close

Bapontar

Bapontar

Indahnya Jembatan Ampera di Malam Hari

20180616_200331

Seusai menempuh perjalanan lebih dari 18 jam, karena banyak berhenti untuk makan dan beristirahat, saya dan Hariadhi, akhirnya tiba di salah satu tujuan kami di roadtrip Sumatera. Kota Palembang.

Kami melewati Tol Indralaya ke Palembang. Tol ini merupakan salah satu Tol yang dibangun di era pemerintahan Jokowi di Sumatera. Tak butuh waktu yang panjang untuk tiba di ujung tol sisi Palembang.

Setelah keluar tol, kami langsung menuju kota Palembang. Mencari penginapan dan kemudian menuju ke Jakabaring dan makan di salah satu mall yang berdekatan dengan Jakabaring Sport City ini.

Ketika malam menjemput, kami mengarah ke pusat kota Palembang. Dari petunjuk google maps, ternyata kami akan melewati jembatan ikonik dan legendaris Kota Palembang, Jembatan Ampera.

Ini benar-benar saya inginkan. Sudah sampai ke kota Palembang, tidak mungkin saya tidak akan berkunjung ke jembatan ini. Ketika melintasi, jalanan lumayan macet. Saya pun tidak bisa berhenti untuk berfoto.

 

Hariadhi, partner perjalanan saya kemudian memarkir kendaraan di ujung jembatan. Ada Masjid besar. Saya pun berjalan kaki menuju ke Jembatan Ampera. Saya meminta bantuan pengunjung lainnya untuk mengabadikan momen saya berada di jembatan ini.

Setelah berfoto, saya melihat ada turun ke tepian sungai Musi. Saya menuruni tangga tersebut, dan ternyata menuju ke sebuah taman yang tepat berada di tepi sungai Musi.

Dari sini, saya bisa melihat indahnya jembatan ampera dengan lampu warna-warninya. Meskipun berbekal kamera ponsel tetap bisa meng-capture keindahan jembatan Ampera.

Setelah berfoto dan ber-swafoto di saya kembali ke kendaraan. Teman saya kemudian mengajak makan di restoran yang berada di tepi sungai musi. Riverside Restaurant.

Sampai di restaurant, ternyata dari kejauhan kita bisa melihat jembatan Ampera. Bahkan ada tempat khusus untuk berfoto dengan jembatan Ampera.

Saya yang makan Pindang Tempoyak, bisa melihat dari kejauhan. Ah indahnya jembatan Ampera ini di malam hari. Kalau ke Palembang, jangan berkunjung ke Jembatan Ampera di siang hari.

Selain panas, kita tidak bisa melihat warna-warni lampu Jembatan Ampera yang instagenic banget.

read more
Bapontar

Situ Cisanti dan Tujuh Mata Air Hulu Sungai Citarum

Signage Kilometer Citarum

Entah sudah berapa kali saya ini melakukan perjalanan ke Bandung. Semasa kuliah di Salatiga, adik saya kuliah di Bandung. Jadi saya sering menjenguk dia. Hingga sekarang ini, saya berulang kali ke Bandung.

Tapi, kalau berwisata, tidak jauh dari Bandung. Paling jauh hanya ke Ciwidey saja. Namun, kali ini saya mendapat kesempatan untuk berpetualang ke sebuah tempat yang baru kali ini akan saya datangi.

Saya diajak oleh Kemenko Kemaritiman untuk melihat upaya pemulihan sungai Citarum, dan saya juga diajak melihat ke Hulu Sungai Citarum. Wah ini pengalaman pertama bagi saya juga untuk berpetualan ke Hulu Sungai. Berwisata di Sungai, bukan sekali dua kali saja sebenarnya. Tapi, ke hulu Sungai, benar-benar baru pertama kali.

Apalagi kalau hulu Sungai ini untuk sungai terpanjang di Jawa Barat, yaitu Sungai Citarum. Nama Hulu SUngai Citarum ini adalah Situ Cisanti. Nama yang baru pertama kali saya dengar.

Perjalanan ke Situ Cisanti ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam dari Bandung. Sebuah perjalanan yang bukan sebentar.
Jalan yang dilewati juga berkelok, sempit tetapi dengan pemandangan hijau.

Sesampai di Situ Cisanti, ketika keluar dari kendaraan yang saya tumpangi, udara sejuk langsung terasa. Kami memang berada di ketinggian.

Saya dan teman, sudah tidak sabar untuk ke Situ Cisanti ini. Oh Iya, karena ini Hulu Sungai Citarum, diberikan nama Kilometer 0 Citarum. Ini sangat unik, karena biasanya kita hanya tahu Kilometer O di Pulau Weh, atau Sabang.

Kami langsung berjalan menuju ke Situ Cisanti. Kami melewati pepohonan yang rindang dan menuruni tangga untuk bertemu dengan situ Cisanti.

Dari kejauhan kemudian saya melihat ada signage atau tulisan besar Kilometer 0 Citarum. Saya pun langsung menyusuri Situ. Situ ini airnya jernih meskipun terlihat ada ganggang yang tumbuh.

Cukup jauh untuk sampai di Signage Kilometer 0 Citarum ini. Mungkin lebih dari 10 menit berjalan kaki. Sampai di signage ini, saya melihat ada dermaga untuk tempat berfoto. Saya berfoto di sini karena untuk berfoto di Signage, masih menunggu orang lain yang berfoto.

Selesai mengambil gambar, saya kembali menyusuri Situ Citarum tetapi arah yang berbeda. Dan disinilah saya melihat ada petilasan Prabu Siliwangi dan juga mata air Citarum. Di sini, untuk melihat petilasan Prabu Siliwangi, saya harus meminta ijin ke penjaga. Sedikit keramat. Saya dan teman menyempatkan diri untuk membasuh muka dan saya meminum air dari mata air.

Di Mata Air Citarum ini saya juga akhirnya tahu bahwa ada tujuh mata air. Ada Cikawedukan, Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, dan Cisanti.

Jadi, situ Cisanti ini diisi oleh tujuh mata air. Dan air ini kemudian dialirkan ke Sungai Citarum hingga ke hilir.

Di Petilasan ini, kita tidak boleh sembarangan berfoto karena harus meminta ijin terlebih dahulu. Saya sempat mengambil gambar, tapi anehnya gambar tersebut hilang dari ponsel saya.
Setelah berkeliling dan melihat Situ Cisanti ini, saya dan teman-teman harus kembali ke Bandung. Hari Sudah petang.

Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan, berkunjung ke Hulu SUngai.

read more
Bapontar

Jembatan Tanjung Senai di Ogan Ilir yang Keren, Tapi Belum Terkenal

Tanjung Senai lagi

Saat ini, obyek wisata yang keren, atau kece dan menjadi sasaran untuk tempat berfoto dan diunggah ke media sosial, salah satunya adalah jembatan. Mungkin kita mengenal jembatan Ampera di Palembang, Sumatera Selatan. Dan mungkin banyak jembatan lain.

Tapi ternyata, jembatan yang keren dan “instagrammable” ini, saya temukan ketika saya dalam perjalanan dari Metro Lampung, menuju ke Palembang, Sumatera Selatan. Dalam perjalanan saya tersebut, ketika hari masih pagi, saya dan teman saya, Hariadhi, melintasi jalan Raya Indralaya Palembang.

Kami tiba-tiba berbelok ke kompleks Kantor Pemerintahan Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Namanya juga roadtrip, pasti ada aja yang diluar jalur yang diinginkan. Setelah berbelok, kami menuju ke Kompleks Kantor Pemerintahan. Jalan ke Kompleks Kantor Pemerintahan ini berada di tengah rawa-rawa.

Setelah mengikuti jalan dan petunjuk dengan bertuliskan “Palembang” dari kejauhan tiba-tiba saya melihat jembatan yang keren. Kami memang pasti akan melewati jembatan ini.

Karena jalanan sepi, kami berhenti di jembatan. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto. Berfoto dengan kendaraan yang saya pakai, maupun selfie dengan bagian atas jembatan.

 

Jembatan ini sendiri, tidak terlampau panjang. Kurang lebih 100 meter. Tiang jembatan mirip dengan jembatan Ampera di Palembang, dan ada kabel-kabel untuk konstruksi jembatan dan juga sudah pasti menambah keindahan jembatan.

Dari jembatan ini kita bisa melihat rawa-rawa. Hamparan rawa-rawa ini sangat luas dan masih sangat alami. Ada sebuah perahu kecil nelayan yang sedang mencari ikan.

Ketika saya berhenti, saya melihat mungkin ada 3 atau 4 mobil yang berhenti ingin berfoto dan melihat suasana sekitar. Belasan orang sedang asik berfoto juga. Jembatan ini sangat unik, dan kece untuk difoto.

Sayangnya jembatan yang seharusnya bisa menjadi obyek wisata ini, masih kurang terekspos. Masih menjadi obyek wisata tersembunyi. Kalau menggunakan perjalanan darat dari Lampung ke Palembang, bisa mampir ke sini.

 

 

read more
Bapontar

Menunggu di Bandara Kualanamu, Bisa Manfaatkan Rest Area

rest area 2

Kalau traveling, atau bepergian sebagian besar dari kita pasti akan menggunakan jasa penerbangan, atau pakai pesawat terbang. Selain lebih cepat, bisa bepergian ke tempat yang jauh.

Nah, naik pesawat, sudah pasti dari Bandar Udara atau Bandara. Dan kalau ke Bandara, saya sudah pasti akan datang lebih cepat. Soalnya sudah pengalaman 2 kali ketinggalan pesawat.

Apalagi kalau Bandaranya, letaknya lumayan jauh dari tempat kita berwisata. Agar lebih aman, kita datang lebih cepat saja. Lebih enak menunggu di Bandara.

Selain banyak tempat menjual makanan, di Bandara juga disediakan tempat menunggu yang asik. Tapi, kali ini, yang saya temukan sangat berbeda. Saya menemukannya di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang Sumatera Utara.

Di ruang tunggu penerbangan, memang disediakan kursi standard bandara. Namun uniknya, di Bandara Kualanamu ini, ada rest area. Ketika saya sedang berjalan-jalan di Bandara saya melihatnya.

Yang pertama saya lihat adalah sejumlah kursi berbentuk sofa yang berderet. Di antara sofa ini, ada colokan listrik. Wah sambil duduk-duduk bisa mengisi daya gawai atau gadget yang kita bawa nih.

Masuk agak ke dalam, ternyata ada semacam kursi pantai. Tahu kan kursi pantai. Yang bisa buat tiduran. Ada mungkin lebih dari 10 kursi yang bisa buat tiduran ini. Sejumlah orang saya lihat sedang asyik tiduran dan bersantai sembari melihat gadget atau membaca buku.

Jujur saja, saya bukan hanya sekali dua kali datang ke bandara. Tapi ada rest area seperti ini, saya rasa baru ada di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Dan bagi saya sangat bermanfaat buat traveler seperti saya.

Kalau kalian sedang berada di Bandara Kualanamu dan cukup lama menunggu jadwal penerbangan, bisa memanfaatkan ini. Bisa browsing internet juga. Dan ada PC nya juga.

read more
Bapontar

Odong-odong dengan Lampu Warna-warni di Metro, Lampung

Odong2 Lampung – 1 – 3 odong2

Tahu odong-odong kan? Kalau di Jakarta, odong-odong ini, biasanya sepeda motor beroda tiga, dimana di bagian belakang ada kursi yang cukup banyak yang biasanya mengantar anak-anak, remaja bahkan orang tua berkeliling dengan membayar tarif tertentu.

Bukan cuma sepeda motor yang ada bak di belakangnya, tapi ada juga odong-odong yang berupa sepeda motor yang ada gandengannya di bagian belakang.

Itu odong-odong versi sepeda motor. Mainan anak-anak berupa kuda-kudaan, atau bahkan komidi putar kecil, yang dikayuh oleh abang-abang juga biasanya disebut odong-odong.

Saya menemukan odong-odong yang agak sedikit berbeda, ketika saya berkunjung ke Kota Metro di Provinsi Lampung. Kunjungan saya ke Metro ini, ketika saya dan teman saya sedang road trip di Sumatera.

Saya tiba di Kota Metro, di akhir bulan Ramadan 1439 H atau tahun 2018. Keesokan harinya sudah lebaran. Saya dan Hariadhi, nyangkut di alun-alun atau pusat kota Metro, Lampung. Kami ingin beristirahat di Kota Metro ini.

Hari sudah petang ketika saya dan Hariadhi sudah berada di Kota Metro. Sudah menjelang buka puasa. Ketika sedang menunggu di alun-alun ini, saya melihat ada sejumlah odong-odong. Karena hari masih terang, odong-odong ini masih terlihat biasa saja. Berbentuk hewan seperti gajah, burung elang dan naga.

Ketika hari gelap, seusai buka Puasa, tiba-tiba saja saya melihat odong-odong ini berubah penampilan. Lampu warna-warni terlihat menghiasi odong-odong ini. Keren deh pokoknya. Berani tampil beda pokoknya.

Sudah pasti saya langsung heboh sendiri untuk mengambil foto. Pemilik odong-odong ini berani mengeluarkan modal, agar terlihat lebih unik dan mencolok di alun-alun kota Metro.

Ada yang berbentuk Naga seperti ini

Dan ada juga yang berbentuk burung elang dan Hewan gajah lengkap dengan belalainya. Pokoknya warna-warni lampunya.

Sangat berbeda bukan?

Oh iya, odong-odong ini, wahana permainan anak-anak. Di bagian dalamnya ada semacam kuda-kudaan. Di bagian atasnya juga digantungkan mainan anak-anak.

Saya berpikir, mungkin untuk menambah daya tarik ke anak-anak, odong-odong ini dipercantik. Kalau cuma biasa-biasa saja akan membosankan untuk anak-anak.

Nah, kalau lagi mau jalan-jalan ke Metro, Lampung, jangan lupa mampir ke alun-alun atau taman Merdeka kota Metro, Lampung, Odong-odong ini bisa buat jadi obyek foto kita.

Atau kalau membawa anak-anak, bisa menjadi sarana bermain mereka agar tidak bosan.

read more
Bapontar

“Kota Lama” Jambi ini Instagrammable Banget

jambi 4

Setiap kota, di negara manapun, pastilah punya spot atau titik yang menarik untuk difoto. Begitulah ketika saya berkunjung ke Kota Jambi, yang Sumatera.

Kalau mau jujur, perjalanan ke Jambi ini, tidak pernah terbayangkan dalam benak saya. Kalau ke Sumatera saya hanya kepengen ke Palembang, ataupun Medan. Bisa dikatakan, tidak masuk dalam bucket list saya. Seperti kata anak-anak kekinian.

Saya tiba di Jambi, hari sudah malam ketika itu. Dari Palembang hampir seharian. Mungkin lebih dari 10 jam perjalanan darat. Ya nyangkut-nyangkut juga sih dan sedikit nyasar.

Tiba di Jambi, karena sudah capek, saya hanya menikmati jembatan Gentala Arasy di malam hari. Setelah itu ke hotel. Saya dan teman perjalanan saya, menginap di sebuah hotel di Kawasan Jalan Samratulangi.

Karena sudah malam, saya tidak terlalu memperhatikan kondisi sekitar. Ditambah sudah capek mungkin.

Ketika pagi hari, saya sudah selesai mandi dan turun untuk sarapan, saya sempatkan diri keluar dari hotel. Dan ketika keluar dari hotel, inilah yang membuat saya terkejut. Saya menginap di kawasan kota lama (kalau tidak bisa dibilang kota tua) Jambi.

Mengapa saya mengatakan kota lama, karena bangunannya yang old style. Bukan bangunan modern. Bangunan ini adalah bangunan model lama. Bangunan toko. Saya sebenarnya terpukau (boleh bilang saya lebay).

Toko di foto ini, berada tepat di depan hotel tempat saya menginap di Kota Jambi. Ketika saya keluar, saya langsung melihat bangunan ini.

Saya pun berjalan kaki ke sejumlah titik. Ketika saya belok kiri dari pintu keluar hotel, saya menemukan pertokoan yang memang benar-benar bangunan lama. Duh instragrammable banget. Bagus untuk spot foto dan diunggah ke instagram.

Saya masih belum puas berkeliling kawasan pertokoan lama di Jambi ini. Dari arah kanan keluar pintu hotel. bangunan lama juga masih bertebaran. Bahkan saya menemukan salah satu kantor Bank Mandiri yang masih bentuk aslinya. Berada di pojokan.

Vintage banget deh!

Cuma Bank Mandiri, deretan toko yang dicat warna-warni juga membuat saya terpukau, tercekat! Pemandangan yang saya suka. Model bangunan toko yang lama.

Duh saya memang benar-benar suka lokasi ini. Terasa masuk mesin waktu dan kembali ke mungkin 30-40 tahun lalu.

Plang iklan dari produk yang dijual di toko yang bergelantungan, sangat banyak. Ini pemandangan yang sudah sangat langka saat ini.

Memang instagrammable abis atau tempat mengambil foto yang benar-benar bagus. Menantang sedikit untuk pre wedding juga sepertinya.

Kalau pembaca ingin berpetualang ke Jambi, tak ada salahnya mampir ke Jalan Samratulangi ini. Jangan mampir ke mall saja. Tapi berkeliling ke kota lama juga bagian dari wisata kok.

Tertarik?

read more
Bapontar

Ada Pantai Kece di Pariaman Sumatera Barat

img-20180621-wa00571013668105.jpg

Road Trip ke Sumatra, saya dan teman saya lebih banyak melewati Hutan, Perkebunan Sawit maupun pegunungan dan danau.

Perjalanan yang saya tempuh ini hampir tidal melewati pantai. Pantai yang saya lewati hanya ketika dari Bakaheuni menuju Metro Lampung.
Sewaktu Perjalanan dari Kota Padang menuju ke Pariaman, dari google maps terlihat bahwa kami akan menyisir pantai. Tapi saya tidak berharap banyak. Mungkin pantainya kurang bagus.

Ketika saya melewati jalan yang menyisir pantai di Pariaman ini, saya dan teman tertarik untuk ke Pantai. Mengusir kejenuhan. Setelah masuk dan membayar parkir, di depan saya kemudian terhampar pantai Indah berpasir coklat dan bersih. Wow! Anggapan saya ternyata salah. Pantai ini bagus.

Pantai ini bernama Pantai Katipiang di Kabupaten Pariaman, Sumatra Barat. Ketika saya berkunjung, hamparan pasir coklat terlihat bersih dan halus. Meskipun menghadap Samudra Hindia, ombak tidak besar. Beberapa orang terlihat berenang. Masih aman.

Di Pantai ini, kita bisa bermain layangan. Angin tidak kencang tapi bisa menerbangkan layangan. Di TepI Pantai, ada yang menjual layangan. Harganya hanya Rp 15.000. Ada sekitar tiga pedagang layangan yang saya lihat.

Kalau kita tidak ingin berenang, di tepi pantai kita bisa bersantai. Pepohonan rindang membuat suasana sangat teduh. Ada saung dan kursi yang bisa kita sewa. Kalau mau tidur-tiduran ada hammock juga.

Di pinggir pantai juga ada warung yang menjual makanan instan dan minuman dingin. Es kelapa dan jus juga tersedia. Kita bisa makan sekalian menikmati suara deburan ombak dan angin yang berhembus.

Ketika mampir, saya lihat banyak warga yang datang. Ada yang bersantai dan ada yang berenang di Pantai.

Kalau sedang ke Sumatra Barat, tak ada salahnya mampir ke sini. Kurang lebih satu jam dari Padang. Pantai yang bersih dan indah ini memang wajib didatangi kalau lagi ke sini.

read more
Bapontar

Melihat-lihat Persiapan Asian Games 2018 di Jakabaring

img-20180618-wa00361880399900.jpg

Sampai Palembang juga akhirnya. Perjalanan ke Palembang, dari Lampung, saya dan Hariadhi tempuh hampir 24 jam.

Maklum, kami nyangkut di sejumlah jalan tol yang tengah dibangun ataupun belum beroperasi secara penuh.

Nggak cuma itu saja. Kami juga sempat bermalam di salah satu SPBU karena kecapekan dan waktu sudah tengah malam. Lebih baik istirahat saja.

Masuk ke Palembang, kami melewati Tol Indralaya Palembang. Makasih lho Pak Dhe sudah dibuatkan jalan Tol. Keluar tol, saya dan Hariadhi udah niatan ke Jakabaring. Keluar tol, tinggal belok ke kanan sih.

Kami memilih mencari penginapan dulu. Istirahat sebentar. Penginapan murah kami temukan melalui aplikasi di ponsel.

Setelah menyegarkan badan, kami awalnya ingin mencari makan. Karena libur lebaran, kami akhirnya ke Opi Mall saja.

Apa yang kami santap? Baca tulisan saya yang lain.

Opi Mall ini letaknya tidak jauh dari Jakabaring rupanya. Selesai dari Mall kami menuju ke Jakabaring.

Sebelum masuk Jakabaring, kami nyangkut di taman lingkar Jakabaring yang keceh dan menjadi spot foto warga. Kebetulan blue hour, jadi ya jeprat jepret deh.

Mau lihat hasilnya?

Cakep kan?

Masuk ke dalam kompleks Jakabaring, kami membayar 10.000. Semacam uang parkir gitu deh.

Sampai di dalam. Warga sedang ramai berfoto. Saya juga bisa mendekati ke Gelora Sriwijaya. Bisa foto dong. Asiik.

Berhubung karena sudah malam, ya kami memutuskan kembali keesokan hari.

Keesokan Hari hari masih sangat pagi, kami sudah tiba di Jakabaring. Masuk tetap kena Rp 10.000. Tak apalah.

Masuk ke dalam, saya melihat suasana Asian Games 2018 sudah sangat kental. T Banner sudah berjejer rapi di jalan masuk. Di depan Gelora Sriwijaya, ada sebuah taman yang dilengkapi dengan digital clock untuk countdown ke Asian Games.

Ada juga icon atau lambang masing-masing cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Asian Games 2018.

Halte untuk bus juga dibuat oleh sponsor dengan bentuk yang keren. Jalur pedestrian juga dibuat lebih baik. Ada guide block untuk kaum difabel.

Saya juga melihat taman dibenahi. Ada besi yang dirangkai. Sepertinya jadi tempat tanaman rambat.

Jalan-jalan kami lanjutkan ke danau. Danau ini untuk beragam olahraga air seperti dayung, ski air dan lainnya.

Yang menarik perhatian, saya adalah sebuah tribun yang baru selesai dibangun. Sepertinya buat menonton lomba dayung.

Danau yang diberi nama Jakabaring Rowing Lake, juga lokasi kece untuk foto dan diunggah ke instagram.

Bersebelahan dengan Jakabaring Rowing Lake ini ada Lapangan Tembak yang sementara dirapikan bangunannya.

Lapangan voli pantai juga sementara dibenahi tapi sudah hampir selesai.

Salah satu fasilitas yang harus saya lihat di Jakabaring ini adalah Wisma Atlet. Kebetulan wisma atlet ini lokasinya bersebelahan dengan Rowing Lake.

Bentuk dari wisma atlet ini seperti flat atau rumah susun. Saya tidak sempat menghitung ada berapa bangunan.

Usai mengambil foto Wisma Atlet, saya dan Hariadhi akan menuju Jambi. Kami tidak masuk ke dalam fasilitas. Hanya mau melihat-lihat dari luar.

Dan kembali saya salut untuk pak Jokowi dan Pemprov Sumsel yang sudah bersiap penuh menyambut Asian Games 2018.

Tunggu tulisan saya yang lain ya.

read more
Bapontar

Hamparan Pemandangan Indah di Cakat Raya Lampung

IMG-20180615-WA0034.jpg

Sepanjang kurang lebih lima hari, saya road trip ke Sumatra. Salah satu yang saya datangi adalah kawasan wisata Cakat Raya di Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang, Peovinsi Lampung.

Sebenarnya mampir ke lokasi ini setengah tidak niat. Saya dan teman saya sedang menuju ke Palembang setelah menginap sehari di Metro, Lampung.

Dalam perjalanan kami kemudian googling dan menemukan kawasan wisata Cakat Raya. Kami pun bergegas untuk mampir ke lokasi ini.

Dari jalan trans sumatra, lokasinya sangat dekat. Hanya kurang lebih 300 meter. Tidak ada biaya masuk yang dipungut. Tinggal masuk saja.

Sampai ke dalam lokasi, ada sejumlah bangunan. Bangunan khas Sumatra Barat atau rumah gadang, bangunan khas Bali, dan Jawa. Ada juga replika Candi Hindu.

Tapi yang sangat menarik adalah, karena Cakat Raya ini berada di lokasi yang cukup tinggi, tersaji di depan mata kita pemandangan alam yang sangat indah.

Instagrammable banget pokoknya.

Rumah adat Sumbar atau Rumah Gadang yang ada di lokasi ini juga sangat kece buat latar belakang foto untuk dipajang di instagram.

Hamparan rumput bisa menjadi tempat kita bersantai menikmati alam. Bisa menggelar tikar ataupun duduk-duduk di atas rumput.

Kalau lagi melewati Tulang Bawang, tidak ada salahnya mampir ke sini.

read more
Bapontar

Roadtrip Sumatra Bagian II : Finally Bisa Sampai ke Sumatra

IMG-20180614-WA0116.jpg

Kurang lebih jam 10, mungkin sekitar 10.30 malam, saya dan Hariadhi akhirnya berangkat dari pelabuhan Merak.

Lagi di dalam mobil yang sudah berada di Kapal, tiba-tiba berasa kapal sudah berangkat.

Saya sempat menunggu di dalam mobil, tapi untuk mengusir jenuh, saya akhirnya naik ke deck kapal. Ternyata banyak orang.

Ada yang duduk-duduk di bagian luar, ada yang menikmati ruang VIP. Untuk bisa masuk ruang VIP ini, kita hanya menambah uang Rp 10.000 saja. Saya sih hanya masuk untuk foto-foto.

Perjalanan ke Pelabuhan Bakaheuni ditempuh kurang lebih 2 jam setengah. Jam 12an tengah malam, kapal sudah bersandar di dermaga Bakaheuni. Yeaaah!

Akhirnya saya sampai dan bisa menginjakkan kaki ke Sumatra. Mobil keluar dari kapal, kami langsung menuju ke tol. Meskipun tol ini belum 100 persen berfungsi, kami sudah bisa melintasinya. Akan saya buatkan tulisan tersendiri.

Saya menyempatkan diri untuk berfoto di jalan sebelum masuk jalan tol. Untuk bukti saya sudah tiba di Sumatra. Nggak mungkin kan plang tol Sumatera ada di Pulau Jawa.

Yass!! Finally sampai juga di Sumatra. My wish and my dream Come True.

read more
1 2 3 7
Page 1 of 7