anak atau alat fitness di taman ini, tidak seperti di Taman Sunter yang ada alat fitness dan sarana bermain anak.

Kalau kita membawa kendaraan sepeda motor, juga ada aera parkirnya lho. Ada juga Petugas Keamanan yang berjaga di taman ini. Tidak hanya itu, pasukan Hijau terlihat sedang merawat taman ini.

This slideshow requires JavaScript.

Taman Dr. Wahidin
Taman Dr Wahidin ini menjadi kunjungan ketiga saya ke taman. Saya yang blusukan hari Kamis 1 Desember lalu ke sejumlah titik, mampir ke taman ini. Taman ini terletak di Jalan Dr Wahidin, Pasar Baru, tidak terlalu jauh dari Jalan Boedi Oetomo atau yang terkenal dengan sekolah SMK Boedoet nya.

Taman Dr Wahidin ini juga asri dan rindang. Terpayungi oleh pohon-pohon besar. Yang sedikit membedakan taman ini dari dua taman lainnya yang saya kunjungi sebelumnya, adalah dua patung pahlawan yang ada.

Di taman ini ada Patung Dr Soetomo dan Dr Soeraji. Selain patung di bagian bawah patung juga ada penjelasan singkat mengenai dua pahlawan ini. Setelah saya baca, mereka berdua ini adalah tokoh organisasi Budi Utomo.

Yang saya sukai di taman ini, karena ada meja dan kursi juga. Kita bisa sambil belajar di taman ini. Jalan Setapak, kursi untuk duduk-duduk ada juga kursi dengan taman gantungnya. Jadi seakan kita dinaungi oleh tanaman rambat.

Keunikan taman ini adalah adanya alat fitness dengan penjelasan. Tidak hanya itu, ada juga lantai untuk refleksi di taman ini. Bahkan ada penjelasan untuk titik-titik refleksi.

This slideshow requires JavaScript.

Kesan saya ketika mengunjungi tiga taman ini adalah, taman yang ada sekarang bisa lebih asri, hijau, rindang dan juga terawat. Taman ini selain bisa menjadi tempat bersantai, belajar, olahraga dan hal lainnya, juga menjadi ruang terbuka hijau. Ah keren memang.

Semoga taman ini tetap terawat. Dan taman-taman seperti ini wajib kita kunjungi.

ini video di channel youtube saya ya

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=NR-TXzEbLs4[/embedyt]

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=5koug5ygPsw[/embedyt]

 

read more
1 3 4 5 6 7
Page 5 of 7