close

Cerita

Reportase

Polri Juga Memberikan Pengawalan untuk Atlet Asian Games 2018

Pengawalan 1

Perhelatan olahraga terbesar di Asia, tengah digelar di Indonesia. Meskipun baru dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo Sabtu 18 Agustus 2018 lalu, beberapa pertandingan sudah dimulai, semisal sepakbola dan bola basket serta bola tangan.

Event ini diikuti oleh 18 ribu atlet dari 45 negara. Belum lagi ofisial pertandingan sampai media dari berbagai negara. Agar penyelenggaraan Asian Games 2018 ini lancar, bukan hanya dari sisi membuat infrastruktur saja, tapi pengamanan juga diperlukan dan sudah pasti pengaturan lalu lintas.

Korps Lantas POLRI terkait pengaturan lalu lintas ini melakukan berbagai hal, agar atlet bisa tiba di venue tepat waktu. Mulai dari sistem ganjil genap yang diperluas, penutupan jalan tol dan yang terakhir adalah pengawalan VIP untuk para atlet.

Saya hari Minggu 19 Agustus kemarin, dalam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor saya menuju ke Kelapa Gading. Saya pasti melewati jalan Yos Sudarso. Ketika berada di depan Polres Metro Jakarta Utara, seorang petugas memberhentikan saya dan beberapa pengendara lainnya.

Petugas yang saya tidak sempat lihat namanya, mengatakan “Mohon tahan sebentar”. Sangat simpatik. Saya pun bertanya apakah ada tamu negara yang akan lewat. Petugas kemudian berkata bahwa atlet akan lewat.

Sesaat kemudian, dua Polisi bersepeda motor ukuran besar atau Moge kemudian melintas. Di belakang ada bus transjakarta yang mengangkut atlet melintas. Dari arah Gelanggang Remaja Jakarta Utara, para atlet ini selesai berlatih dan akan ke wisma atlet di Kemayoran.

“Atlet habis berlatih di Gelanggang Remaja Jakarta Utara. Atlet Bola Voli,” kata Petugas tersebut ke saya. Saya beruntung sempat mengabadikan dengan kamera. Petugas Kepolisian memang benar-benar memberikan pengawalan kepada para Atlet agar bisa tiba di tempat latihan atau tempat bertanding dengan tepat waktu.

Saya pikir, hanya parade obor Asian Games saja yang dikawal. Para atlet juga ternyata mendapat pengawalan. Semoga dalam bertugas tetap semangat!

read more
Cerita

Bukan Atlet dan Seleb Saja, Obor Asian Games 2018 Juga Dibawa Dirut BUMN

Tiko 06

Perhelatan Asian Games sudah dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Sabtu 18 Agustus di Gelora Bung Karno. Peraih Medali Emas di Olimpiade Barcelona, Susi Susanti, mendapat kehormatan untuk menyalakan api Asian Games.

Tapi yang menarik, adalah event sebelum opening ceremony Asian Games ini. Event tersebut bernama Torch Relay atau estafet Obor Asian Games. Api Asian Games ini diambil dari India, tempat penyelenggaraan Asian Games yang pertama.

Setelah dibawa dari India oleh Pesawat TNI AU, Api tiba di Jogjakarta untuk digabung dengan api dari sumber Api Abadi, Mrapen.

Obor Asian Games ini, sebelum tiba di Jakarta, melewati lebih dari 50 kabupaten dan kota di 18 Provinsi. Di perayaan hari kemerdekaan RI, di Istana Merdeka, Presiden Joko Widodo menerima obor Asian Games dan kemudian menyerahkan ke Ketua Inasgoc Eric Tohir.

Obor Asian Games ini kemudian dibawa keliling Jakarta. Saya sempat melihat Torch Relay ini di Wilayah Koja Jakarta Utara. Warga sangat meriah melihat peristiwa ini. Keesokan harinya, saya kemudian melihat sebuah parade obor Asian Games yang super seru.

Sabtu 18 Agustus pagi, saya sudah bersiap di Menara Bank Mandiri di Kawasan Sudirman. Ketika saya sampai, teman-teman dari Bank Mandiri sudah sangat ramai. Teman-teman terlihat sangat antusias menyambut obor Asian Games yang akan tiba di depan Menara Bank Mandiri.

Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo akan membawa Obor Asian Games 2018 sembari berlari. Pantasan saja, di depan Menara Bank Mandiri sudah meriah.

Kurang lebih satu jam sebelum obor tiba, Dirut Bank Mandiri yang akrab dipanggil Pak Tiko menyempatkan diri berbaur dengan karyawan yang sudah bersiap. Pak Tiko menyempatkan diri untuk selfie. Bahkan ketika menyanyikan lagu Hari Merdeka, pak Tiko ikutan bernyanyi.

MC kemudian mengumumkan bahwa Obor sudah dekat, dan kemeriahan langsung pindah ke Jalan Sudirman depan Menara Bank Mandiri. Para karyawan langsung berjejer rapi di jalan. Marching Band Bank Mandiri ikut memeriahkan prosesi Torch Relay ini.

Setelah menerima Obor Asian Games dari Direktur Pemasaran Jiwasraya, Indra Wijaya, Pak Tiko kemudian membawa obor Asian Games.

Di depan Pak Tiko, ternyata lebih meriah lagi paradenya. Ada Mobil Klasik (atau mobil tua?). Saya melihat ada mobil yang dipakai oleh Presiden RI yang pertama Soekarno. Ada dua mobil. Ada juga bus transjakarta tingkat yang bagian atas bisa dibuka. So, pasti ada juga pengawalan di depan.

Di Belakang pak Tiko, ada tim dari Mandiri Runner. Mereka berlari di Belakang Pak Tiko. Yang kerennya mereka ini memakai balon biru. Membuat semakin meriah.

Setelah berlari sejauh 350 meter, pak Tiko kemudian menyerahkan obor asian games ke Direktur Utama Mandiri In Health, Iwan Pasila.

Ternyata, yang berlari membawa Obor Asian Games 2018, bukan hanya atlit, ataupun para pesohor. Direktur Utama Bank Mandiri, dan Direktur BUMN, juga ikutan.

read more
Cerita

Perbedaan Membuat Keberagaman dan Itu Indah

IMG_20180818_054543.jpg

Tom kok lo beda banget sama nyokap? Kok lo ngga mirip sama adek-adek lo? Pernyataan-pernyataan tersebut suka muncul ketika saya bertemu dengan teman, atau mungkin keluarga yang lain, yang kenal saya dan keluarga saya.

Kita boleh jujur atau tidak, ini statement yang template banget. Dari statement ini saya kemudian berpikir, kenapa akhirnya kita kemudian berbeda.

Saya mikir, apa yang terjadi kalau misalnya, Tuhan itu benar-benar membuat kita secara fisik atau secara non fisik, sama semua. Dari muka, tinggi badan sampai selera makan sama semua.

Semisal begini. Kita punya pacar, suami, atau istri, tapi mirip semua. Bingung nggak sih? Bukan hanya mirip semua, tapi mirip atau plek sama persis dengan kita?

Kemudian Tuhan membuat kita sama selera dan misalnya sama selera pakaian. Semua akan sama bukan? Nggak akan ada pakaian yang beragam dan berwarna-warni. Begitu juga dengan selera makan. Kalau semuanya sama, nggak akan ada beragam jenis makanan. Semua makanan sama.

Dengan landasan berpikir seperti di atas, saya akhirnya melihat perbedaan ini sangat indah. Apalagi kita di Indonesia dengan beragam suku membuat perbedaan sangat indah.

Pakaian adat yang berbagai jenis, membuat fesyen kita sangat beragam. Mulai dari warna, aksessorisnya, dan bentuknya. Keberagaman suku kita, membuat makanan atau kuliner menjadi kaya. Ada makanan khas Manado, Padang, Jakarta, Jawa dan daerah lainnya.

Keragaman budaya seperti tari-tarian khas daerah ini membuat kita melihat perbedaan menjadi indah juga. Kalau kita berkunjung ke daerah, kita akan disuguhi tarian berbeda-beda. Kebayang kan kalau tari-tarian semua daerah ini sama?

Keindahan alam juga dibuat berbeda-beda. Pantai saja memiliki keunikan berbeda-beda. Begitu juga gunung dan pemandangam indah lainnya.

Yang paling simpel dari perbedaan yang indah-indah adalah warna. Kalau warna cuma satu, apa yang terjadi? Kita tidak akan melihat pelangi yang berwarna-warni bukan?

Jadi, perbedaan itu sangat indah bukan? #bedaitukita.

read more
Makang Sadap

Sensasi Nikmat Perpaduan Bumbu Sate Padang dan Bumbu Kacang

IMG_1769

Tahu sate Padang? Pernah menyantapnya? Kalau sudah pada tahu soal sate Padang ini, pastilah sudah tahu kalau bumbu sate padang ini, rasanya gurih dan cukup pedas.

Anda juga pernah menyantap sate ayam dengan bumbu kacang? Bumbu kacang sate ayam ini biasanya rasanya manis. Kalau ditambahkan cabai, akan pedas.

Nah bagaimana kalau keduanya digabungkan menjadi satu?

Ketika saya sedang roadtrip di Sumatera, sebenarnya saya sudah melihat ada pedagang gerobak yang menjual sate Kacang. Tapi saya hanya sekedar melihat saja. Tidak membeli. Saya berpikir ya mungkin sate ayam reguler. Nothing special gitu lah.

Saya yang dalam perjalanan dari Jambi ke Air Hitam, Serolangun, kemudian melihat ada pedagang yang berjualan di lintas sumatera di jalan Muara Tembesi menuju ke Serolangun, langsung berhenti. Mau mencicipi.

Saya langsung memesan Sate Kacang ini. Dan meminta bumbu kacang dicampur dengan bumbu sate padang. Teman perjalanan saya yang menyarankan untuk mencobanya. Saya mengiyakan.

Sate yang tinggal dibakar sebentar saja, sudah langsung dihidangkan. Bumbu sate padang dan bumbu kacang disajikan bersama. Saya tinggal mengaduknya.

Sate disajikan dengan lontong. Tidak ada nasi. Saya pun mengaduk bumbu sate ini dan langsung mencicipi.

Oh My God! Ternyata rasanya lebih enak. Gurihnya bumbu sate padang bercampur dengan manisnya bumbu kacang, dan ada

 

rasa pedasnya.

 

Benar-benar membuat lidah bergoyang. Asin manis dan pedas menjadi satu. Sensasinya mantap benar. Daging yang dipakai di sate ini juga bukan daging sapi, tapi daging ayam.

Sate yang dijual ini juga sangat murah. Untuk 5 tusuk hanya 6.000 an saja. Nggak sangka, bisa semurah ini makan sate. Tak ada salahnya memang saya mampir.

Kalau sedang berada di Sumatera, tak ada salahnya Anda mencoba sate ini. Dijamin ketagihan!

read more
Cerita

Beda Agama Sudah Sejak di Dalam Keluarga Saya

00-46-31-th.jpg

Saya ini, dilahirkan Kristen. Orang tua saya, asli Minahasa dan ada Campuran darah Portugis dan Belanda. Saya besar di sebuah desa bernama Tontalete, di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Sedari kecil, saya ini Kristen Taat. Rajin gereja, ikut kegiatan keagamaan gereja. Tapi ada sebuah hal menarik dalam kehidupan saya.

Saya awalnya berpikir, keluarga saya ini semuanya Kristen. Iya Kristen! Tapi faktanya ternyata sangat berbeda.

Papa saya anak bungsu. Memiliki 10 kakak. Salah satu kakak papa saya, menikah dengan orang Jawa. Dan istrinya ini muslim. Sepupu saya ini ada yang menjadi muslim. Sepupu dekat saya, ada yang muslim.

Cuma itu saja? Nggak! Keluarga daro buyut saya ternyata ada yang muslim juga. Karena itu, saya punya paman yang Muslim. Masih keluarga dekat.

Yang terakhir, adalah orang kepercayaan almarhum papa saya dalam hal menjaga kebun. Papa saya memiliki kebun seluas 5 hektare. Tidak besar. Tapi kebun papa saya ini dijaga dan dikelola oleh seorang Muslim asal Gorontalo. Om Pulu namanya.

Papa saya, sangat percaya dengan Om Pulu ini. Dan sampai sekarang, om Pulu ini ibaratnya sudah seperti keluarga saya sendiri. Beda agama tidak membuat kami jauh.

Berbeda ini bagi saya, sudah dari keluarga sendiri. Dan saya menemukan keindahan tersendiri. Karena itu, saya sudah tidak kaget dengan bergaul dengan teman yang berbeda agama. Malah asik

read more
Cerita

Belajar Banyak dari Perbedaan

01-06-32-Ketika-Keberagaman-Bangsa-Ini-Tercabik-Cabik.jpg.cf.jpg

Tidak pernah terbayangkan oleh saya, dalam benak saya, kalau saya itu akan merantau. Tidak ada peikiran dalam benak saya, bahwa Saya akan keluar dari kampung halaman.

Itu terjadi 26 tahun lalu, seperempat abad lalu. Saya sehabis lulus dari SMA, di sebuah kota kecil di Sulawesi Utara bernama Bitung, kemudian ditawari oleh saudara sepupu saya untuk kuliah di Salatiga, Jawa Tengah,

Saya pung mengiyakan. Dan akhirnya saya berangkat

Dan inilah yang membuat saya benar-benar membuka cakrawala pemikiran saya. Saya benar-benar menemukan dunia baru.

Saya lahir dan besar di Kabupaten Minahasa Utara. Dari kecil, saya tumbuh di lingkungan yang secara agama adalah homogen. Kristen Protestan. Saya pun tinggal di kampung dengan suku atau ras yang sama.

Setelah sampai di Salatiga, akhirnya menemukan hal yang benar-benar berbeda. Saya akhirnya berkenalan dengan teman yang belainan suku. ADa teman saya yang orang Jawa, Toraja, Maluku, Nusa Tenggara dan Batak serta Bali. Dari segi agama juga berbeda. Ada kristen, ada Islam dan Hindu.

Di Salatiga inilah saya belajar banyak mengenai keberagaman. Teman dan sahabat saya berbeda-beda. Bukan cuma Agama. Tapi suku, dan karakter juga. Bahkan adat istiadat dan kebiasaan.

Dengan perbedaan dan penuh keragaman ini, saya menemukan banyak hal baru. Saya bisa belajar bahasa Jawa, logat dan gaya berbicara ala orang Medan. Dan saya bahkan mengenal berbagai makanan bukan hanya makanan dari Minahasa atau Manado saja,.

Saya bisa tahu yang nama gudeg, saksang, dan makanan dari daerah lainnya. Ini benar-benar mengasyikan. Belajar banyak hal dari perbedaan.

Berbeda itu indah memang. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya masih betah di kampung halaman. Saya tidak akan punya pengalaman indah seperti sekarang.

read more
Cerita

Danang Aris Drianto yang Ingin Menambah Nilai Komunitas di Jakarta Utara

Danang Aris

 

Saya ini, penggemar Manchester United. Supaya saya bisa bertemu dengan teman-teman sesama penggemar Manchester United, saya kemudian membentuk komunitas penggemar Manchester United di Jakarta Utara.

Awalnya saya membentuk, United Jakarta Utara, tapi dalam setahun, saya merelakan komunitas tersebut untuk diurus teman dan saya mendirikan North Jakarta Red Devils.

Tahun pertama North Jakarta Red Devils (selanjutnya NJRD), saya mau menggelar nonton bareng. Bulan September 2016, ketika itu ada Manchester Derby. Dan saya ingin menggandeng sponsor.

Setelah mencari dan mengontak salah satu kenalan saya di twitter, saya akhirnya terhubung dengan salah satu produk ritel telkom. Namanya Indihome. Kenapa? Karena Indihome menyediakan channel untuk kita menggelar nobar Manchester Derby. Lewat Bein Sport.

Ketika menggelar nobar pertama kali ini, saya akhirnya berkenalan dengan Pak Danang Aris Drianto. Pak Danang adalah Manajer Home Service Telkom Witel Jakarta Utara. Yang urusin Indihome lah pokoknya.

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya, saya dan indihome beberapa kali menggelar nonton bareng. Bukan hanya Manchester United saja, tetapi nonton timnas Indonesia yang berlaga di berbagai turnamen.

Selama bekerjasama dengan Indihome inilah saya melihat Pak Danang ini ingin memberdayakan komunitas. Bukan hanya sekedar bekerjasama nonton bareng saja. Tapi memberikan nilai tambah kepada komunitas. Seperti apa itu?

Yang pertama, pak Danang memberikan fasilitas khusus apabila anggota komunitas ingin berlangganan Indihome. Ah itu mah biasa. Yang unik adalah, tanpa perlu repot, apabila anggota komunitas berhasil mempromosikan Indihome dan bisa mendapatkan pelanggan, akan mendapat komisi dari Indihome.

Berbekal seperti inilah, kemudian lahir sebuah aplikasi Jaring Jaring Indihome atau JJI. Komunitas di Jakarta Utara yang menjalin kerjasama dengan Indihome semakin banyak. Bukan hanya sepakbola, tapi ada komunitas pengguna sepeda motor. Seperti North CBR Club dan Jakarta All Bikers.

Pak Danang melalui komunitas ini kemudian membangun jaring-jaring Indihome. Saling bersinergi. Anggota komunitas diberikan pelatihan soal JJI ini. Oh iya, apa sih JJI ini? JJI ini adalah aplikasi yang membantu komunitas untuk menginput data calon pelanggan Indihome.

Jadi kalau ada calon pelanggan, tinggal input data. Nanti akan ditindaklanjuti oleh tim Home Service.

Berulang kali pak Danang bilang ke saya. “Tom, anggota komunitas juga harus diberdayakan. Mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan melalui aplikasi JJI ini,” kata pak Danang ke saya.

Ini yang saya lihat berbeda. Komunitas bukan hanya sekedar datang, kumpul atau nobar dengan Indihome. Tapi diberikan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Sebuah komitmen yang berbeda.

Semoga kerjasama dan pemberdayaan komunitas seperti ini akan terus berlangsung ya Pak Danang. Tanpa terasa sudah hampir dua tahun saya dan komunitas saya berinteraksi dan bekerja sama dengan Pak Danang dan Indihome.

Ini adalah foto teman-teman komunitas dan Pak Danang serta teman-teman Telkom Jakarta Utara.

 

read more
Reportase

Cegah Korupsi, Ada Timnasnya Lho!

timnas cegah korupsi

Korupsi di Indonesia ini seakan tiada habisnya. Hal ini kita sudah pada tahu. Operasi Tangkap Tangan atau OTT KPK masih terus berlangsung. Ini tentunya mengenaskan.

Apakah untuk memberantas Korupsi, ini hanya dengan melakukan penangkapan? Jawabannya tentu tidak. Perlu juga upaya pencegahan terjadinya korupsi.

Dari FMB 9 di Gedung KPK, ternyata untuk korupsi, yang paling banyak terjadi nomor satu adalah Suap. Setelah Suap, yang paling banyak terjadi adalah di pengadaan barang dan jasa. Waduh-waduh-waduh.

Upaya pencegahan korupsi ini, terus dilakukan. Upaya terbaru yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menerbitkan Perpres No 54 tahun 2018. Perpres ini adalah tentang Strategi Nasional Pencegahan Korupsi.

Untuk pencegahan korupsi ini sendiri, berfokus pada tiga hal. Yang pertama adalah, pada Proses Perizinan Tata Niaga. Sudah bukan rahasia lagi kalau urusan perizinan ini juga menjadi sarang korupsi.

Karena itu untuk mencegah terjadinya korupsi adalah dengan memberikan kemudahan perijinan dan pengurusan perijinan dibuat secara online. Kalau pembayaran dilakukan secara transfer atau melalui bank, itu upaya pencegahan korupsi.

Yang ke-2 adalah, dari sisi keuangan negara. Keuangan negara ini juga rawan untuk dikorupsi. Misalnya, di pengadaan barang dan jasa. Dengan dibuat seperti e-procurement, sudah merupakan upaya untuk mencegah korupsi.

Hal yang ketiga adalah, Penegakan Hukum dan Reformasi Birokrasi. Ini juga tidak kalah penting, karena adanya birokrasi yang berbelit-belit, rawan terjadinya korupsi.

Nah dari Perpres No 54 ini juga kemudian dibentuk Tim Nasional Pencegahan Korupsi. Tim ini adalah Kemendagri, Kementrian PPN/ Bapenas, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan juga KPK.

Bagaimana dengan independensi KPK dengan hadirnya Perpres 54/2018 ini. Ketua KPK mengatakan, KPK tetap menjaga independensi. Namun, untuk mencegah terjadinya korupsi, KPK tidak bisa bekerja sendiri saja. Namun, juga harus bekerja sama dengan Pemerintah dan Masyarakat.

Ketua KPK AGus Rahardjo mengatakan, saat ini tengah menyusun Rencana Aksi Pencegahan Korupsi. “Kemungkinan 2-3 hari selesai, akhir pekan inilah. Saya titip pesan ke teman-teman, harapan saya Rencana Aksi ini jangan ecek-ecek,” kata Ketua KPK.

Kita tunggu saja, aksi pencegahan korupsi ini.

read more
Cerita

Warga RW 07 Tugu Selatan, Bersihkan Kali Betik untuk Jadi Spot Wisata Air

Kali Betik 4

“Tom, ke Kali Betik RW 07 yuk. Ada lomba dayung dalam rangka tujuh belasan” Begitu ajakan teman saya Minggu sore, ketika kami sedang mengobrol di Kantor Kelurahan Tugu Selatan hari Minggu siang.

Saya dan teman pun menuju ke Kali Betik, yang berada di RT 13, RW 07 Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ketika sampai di Kali Betik ini, ternyata lokasinya merupakan yang dijadikan Spot Wisata Air beberapa bulan lalu.

Kali Betik yang melintas di dua RT yaitu RT 02 dan 13 RW 07 dan menjadi perbatasan dengan Kelurahan Kelapa Gading Barat, ini awalnya berbau dan seperti biasa, penuh sampah.

Atas inisiasi pak SUaib, Ketua RW 07 Kelurahan Tugu Selatan dan warganya, Kali Betik ini dibersihkan dalam kerja bakti Massal yang melibatkan warga, petugas PPSU dan petugas UPK Badan Air, Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta.Sekaligus memperingati Hari Bumi pada bulan April lalu.

Hasilnya, kali ini bersih. Tepat di RT 13, sebuah “dermaga” dari hasil swadaya masyarakat dibangun. Warga menghadirkan bebek-bebekan untuk menjadikan lokasi ini menjadi wisata Air.

Selang beberapa bulan, saya kemudian mendatangi kembali Kali Betik di RT 13/07 Tugu Selatan ini. Dalam rangka Agustusan, sedang diadakan lomba Dayung. Jarang sekali kegiatan Agustusan di DKI Jakarta ada lomba dayung di Kali.

Ketua RW 07 yang bertemu dengan saya di lokasi, mengatakan, pembuatan Kali Betik sebagai Spot Wisata Air ini, untuk mendorong warga agar menghargai sungai. Warga selama ini ada yang sengaja membuang sampah di Sungai. Dengan membuat seperti ini, mereka akan merawat sungai.

Dalam hati saya, saya berkata Sebuah ide yang sangat bagus dari Ketua RW 07. Pak Suaib mengatakan, warga tidak hanya mulai berubah dengan tidak membuang sampah di sungai. Malahan bersama dengan petugas UPK Badan Air, mereka mengangkat sampah dari Sungai. Upaya ini terus dilakukan.

“Warga harus menjaga sungai ini. Jangan nanti kalau kebanjiran baru kita ngomel-ngomel, tapi sungai tidak dijaga,” ungkap Suaib.

Lomba dayung ini, merupakan upaya dari RW 07 agar warganya terus menjaga Kali Betik ini. Warga harus sayang kepada sungainya, meskipun sungainya belum bersih-bersih amat.

Kalau biasanya Agustusan lomba kebanyakan olahraga seperti Bola Voli, Bulutangki, Tenis Meja dan lainnya, di RW 07 ada Lomba Dayung. Unik memang.

Saya pun jadi ingat Kali Item di Sunter yang menjadi perbincangan karena ditutup dengan Kain Waring. Hal tersebut sangat kontras dengan apa yang telah dilakukan oleh Warga RW 07. Mereka merawat sungai bersama dengan petugas. Setidaknya mereka bisa naik bebek-bebekan di sungai ini. Karena lebih bersih, Kali Betik ini tidak berbau.

Saya yang nongkrong menunggu lomba dayung dimulai, tidak merasa terganggu. Malah minum teh di pinggir kali sembari berbincang dengan Ketua RW.

Ketika lomba mulai, warga juga sangat antusias. Ya mereka mau lihat Agustusan yang berbeda. Bukan cuma lomba tarik tambang dan balap karung. Tapi ada lomba dayung.

read more
Makang Sadap

Lezatnya Mie Ayam Boim Ndeso di Tugu Selatan

IMG-20180813-WA0079.jpg

Sebagian dari Anda, dan mungkin semuanya sudah pada pernah menyantap yang namanya Mie Ayam. Mie Ayam ini ada Mie Ayam abang-abang, ada juga yang dijual di restoran.

Mie ayam abang-abang ini, bertebaran di mana-mana di Jakarta. Ada yang berkeliling dan ada yang mangkal. Saya pun sudah icip-icip makanan ini di beberapa tempat.

Salah satunya, adalah di Wilayah Kelurahan Tugu Selatan ini. Ketika saya sedang berada di Kantor Kelurahan, saya diajak oleh teman. Makan mie ayam bang Boim. Saya panasaran. Saya pikir bang Boim siapa gitu.

Setelah sampai, ternyata penjualnya saya kenal. Bang Boim yang ketua RT 04/02 Kelurahan Tugu Selatan rupanya. Dia jualan Mie Ayam rupanya.

“Semenjak mendapat bantuan gerobak Mie Ayam dari Sumarecon bang,” jawab Bang Boim ketika saya bertanya sejak kapan menjual Mie Ayam. Bantuan gerobak ini belum lama dia dapatkan. Dalam hitungan mungkin dua atau tiga bulan.

Saya langsung memesan Mie Ayam “Polos”. Kebiasaan saya memesan Mie Ayam memang polos. Polos disini adalah nggak pake sambal dan saos. Tukang mie ayam dan memang suka langsung menambahkan saos dan sambal di dalam mie ayam.

Saya juga bahkan bisa melihat Bang Boim yang mempersiapkan Mie Ayam. Gerobak bang Boim Bersih, saya tidak ragu untuk memesan Mie Ayam.

Mulai dari mencampur bumbu, merebus mie dan sayur hingga bang Boim menghidangkan Mie Ayam saya pantau. Mau melihat langsung prosesnya.

“Mau pakai ceker bang?”

“Mau dong”

Bang Boim langsung menambahkan ceker. Karena teman, saya melihat daging Ayam dapat ekstra. Wih!

Mie ayam pun tersaji. Tak sabar saya untuk menyantap. Dan memang ternyata enak. Tekstur minya bagus, lembut. Waktu perebusan yang tepat membuat Mie tidak bengkak.

Potongan daging ayam juga isinya daging. Beberapa kali saya makan mie ayam, banyak bercampur tulang. Duh nyebelin. Tapi di bang Boim daging semua. Mantap nggak?

Rasa mie ayam ini bagi saya pas di lidah. Tidak asin dan gurih. Porsinya juga pas, tidak banyak. Saking enak, sampai kuah mie ayam kering saya seruput.

Harga Mie Ayam bang Boim ini tidak mahal. Hanya Rp 11.000 saja. Murah nggak sih? Kapan-kapan saya mau makan lagi. Kalian mau mencobanya? Ada di RT 4/2 Kelurahan Tugu Selatan.

read more
1 2 3 41
Page 1 of 41