close

Bapontar

Bapontar

Teduhnya Kompleks Karaton Kasunanan Surakarta

img_6696

Setelah menghadiri Malam Midodareni Putri Tunggal Presiden Joko Widodo, Selasa 7 November 2017, saya dan rekan-rekan Jasmev keesokan harinya berencana melakukan tour di Kota Surakarta atau Solo.

Yang menjadi target kunjungan kami adalah Karaton Kasunanan Surakarta.

Usai sarapan di Dapur Solo dengan makanan khas Jawanya, kami langsung menuju ke Karaton. Kami tiba menjelang siang.

Turun dari bis yang kami tumpangi, beberapa teman langsung menuju ke pintu masuk Karaton. Saya dan Suyanto, masih menyempatkan diri untuk Selfie di semacam pendopo depan Karaton.

Selesai selfie sebagai bukti mengunjungi Karaton Surakarta ini, saya menyusul teman-teman. Rendi Doroii sebagai Ketua Rombongan sudah membelikan tiket masuk seharga Rp 8.000.

Masuk ke kompleks Karaton, pemandu kami langsung meminta maaf karena suasana karaton sedang dalam renovasi.

Sebelum memasuki kawasan utama Karaton, kami diberikan penjelasan sedikit oleh pemandu yang saya tidak sempat tanya namanya.

Oleh pemandu, kami diberikan informasi. Bagi yang memakai sandal, harus melepasnya. Kecuali yang memakai sepatu.

Karena ini sudah menjadi aturan, saya, Hariadhi dan irfan akhirnya melepas sepatu. Nyekerman … hahaha

Memasuki kompleks utama Karaton, kami disambut teduhnya pepohonan. Pemandu kemudian menjelaskan bahwa pohon tersebut jumlahnya ada 77. Jenis pohon adalah Sawo yang buahnya kecil-kecil

Angka 7 atau tujuh ini sendiri memiliki filosofi tersendiri. Di sebelah kiri tempat kami masuk, ada sebuah bangsal.

Kami melanjutkan perjalanan ke dalam kompleks Karaton.

Dalam kompleks karaton kami diajak ke sebuah menara yang dahulunya berfungsi untuk memantau musuh atau aktifitas warga.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Sasana Sewoko yang merupakan tempat Raja Karaton Solo Paku Buwono menerima tamu atau menggelar acara utama.

Ada sejumlah patung yang berderet yang merupakan hadiah dari pemerintah kolonial Belanda kala itu.

Di sebelah Sasana Sewoko, ada Sasana Ondrowino yang dikelilingi pintu kayu yang bisa dilipat. Pemandu menjelaskan, Sasana ini merupakan tempat makan dikala ada perhelatan.

Saya melihat disekeliling kompleks utama Karaton ini, ada ruangan yang memiliki banyak pintu. Menarik sekali untuk difoto.

Ternyata, ruang dengan banyak pintu ini adalah musium Karaton.

Tour kami di Karaton berlanjut ke Musium Karaton. Di musium Karaton ini, dipajang beberapa foto Raja Karaton Solo dan juga batu candi dari Prambanan dan Borobudur.

Ada juga sejumlah patung dari perunggu, patung kuda dan sadel yang dipakai kala kirab pengantin pria di acara pernikahan.

Saya hanya sempat mengambil beberapa foto karena kondisi Ponsel yang sudah lowbatt.

Di depan musim karaton, saya melihat ada sebuah taman dengan pagar melingkar dan sebuah patung. Mungkin karena kondisi sedang renovasi, taman agak kurang terawat.

Karena kompleks karaton yang tidak terlampau luas, tour kami berlangsung kurang dari satu jam.

Kunjungan kami pun berakhir dan kami akan ke pasar Klewer.

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian VIII – Akhir: Pertama Kali Jalan-jalan Bersama

img_6491

Saya bergabung bersama dengan Jasmev, yang ketika saya bergabung merupakan Singkatan dari Jakarta Ahok Social Media Volunteer (singkatannya berubah-ubah), sudah dari setahun lalu.

Itu terjadi sekitar bulan Agustus 2016, ketika itu saya mengikuti workshop tentang media sosial di kawasan Buaran, Jakarta Timur.

Semenjak bergabung dengan Jasmev setahun lalu, sudah banyak kegiatan yang dilakukan. Mulai dari workshop tentang media sosial, kumpul-kumpul hingga nonton bareng.

Namun, bepergian bersama dengan teman-teman Jasmev ke luar kota, ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. Kami rombongan 14 orang, Saya, Hariadhi, Doroii, Dina, Rifa, Edo, dan beberapa teman lainnya berangkat ke Solo untuk menghadiri Midodareni Kahiyang Ayu, Putri Tunggal Presiden Joko Widodo.

Kami berangkat Senin 6 November 2017 petang, dan tiba di Asrama Haji tempat kami menginap, Selasa 7 November 2017 pagi sekitar pukul 07:30.

Selama perjalanan, tidak ada halangan berarti yang kami temui. Perjalanan lancar meski sempat diguyur hujan. Kami mampir di Jawa Barat dan Jawa Tengah (Kendal) untuk beristirahat sejenak.

Ketika menginap di Asrama Haji Donohudan, bersama dengan relawan Jokowi lainnya, juga pengalaman unik. Kami tidur di semacam hall beralaskan kasur.

Untuk mandi, kami harus permisi kepada relawn yang mendapatkan kamar, karena kamar Mandi berada di dalam kamar.

Ketika makan siang Senin 6 November, saya, Hariadhi, Bagus dan Edo akhirnya mencari makan di warung depan Asrama Haji karena makanan pasti berebutan dengan relawan lain.

Ternyata, ayam goreng yang saya pesan dan bandeng goreng yang Hariadhi dan Edo pesan enak rasanya. Sambal bawangnya juga mantap punya.

Kami yang malam harinya datang ke acara Midodareni juga sempat hampir tidak bisa masuk karena untuk masuk lokasi acara harus memakai pin khusus.

Pengalaman unik lainnya adalah, karena kami ini relawan yang bergerak di media sosial, ponsel cerdas yang kami bawa harus terisi batetainya.

Namun, di tempat kami menginap, colokan listrik sangat sulit didapatkan. Edo dan Hariadhi akhirnya membeli colokan listrik tambahan agar kami bisa mengisi baterai smartphone yang kami bawa.

Di Asrama haji juga susah sinyal. Minta ampun deh. Signal Ponsel datang dan pergi. Kalaupun ada, hanya Edge.

Cerita lainnya, sudah saya tuliskan di tujuh cerita lainnya.

Sepanjang perjalanan, dan berada di kota solo, sangat berkesan bagi saya. Kami selalu apa adanya, tidak neko-neko dan tidak rempong.

Menginap rame-rame di hall itu menjadi keseruan tersendiri. Selfie, Wefie, ngobtol, ketawa bersama, makan dan minum bersama itu tidak akan mudah dilupakan.

Buat Hariadhi, Doroii, Rita, Dina, Bang Rhona, Suyanto, Masis, Bagus, Irfan, Albert, Yohanes, Donny dan Yasinta (yang bergabung ketika kembali ke Jakarta), sebuah kebahagiaan tersendiri bisa bepergian bersama kalian.

Mbak Dee, terima kasih juga saya sampaikan. Nando juga!

Semoga ada petualangan atau perjalanan lain bersama Jasmev.

Tulisan ini saya buat ketika berada dalam perjalanan kembali ke Jakarta, di tol Salatiga Semarang.

Jawa Tengah, 8 November 2017

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian VII : Srabi Notokusuman dan Kembali ke Jakarta

img_6767

Selesai dari Pasar Klewer untuk belanja batik dan makan es dawet, kami segera meluncur ke salah satu tempat membeli oleh-oleh Khas Solo. Kue Srabi.

Sebenarnya di pasar Klewer tadi ada penjual Srabi, tetapi karena sudah masuk dalam Agenda akan ke Srabi, kami tidak membeli Srabi di Pasar Klewer ini.

Tempat yang kami tuju adalah Srabi Notosuman Ny Handayani.

Hujan gerimis menyambut kami ketika tiba di Srabi Notosuman. Parkir mobil/ bus kurang lebih 30 meter dari toko Srabi Notosuman.

Teman-teman langsung berbelanja oleh-oleh seperti Intip dan Srabi. Saya hanya melihat-lihat saja.

Di sebelah toko Srabi ini, saya beberapa kali mengambil foto pembuatan Srabi.

Melihat srabi ini, saya langsung pengen makan saja. Looks delicious. Saya yakin enak:

Setelah mengambil beberapa foto, saya kembali ke bus, menunggu teman-teman sekaligus menulis blog bagian VI.

Beruntung bagi saya, bisa mencicip kue Srabi yang dibelikan Bang Rhona, yang memang ternyata sangat enak.

Setelah semua teman berada dalam bus, perjalanan kami di Solo selesai sudah. Kami kembali ke Jakarta.

Sebuah pengalaman perjalanan yang mengasyikan.

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian VI : Berburu Kuliner, City Tour dan Berkunjung ke Karaton Surakarta

DCIM100MEDIA

Tidak afdol rasanya, kalau bepergian atau jalan-jalan ke berbagai tempat, kita tidak mencicipi atau menyantap kuliner khas daerah yang kita datangi.

Seperti dengan apa yang kami, rombongan Jasmev yang “goes to Solo”.

Di hari pertama ketika kami tiba di Solo, dan beristirahat di Asrama Haji Donohudan, dan kami menuju ke kediaman Presiden Jokowi untuk acara Midodareni, kami menyempatkan diri untuk makan Bakmi Godog, Bestik Sapi atau Selat Solo, dan Tahu Campur.

Kuliner ini kami dapatkan di Jalan Letjen Suprapto dekat dengan Graha Saba, tempat berlangsungnya ijab kabul dan resepsi pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution.

Saya, Bang Rhona dan Edo menyantap Mi Godog, sementara teman-teman lain menyantap Kupat Tahu Sido Mampir.

Bakmi Godog yang saya santap ini, dimasak masih menggunakan anglo dan kayu bakar. Soal rasa top dah

Bakmi Godog Jawa … mantap rasanya

A post shared by Thomas J Bernadus (@bacirita) on

Sekitar jam 21.00 WIB kami kembali ke Asrama Haji. Beristirahat sejenak, saya dan beberapa teman Jasmev berburu nasi Liwet khas Solo.

Lah ke solo kok nggak makan nasi liwet. Kami akhirnya makan nasi liwet Bu Wongso Lemu. Sudah hampir tengah malam ketika kami menyantap nasi liwet bu Wongso ini.

Mengenai detail soal nasi liwet ini, secara khusus akan dibahas di dalam blog tersendiri.

Ketika berada di tempat makan nasi liwet, Rendy Doroii bahkan sempat menyanyi dengan pengamen dan ketika lagu Asalkan Kau Bahagia, kami bahkan kompak menyanyikan lagu tersebut.

Setelah dari Nasi Liwet Bu Wongso, kami kembali ke Asrama Haji.

Hari ke-2 di Solo, kami kompakan untuk City Tour, makan di Dapur Solo dan pergi ke Keraton.

Kami sudah siap-siap sedari pagi hari. Jam 10.00 pagi, kami meninggalkan asrama haji donohudan.

Tujuan kami adalah ke Dapur Solo. Tempat makanan khas Jawa. Saya sudah membayangkan betapa enaknya makanan yang ada di restoran tersebut.

Menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kami tiba di Dapur Solo.

Foto-foto sebentar, kami langsung masuk untuk makan.

Saya sih ingin mencicipi tengkleng, tapi dasar belom rejeki, tengklengnya habis. Yang ada tinggal asem-asem iga sapi.

Masuk ke dalam lagi, beragam masakan jawa sudah disajikan. Karena saya doyan pecel, yang saya pilih adalah pecel. Dan tambahannya adalah sambal kacang tolo.

Dan ternyata, iga sapi asem-asemnya juara rasanya. Asam manis rasanya. Pecelnya juara deh. Top begete.

Setelah perut terisi makanan, kami melanjutkan city tour, sight seeing kota Solo dan menuju ke Karaton Surakarta Hadiningrat.

Kami ingin tour ke karaton.

Tiba di karaton, kami langsung menuju tempat membeli tiket dan masuk. Ada seorang pemandu yang mengantarkan kami.

Di Karaton kami diberikan penjelasan dan berkeliling kompleks karaton dan ke musium karaton.

Karena kompleks karaton tidak terlampau besar, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk tour. Kurang lebih satu jam.

Puas foto-foto dan berkeliling Karaton, kami berpindah ke pasar Klewer. Maklum, pada ingin berbelanja batik.

Tidak banyak yang berbelanja di Pasar Klewer. Sebagian berbelanja, sebagian nongkrong santai menikmati es dawet.

Kira-kira jam 14.00 kami selesai di pasar klewer dan menuju ke tempat berbelanja oleh-oleh.

Srabi solo!

read more
BapontarFeatured

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian V : Jokowi Berterima Kasih kepada Relawan yang Hadir

img_6555

Setelah cukup beristirahat di Asrama Haji Donohudan, saya bersama teman-teman Jasmev, bersiap untuk datang ke acara Midodareni yang digelar di kediaman Presiden Joko Widodo.

Kami kompakan berbaju batik, meskipun batiknya tidak seragam. Yang penting adalah kebersamaan. Kurang lebih jam 14.30 kami sudah jadi keren berbatik.

Ini penampakannya

Bahkan kami sempat berfoto juga dengan Jokowi KW alias orang yang mirip dengan Presiden Jokowi

Habis foto-foto kami pun berangkat. Naik bus yang kami tumpangi sedari Jakarta.

Ketika sampai di dekat lokasi acara midodareni, bus tidak bisa masuk. Jalan Letjen Suprapto sudah disterilkan oleh petugas.

Kami terpaksa berjalan kaki. Sepanjang jalan sudah berderet kembang ucapan selamat dari berbagai kalangan. Ada yang level pejabat, bahkan ada toko, dan sekolah.

Di lokasi acara, belum banyak relawan yang datang. Kami menunggu sembari berfoto, selfie hingga makan. Kebetulan ada tempat makan enak. Saya dan Bang Rona menyantap Bakmi Godog (soal ini nanti di food blog aja ya).

Malam menjelang, kami segera meluncur ke kediaman pak Jokowi tempat acara Midodareni akan berlangsung. Dari tempat kami menunggu, harus berjalan kaki. Tidak terlampau jauh.

Sesampai di gerbang pemeriksaan paspampres, kami sempat tidak diperbolehkan masuk. Yang boleh masuk, yang memakai pin khusus. Kayak gini pinnya :

Hariadhi dan Rendy Doroii pun secara sigap, mencarikan Pin. Menunggu kurang lebih 20 menit, kami akhirnya bisa mendapatkan Pin.

Hooraay, bisa masuk!!

Sesampai di dalam lokasi acara, sudah rame bener. Mau makan, antrinya sudah panjang.

Pasrah!!

Saya dan engkong (panggilan saya untuk) Suyanto dan Hariadhi, duduk di paling belakang.

Kami beruntung!

Ada yang mengantarkan makanan kepada kami. Tak perlu repot antri.

Makanan dari catering Putra pak Jokowi ini ternyata enak. Lumayan lah mengganjal perut!

Ketika makan, Presiden Jokowi memberikan sambutan. Dalam sambutannya tersebut, Presiden mengucapkan terima kasih kepada relawan hingga tamu undangan yang datang dari Sabang sampai Merauke.

Keren ih!

Tak hanya itu, Presiden juga bahkan meminta maaf karena kursi yang disediakan awalnya hanya 3000, tapi jumlah tamu dan relawan yang datang terus bertambah hingga menjadi 7000. Buset banyak bener yak!

Tuh suasana di dalam lokasi acara Midodareni. Foto dari tim mbak Honey Anissa.

Setelah makan dan pidato pak Jokowi, saya dan Hariadhi memutuskan meninggalkan lokasi acara, nggak tahan karena gerah dan banyak orang.

Saya dan Hariadhi kemudian disusul oleh teman-teman lainnya.

Kami menunggu kembali ke Asrama Haji. Nongkrong di tempat makan.

Featured foto dari Media Sosial Facebook

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian IV : Tiba di Asrama Haji Donohudan

img_6432-1

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 12 jam dari JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, rombongan Jasmev akhirnya tiba di Asrama Haji Donohudan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Selama perjalanan, kami bersama dengan rombongan Projo, kurang lebih 33 bus sempat mampir di rest area di kawasan tol Cipali, Jawa Barat dan Kendal Jawa Tengah.

Rombongan menyempatkan diri untuk makan dan ke toilet, karena bus yang kami dan rombongan lainnya tumpangi, tidak ada toilet.

Hampir sepanjang perjalanan, hujan seakan tidak berhenti mengguyur mobil. Wiper kaca depan mobil terus menyala, dari tol JORR hingga Cipali.

Bahkan ketika beristirahat di rest area tol Cipali, hujan sempat turun dengan derasnya.

Memasuki Jawa Tengah, terutama dari Semarang, hujan sudah tidak mengguyur. Saya pun bisa menyaksikan pemandangan yang lebih hijau dibandingkan dengan di Ibukota Negara.

Sehabis melintasi Salatiga, Ampel dan Boyolali, sekitar pukul 07.30, akhirnya kami sampai di Asrama Haji.

Kami yang setelah turun dari bus, langsung diarahkan ke Gedung Mekkah, lantai 3. Karena lift atau elevator kecil, kami memutuskan naik tangga.

Sesampai di lantai 3, saya awalnya berpikir kami akan menginap di dalam kamar. Kenyataannya tidak.

Sudah banyak yang tiba lebih dahulu dan menempati kamar. Kami hanya mendapatkan tempat beristirahat di kasur yang digelar di semacam hall lantai 3.

Tak apalah….

Namun problem muncul ketika kami ingin mandi.

Beberapa teman dari Jasmev yang ingin mandi, termasuk saya, menumpang di kamar-kamar yang sudah ditempati. Ada yang mengetuk pintu dan meminjam kamar mandi. Hampir setiap kamar di lantai 3 blok D diketuk. Ada yang dikunci bahkan.

Karena kamar mandi yang tersedia di kamar hanya dua, ada yang mengantri. Beruntung bagi saya ketika hendak mandi, kamar di D-2 tidak ada yang mandi dan juga tidak dikunci.

Walhasil bisa mandi dan segar rasanya.

Setelah mandi, saya memberitahu ke teman-teman yang belum mandi agar bisa memanfaatkan kamar mandi.

Beranjak siang, yang datang semakin banyak. Kasur yang tadinya kosong, mulai penuh orang. Entah nanti bagaimana mandi pas petang sebelum berangkat k acara Midodareni Putri Tunggal Presiden Jokowi.

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian III : Disuguhi Pemandangan Alam di Tol Semarang Bawen

img_6423

Sekitar pukul 05.00 WIB, hari masih sangat pagi, saya terjaga dari tidur saya. Saya terjaga karena hari sudah mulai terang meskipun matahari belum nenampakkan diri.

Semenjak dari keluar tol brebes, sekitar pukul 00.05, saya sudah mulai tidur. Dan ketika terjaga, saya melihat sedang berada di jalan tol antara Semarang dan Bawen.

Sepanjang jalan tol tersebut, saya disuguhi pemandangan alam, perbukitan yang masih hijau.

Kawasan hutan masih terlihat. Beberapa kali saya melintasi pedesaan yang terlihat masih sepi, karena masih pagi.

Bus yang saya tumpangi bersama teman-teman Jasmev, melintasi belokan, jembatan, dan menanjak karena memang melewati area perbukitan.

Pengalaman ini tentunya mengesankan buat saya karena kalau melintas jalan tol di Jakarta yang terlihat hanya gedung tinggi dan kawasan pemukiman padat penduduk.

Melintasi jalan tol di Jawa Tengah ini setidaknya membuat pikiran lebih fresh. Jenuh juga kalau hanya melihat gedung dan kepadatan kendaraan.

(Tulisan ini saya buat di perjalanan dari Bawen menuju Boyolali).

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian II : Rombongan Besar 33 Bus dan Lebih dari 1000 Orang

img_6373

Bepergian dalam bentuk tur dengan menggunakan bis atau bus bukan sekali saya lakoni. Semasa sekolah, pernah Tur. Begitu pun ketika kuliah, pernah juga tur bersama dengan teman-teman.

Tapi itu jumlahnya busnya tidak banyak.

Nah, perjalanan ke Solo bersama Jasmev dalam rangka menghadiri pernikahan Putri Tunggal Presiden Joko Widodo, bagi saya ini pengalaman gilak. Alias seru.

Ketika tiba di lokasi pemberangkatan yang berada di Parkiran 6A JI Expo Kemayoran Jakarta Pusat, saya agak terpana. Wah busnya banyak sekali.

Yang parkir sudah lebih dari 10 bus dengan kapasitas besar. Semasa mencari teman-teman Jasmev yang sudah tiba lebih dahulu, saya sempat ke Mesjid.

Saya kembali kaget karena banyak Relawan Pro Jokowi atau Projo yang sudah berkumpul. Capek lah kalau mau menghitung berapa banyak.

Saya tiba di lokasi keberangkatan, sekitar 14.30.

Semakin beranjak petang, semakin bertambah bus yang datang. Dan bukan hanya bus, relawan Projo yang datang juga semakin banyak.

Bahkan seorang teman sempat nyeletuk. Kalau bikin partai ini sudah bisa. Banyak sekali soalnya.

Setelah menunggu, sekitar jam 18.30 kami berangkat. Tim Jasmev berada dalam satu bus khusus. Kami memang terpisah, tetapi tetap dalam satu rombongan.

Yang mencengangkan adalah, jumlah bus yang berangkat ada 33 bus. BUSET DAH! Ini jelas banyak banget. Seumur-umur tur, bagi saya ini rombongan sangat besar.

Kalau satu bus saja sudah berisi rata-rata 40 orang, berarti ada 1200 orang yang berangkat. Uedyaan!

Dan nantinya, akan ada rombongan yang betgabung dan sudah tiba duluan. Sudah kebayang kan nanti acara nikahan Putri Pak Jokowi bakal seperti apa?

read more
Bapontar

Cerita Perjalanan ke Solo Bersama Jasmev Bagian I : Naik Bus (Lagi) ke Jawa Tengah

img_6401

Tahun 1992 hingga 2001, saya pernah bermukim di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yang terletak di antara Semarang dan Solo.

Kota tersebut bernama Salatiga (benar tujuh… kriukkhh). Ngapain aja di situ? Saya kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana.

Selama saya kuliah di Salatiga, saya kerap bepergian ke Jakarta. Bepergiannya, naik bus. Bus malam yang pasti.

Tahun 2001, saya kemudian hijrah ke Jakarta dan bekerja di ibukota. Setelah hijrah ke Jakarta, saya sudah sangat jarang sekali ke Jawa Tengah.

Kalaupun ke Jawa Tengah, naiknya pesawat (gaya bener).

Terakhir, naik bus ke Salatiga itu, tahun 2009. Ada acara di kampus saya.

Kesempatan naik bus lagi, datang ketika saya bersama teman-teman Jasmev datang ke acara nikahan Putri Tunggal Jokowi yang digelar di Solo.

Kami berangkat dari JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Bis yang kami tumpangi adalah bus pariwisata berukuran sedang. Kapasitas tempat duduk 29 orang.

Ada 14 teman-teman dari Jasmev yang berangkat. Karena kami hanya ber 14 dan kapasitas seat 29, kami bisa duduk dengan lega. Dua kursi untuk satu orang.

Asik kan?

Oke, ini tulisan pertama dari sejumlah tulisan perjalanan saya ke Solo bersama dengan teman-teman Jasmev. Akan ada beberapa rangkaian tulisan lain lagi.

read more
BapontarFeatured

Kesempatan Langka, Berkunjung ke Pameran Lukisan Istana “Senandung Ibu Pertiwi”

image-51

Sebuah kesempatan langka, datang ke saya pekan lalu di hari terakhir Bulan Juli 2017. Ada sebuah pesan yang masuk melalui aplikasi whatsapp saya. Isi pesan tersebut mengajak saya untuk datang ke perhelatan Pameran Lukisan koleksi Istana Kepresidenan bertajuk Senandung Ibu Pertiwi. Tak butuh waktu lama berpikir, saya pasti mengiyakan. Pesan tersebut datang dari tim jadimandiri.org.

Jujur saja, mendatangi pameran lukisan bagi saya, sangatlah jarang untuk saya lakukan. Saya memang mengagumi karya seni rupa berupa lukisan, bahkan saya pernah melukis dengan cat air meskipun hasilnya nggak keren-keren amat. Tapi, ke pameran lukisan baik yang tetap atau seasonal ataupun waktu tertentu itu sangat jarang.

Saya hanya pernah mendatangi sebuah pameran lukisan, di Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada di Kawasan Kota Tua. Di sini memang sejumlah lukisan dipajang. Lukisan yang berusia 50 tahunan memang dipajang. Dan memang ada banyak yang menarik.

Kembali ke topik tulisan, saya diundang untuk datang ke Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi ini tanggal 9 Agustus 2017, atau sepekan setelah pembukaan pameran Lukisan yang sedianya dibuka oleh Presiden Joko Widodo yang merupakan penggagas pameran lukisan ini, namun karena kesibukan beliau (sudah pada tahu dong, kalau Presiden ini suka blusukan), akhirnya dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Saya juga diminta oleh Pengundang untuk datang ke event ini, untuk mendaftarkan diri. Langsung saya daftarkan dengan mengisi formulir online. Beberapa hari sebelum hari kunjungan saya ke Pameran ini, saya dimasukkan ke grup Whatsapp yang berisi sejumlah blogger maupun vlogger. Ya! Saya memang akan berkunjung ke Pameran ini dengan sejumlah teman-teman vlogger dan blogger.

Excited? So pasti karena saya akan bertemu dengan teman-teman blogger yang artinya punya kenalan baru, network akan bertambah, dan yang pasti, akan punya pengalaman seru dengan teman -teman blogger.

Di grup whatsapp pastinya kami diberikan jadwal atau rundown untuk kegiatan kunjungan ini. Yang pasti juga informasi seputar apa yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dibawa dan dilakukan selama di pameran, diberitahukan lewat grup ini.

Hari H Kunjungan ke Pameran Lukisan

Waktu kunjungan akhirnya datang juga. Jujur saja, dari Selasa malam, saya sudah tidak sabar untuk datang ke kunjungan ini. Tempatnya di Galeri Nasional yang berada di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Lokasinya berada di seberang Stasiun Gambir, tidak terlampau jauh dari Gereja Imanuel.

Mudah bagi saya, untuk mencapai Galeri Nasional dengan menggunakan sepeda motor. Saya berangkat sekitar setengah sembilan. Perkiraan saya, kurang lebih setengah sepuluh saya sudah tiba di lokasi.

Perjalanan relatif lancar. Masuk ke Galeri Nasional, saya pikir lokasi parkir motor ternyata berada di belakang. Ternyata lokasinya tidak jauh dari gerbang masuk. Berada di depan. Lah biasanya parkir sepeda motor kan berada di belakang atau di basement.

Saya lihat jam di ponsel saya, ternyata waktu menunjukkan jam sembilan lewat lima menit. Jauh dari perkiraan saya, untuk tiba di lokasi Galeri Nasional. Usai parkir sepeda motor dan mengamankan helm, saya selfit-selfie dahulu di bagian depan Galeri Nasional. Tak cuma selfie, saya juga mengambil gambar.

Usai foto-foto, saya menuju ke lokasi tempat berkumpul teman-teman dan panitia. Lokasinya ada di Cafe Galeri Nasional. Tidak sulit mencari cafe ini, karena dari kejauhan saya sudah melihat ada tulisan tanda Cafe. Sesampainya di Cafe, sudah ada beberapa teman yang berkumpul.

Waktu registrasi memang masih jam 10.00 WIB. Jadi sejumlah teman-teman masih ada yang belum datang. Tak lama berselang, akhirnya sudah mulai banyak yang berdatangan, dan registrasi berlangsung. Banyak juga teman-teman yang datang. Lebih dari 30 orang.

Setelah registrasi dan makan siang, kami diberikan brief singkat dan langsung diajak untuk menuju ke tempat registrasi untuk masuk ke dalam lokasi pameran. Karena kami para blogger dan vlogger datang berkelompok, panitia yang meregistrasi kami.

Tas slempang saya, harus saya titip. Yang boleh dibawa hanyalah ponsel dan powerbank. Tak apa. Saya memang tidak memiliki kamera DSLR ataupun Mirrorless, jadi aman deh. Petugas penitipan juga sangat ramah, begitu juga dengan petugas keamanan dan registrasi.

Kami diberikan stempel berwarna merah di tangan. Tulisannya Senandung Ibu Pertiwi. Wah-wah. Serasa masuk di salah satu lokasi hiburan di Kawasan Ancol. Kami pun menuju ke lokasi pameran di gedung yang berada di tengah-tengah Kompleks Galeri Nasional.

Mengagumi Lukisan

Untuk masuk, kami harus menapaki tangga. Sesampai di gerbang masuk, dilakukan pemeriksaan. Apa yang berada di kantong kami, harus kami keluarkan dan dipegang. Petugas pun menggunakan metal detector memeriksa badan kami. Seperti masuk di Bandar Udara. Begitulah suasananya.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas, kami langsung disambut sebuah panel LED yang memamerkan lukisan berukuran besar karya Konstantin Egorovick Makovsky. Meskipun hanya dipamerkan dalam bentuk LED, ukurannya hampir sama dengan lukisan sebenarnya. 295cm (tinggi) dan lebar 450cm. Kebayang kan besarnya seperti apa.

Petugas yang menjelaskan kepada kami, Lukisan ini sudah berusia 125 tahun dan merupakan hadiah dari Pemimpin Rusia kepada Presiden Soekarno ketika berkunjung kesana. Lukisan ini menggambarkan Pesta Adat Rusia. Sangat indah terlihat meskipun melalui LED.

Untuk diketahui, Lukisan oleh Makovsky ini hanya ada tiga di dunia. Bukan lukisan yang sama ya, namun lukisan hasil karyanya. Dua lukisan berada di Indonesia dan satu lagi berada di Inggris. Kenapa dipajang hanya menggunakan LED, Lukisan ini sudah pernah direstorasi tahun 2002. Karena sudah cukup tua, akhirnya diputuskan untuk dipajang melalui LED saja.

Lanjut ke dalam, kami langsung menemukan lukisan-lukisan Nuansa Alam. Lukisan tentang keragaman Alam, dipajang. Yang menarik perhatian saya di bagian dengan tema Nuansa Alam ini adalah Lukisan Pantai Flores karya Basoeki Abdullah. Lukisan ini, merupakan pelukisan kembali Lukisan Soekarno ketika diasingkan di Ende.

Soekarno yang meminta Basoeki Abdullah untuk melukiskannya kembali. Begitu cerita pemandu kami.

Di tema alam ini, saya sempat melihat Lukisan Pemandangan Alam Sulawesi karya Henk Ngantung. Tahu Henk Ngantung kan? Beliau adalah mantan Gubernur DKI yang ditunjuk Soekarno sebelum Ali Sadikin dan merupakan perancang patung Selamat Datang di Bundaran HI.

Lukisan tertua adalah hasil Karya Raden Saleh dengan judul Harimau Minum. Harimau Minum ini dibuat tahun 1863 dengan sangat mendetail. Daun-daun dipepohonan dengan cahaya matahari dibuat sangat detail. Saya cuma bisa bilang Wow!

Setelah tema Nuansa Alam dengan cat tembok warna Hijau, kita akan bertemu dengan Lukisan-lukisan bertema Dinamika Keseharian. Lukisan-lukisan ini pastinya tentang Keseharian.

Lukisan yang saya kagumi disini adalah, Lukisan Ida Bagus Made Widja tentang Warga Bali yang menyambut kedatangan Presiden Soekarno. Saya memang bukan ahli lukisan, tetapi, saya bisa melihat bahwa lukisan ini memang bergaya Bali. Seperti yang kita lihat di beberapa tempat di Bali gayanya.

Meski begitu, lukisan ini, sangatlah detail. Presiden Soekarno digambarkan memakai baju putih di bagian tengah Lukisan.

Perhatian saya di bagian Dinamika Keseharian ini adalah, Lukisan Tino Sidin. Masih ingat dengan Tino Sidin? Ketika jaman TVRI berjaya, semasa saya masih duduk di Bangku SD, Pak Tino Sidin dengan topinya yang Khas mengajarkan cara melukis.

Untuk bagian Dinamika Keseharian ini, temboknya bernuansa Merah Marun. Oh iya, ada satu lukisan yang unik bernuansa tiongkok di sini. Saya pikir lukisan Tiongkok, namun ternyata, lukisan Penjual Sate Madura tetapi dibikin bergaya lukisan tiongkok.

Petualangan saya di Pameran Lukisan IStana Senandung Ibu Pertiwi ini berlanjut ke Tradisi dan Identitas.

Di bagian ini, tembok bernuansa biru. Lukisan yang dipajang adalah Lukisan protrait atau potret wanita berkebaya, ataupun yang memakai baju daerah. Ada sebuah lukisan wanita berkebaya kuning yang mengundang decak kagum saya.

Mengapa mengundang decak kagum saya, karena wanita yang dilukiskan, menurut saya, cantik berbalut Kebaya. Yang melukis, adalah Sumardi, tahun 1964. Entah siapa wanita yang berada di Lukisan ini.

Dipenghujung bagian ini, diberikan penjelasan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, tentang Kebaya.

Seusai Bagian ini, saya akhirnya menemukan lukisan yang sangat ingin saya lihat. Lukisan apa itu?

Ya! Itu adalah lukisan Nyai Roro Kidul karya Basoeki Abdullah. Saya yang sudah mengetahui soal kehadiran lukisan ini semenjak pekan lalu, sangat gembira melihat lukisan ini. Dari sekian banyak lukisan, saya paling suka adalah lukisan ini.


Lukisan Nyai Roro Kidul ini, merupakan bagian dari Mitologi dan Religi. Basoeki Abdullah membuat lukisan ini tahun 1955. Sudah Enam puluh tahun lebih usia lukisan ini.

Berdekatan dengan lukisan ini, Lukisan Gatot Kaca dengan Anak-anak Arjuna Pergiwa-Pergiwati. Tahun dia melukisnya sama dengan Nyai Roro Kidul, 1955. Ukuran lukisan ini adalah 255 x 170 cm. Cukup besar.

Bagian Mitologi dan Religi ini rupanya bagian terakhir dari Pameran Lukisan Istana dengan Tema Senandung Ibu Pertiwi.

Sebelum kita keluar dari lokasi pameran ini, kita akan disajikan Lukisan Karya Basoeki Abdullah berjudul Djika Tuhan Murka. Lukisan ini menggambarkan kemarahan Tuhan kepada manusia. Saya melihatnya cukup seram. Seperti dooms day atau hari kiamat.

Di sisi kanan bawah ini, ada tulisan tangan Basoeki ABdullah, Untuk Bung Karno Pribadi. Lukisan ini memang hadiah dari Basoeki Abdullah untuk Bung Karno, Presiden Pertama RI.

Saya pun selesai mengunjungi dan mengagumi lukisan-lukisan karya maestro senirupa Indonesia. Empat bagian dari pameran lukisan dari Nuansa Alam hingga Mitologi dan Religi terangkai menjadi senandung Ibu Pertiwi.

Setelah keluar dari Gedung pameran, saya melihat ada mural yang sangat "instagrammable". Tidak mungkin saya lewatkan untuk berfoto dan posting di Instagram.

Terima Kasih untuk Tim Jadi Mandiri yang sudah mengajak saya untuk datang melihat pameran ini. Sebuah pengalaman yang berharga dan sangat keren bagi saya.

Tulisan ini juga bisa dibaca di tommi.id dan pigipigi.id

read more
1 2 3 4 5 6 7
Page 4 of 7