close
Bapontar

Belitung Maret 2014, Sebuah Cerita Perjalanan

belitung
Ini sebenarnya adalah cerita perjalanan saya, semacam travel story saya. Saya akan menuliskan beberapa cerita perjalanan saya yang masih teringat jelas dalam benak saya, meskipun perjalanan tersebut sudah terjadi beberapa tahun lalu.
Seperti perjalanan saya ke Belitung, yang saya lakukan pada Bulan Maret 2014, tetapi baru saya tuliskan dalam blog cerita perjalanan saya, ini hanya bermodalkan ingatan saya dan juga tracing di media sosial milik saya.
Soal Belitung, saya mengetahuinya pertama kali dari film Laskar Pelangi. Meskipun begitu, saya tidak pernah membayangkan akan bepergian ke Belitung. Istilahnya never cross my mind.
Sampai akhirnya, saya yang punya teman penyedia jasa travel, mengajak saya untuk ke Belitung. Karena rombongan cukup besar, dia meminta bantuan saya untuk mengatur rombongan yang terpecah menjadi dua rombongan besar.
Kebetulan juga, teman saya ini ada urusan, jadi dia tidak bisa mendampingi rombongan, dan saya yang mendampingi rombongan. Sebuah kesempatan yang benar-benar tidak bisa saya lewatkan.

Hari Pertama 28 Maret 2014

Setelah melakukan berbagai persiapan, akhirnya kami berangkat pada 28 Maret 2014. Sudah hampir empat tahun lalu. Rombongan yang saya antar, berangkat pagi. Ada yang rombongan berangkat siang.
Perjalanan ke Belitung dengan pesawat Citilink, tidak begitu lama. Kurang lebih satu jam. Sama saja dengan kita terbang ke Semarang, Solo atau Yogyakarta.
Ke Belitung ini, kota yang kami tuju adalah Tanjung Pandan. Bandara di Belitung ada di Kota Tanjung Pandan. Sebuah kota yang tidak terlampau besar. Kami mendarat di Bandar Udara H.A.S Hananjoeddin.
Tiba di Bandara, perjalanan hari pertama kami di Belitung adalah ke Belitung Timur. Di sana kami akan berkunjung ke Sekolah SD yang sangat ikonik di film Laskar Pelangi. Ini adalah spot foto. Sekolah ini sudah tidak aktif, tetapi gedungnya dibuat mirip dengan sekolah aslinya.
Usai dari sekolah SD Laskar Pelangi ini, kami menuju ke musium Kata Andrea Hirata. Andrea Hirata ini merupakan pengarang novel laskar pelangi yang filmnya sangat booming atau ditonton banyak orang ketika tayang di bioskop. Tahun 2008 kalau tidak salah.
Setelah dari Musium Kata ini, perjalanan kami lanjutkan ke Mandar. Sebuah kota Kecil di Belitung Timur. Belitung Timur ini merupakan tempat kelahiran dan tumbuh besar Basuki T. Purnama dan keluarganya.
Kami bahkan diajak berkeliling melihat Rumah Ahok, Rumah Yusril Ihza Mahendra dan rumah tempat karyawan PT Timah, sebelum kami sampai di Mandar.
Di Mandar ini, saya tidak melewatkan untuk mencicipi kopi khas Mandar. Warung Kopi berderetan di Mandar ini. Dan ketika sore hari, seusai bekerja, banyak yang bersantai sembari menikmati kopi.
Setelah dari Mandar dan rombongan sudah terkumpul semua, kami menikmati makan malam di Mandar dan kembali ke Tanjung Pandan. Di Tanjung Pandan ini kami akan menginap semalam, sebelum kami akan berpetualang ke sejumlah pulau dan pantai di Belitung.

Hari Kedua 29 Maret 2014, Island Hopping,

Di hari ke-2 ini saya dan rombongan benar-benar akan menikmati pantai, dan sejumlah Pulau di Belitung. Beach time!
Bangun pagi, saya dan rombongan langsung sarapan di hotel. Setelah perut terasa cukup kenyang dengan sarapan, kami dengan menggunakan bus langsung menuju ke Tanjung Tinggi. Tanjung Tinggi ini merupakan lokasi syuting film laskar pelangi dengan pantai penuh bebatuan besar.
Bagi saya, ini menakjubkan. Jarang sekali pantai di Indonesia dihiasi dengan bebatuan besar. Bahkan sangat besar. Biasanya Pantai di Indonesia dihiasi dengan pepohonan. Tapi Pantai di Tanjung Tinggi ini, sangat indah dengan bebatuan besar. Menjadikannya berbeda.
Di Tanjung Tinggi ini, kami berfoto dan menikmati pantai yang indah. Tapi tidak terlalu lama. Saya lupa bercerita bahwa untuk sampai ke Pantai Tanjung Tinggi ini, tidak butuh waktu lama dari Tanjung Pandan. Sekitar setengah jam saja.
Setelah dari Tanjung Tinggi, kami akan ke Pantai Tanjung Kelayang. Di Pantai Tanjung Kelayang ini, sudah menanti sejumlah perahu yang sandar di pantai (bukan di dermaga ya). Perahu-perahu ini akan mengantarkan kami untuk menuju ke Pulau Kepayang.
Dalam perjalanan menyeberang ke Pulau Kepayang, kami melewati namanya Batu Garuda, atau Pulau Garuda dimana susunan batu besarnya berbentuk seperti Kepala Burung Garuda.
Perjalanan ke Pulau Kepayang tidak lama. Tidak sampai satu jam, dan kami melihat laut yang bersih. Mungkin malahan perjalanan dengan perahu hanya butuh 30 sampai 40 menit.
Saya terpukau dengan Pulau Kepayang dengan Pasir Putih yang masih alami. Tidak banyak bangunan di pulau ini. Perahu bersandar bukan di dermaha, tetapi di Pantai. Ketika kami turun dari perahu, kami menggunakan tangga langsung ke Pantai.
Langsung menginjak pasir putih.
Saya bersama rombongan menuju ke sebuah tempat makan, di pinggir pantai. Bagunan tempat makan ini, tidaklah seperti restoran modern. Tapi bernuansa tradisional. Rombongan yang saya antar, akan melakukan kegiatan permainan outbond di pantai.
Ketika rombongan sedang melakukan kegiatan outbond, saya menikmati pantai. Saya hanya berfoto-foto saja. Sehabis kegiatan outbond, kami makan siang di Pulau Kepayang dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Lengkuas. Makanan yang kami nikmati adalah makanan laut.
Perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Lengkuas. Dari Pulau Kepayang ke Pulau Lengkuas, perjalanan tidak butuh waktu lama. Hanya mungkin 30 menit. Saya tidak hapal waktu persisnya.
Sampai di Pulau Lengkuas, saya kembali terpukau. Pulau-pulau di Belitung ini benar-benar indah. Sangat indah. Pulau Lengkuas ini, ada mercusuar tua. Dibangun di Abad ke 19. Sejumlah teman naik ke atas mercusuar, tetapi saya memilih untuk tidak naik.
Pulau Lengkuas ini juga ada batu-batu besar. Batu-batu besar ini benar-benar membuat pantai semakin indah. Tak lupa saya berfoto di sini.
Puas di Pulau Lengkuas, kami harus kembali ke hotel. Malamnya ada acara. Dalam perjalanan kembali ke Tanjung Kelayang dimana kami berangkat, perjalanan hanya satu jam saja. Kurang lebih. Dan kami sempat mampir di Pasir Timbul.

Hari Ketiga 30 Maret 2014, Menikmati Kota Tanjung Pandan

Hari ke-3 kami bersiap kembali ke Jakarta. Karena saya bertugas mengatur rombongan, saya terlebih dahulu membawa barang-barang rombingan ke Bandara. Jadi bagasi bisa masuk duluan dan tidak perlu repot lagi ketika Check ini. Sejumlah belanjaan oleh-oleh juga sudah saya bawa ke Bandara.
Sementara melakukan check dan memasukkan bagasi di Bandara, rombongan makan siang di Rumah Makan Timpok Dulu. Saya kemudian menyusul untuk makan siang. Rumah Makan Timpok Dulu ini adalah Rumah tua yang dibuat menjadi Rumah Makan. Jadi suasananya memang benar-benar masih Timpok Dulu atau Tempo Dulu.
Ketika makanan disajikan, juga masih menggunakan piring kaleng. Penyajian makanannya juga sangat unik. Saya tidak bisa menuliskan secara lengkap karena kunjungan saya ke sini sudah empat tahun lalu. Makanan di Rumah Makan Timpok Duluk ini, juga masakan khas Belitung.
Setelah makan siang, kami dan rombongan akhirnya ke Bandara untuk terbang kembali ke Jakarta
Tommy Bernadus

The author Tommy Bernadus

Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply

%d bloggers like this: