SHARE

Beberapa hari lalu, sebuah buku berjudul Ahok di Mata Mereka diluncurkan. Sebenarnya, sebelum diluncurkan, sudah diumumkan mengenai buku ini.

Yang menjadi penulis buku ini, ada 51 orang. Kenapa 51 orang karena buku ini diluncurkan di usia Ahok ke-51. Okelah saya tidak akan terlalu membahas soal buku tersebut.

Tulisan ini, ya murni pandangan pribadi saya soal Ahok. Ya Ahok di mata saya lah kalau begitu.

Saya mengetahui sosok Ahok ini sebelum dia mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Joko Widodo. Pada intinya sekedar tahu saja. Ada sosok bernama Ahok. Saya bahkan belum tahu kalau nama sebenarnya adalah Basuki Tjahaja Purnama.

Sebelum mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur, Ahok sempat ingin mencalonkan diri menjadi Gubernur melalui jalur independen. Adalah teman saya di Sunter yang menjaring KTP. Om Bran.

Tapi ya saya sih belum begitu tertarik mengenai sosok Ahok ini. Meskipun dia sudah mencalonkan diri dengan Joko Widodo, saya belum getol untuk mendukungnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, AHok yang mulai “garang” di DKI., mulai saya kenal. Mulai dari video youtube yang beliau marah-marah dan berbagai hal lainnya.

Saya mulai melihat pak Ahok berniat membereskan Jakarta. Sewaktu Pak Ahok “menghancurkan” Kalijodo dan menutup beberapa tempat hiburan seperti Stadium, saya mulai melihat Pak Ahok memang bernyali. Kalijodo yang dari semasa saya masih aktif di Sinar Harapan sudah ingin dibongkar, tidak tuntas.

Hal lain yang membuat saya semakin kagum dengan pak Ahok adalah ketika saya mulai jatuh cinta dengan namanya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau RPTRA. Pah Ahok mulai memanjakan anak-anak. Dan tidak hanya anak-anak saja. RPTRA ini, dari pemaparan pak Ahok di beberapa kesempatan, juga untuk Bayi hingga lansia.

Fakta memang benar. Jumat dan Minggu pagi ada senam ibu-ibu dan lansia. Bapak-bapak juga ada yang bermain tenis meja di RPTRA. Ketika saya berkunjung ke RPTRA Tunas Harapan, saya melihat seorang bapak-bapak yang memanfaatkan lantai pijat refleksi.

Ketika saya ke RPTRA Madusela, banyak orang tua yangg sedang duduk-duduk di RPTRA. Dan bukan hanya di RPTRA Madusela saja. DI RPTRA lain juga.

Bekas lokasi abu-abu seperti Kalijodo pun dibuat menjadi RPTRA dan Ruang Terbuka Hijau yang dilengkapi dengan Skatepark. Yang memanfaatkan bukan hanya warga Jakarta saja. Warga dari luar daerah pun banyak memanfaatkan fasilitas ini. Keren memang.

Di Bidang transportasi, Ahok membenahi Transjakarta, Bus ditambah sehingga headway bus tidak terlalu jauh. Rute atau koridor ditambah. Dan bahkan nantinya koridor 13 yang menggunakan jalann layang sehingga tidak akan ada hambatan, sudah selesai dibangun ketika saya menulis blog ini.

Bus transjakarta pun sudah berstandar dunia. Scania dan Mercedes Benz. Ketika saya menumpanginya, sangatlah nyaman. 

Di Era pak Ahok, Simpang Susun Semanggi terbangun dan tidak menggunakan APBD. RTH dan RPTRA Kalijodo serta sejumlah RPTRA lainnya dibangun dengan dana CSR. Tidak perlu mengeluarkan dana banyak dari APBD.

Cuma itu saja? Oh tentu tidak, Di bidang kesehatan, faslitas RUmah Sakit semakin keren. Saya bisa merasakan fasilitas RSUD Koja yang keren ketika operasi Katarak. Di tingkat kecamatan sudah ada RSUD tipe D. Tidak perlu repot ke RSUD tipe B untuk berobat. Cukup ke RSUD tingkat kecamatan.

Pelayanan pengurusan perijinan pun semakin mantap. Bisa mengurus lewat online, dan ada AJIB atau Antar Jemput Ijin Bermotor. Cukup menelepon, urusan perijinan semakin mudah, Tak perlu repot ke PTSP.

Pelayanan pembuatan IMB di PTSP pun ada yang hanya tiga jam. Bayangkan, urusan berhari-hari cukup tiga jam. Keren bangket bukan?

Siswa ataupun warga kurang mampu bisa memanfaatkan KJP. Peralatan sekolah yang bagus bisa dibeli dengan KJP. 

Hmm apa lagi ya?

Saya sudah tidak bisa menulis banyak lagi soal pak Ahok ini. Jakarta saat ini semakin baik, Pedestrian dipercantik, jalanan bersih, kali dan sungai sudah lebih baik, Begitu juga dengan waduk. Ada petugas yang membersihkan dan menjaganya.

Di mata saya, pak Ahok benar-benar ingin membenahi Jakarta. Titik banjir semakin berkurang. Tidak ada kehebohan banjir seperti dulu karena titik semakin berkurang.

Pak Ahok membenahi Jakarta dari berbagai aspek. Warga bisa tinggal di rumah susun yang lebih enak dibandingkan dengan di kawasan kumuh atau pinggir kali.

Saya meliput dan memerhatikan Jakarta semenjak tahun 2002 ketika menjadi wartawan di Sinar Harapan hingga saat ini. Dan baru pak Ahok yang menjadi Gubernur dengan niat membenahi Jakarta. 

Tulisan ini sudah pasti tidak akan menjadi bagian dari buku Ahok di Mata Mereka, tapi setidaknya, saya pernah menulis tentang Ahok di mata saya. 

Saya tidak bisa menulis kesemuanya. Silakan baca di blog saya yang lain kalau mau mengetahui apa saja yang sudah dibuat oleh pak Ahok.