close
IMG-20180119-WA0007.jpg

Tiga tahun lalu, tepatnya Bulan Desember 2014, saya akhirnya bisa berkunjung ke salah satu obyek wisata nasional, Taman Nasional Bromo Tengger. 

Ketika itu saya berkunjung bersama dengan rombongan atlit dari Koni Jakarta Barat yang hendak menggelar latih tanding. Usai latih tanding, kami berkunjung ke Bromo.

Kesempatan datang ke Bromo, datang lagi di Januari 2017 ketika Home Service (HS) Telkom Witel Jakarta Utara mengajak saya untuk ke Malang dan Bromo. Kesempatan yang tidak bisa disia-siakan.

Tapi, kunjungan ke Bromo Tahun 2018 ini kondisinya berbeda dengan tahun 2014 lalu. 

Tahun 2014 tersebut, sebelum ke Bromo, saya dan rombongan menginap di hotel yang letaknya dengan Gunung Bromo. Jadi, saya dan rombongan tidak perlu begadang untuk ke bromo karena berangkat jam 03.00 pagi untuk melihat matahari terbit di Pananjakan 1.

Karena cuaca sangat cerah ketika itu, saya bisa berfoto selfie dengan latar Belakang kawasam Gunung Bromo. Begitu juga di lautan pasir. Bisa berfoto karena pemandangan yang sangat bagus.

Kondisi tersebut sangat kontras dengan tahun 2018 ini. 

Saya dan rombongan berangkat dengan menggunakan bus dari hotel sekitar jam 00.00 tengah malam dengan waktu tempuh ke terminal jeep hardtop Toyota Land Cruiser kurang lebih dua jam.

Satelah tiba di terminal tersebut, kondisi hujan gerimis. Dari Kota Malang, tempat kami menginap, kondisi memang hujan gerimis.

Setelah rombongan sudah lengkap, kami berangkat ke Pananjakan, di Bukit Cinta. Kami harus melewati jalan berliku dan penuh tanjakan. Pak Sis, supir Hardtop atau jeep yang saya tumpangi, sangat lihai mengendarai.

Satu jeep hardtop ini, rata-rata ditumpangi 5-6 orang. Karena rombongan kami ada lebih dari 60 orang, ada 12 jeep yang digunakan.

Sampai di lokasi parkir hardtop, karena matahari belum terbit, dan cuaca masih hujan, saya dan rombongan menunggu di warung.

Menunggu hampir satu jam, hari mulai terang. Saya dan teman langsung menuju ke tempat foto. Di Bukit Cinta. Namun sayangnya tertutup kabut sehingga tidak bisa mengambil foto matahari terbit dan kawasan gunung bromo.

Saya segera bergegas ke Jeep. Menunggu teman satu mobil. Pak Atim, Sudin, Misbah dan Joko.

Setelah komplit, kami langsung menuju ke Kawasan Lautan Pasir. Tidak butuh waktu lama sudah tiba. Mobil hardtop sempat berhenti di lokasi pasir berbisik untuk kami berfoto.

Tapi ternyata udara sangat dingin dan kawasan masih tertutup kabut. Sayang sekali. Saya sempat mengambil foto dan langsung berlari ke dalam mobil karena tidak tahan dingin.

Kami pun berpindah lokasi ke tempat parkir kawah bromo.

Karena cuaca mendukung, sudah lebih hangat, saya mengambil foto suasana bromo dan saya juga berfoto di bagian depan jeep.

Angin kembali berhembus sangat dingin. Dan saya kembali berlari ke dalam mobil karena tidak tahan dingin.

Ke Bromo (sekali) lagi ini kondisi sangat berbeda. Cuaca lebih dingin dan berkabut. Dan saya tidak bisa berfoto dengan latar belakang kawasan bromo (sekali) lagi.

Berkunjung ke Bromo di musim penghujan memang beresiko akan turun hujan dan kawasan Bromo diselimuti kabut. Cuaca juga dingin.

Kalau ke Bromo juga kita bisa membeli topi kupluk, sarung tangan, dan kaos kaki agar tidak terlampau dingin. Harga berkisar di Rp 10.000 – 20.000. Pintar-pintarlah menawar.

Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: