SHARE

Sepekan terakhir, sosial media dan media konvensional tengah membahas perlu atau tidak Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama atau yang lebih akrab disapa Ahok untuk cuti Kampanye selama empat bulan. Empat bulan!!

Peraturan atau UU memang menyebutkan bahwa seorang Calon Kepala Daerah Petahana, atau incumbent harus mengambil cuti kalau mau kampanye.

Ahok tidak setuju cuti kampanye selama empat bulan ini, atau pengen cuti kampanye karena dia ingin tetap bekerja seperti biasa.

Pertanyaannya, perlu kah dia cuti?

Jawabannya, bagi saya, tidak salah jika memang mengikuti aturan yang sudah ada. Tapi, kalau sampai empat bulan untuk cuti, itu bukan waktu sebentar.

Apalagi Ahok akan cuti mulai Bulan Oktober hingga Januari. Ini merupakan masa-masa penyusunan anggaran, atau APBD. Seperti diberitakan Media, Ahok khawatir kalau misalnya nanti dia cuti, ketika menyusun anggaran, dia tidak bisa mengawalnya.

Dalam pandangan pribadi saya, ada baiknya memang Ahok mengawal penyusunan Anggaran tahun 2017 nanti. Kenapa? Ya sudah bukan rahasia lagi kalau misalnya nanti ada anggaran-anggaran atau proyek “siluman” nanti masuk ke dalam APBD.

Masih jelas dalam ingatan kita kan kasus UPS itu?

Selain masalah anggaran, apa yang tengah dibangun di Jakarta ini, kalau tidak dikawal Ahok, ya bisa saja tidak berjalan. Mandek atau mangkrak dan akhirnya uang anggaran terbuang percuma.

Empat bulan bukan waktu yang singkat. Dalam empat bulan banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki birokrasi di Jakarta, membenahi Jakarta dari pembangunan maupun pelayanan masyarakat.

Kalau Ahok cuti empat bulan, kinerja PNS juga sapa yang bisa pantau? Sudah bukan rahasia umum kan kalau Ahok suka bongkar pasang pejabat kalau kinerjanya kurang?

Lagian, sepanjang pengetahuan saya, kampanye juga kan sekitar satu bulan. Atau saya yang tidak tahu kalau kampanye itu sekarang empat bulan?

Jadi, tidak ada salah, kalau memang Ahok melakukan judicial review soal cuti kampanye ini. Sayang sekali kalau masa jabatan Ahok harus terpotong empat bulan, sementara bisa melakukan banyak hal selama empat bulan tersebut.

Apalagi, sepertinya Ahok tidak pernah “libur”. Dia bahkan, memanfaatkan akhir pekan untuk datang ke nikahan warga, sekaligus blusukan.

Dan soal ini, saya hanya melihat ini dari pandangan pribadi saya saja. Soal Ahok harus cuti, jawabannya adalah, bagi saya tidak perlu cuti. Apalagi dia tidak mau cuti kampanye dan memilih bekerja. Tidak ada yang salah dengan hal ini.

Kecuali, Ahok tiba-tiba ketahuan sudah tidak cuti, tapi kampanye. Nah, itu lain lagi ceritanya. Kalau selama Ahok tidak memilih cuti dan dia tidak berkampanye, ya sah-sah saja. Bukan begitu?

SHARE
Previous articleRisol Enak Dua Ribu Lima Ratus
Next article2 Jam yang “Amazing” di Google for Indonesia
Dilahirkan di Desa Lembean, dan besar di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Mengenyam pendidikan di SDN 1 Kema, SMPN Kauditan di Treman, SMAN Girian dan UKSW Salatiga. Seorang jurnalis, penulis dan blogger yang kadang-kadang mendisain media dan mengatur konten media.

Leave a Reply