close

Bola Kaki

Bola Kaki

Manchester United yang Berbeda

img_3387

Sudah tiga pekan liga primer Inggris atau English Premier League bergulir. Selama tiga pekan atau tiga pertandingan berturut-turut, klub yang saya gemari, Manchester United memenangi pertandingan.Pertandingan pertama, saya tonton. Pertandingan ke-2, karena dinihari atau tengah malam, saya tidak menonton. Baru di match week ke-3, Sabtu 27 Agustus saya kembali menonton.

Saya melihat, ada perbedaan di Manchester United, dengan masuknya Jose Mourinho, menggantikan Louis van Gaal.

Yang terlihat sekali, adalah daya tarik Manchester United untuk sejumlah pemain. Ibrahimovic, Mikhtaryan, Bailly dan Pogba masuk ke Manchester United. Nama besar Mourinho, dan tentunya Manchester United, menjadi daya tarik tersendiri, meskipun, Manchester United hanya bermain di Europa League, bukan di Champions League.

Manchester United ditambah dengan Jose Mourinho, menjadi “lebih besar”, meskipun sudah tiga musim Manchester United tidak juara liga.

Perbedaan lainnya adalah di gaya permainan. Saya melihat MU (capek ih nulis Manchester United terus. Disingkat aja lah) sudah bukan munger-muter FC, dimana kebanyakan ngoper, dibandingkan nusuk ke jantung pertahanan lawan. Nyebelin banget dah.

MU di dua match yang saya tonton, kembali menunjukkan karakter yang menyerang. Lawan terus digempur. Sewaktu melawan Hull City, saya melihat pemain terus berusaha menyerang, meskipun repot dengan full defense nya Hull. Mereka terus menyerang dan membuahkan gol di menit 92. Ini sesuatu yang lama saya tidak lihat. Mereka berusaha terus sampai peluit panjang dibunyikan.

Kehadiran Ibra, membuat lini depan MU berbeda. Memang betul apa yang sibilang orang-orang. Ibra ini akan menjadi pembeda. Itu terjadi. Ibra sudah mengemas tiga gol di tiga pertandingan awal Liga Inggris.

Fellaini, Mata dan Valencia juga seperti dicambuk. Permainan mereka berubah ke arah yang lebih baik. Mata musim kemarin sempat menurun permainannya. Tapi sekarang kembali dipercaya. Begitu juga Fellaini. Musim lalu buruk, sekarang meningkat. Bahkan terus menjadi starter.

Valencia juga semakin baik dalam membantu serangan. Dia menjadi attack wing back. Bek yang membantu serangan sayap. Bahkan dua gol Ibra, dari assist Valencia.

Saya belum melihat apa yang ditakuti ketika Mourinho menjadi manajer, yang bilang bisa saja MU bermain parkir bus atau bertahan total. Atau Mourinho tidak akan memainkan pemain akademi. Rashford yang berasal dari akademi, tetap dimainkan meskipun dari bangku cadangan. Lingard juga tetap dimainkan.

Semoga MU tetap berbeda di musim ini, dengan bermain yang menyerang, penuh percaya diri, hasrat untuk menang terus menggelora hingga akhir musim sehingga merebut juara Liga dan mempertahankan Piala FA. Semoga!

read more
Bola Kaki

Paul Pogba. Layak Ditebus Mahal?

Paul Pogba

Semenjak Manchester United menunjuk Jose Mourinho menjadi manajer, 27 Mei lalu menggantikan Louis van Gaal, isu mengenai pembelian Paul Pogba terus merebak. Sudah hampir dua bulan kalau dihitung-hitung.Kita udah pada tau lah, Paul Pogba ini mantan pemain akademi Manchester United yang memilih meninggalkan Manchester United tahun 2012 lalu (eh bener kan ya?).

Manchester United sebenarnya sudah menyodorkan kontrak baru, tapi Paul Pogba sepertinya lebih memilih meninggalkan MUFC karena dia tidak mendapat jaminan akan menjadi pemain di tim utama, sementara Manajer legendaris MUFC kala itu, Sir Alex Ferguson sudah memintanya untuk bersabar.

Semenjak pindah ke Juventus, Paul Pogba bersinar. Dia menjadi juara Serie-a empat musim berturut-turut dan bersama Juventus mencapai final UCL musim 2014-2015 sebelum keok, kalah dari Barcelona.

Kebintangan dan peran penting Pogba di Juventus dan Euro 2016 ini membuatnya kembali digadang-gadang ingin dibeli MUFC dibawah Jose Mourinho. Bukan itu hanya MUFC, Real Madrid dan Barcelona plus Manchester City juga ingin mendapatkan tanda tangan Pogba.

Nilai Paul Pogba ini fantastis. Bisa mencapai 120 juta Euro atau sekitar 86 juta Pound. Udah entah berapa lah nilainya kalau dirupiahkan.

Pertanyaan saya, haruskah Manchester United menebusnya dengan nilai sebanyak itu?

Menurut catatan pribadi saya, kalau memang Paul Pogba nantinya bisa membawa MUFC kembali bersinar seperti di era Sir Alex Ferguson, bukan masalah. Uang 120 juta Euro itu kecil buat Manchester United yang mendapat suntikan dana besar dari Adidas dan Chevrolet setiap musimnya.

Secara bisnis, kehadiran Pogba juga akan membuat penjualan tiket Manchester United makin menggila, belum lagi Merchandise dan Aparrel. Apalagi ada Zlatan Ibrahimovic di MUFC yang bisa menambah pundi-pundi MUFC melalui penjualan jersey.

Sepakbola memang menggila belakangan ini. Harga pemain bisa sampai segitu mahal. Inilah industri. Kalaupun Paul Pogba dihargai segitu, dengan kebintangannya dan perkiraan dia bisa membawa Manchester United Juara,tidak ada masalah.Yang menjadi masalah, nantinya kalau dia flop atau malah meredup. Lah sayang kan uangnya segitu dibuang untuk satu pemain sementara bisa membeli pemain dengan talenta seperti Pogba ataupun yang akan seperti Pogba satu saat.

Banyak kok pemain dari Akademi atauU-21 MUFC yang bisa bersinar kalau misalnya diberi kesempatan. Atau banyak bintang lain yang bisa dibeli dengan harga lebih murah.

Tapi ya MUFC tetaplah MUFC. Klub yang bisa menghamburkan uang di bursa transfer. Big club gitu loh!

read more
Bola KakiOpini

#iamunited

img_1200.jpg

Di blog kali ini, saya akan lebih menceritakan kenapa saya belakangan ini, menggemari Manchester United. Awalnya, saya ini, belum tahu klub Inggris ini. Jujur, jaman saya masih SMP atau SMA, sampe kuliah, belum kayak sekarang. Social media era. 

Saya tahu sepakbola dari papa saya almarhum. Dan mama saya juga. Mereka berdua penggemar timnas Belanda. Dan saya mulai diperkenalkan dengan timnas Belanda tahun 1988 ketika Belanda yang masih ada Marco van Basten, Frank Rijkaard dan Ruud Gullit (plus Ronald Koeman) lagi menggila. 

Seingat saya, mereka tim nom unggulan dan akhirnya membuat Belanda juara Euro 1988. Semenjak itu saya mulai suka tim sepakbola. Kalau main sepakbola sih dari kecil, main di halaman di depan rumah saya di kampung.

Kesuksesan trio Belanda ini, membuat mereka dibeli AC Milan. Dan saking ngefans sama Belanda, eh saya ikut-ikutan jado fans AC Milan.

Saya mulai mengenal Manchester United, seingat saya itu tahun 1990. Saya sih lupa persisnya. Ketika itu MU di putaran ke-2 final piala FA menghadapi Crystal Palace. Teman saya di SMA ajak taruhan. Nilai taruhan, 100 perak. Najong dah, 100 perak. Tapi jaman itu udah bisa jajan macam-macam lho.

Tim apa yang saya pilih? MANCHESTER UNITED. Dan saya menang.

Meskipun saya belum mengikuti MU saat itu karena belum kayak sekarang, saya sudah mulai menyukai klub ini. Setidaknya saya mulai tau Mark Hughes, Eric Cantona dan lainnya.

Saya semakin menggilai MU mulai akhir dekade 90. Semakin gila ketika MU meraih treble winner. Saya dan teman-teman sampai loncat-loncat di kursi karena menang piala Champion di Camp Nou waktu itu ditentukan di menit-menit terakhir.

Saya pun mulai sedikit melupakan AC Milan. Dan semakin fokus menyukai MU. 

Di skripsi teman saya, karena saya yang edit, di ucapan terima kasih, teman saya menulis Tommy Giggs, karena saya ngefans sama Ryan Joseph Giggs. Sampe sekarang pun masih ngefans.

Selanjutnya saya bukan hanya fans, tapi bikin fanbase United Jakarta Utara. Untuk ngumpulin teman-teman di Jakarta Utara yang ngefans sama MUFC sekalian bisa nonton bareng.

Saya juga semakin mengikuti perkembangan tentang MU, terlebih dengan semakin mudahnya mengakses informaso di era internet. Kalau dulu, hanya tahu dari koran dan tabloid saja, sekarang bisa lewat media online dan social media.

We love united …. We do…..

read more