close

Bapontar

BapontarFeatured

Taman di Istora Senayan yang Instagrammable Abis

img-20180924-wa00185531209239545137985.jpg

Apa yang kalian bayangkan kalau berkunjung ke gedung olahraga? Mungkin yang akan terlintas di benak kita adalah sebuah gedung saja. Iya, hanya sebuah gedung saja. Kalaupun ada taman, ya mungkin hanya sekedar taman saja.

Saya sudah pernah berkunjung ke gedung olahraga. Sebut saja di beberapa wilayah di Jakarta. Yang ada hanyalah sekedar gedung olahraga dan parkiran kendaraan baik sepeda motor ataupun mobil.

Kalaupun ada taman, ya seadanya saja. Dan mungkin, maaf, kurang terawat tanamannya. Tapi yang saya temukan ini sangatlah berbeda. Saya pertama kali menemukannya ketika saya datang untuk menonton pertandingan semifinal bulutangkis beregu putra Asian Games 2018.

Sebelum saya masuk, saya melihat wah, ada taman yang unik. Tapi karena area banyak dibatasi, saya tidak bisa mengambil foto dengan leluasa. Kesempatan ke-2 ketika saya kembali ke lokasi ini sewaktu mengantar teman untuk acara lomba lari. Kali ini saya dengan leluasa mengambil foto.

Lokasinya ada di mana? Lokasinya adalah di Istora Senayan? Pada tahu dong soal Istora Senayan ini? Lokasi ini kan sering menjadi lokasi konser musik, dan kemudian direnovasi oleh Pemerintah untuk Asian Games 2018. Dan ternyata bukan hanya gedung olahraganya saja yang direnovasi.

Taman di Istora Senayan juga dibuat unik. Kalau biasanya taman ada bunganya, atau rerumputan dan hiasan lainnya, taman di Istora Senayan ini bagi saya sangat unik. Lah kenapa?

Bukan kembang yang dipakai, tetapi tanaman sejenis alang-alang tapi pada bagian ujungnya berwarna keunguan. Dan jujur saja, ini keren sekali. Dan sudah pastinya ini akan sangat bagus untuk menjadi lokasi foto untuk diunggah di instagram atau medsos lainnya.

Tanaman ini berada di sekeliling Istora senayan. Perpaduan warna coklat dan keunguan tentunya sangat indah. Dengan perpaduan gedung Istora Senayan, sudah pasti menjadi instagrammable atau instagenic banget kan?

Bahkan, saya melihat salah seorang pesohor Indonesia, Maudy Ayunda mengunggah foto di akun instagramnya dengan latar belakang tanaman ini dan gedung Istora Senayan. Nah, kalau kamu sedang ke GBK, tak salah mampir ke Istora Senayan.

Bisa berfoto-foto sih di sini, tapi syaratnya, jangan sampai merusak tanaman ini ya.

 

read more
Bapontar

Ada Jakarta Market Fest di Pasar Santa

IMG_20180825_123431

Di Ibukota Jakarta, dan juga Palembang, selama sepekan terakhir dan pekan mendatang, disibukkan dan diramaikan dengan perhelatan terbesar di Asia yang bernama Asian Games 2018. Semua perhatian tertuju ke event ini dan berbagai event pendukungnya.

Meski begitu, teryata di Jakarta, ada sebuah event yang bisa saya katakan menarik dan unik, yang tidak bisa kita lewatkan. Saya mengetahui event ini, dari media sosial. Nama event ini, Jakarta Market Festival. Namanya saja sudah unyu unyu kan? Nah penyelenggaraannya di mana?

Masih pada ingat pasar Santa di Jakarta Selatan yang sempat hits bingits dan menjadi tempat nongkrong para anak muda? Setelah sempat hits, Pasar Santa ini, memang meredup. Mulai jarang diperbincangkan atau menjadi bahan postingan di Media Sosial, terutama instagram.

Jakarta Market Fest ini, digelar di Pasar Santa ini. Saya yang masuk pasar Santa dari depan, langsung menemukan tenda-tenda yang berjejer. Namanya Market Fest ini sudah pasti banyak tenda-tendanya dong. Tenda ini merupakan booth.

Seusai memarkir motor, saya langsung berjalan kaki. Tidak jauh dari tempat saya memarkir sepeda motor saya. Memasuki lokasi event ini, saya melihat semacam photobooth atau photo backdrop. Kita bisa berfoto-foto karena memang bertuliskan nama event.

Masuk area, saya bertemu dengan The Warna yang menjual sepatu dan tas serta dompet. Di bagian plang nama penjual, di sampingnya ada tanda Wirausaha Muda Mandiri. Saya pun bertanya ke tiga pemuda yang berjualan, apakah mereka bagian dari Wirausaha Muda Mandiri ini, dan mereka kompak menjawab iya. Dan ternyata mereka sudah lima tahun.

Di samping The Warna ada yang menjual kopi. Mereka juga bagian dari Wirausaha Muda Mandiri. Kepanjangan ya nulisnya? Saya singkat dengan WMM saja lah. Kopi yang dijual di booth ini, ada yang kopi celup. Wait? What? Baru tahu saya kalau ada kopi celup.

Penjual kopi ini berasal dari Jember, Jawa Timur. Wah cukup jauh juga ya datangnya. Selain kopi celup, mereka juga menjual kopi bubuk. Selain dua booth ini, ada juga dari Wira Usaha Mandiri yang jualan. Ada yang jualan produk minuman dalam botol dan camilan atau kudapan.

Ada delapan tenda khusus Wirausaha Muda Mandiri. Di jejeran tenda ini, ada juga booth Bank Mandiri. Di booth bank Mandiri ini, kita bisa tanya-tanya soal produk Bank Mandiri. Bahkan kita bisa menukar fiesta point.

Yang paling menarik apa dong di booth Bank Mandiri? Di booth Bank Mandiri ini kita bisa membeli e-money edisi Asian Games 2018. Ada empat jenis e-money yang dijual dengan gambar maskot Asian Games 2018. Ada Kaka, Bhin bhin, Atung dan gambar ketiganya.Untuk ini dijual Rp 60.000. Harga pasaran e-money Bank Mandiri.

Selain booth dari WMM ini, ada juga booth yang menjual makanan dan minuman. Mulai dari burger hingga nasi lemak dan makanan seperti pempek, pecel dan lainnya. Ada juga es cendol dan es doger yang berbeda. Gerobaknya saja sudah berbeda. Sudah pasti es doger ini special edition ya. Dan di booth es doger ini ada plang WMM juga. Berarti bagian dari WMM dong.

Kalau kita ingin makan, tak perlu repot. Ada juga disediakan meja dan kursi yang menyatu seperti meja piknik yang menyebar. Yang unik adalah yang di bagian tengah yang ada karpet rumput buatan dan hiasan payung di atasnya. Duh, jadi instagenic banget ya. Bisa bersantai dan foto-foto untuk instagram. Dijamin keren deh.

Di Jakarta Market Fest ini, ada juga bajaj yang sudah dimodifikasi bagian catnya. Bajaj ini dipajang untuk kita bisa foto-foto dong ya.

Setelah puas berkeliling, dan melihat booth yang ada, saatnya menyudahi kunjungan saya. Oh iya, Jakarta Market Fest ii, digelar setiap akhir pekan saja ya, di hari Sabtu dan Minggu. Event ini sendiri akan berakhir pada 02 September nanti.

Buat kamu yang ingin jalan-jalan dan bersantai, tak ada salahnya mampir di Jakarta Market Fest ini. Mau berakhir pekan juga bisa ke sini. Jangan sampai tidak datang. Sayang banget soalnya. Oh iya, saya lupa, kalian juga bisa bertransaksi di Jakarta Market Fest ini dengan menggunakan kartu Mandiri baik Debit ataupun Kredit. Ada mesin EDC yang disediakan. Jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bawa uang tunai. Asik kan?

read more
Bapontar

Jembatan Kece di Palembang, Bukan Cuma Ampera

20180616_134411

Kita semua sudah pasti tahu, selain terkenal dengan makanan khasnya, Pempek, Palembang juga terkenal dengan jembatan yang sudah menjadi ikon kota ini. Jembatan Ampera namanya. Tidak berkunjung ke jembatan ini ketika berada di Palembang, tentunya tidak afdol.

Di Palembang juga, sudah ada kompleks olahraga yang bisa menjadi lokasi wisata. Namanya Jakabaring Sport City. Saya kebetulan berkunjung ke Palembang bulan Juni lalu. Jadi saya bisa berkunjung ke dua tempat ini dan sudah saya tuliskan di dua blog saya sebelumnya.

Ternyata, di Kota Palembang ini, bukan hanya Jembatan Ampera yang kece dan keren. Ada juga jembatan lain yang nggak kalah keren. Saya menemukan jembatan ini, ketika saya dan Hariadhi, hendak menuju ke Penginapan yang kami temukan lewat aplikasi travel.

Dari kejauhan tiba-tiba kelihatan sebuah jembatan, yang disainnya, mirip dengan jembatan Holtekamp di Papua. Dan juga jembatan Kalikuto di Tol di Jawa Tengah. Tapi jembatan ini lebih panjang dan melintasi Sungai Musi. Ya! Sungai Musi ini memang lebar sekali.

Karena tidak bisa berhenti, saya hanya bisa mengambil gambar dari dalam mobil yang saya tumpangi. Tidak apa-apa, yang penting bisa saya ambil fotonya. Toh jembatannya juga kelihatan.

Gimana nggak tertegun kalau jembatan ini bentuknya keren begini? Kalau saya hanya bisa melihat model jembatan seperti ini yaitu Jembatan Holtekamp dari media online maupun media sosial, kali ini saya bisa melihat jembatan ini secara langsung/

Setelah bergegas ke tempat penginapan, saya dan Hariadhi ingin ke Jakabaring. Dan sudah pasti kami akan melintas jembatan ini. Kali ini, saya bisa mengambil gambar dari sisi samping jembatan. Jadi bisa mengambil gambar secara utuh dari kejauhan.

Yang terlihat adalah, ada tiga lengkungan di jembatan ini. Wow wow wow. Keren sangat jembatan ini. Saya banyak melihat model jembatan, dan baru saya lihat jembatan seperti ini.

Naah, jembatan ini lokasinya ada di Jl. Mayjen Yusuf Singedekane, Keramasan, Kertapati, Kota Palembang, Kalau lagi di Palembang, yuk lihat jembatan ini. Jangan cuma ke Ampera aja.

read more
Bapontar

Berpetualang Melihat Keindahan dan Beningnya Air Danau Kerinci

20180619_073524

“Tom! Bangun. Sudah sampai di Danau Kerinci!”

Begitu kata teman saya, Hariadhi membangunkan saya. Kami memang melakukan perjalanan malam. Saya tertidur di mobil sementara Hariadi terus menyetir dari Kecamatan Air Hitam, di Kabupaten Serolangun, Jambi. Kami hanya mampir sebentar-sebentar dalam perjalanan kami tersebut.

Sebelumnya, kami mengunjungi Suku Anak Dalam di Kecamatan Air Hitam. Perjalanan bertemu dengan Suku Anak Dalam ini cukup menegangkan karena kami harus melewati hutan dan kebun sawit dengan kondisi jalan yang tidak mulus.

Ketika saya bangun, dan melihat keluar mobil, ternyata saya berada di depan sebuah tulisan besar Danau Kerinci. Wow! Akhirnya saya benar-benar tiba di salah satu Danau Besar yang ada di Indonesia dan Sumatra. Tidak menyangka saya akan sampai di sini.

Saya pun turun dari mobil. Udara lumayan dingin, karena Danau Kerinci ini berada di kaki gunung Kerinci. Sudah berada di ketinggian, hari juga masih pagi. Saya pu langsung mengeluarkan ponsel dari kantong untuk mengambil gambar.

Momen ini tentunya tidak akan saya lewatkan. Bertemu dengan Danau Kerinci merupakan sebuah momen yang benar-benar langka bagi saya. Apalagi mencapai Danau ini melalui perjalanan darat yang cukup panjang dari Jakarta.

Saya pun berjalan menuju ke sebuah jembatan. Dari jauh, Danau Kerinci sudah terlihat. Saya pun ingin sekali melihat dari dekat. Saya membuat permintaan ke Hariadhi untuk berkeliling Danau Kerinci. Saya ingin sekali sudah pasti! Hariadhi pun mengiyakan.

Kami langsung mengambil jalan menyusuri Danau Kerinci. Tidak jauh dari Signage Danau Kerinci, kami berhenti. Ingin menikmati suasana pagi dengan alam yang masih indah dan segar. Jauh dari Polusi. Kendaraan saja, jarang sekali yang lalu lalang. Alam yang masih Asri.

Di tempat perhentian kami ini, hanya dengan turun sedikit, sudah langsung sampai di tepi Danau Kerinci. Saya yang dari atasi bisa melihat indahnya danau Kerinci.

 

Terlihat sekali beningnya air Danau Kerinci. Tidak tercemar dan berbau. Benar-benar masih sangat alami. Hariadhi pun langsung ingin mandi di danau. Saya memilih tidak melakukannya. Tidak tahan dengan air yang cukup dingin.

Selesai menikmati, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi Danau Kerinci. Saya melihat hamparan sawah hijau di sepanjang perjalanan menuju ke Sungai Penuh, salah satu wilayah di Kabupaten Kerinci.

Pemandangan lain yang sangat menarik bagi saya adalah rumah warga di Kabupaten Kerinci ini. Ketika saya melintas, saya melihat rumah panggung yang masih tradisional. Bukan rumah modern. Meskipun dari dalam mobil, saya tetap mengambil gambar.

 

Sebuah pemandangan yang benar-benar unik.

Berkeliling Danau Kerinci ini kita tidak akan selamanya melihat Danau Kerinci. Tidak masalah bagi saya melihat ini. Perjalanan mengelilingi Danau Kerinci ini cukup jauh. Dari pagi hari sampai siang hari akhirnya kami mulai meninggalkan Kabupaten Kerinci di Provinsi Jambi.

Saya dan Hariadhi, makan siang di sebuah rumah makan di Sungai Penuh. Ada makanan yang sangat enak, namanya dendeng Batokok yang sudah saya tuliskan di blog saya sebelumnya. Saya juga bertemu dengan Kebun Teh Kayu Aro. Kebun Teh ini merupakan kebun teh tertua dan tertinggi di Indonesia.

Kebun teh ini berada di Kaki Gunung Kerinci. Sama dengan Danau Kerinci yang berada di Kaki Gunung Kerinci juga. Petang hari, saya sudah sampai di Kabupaten Solok Selatan, yang sudah masuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat. Dalam satu hari, saya dan Hariadhi bisa masuk dalam dua provinsi dan itu di Sumatra.

Perjalanan di Kerinci ini sungguh berkesan. Danaunya indah dan alam masih sangat asri. Bertemu juga dengan makanan enak dan kebun teh. Kalau ke Sumatera, jangan cuma ke Danau Toba, bisa juga mampir ke Danau Kerinci yang tak kalah indah.

 

 

read more
Bapontar

Indahnya Jembatan Ampera di Malam Hari

20180616_200331

Seusai menempuh perjalanan lebih dari 18 jam, karena banyak berhenti untuk makan dan beristirahat, saya dan Hariadhi, akhirnya tiba di salah satu tujuan kami di roadtrip Sumatera. Kota Palembang.

Kami melewati Tol Indralaya ke Palembang. Tol ini merupakan salah satu Tol yang dibangun di era pemerintahan Jokowi di Sumatera. Tak butuh waktu yang panjang untuk tiba di ujung tol sisi Palembang.

Setelah keluar tol, kami langsung menuju kota Palembang. Mencari penginapan dan kemudian menuju ke Jakabaring dan makan di salah satu mall yang berdekatan dengan Jakabaring Sport City ini.

Ketika malam menjemput, kami mengarah ke pusat kota Palembang. Dari petunjuk google maps, ternyata kami akan melewati jembatan ikonik dan legendaris Kota Palembang, Jembatan Ampera.

Ini benar-benar saya inginkan. Sudah sampai ke kota Palembang, tidak mungkin saya tidak akan berkunjung ke jembatan ini. Ketika melintasi, jalanan lumayan macet. Saya pun tidak bisa berhenti untuk berfoto.

 

Hariadhi, partner perjalanan saya kemudian memarkir kendaraan di ujung jembatan. Ada Masjid besar. Saya pun berjalan kaki menuju ke Jembatan Ampera. Saya meminta bantuan pengunjung lainnya untuk mengabadikan momen saya berada di jembatan ini.

Setelah berfoto, saya melihat ada turun ke tepian sungai Musi. Saya menuruni tangga tersebut, dan ternyata menuju ke sebuah taman yang tepat berada di tepi sungai Musi.

Dari sini, saya bisa melihat indahnya jembatan ampera dengan lampu warna-warninya. Meskipun berbekal kamera ponsel tetap bisa meng-capture keindahan jembatan Ampera.

Setelah berfoto dan ber-swafoto di saya kembali ke kendaraan. Teman saya kemudian mengajak makan di restoran yang berada di tepi sungai musi. Riverside Restaurant.

Sampai di restaurant, ternyata dari kejauhan kita bisa melihat jembatan Ampera. Bahkan ada tempat khusus untuk berfoto dengan jembatan Ampera.

Saya yang makan Pindang Tempoyak, bisa melihat dari kejauhan. Ah indahnya jembatan Ampera ini di malam hari. Kalau ke Palembang, jangan berkunjung ke Jembatan Ampera di siang hari.

Selain panas, kita tidak bisa melihat warna-warni lampu Jembatan Ampera yang instagenic banget.

read more
Bapontar

Situ Cisanti dan Tujuh Mata Air Hulu Sungai Citarum

Signage Kilometer Citarum

Entah sudah berapa kali saya ini melakukan perjalanan ke Bandung. Semasa kuliah di Salatiga, adik saya kuliah di Bandung. Jadi saya sering menjenguk dia. Hingga sekarang ini, saya berulang kali ke Bandung.

Tapi, kalau berwisata, tidak jauh dari Bandung. Paling jauh hanya ke Ciwidey saja. Namun, kali ini saya mendapat kesempatan untuk berpetualang ke sebuah tempat yang baru kali ini akan saya datangi.

Saya diajak oleh Kemenko Kemaritiman untuk melihat upaya pemulihan sungai Citarum, dan saya juga diajak melihat ke Hulu Sungai Citarum. Wah ini pengalaman pertama bagi saya juga untuk berpetualan ke Hulu Sungai. Berwisata di Sungai, bukan sekali dua kali saja sebenarnya. Tapi, ke hulu Sungai, benar-benar baru pertama kali.

Apalagi kalau hulu Sungai ini untuk sungai terpanjang di Jawa Barat, yaitu Sungai Citarum. Nama Hulu SUngai Citarum ini adalah Situ Cisanti. Nama yang baru pertama kali saya dengar.

Perjalanan ke Situ Cisanti ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam dari Bandung. Sebuah perjalanan yang bukan sebentar.
Jalan yang dilewati juga berkelok, sempit tetapi dengan pemandangan hijau.

Sesampai di Situ Cisanti, ketika keluar dari kendaraan yang saya tumpangi, udara sejuk langsung terasa. Kami memang berada di ketinggian.

Saya dan teman, sudah tidak sabar untuk ke Situ Cisanti ini. Oh Iya, karena ini Hulu Sungai Citarum, diberikan nama Kilometer 0 Citarum. Ini sangat unik, karena biasanya kita hanya tahu Kilometer O di Pulau Weh, atau Sabang.

Kami langsung berjalan menuju ke Situ Cisanti. Kami melewati pepohonan yang rindang dan menuruni tangga untuk bertemu dengan situ Cisanti.

Dari kejauhan kemudian saya melihat ada signage atau tulisan besar Kilometer 0 Citarum. Saya pun langsung menyusuri Situ. Situ ini airnya jernih meskipun terlihat ada ganggang yang tumbuh.

Cukup jauh untuk sampai di Signage Kilometer 0 Citarum ini. Mungkin lebih dari 10 menit berjalan kaki. Sampai di signage ini, saya melihat ada dermaga untuk tempat berfoto. Saya berfoto di sini karena untuk berfoto di Signage, masih menunggu orang lain yang berfoto.

Selesai mengambil gambar, saya kembali menyusuri Situ Citarum tetapi arah yang berbeda. Dan disinilah saya melihat ada petilasan Prabu Siliwangi dan juga mata air Citarum. Di sini, untuk melihat petilasan Prabu Siliwangi, saya harus meminta ijin ke penjaga. Sedikit keramat. Saya dan teman menyempatkan diri untuk membasuh muka dan saya meminum air dari mata air.

Di Mata Air Citarum ini saya juga akhirnya tahu bahwa ada tujuh mata air. Ada Cikawedukan, Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, dan Cisanti.

Jadi, situ Cisanti ini diisi oleh tujuh mata air. Dan air ini kemudian dialirkan ke Sungai Citarum hingga ke hilir.

Di Petilasan ini, kita tidak boleh sembarangan berfoto karena harus meminta ijin terlebih dahulu. Saya sempat mengambil gambar, tapi anehnya gambar tersebut hilang dari ponsel saya.
Setelah berkeliling dan melihat Situ Cisanti ini, saya dan teman-teman harus kembali ke Bandung. Hari Sudah petang.

Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan, berkunjung ke Hulu SUngai.

read more
Bapontar

Jembatan Tanjung Senai di Ogan Ilir yang Keren, Tapi Belum Terkenal

Tanjung Senai lagi

Saat ini, obyek wisata yang keren, atau kece dan menjadi sasaran untuk tempat berfoto dan diunggah ke media sosial, salah satunya adalah jembatan. Mungkin kita mengenal jembatan Ampera di Palembang, Sumatera Selatan. Dan mungkin banyak jembatan lain.

Tapi ternyata, jembatan yang keren dan “instagrammable” ini, saya temukan ketika saya dalam perjalanan dari Metro Lampung, menuju ke Palembang, Sumatera Selatan. Dalam perjalanan saya tersebut, ketika hari masih pagi, saya dan teman saya, Hariadhi, melintasi jalan Raya Indralaya Palembang.

Kami tiba-tiba berbelok ke kompleks Kantor Pemerintahan Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Namanya juga roadtrip, pasti ada aja yang diluar jalur yang diinginkan. Setelah berbelok, kami menuju ke Kompleks Kantor Pemerintahan. Jalan ke Kompleks Kantor Pemerintahan ini berada di tengah rawa-rawa.

Setelah mengikuti jalan dan petunjuk dengan bertuliskan “Palembang” dari kejauhan tiba-tiba saya melihat jembatan yang keren. Kami memang pasti akan melewati jembatan ini.

Karena jalanan sepi, kami berhenti di jembatan. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto. Berfoto dengan kendaraan yang saya pakai, maupun selfie dengan bagian atas jembatan.

 

Jembatan ini sendiri, tidak terlampau panjang. Kurang lebih 100 meter. Tiang jembatan mirip dengan jembatan Ampera di Palembang, dan ada kabel-kabel untuk konstruksi jembatan dan juga sudah pasti menambah keindahan jembatan.

Dari jembatan ini kita bisa melihat rawa-rawa. Hamparan rawa-rawa ini sangat luas dan masih sangat alami. Ada sebuah perahu kecil nelayan yang sedang mencari ikan.

Ketika saya berhenti, saya melihat mungkin ada 3 atau 4 mobil yang berhenti ingin berfoto dan melihat suasana sekitar. Belasan orang sedang asik berfoto juga. Jembatan ini sangat unik, dan kece untuk difoto.

Sayangnya jembatan yang seharusnya bisa menjadi obyek wisata ini, masih kurang terekspos. Masih menjadi obyek wisata tersembunyi. Kalau menggunakan perjalanan darat dari Lampung ke Palembang, bisa mampir ke sini.

 

 

read more
Bapontar

Menunggu di Bandara Kualanamu, Bisa Manfaatkan Rest Area

rest area 2

Kalau traveling, atau bepergian sebagian besar dari kita pasti akan menggunakan jasa penerbangan, atau pakai pesawat terbang. Selain lebih cepat, bisa bepergian ke tempat yang jauh.

Nah, naik pesawat, sudah pasti dari Bandar Udara atau Bandara. Dan kalau ke Bandara, saya sudah pasti akan datang lebih cepat. Soalnya sudah pengalaman 2 kali ketinggalan pesawat.

Apalagi kalau Bandaranya, letaknya lumayan jauh dari tempat kita berwisata. Agar lebih aman, kita datang lebih cepat saja. Lebih enak menunggu di Bandara.

Selain banyak tempat menjual makanan, di Bandara juga disediakan tempat menunggu yang asik. Tapi, kali ini, yang saya temukan sangat berbeda. Saya menemukannya di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang Sumatera Utara.

Di ruang tunggu penerbangan, memang disediakan kursi standard bandara. Namun uniknya, di Bandara Kualanamu ini, ada rest area. Ketika saya sedang berjalan-jalan di Bandara saya melihatnya.

Yang pertama saya lihat adalah sejumlah kursi berbentuk sofa yang berderet. Di antara sofa ini, ada colokan listrik. Wah sambil duduk-duduk bisa mengisi daya gawai atau gadget yang kita bawa nih.

Masuk agak ke dalam, ternyata ada semacam kursi pantai. Tahu kan kursi pantai. Yang bisa buat tiduran. Ada mungkin lebih dari 10 kursi yang bisa buat tiduran ini. Sejumlah orang saya lihat sedang asyik tiduran dan bersantai sembari melihat gadget atau membaca buku.

Jujur saja, saya bukan hanya sekali dua kali datang ke bandara. Tapi ada rest area seperti ini, saya rasa baru ada di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Dan bagi saya sangat bermanfaat buat traveler seperti saya.

Kalau kalian sedang berada di Bandara Kualanamu dan cukup lama menunggu jadwal penerbangan, bisa memanfaatkan ini. Bisa browsing internet juga. Dan ada PC nya juga.

read more
Bapontar

Odong-odong dengan Lampu Warna-warni di Metro, Lampung

Odong2 Lampung – 1 – 3 odong2

Tahu odong-odong kan? Kalau di Jakarta, odong-odong ini, biasanya sepeda motor beroda tiga, dimana di bagian belakang ada kursi yang cukup banyak yang biasanya mengantar anak-anak, remaja bahkan orang tua berkeliling dengan membayar tarif tertentu.

Bukan cuma sepeda motor yang ada bak di belakangnya, tapi ada juga odong-odong yang berupa sepeda motor yang ada gandengannya di bagian belakang.

Itu odong-odong versi sepeda motor. Mainan anak-anak berupa kuda-kudaan, atau bahkan komidi putar kecil, yang dikayuh oleh abang-abang juga biasanya disebut odong-odong.

Saya menemukan odong-odong yang agak sedikit berbeda, ketika saya berkunjung ke Kota Metro di Provinsi Lampung. Kunjungan saya ke Metro ini, ketika saya dan teman saya sedang road trip di Sumatera.

Saya tiba di Kota Metro, di akhir bulan Ramadan 1439 H atau tahun 2018. Keesokan harinya sudah lebaran. Saya dan Hariadhi, nyangkut di alun-alun atau pusat kota Metro, Lampung. Kami ingin beristirahat di Kota Metro ini.

Hari sudah petang ketika saya dan Hariadhi sudah berada di Kota Metro. Sudah menjelang buka puasa. Ketika sedang menunggu di alun-alun ini, saya melihat ada sejumlah odong-odong. Karena hari masih terang, odong-odong ini masih terlihat biasa saja. Berbentuk hewan seperti gajah, burung elang dan naga.

Ketika hari gelap, seusai buka Puasa, tiba-tiba saja saya melihat odong-odong ini berubah penampilan. Lampu warna-warni terlihat menghiasi odong-odong ini. Keren deh pokoknya. Berani tampil beda pokoknya.

Sudah pasti saya langsung heboh sendiri untuk mengambil foto. Pemilik odong-odong ini berani mengeluarkan modal, agar terlihat lebih unik dan mencolok di alun-alun kota Metro.

Ada yang berbentuk Naga seperti ini

Dan ada juga yang berbentuk burung elang dan Hewan gajah lengkap dengan belalainya. Pokoknya warna-warni lampunya.

Sangat berbeda bukan?

Oh iya, odong-odong ini, wahana permainan anak-anak. Di bagian dalamnya ada semacam kuda-kudaan. Di bagian atasnya juga digantungkan mainan anak-anak.

Saya berpikir, mungkin untuk menambah daya tarik ke anak-anak, odong-odong ini dipercantik. Kalau cuma biasa-biasa saja akan membosankan untuk anak-anak.

Nah, kalau lagi mau jalan-jalan ke Metro, Lampung, jangan lupa mampir ke alun-alun atau taman Merdeka kota Metro, Lampung, Odong-odong ini bisa buat jadi obyek foto kita.

Atau kalau membawa anak-anak, bisa menjadi sarana bermain mereka agar tidak bosan.

read more
Bapontar

“Kota Lama” Jambi ini Instagrammable Banget

jambi 4

Setiap kota, di negara manapun, pastilah punya spot atau titik yang menarik untuk difoto. Begitulah ketika saya berkunjung ke Kota Jambi, yang Sumatera.

Kalau mau jujur, perjalanan ke Jambi ini, tidak pernah terbayangkan dalam benak saya. Kalau ke Sumatera saya hanya kepengen ke Palembang, ataupun Medan. Bisa dikatakan, tidak masuk dalam bucket list saya. Seperti kata anak-anak kekinian.

Saya tiba di Jambi, hari sudah malam ketika itu. Dari Palembang hampir seharian. Mungkin lebih dari 10 jam perjalanan darat. Ya nyangkut-nyangkut juga sih dan sedikit nyasar.

Tiba di Jambi, karena sudah capek, saya hanya menikmati jembatan Gentala Arasy di malam hari. Setelah itu ke hotel. Saya dan teman perjalanan saya, menginap di sebuah hotel di Kawasan Jalan Samratulangi.

Karena sudah malam, saya tidak terlalu memperhatikan kondisi sekitar. Ditambah sudah capek mungkin.

Ketika pagi hari, saya sudah selesai mandi dan turun untuk sarapan, saya sempatkan diri keluar dari hotel. Dan ketika keluar dari hotel, inilah yang membuat saya terkejut. Saya menginap di kawasan kota lama (kalau tidak bisa dibilang kota tua) Jambi.

Mengapa saya mengatakan kota lama, karena bangunannya yang old style. Bukan bangunan modern. Bangunan ini adalah bangunan model lama. Bangunan toko. Saya sebenarnya terpukau (boleh bilang saya lebay).

Toko di foto ini, berada tepat di depan hotel tempat saya menginap di Kota Jambi. Ketika saya keluar, saya langsung melihat bangunan ini.

Saya pun berjalan kaki ke sejumlah titik. Ketika saya belok kiri dari pintu keluar hotel, saya menemukan pertokoan yang memang benar-benar bangunan lama. Duh instragrammable banget. Bagus untuk spot foto dan diunggah ke instagram.

Saya masih belum puas berkeliling kawasan pertokoan lama di Jambi ini. Dari arah kanan keluar pintu hotel. bangunan lama juga masih bertebaran. Bahkan saya menemukan salah satu kantor Bank Mandiri yang masih bentuk aslinya. Berada di pojokan.

Vintage banget deh!

Cuma Bank Mandiri, deretan toko yang dicat warna-warni juga membuat saya terpukau, tercekat! Pemandangan yang saya suka. Model bangunan toko yang lama.

Duh saya memang benar-benar suka lokasi ini. Terasa masuk mesin waktu dan kembali ke mungkin 30-40 tahun lalu.

Plang iklan dari produk yang dijual di toko yang bergelantungan, sangat banyak. Ini pemandangan yang sudah sangat langka saat ini.

Memang instagrammable abis atau tempat mengambil foto yang benar-benar bagus. Menantang sedikit untuk pre wedding juga sepertinya.

Kalau pembaca ingin berpetualang ke Jambi, tak ada salahnya mampir ke Jalan Samratulangi ini. Jangan mampir ke mall saja. Tapi berkeliling ke kota lama juga bagian dari wisata kok.

Tertarik?

read more
1 2 3 7
Page 1 of 7